Linggar yang sedang beradu argumen dengan sepupunya Ethan, tiba-tiba mendapatkan sebuah pesan di ponselnya.
Sebelumnya dia telah berhasil membajak ponsel kakaknya Rafael entah dengan cara apa! Sehingga memungkinkan dirinya untuk dapat menerima pesan dan panggilan apa pun dari ponsel Rafael.
Sebuah pesan yang dikirimkan oleh Demian pada Rafael juga masuk ke dalam ponselnya. Membuat Linggar menjadi begitu bersemangat saat membaca pesan tersebut.
Dengan terburu-buru dia meninggalkan Ethan yang murka saat itu tanpa sepatah katapun.
"Sepertinya akan ada pertunjukan yang menarik! "gumam Linggar dengan senyum ketertarikan.
Linggar telah tiba sepuluh menit di kediaman keluarga Ardolph sebelum Rafael dan Indah.
Saat pertama kali melihat kondisi Demian, dia terlihat shock dan sangat jijik. Namun demi menyaksikan sebuah pertunjukan yang bagus, dia mencoba menahan rasa jijiknya.
Sementara Demian yang melihat kedatangan Linggar merasa sedikit kecewa, dia berfikir yang akan datang adalah Rafael.
Sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya, Linggar meminta Demian untuk tidak memperdulikan keberadaan dirinya, lalu mencari tempat yang cocok untuk dirinya duduk sebagai seorang penonton.
Demian yang melihat tingkah laku Linggar yang aneh tidak bisa tidak mengerutkan keningnya. Anak ini seperti menunggu sesuatu, dia sungguh seorang yang tidak akan ketinggalan sebuah gosip yang luar biasa, ini pasti berhubungan dengan Rafael. Mungkinkah Rafael akhirnya akan datang dan mengeluarkan aku dari sini? pikir Demian dengan tidak pasti.
Demian lalu melirik ke arah Linggar sekali lagi, " Bocah itu bahkan membawa sebuah minuman dan popcorn bersamanya? " batin Demian tidak habis pikir.
Linggar sungguh memposisikan dirinya dengan sangat nyaman, dia sungguh penasaran gadis seperti apa yang berusaha di perebutkan oleh Demian. Saat melihat pesan di ponselnya sebelumnya, gadis itu sepertinya sangat cantik dan luar biasa.
Beberapa saat kemudian seperti yang di duga, Rafael dan Indah muncul dari arah pintu. Tapi hal yang membuat Linggar sedikit bingung adalah kehadiran sosok pria tampan yang berada di sisi Rafael.
" Bukankah yang harus ikut bersama Rafael saat ini harusnya seorang gadis? Mengapa malah pria tampan itu yang muncul di samping Rafael? Batin Linggar, dia merasa ada sesuatu yang salah disini.
Namun pada saat Rafael tiba-tiba menendang Demian, Linggar menjadi lebih bersemangat. Linggar tidak memperdulikan kecurigaannya beberapa saat yang lalu, karena hal ini sungguh menyenangkan untuk di tonton.
Sebuah acara live yang luar biasa menurut Linggar.
Linggar dapat melihat ekspresi kakaknya yang sangat marah kali ini, tapi Linggar tetap pokus melihat penampilan Demian yang di hajar sambil memakan popcorn yang ada di tangannya. Dia sungguh tidak memiliki simpati sedikitpun pada penderitaan Demian, bahkan merasa cukup senang dan terhibur. Jika saja Demian mengetahui apa yang di pikirkan Linggar, dia pasti akan segera muntah darah. Kelakuan si kakak beradik ini sungguh sama persis, brutal dan kejam.
Hasil duel ini sudah jelas sejak awal, Demian tidak akan bisa mengalahkan Rafael.
Namun Linggar yang di penuhi dengan perasaan yang begitu bersemangat, tiba-tiba terdiam seribu bahasa.
Tepat pada saat Rafael menarik pria tampan itu kebelakangnya dengan sikap yang overprotektif, jantung Linggar mulai berdetak tidak karuan, apa lagi di tambah dengan ungkapan hak kepemilikan dari Rafael.
" Dia milikku! "
BUM....
Seolah sebuah bom atom berkekuatan nuklir menghatam keras ke tubuh Linggar.
" Gay! " isi kepala Linggar hanya di penuhi dengan kata itu setelah mendengar perkataan Rafael.
