webnovel

Tengku Nik , Mr . Dingin

📌 PART 09

Jam menunjukkan pukul 9:00 malam , Humaira masih lagi melihat rancangan televisyen . Ayah nya sudah berehat lebih awal daripada nya , Humaira masih mengingatkan lelaki yang datang ke rumah nya petang kemarin . "𝖪𝖾𝗇𝖺𝗉𝖺 𝖺𝗄𝗎 𝖻𝖺𝗋𝗎 𝗇𝖺𝗆𝗉𝖺𝗄 𝗅𝖾𝗅𝖺𝗄𝗂 𝗍𝗎 𝗄𝖺𝗍 𝗌𝗂𝗇𝗂 𝖾𝗁 ? 𝗈𝗎𝗁𝗁 , 𝗒𝖺𝖺 𝖺𝗄𝗎 𝖽𝖺𝗁 𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍 , 𝗆𝗎𝗇𝗀𝗄𝗂𝗇 𝗅𝖾𝗅𝖺𝗄𝗂 𝗍𝗎 𝗒𝖺𝗇𝗀 𝖧𝖺𝗓𝗂𝗆 𝖼𝖺𝗄𝖺𝗉𝗄𝖺𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖺𝗄𝗎 . 𝖡𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗅𝖺𝖺 𝗌𝖾𝖻𝖺𝖻 𝖻𝖺𝗋𝗎 𝗇𝖺𝗆𝗉𝖺𝗄 𝗄𝖺𝗍 𝗄𝖺𝗆𝗉𝗎𝗇𝗀 𝗇𝗂 .. 𝖧𝗆𝗆 , 𝗆𝖾𝗌𝗍𝗂 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗄𝖾𝗅𝗎𝖺𝗋𝗀𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗒𝖺 , 𝖽𝖺𝗁 𝗌𝖾𝗀𝖺𝗄 , 𝗁𝖺𝗇𝖽𝗌𝗈𝗆𝖾 𝗉𝗎𝗅𝖺𝗄 𝗍𝗎" . Ujar Humaira dalam hatinya .

keesokan harinya ...

"𝖠𝗒𝖺𝗁 , 𝗅𝖾𝗉𝖺𝗌 𝗌𝖺𝗋𝖺𝗉𝖺𝗇 𝗇𝗂 , 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 𝗇𝖺𝗄 𝗉𝖾𝗀𝗂 𝗄𝖾𝖽𝖺𝗂 . 𝖠𝗒𝖺𝗁 𝗍𝖺𝗄𝗉𝖾 𝗄𝖾 𝖽𝗎𝖽𝗎𝗄 𝗌𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀-𝗌𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗍 𝗋𝗎𝗆𝖺𝗁 ?" . Kata Humaira sambil menyuapkan nasi goreng ke dalam mulut nya .

"𝖠𝗒𝖺𝗁 𝗈𝗄𝖺𝗒 𝗃𝖾 𝗄𝖺𝗍 𝗋𝗎𝗆𝖺𝗁 𝗇𝗂 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 , 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 𝗉𝖾𝗀𝗂 𝗅𝖺 𝗄𝖾𝖽𝖺𝗂 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗇𝖺𝗄 . 𝖠𝗒𝖺𝗁 𝖻𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗃𝗀𝖺 𝖽𝗂𝗋𝗂" . Balas pakcik Musa dan terus tersenyum kepada Humaira .

"𝖮𝗄𝖺𝗒 , 𝗆𝖺𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝖺𝗒𝖺𝗁" . Ucap Humaira sambil menayangkan barisan gigi nya yang rapi .

Dalam perjalanan Humaira pergi ke kedai , dia ternampak Hazim dan juga seorang lelaki seperti membincangkan sesuatu . Humaira tetap melanjutkan langkahnya , setelah diaa sampai di kedai makcik Zaitun , dia melihat makcik Zaitun sedang menyapu depan kedainya .

"𝖠𝗌𝗌𝖺𝗅𝖺𝗆𝗎𝖺𝗅𝖺𝗂𝗄𝗎𝗆 , 𝗄𝖾𝗇𝖺𝗉𝖺 𝗆𝖺𝗄𝖼𝗂𝗄 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗄𝖾𝗋𝗃𝖺 𝗇𝗂 , 𝖻𝗂𝖺𝗋𝗅𝖺 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 𝗒𝖺𝗇𝗀 𝖻𝗎𝖺𝗍" . Sapa Humaira dan terus mengambil penyapu itu di tangan makcik Zaitun .