Meskipun selama ini dia curiga bahwa kakaknya mungkin memiliki masalah itu pada dirinya selama ini, namun mendengarkannya secara langsung dari Rafael masih membuatnya sangat terkejut.
Linggar sungguh merasakan sesak di dadanya, namun sebelum dia dapat menenangkan dirinya, sekali lagi perkataan Demian membuatnya mendapatkan serangan yang lebih fatal ke jantungnya.
"Dia bukan milikmu, kamulah yang memaksanya untuk berada di sisimu! "
PRANGG..
Linggar sungguh tidak mampu menerima informasi seperti itu, lalu tanpa sengaja menjatuhkan gelas dan popcorn di tangannya.
"Memaksanya tinggal?! Kakak sungguh memaksa orang lain untuk memenuhi hasrat seksualnya? " Linggar tidak tahan mendengar pembicaraan mereka dan melarikan diri, meninggalkan ketiga orang yang tidak masuk akal itu. Mendengar mereka berbicara dan saling memperebutkan sesama jenis sungguh sangat menjijikan, apakah mereka semua masih waras?
Sesampainya di tempat parkir, Linggar berdiri di samping mobil. Berusaha mencerna informasi yang baru saja di dapatnya, yang membuat kepalanya puyeng tujuh keliling.
Namun beberapa saat kemudian, Linggar merasa ada sesuatu yang salah.
Linggar secara tidak sadar berbalik ke belakan dan DEG... Mengapa pria ini mengikutiku? Dia tidak terlihat terlalu senang, bahkan dia seperti mengatur nafas setelah berlari.
"Mengapa kamu mengikutiku! " teriak Linggar tak senang.
Indah yang justru di tarik secara paksa dari lantai dua mengerutkan alisnya, dia hanya menatap Linggar dengan ekspresi jengkel. Lalu melirik ke arah tangannya yang masih di genggam erat oleh Linggar.
Linggar mengikuti arah tatapan Indah dan terkejut saat melihat tangannya menarik lengan Indah.
Linggar dapa merasakan sensasi lembut dan halus di kulit Indah, bahkan membuatnya merasa nyaman.
Linggar lalu mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah Indah yang cukup dekat dengannya.
Wajah pria ini 'Cantik', dia terlihat lebih menawan di banding kebanyakan wanita. Pria ini bahkan tidak mampu melepaskan genggaman Linggar, memberikan Linggar perasaan ingin melindunginya.
"Ah... Apa aku sudah gila?! " Linggar berusaha menyingkirkan perasaan yang tidak masuk akal itu.
Pria ini sungguh berbahaya, dia telah membuat Rafael dan Demian menjadi seorang gay, dan bahkan dirinya hampir terpengaruh hanya dengan melihat wajahnya.
Secara spontan Linggar mendorong Indah menjauh dengan sangat keras.
Indah yang di dorong secara tiba-tiba tidak bisa bereaksi tepat waktu dan merasa dirinya akan jatuh kebelakang.
"Aaaa...!! " Indah hanya bisa pasrah dan menunggu rasa sakit menimpanya.
Namun setelah beberapa saat, Indah tidak merasakan sakit sedikitpun saat menunggu dirinya terhempas ke tanah, malahan dia merasakan bagian punggungnya menjadi hangat.
Rafael yang pada saat ini menangkap Indah terlihat sangat murka! Jika dirinya tidak datang tepat waktu, Indah dan bayinya sungguh akan dalam bahaya.
Demian yang datang dari arah belakang juga merasa sangat terkejut. Rafael dan dirinya sama-sama melihat saat Linggar mendorong Indah dengan segenap kekuatannya, membuat mereka terkejut.
Namun Rafael sungguh bergerak lebih cepat darinya, sungguh sangat cepat hingga Demian seolah melihatnya menghilang begitu saja dan muncul tepat di belakang Indah.
Demian terperangah melihat reaksi Rafael, Demian dapat melihat ekspresi terkejut dan marah di wajah Rafael, namun dia juga dapat melihat rasa takut di antara ekspresinya itu.
Haruska Rafael bersikap berlebihan seperti itu? meskipun Linggar terlihat mendorong Indah dengan sekuat tenaga, namun Linggar sesungguhnya mengurangi tenaganya pada saat menyentuh Indah baik itu secara sadar atau tidak, dan hal itu tidak akan membuatnya terluka sangat berat.