"𝖶𝖺𝖺𝗅𝖺𝗂𝗄𝗎𝗆𝗌𝖺𝗅𝖺𝗆 , 𝗁𝖺𝗂𝗁 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 𝗇𝗂 . 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗇 𝗇𝖺𝗄 𝗌𝗎𝗌𝗎𝗇 𝖻𝖺𝗋𝖺𝗇𝗀 , 𝗃𝖺𝗀𝖺 𝗄𝖺𝗎𝗇𝗍𝖾𝗋 𝗉𝗎𝗅𝖺𝗄 𝗍𝗎 , 𝗍𝖺𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗍 𝗄𝖾 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 ?" . Prihatin makcik Zaitun menuturkan kata-kata nya .

"𝖧𝖾𝖾𝗁𝗁𝖾𝗁 , 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗍 𝗍𝗎 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗍 𝗆𝖺𝗄𝖼𝗂𝗄 , 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗁 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗍𝖺𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝗀𝗃𝖺𝗐𝖺𝖻 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗇 . 𝖬𝖺𝗄𝖼𝗂𝗄 𝗉𝖾𝗀𝗂 𝗅𝖺 𝖻𝖾𝗋𝖾𝗁𝖺𝗍 , 𝗅𝖾𝗉𝖺𝗌 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 𝗌𝗂𝖺𝗉𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺 𝗇𝗂 , 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 𝗆𝖺𝗌𝗎𝗄 𝖽𝖺𝗅𝖺𝗆" . Pinta Humaira yang masih mengerjakan tugasnya .

"𝖧𝗆𝗆 , 𝗒𝖾𝗅𝖺𝖺 .. 𝗆𝖺𝗄𝖼𝗂𝗄 𝗆𝖺𝗌𝗎𝗄 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗅𝖺 𝗒𝖺" . Akur makcik Zaitun dan terus mengatur langkah nya masuk ke dalam kedai .

"𝖩𝖺𝖽𝗂 , 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺 bilangan-bilangan pokok yang ada 𝗄𝖺𝗍 𝖽𝗎𝗌𝗎𝗇 𝗇𝗂 𝖺𝗄𝗎 𝖽𝖺𝗁 𝖼𝖺𝗍𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗅𝖺𝗆 𝖻𝗎𝗄𝗎 . 𝖳𝗁𝖺𝗇𝗄𝗌 𝗅𝖺𝖺 𝗌𝖾𝖻𝖺𝖻 𝗄𝖺𝗎 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖻𝖺𝗇𝗍𝗎 𝖺𝗄𝗎" . Ucap Nik sambil menepuk bahu Hazim .

"Sama-sama 𝖻𝖺𝗇𝗀 . 𝖲𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗄𝖾𝗋𝗃𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖺𝖻𝖺𝗇𝗀 , 𝗁𝖾𝗁𝖾𝖾𝗁" . Balas Hazim dan terus mengukirkan senyuman .

"𝖮𝗁 𝗒𝖺 𝖻y the way , 𝖻𝗂𝗅𝖺 𝖺𝖻𝖺𝗇𝗀 𝗇𝖺𝗄 𝗀𝖾𝗋𝖺𝗄 𝖻𝖺𝗅𝗂𝗄 𝖪𝗎𝖺𝗅𝖺 𝖫𝗎𝗆𝗉𝗎𝗋 ?" . Tanya Hazim sambil memandang sekilas wajah Nik .

"𝖧𝗆𝗆 , 𝖺𝗄𝗎 𝗉𝗎𝗇 𝗍𝖺𝗄 𝗉𝖺𝗌𝗍𝗂 . 𝖳𝖾𝗇𝗀𝗈𝗄 𝗄𝖾𝖺𝖽𝖺𝖺𝗇 𝗅𝖺𝖺 𝗆𝖺𝖼𝖺𝗆 𝗆𝗇𝖺𝖺 𝗇𝖺𝗇𝗍𝗂 , 𝖼𝖺𝖽𝖺𝗇𝗀 𝗇𝖺𝗄 𝖽𝗎𝖽𝗎𝗄 𝗅𝖺𝗆𝖺 𝗌𝗂𝗄𝗂𝗍 𝗅𝖺 𝗄𝖺𝗍 𝗄𝖺𝗆𝗉𝗎𝗇𝗀 𝗇𝗂 , 𝗒𝖾𝗅𝖺𝖺 𝗅𝖺𝗆𝖺 𝗍𝖺𝗄 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌𝖺 𝖽𝗎𝖽𝗎𝗄 𝗄𝖺𝗆𝗉𝗎𝗇𝗀" . Jawab Nik sambil matanya melilau ke setiap dusun itu .

"𝖭𝗈 𝗉𝗋𝗈𝖻𝗅𝖾𝗆 𝗅𝖺𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖺𝖻𝖺𝗇𝗀 𝗇𝖺𝗄 𝖽𝗎𝖽𝗎𝗄 𝗅𝖺𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗍 𝗌𝗂𝗇𝗂" . Ujar Hazim sambil memeluk tubuh . Nik hanya tersengih-sengih mendengar kata-kata dari Hazim .

'𝗎𝗁𝗎𝗄 𝗎𝗁𝗎𝗄' . batuk pakcik Musa yang sedang duduk di anjung rumahnya . Dia berjalan perlahan ingin masuk ke dalam rumah nya untuk memakan ubat , tapi tiba-tiba sakit di jantung nya menyebabkan dia susah bernafas . Dia hanya seimbangkan tubuhnya dan berpaut di dindinh kayu rumahnya . '𝖴𝗁𝗎𝗄 𝗎𝗁𝗎𝗄' . Batuk pakcik Musa sekali lagi tapi kali ini darah mulai keluar dari mulut nya . "𝖺𝗅𝗅𝖺𝗁𝗎 𝖺𝗄𝖻𝖺𝗋" . Pakcik Musa agak terperanjat apabila melihat darah di tangannya . "𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗒𝖺𝗁" . Tergagap-gagap pakcik Musa menyebut nama anaknya .

"𝖠𝗒𝖺𝗁 !" . Terbit dari tubir bibir Humaira , hatinya berasa tidak sedap mengenangkan ayah nya di rumah . Humaira terus berlari ke belakang dan mencari kelibat makcik Zaitun . "𝖬𝖺𝗄𝖼𝗂𝗄 𝖹𝖺𝗂𝗍𝗎𝗇" . Laung Humaira dengan nada turun naik .

"𝖧𝖺𝖺 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 , 𝗄𝖾𝗇𝖺𝗉𝖺 𝗇𝗂𝗂 𝗇𝖺𝗄 ?" . Tanya makcik Zaitun yang muncul di pintu belakang kedai . "𝖬𝖺𝗄𝖼𝗂𝗄 , 𝖻𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗍𝖺𝗄 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 𝗇𝖺𝗄 𝗆𝗂𝗇𝗍𝖺 𝗂𝗓𝗂𝗇 𝖻𝖺𝗅𝗂𝗄 𝗌𝖾𝗄𝖺𝗋𝖺𝗇𝗀 . 𝖡𝗎𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗉𝖺 𝗆𝖺𝗄𝖼𝗂𝗄 , 𝗍𝖾𝗍𝗂𝖻𝖺 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 𝗋𝖺𝗌𝖺 𝗍𝖺𝗄 𝗌𝖾𝖽𝖺𝗉 𝗁𝖺𝗍𝗂" . Terketar-ketar Humaira meminta izin kepad makcik Zaitun .

"𝖳𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 , 𝗂𝗌𝗍𝗂𝗀𝗁𝖿𝖺𝗋 𝖻𝖺𝗇𝗒𝖺𝗄-𝖻𝖺𝗇𝗒𝖺𝗄 𝗇𝖺𝗄 . 𝖪𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 𝗍𝖺𝗄 𝗌𝖾𝖽𝖺𝗉 𝗁𝖺𝗍𝗂 , 𝗆𝖺𝗄𝖼𝗂𝗄 𝗂𝗓𝗂𝗇𝗄𝖺𝗇 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 𝖻𝖺𝗅𝗂𝗄 𝗋𝗎𝗆𝖺𝗁 , 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍 ! 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖺𝖽𝖺 𝖺𝗉𝖺-𝖺𝗉𝖺 𝗃𝖺𝖽𝗂 , 𝖻𝖺𝗀𝗂𝗍𝖺𝗎 𝗆𝖺𝗄𝖼𝗂𝗄 𝗍𝖺𝗎 𝗇𝖺𝗄 . 𝖧𝖺𝗁 , 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 𝗁𝖺𝗍𝗂-𝗁𝖺𝗍𝗂 𝖽𝗂 𝗃𝖺𝗅𝖺𝗇" . Pesan makcik Zaitun lalu mengusap lengan Humaira . Humaira pun lantas menyalami tangan makcik Zaitun dan terus beredar .

Di dalam perjalanan pulang ke rumah , Humaira terserempak dengan Hazim dan Nik di jalanan . "𝖧𝖺𝖺 , 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 ! 𝗄𝖾𝗇𝖺𝗉𝖺 𝗄𝖺𝗎 𝗇𝖺𝗆𝗉𝖺𝗄 𝗍𝖾𝗋𝗀𝖾𝗌𝖺-𝗀𝖾𝗌𝖺 𝗇𝗂 ?" . Tegur Hazim sambil berkerut dahi .

"𝖧𝖺𝖺 𝖧𝖺𝗓𝗂𝗆 , 𝗌𝖺𝗒𝖺 𝗇𝖺𝗄 𝖻𝖺𝗅𝗂𝗄 𝗋𝗎𝗆𝖺𝗁 , 𝗍𝖾𝗍𝗂𝖻𝖺 𝗃𝖾 𝗋𝖺𝗌𝖺 𝗍𝖺𝗄 𝗌𝖾𝖽𝖺𝗉 𝗁𝖺𝗍𝗂" . Balas Humaira dengan nada risau . Nik hanya memandang reaksi wajah Humaira yang sudah kemerahan . "𝖧𝖺 𝗍𝖺𝗄𝗉𝖾𝗅𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗆𝖺𝖼𝖺𝗆 𝗍𝗎 , 𝖽𝖺𝗁 𝖺𝗅𝖺𝗇𝗀-𝖺𝗅𝖺𝗇𝗀 𝗄𝗂𝗍𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗌𝗂𝗇𝗂 , 𝖺𝗉𝖺 𝗄𝖺𝗍𝖺 𝖺𝗄𝗎 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖺𝖻𝖺𝗇𝗀 𝖭𝗂𝗄 𝗂𝗄𝗎𝗍 𝗄𝖺𝗎 𝖻𝖺𝗅𝗂𝗄 𝗋𝗎𝗆𝖺𝗁" . Cadang Hazim dan terus memberi isyarat kepada Nik yang hanya berdiam dari tadi . "𝖧𝖺𝖺 𝗈𝗄𝖺𝗒 𝖻𝗈𝗅𝖾𝗁 , 𝗈𝗇 𝗃𝖾" . Balas Nik sambil memegang lehernya .

Setibanya Humaira , Hazim dan juga Nik di halaman rumah milik Humaira , tubuh Humaira terus tersentak apabila melihat tubuh ayah nya yang terlantar di anjung rumahnya . Hazim dan juga Nik terus pandang Humaira serentak , "𝖠𝗒𝖺𝗁 !" . Jerit Humaira dan terus berlari naik ke rumah nyaa , beg samping nya terus di buang begitu saja . Kasut yang di pakai tidak di hiraukan lagi , dia terus mendapatkan ayah nya dan di baringkan di ribanya . "𝖠𝗒𝖺𝗁 ! 𝖺𝗒𝖺𝗁 𝖻𝖺𝗇𝗀𝗎𝗇 ! 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖬𝖺𝗂𝗋𝖺𝗁 𝗆𝖺𝖼𝖺𝗆 𝗇𝗂 ! 𝖻𝖺𝗇𝗀𝗎𝗇 𝖺𝗒𝖺𝗁 ! 𝗒𝖺 𝖠𝗅𝗅𝖺𝗁 ! 𝖺𝗒𝖺𝗁 ! 𝖻𝗇𝗀𝗎𝗇 𝖺𝗒𝖺𝗁 ! 𝖪𝖾𝗇𝖺𝗉𝖺 𝗇𝗂 𝖺𝗒𝖺𝗁 !" . Raung Humaira sambil menggoncangkan tubuh ayahnya yang tidak sedarkan diri .

"𝗓𝗂𝗆 , 𝗄𝖺𝗎 𝖻𝖺𝗅𝗂𝗄 𝖺𝗆𝖻𝗂𝗄 𝗄𝖾𝗋𝖾𝗍𝖺 𝖺𝗄𝗎 𝗌𝖾𝗄𝖺𝗋𝖺𝗇𝗀 , 𝗇𝗂 𝗄𝗎𝗇𝖼𝗂 𝗋𝗎𝗆𝖺𝗁 , 𝖼𝖾𝗉𝖺𝗍 𝖹𝗂𝗆 !" . Arah Nik yang sudah berasa cemas dan terus menghulurkan kunci rumah nya kepada Hazim . Nik terus naik ke anjung rumah , "𝖪𝖺𝗎 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇𝗅𝖺 𝗇𝖺𝗇𝗀𝗂𝗌 𝗆𝖺𝖼𝖺𝗆 𝗇𝗂 , 𝗌𝖺𝖻𝖺𝗋 𝖽𝗎𝗅𝗎 , 𝖧𝖺𝗓𝗂𝗆 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝖺𝗆𝖻𝗂𝗄 𝗄𝖾𝗋𝖾𝗍𝖺 , 𝗄𝗂𝗍𝖺 𝗁𝖺𝗇𝗍𝖺𝗋 𝖺𝗒𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗎 𝗉𝖾𝗀𝗂 𝗁𝗈𝗌𝗉𝗂𝗍𝖺𝗅" . Pujuk Nik apabila dia melihat Humaira sudah sarat dengan tangisannya . Pipi Humaira sudah menampakkan kemerahan serta hidung dan juga keningnya . Nik memandang lama wajah Humaira yang sudah di banjiri dengan air mata . '𝘯𝘰 𝘕𝘪𝘬 ! 𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘤𝘢𝘪𝘳' . bisik hati Nik dan terus mengalihkan pandangannya .

Próximo capítulo