webnovel
1605884559610
AgathaQuiin20

AgathaQuiin20

Lv2

Ig : sukamto_dev tiktok : Ghea Sukamto cover: Pinterest edit: Canva

2020-07-10 JoinedIndonesia
-d

Writing

2.4h

of reading

23

Read books

Badges
5
Moments
63

Amarissa

Di jantung kerajaan Ardhapura, berdirilah kastil kaca yang menatap langit dengan keangkuhan. Dindingnya memantulkan cahaya mentari, namun di dalamnya bersemayam gelap yang tak pernah sirna. Di sanalah, Putri Amarisa hidup—atau mungkin sekadar bertahan. Ia lahir dari kasih yang dulu diagungkan rakyat, namun dikubur bersama jasad sang ratu pertama. Sejak ibunya tiada, nama Amarisa menjadi beku di lidah istana. Ayahandanya, Sri Maharaja Rajendra, menikah kembali demi menjaga tahta dan kehormatan. Permaisuri baru datang membawa dua putri: Nisvarya dan Dhavani, seindah bunga di taman kerajaan, namun berduri lebih tajam dari ucapan manusia. Bagi mereka, Amarisa bukan darah, bukan saudari, melainkan noda dari masa lalu yang enggan hilang. Hari-hari sang putri diisi dengan pekerjaan rendah yang tak patut disandang darah biru. Ia menata bunga di aula perjamuan, membersihkan kaca-kaca istana yang tinggi, menyiapkan pakaian pesta bagi kedua saudari tirinya. Setiap langkahnya diawasi, setiap tatapannya dianggap dosa. “Putri tak seharusnya kotor,” ujar Nisvarya suatu pagi, suaranya selembut racun yang manis. “Dan engkau,” sambung Dhavani dengan senyum tipis, “bahkan tak pantas disebut putri.” Amarisa hanya menunduk, membiarkan kata-kata itu menjadi duri di dadanya. Ia tak melawan—bukan karena takut, melainkan karena telah lelah berharap ada yang melihatnya sebagai manusia, bukan bayangan. Kastil itu terlalu megah untuk menampung hatinya yang retak. Di setiap lorong dingin, ia mendengar gema langkahnya sendiri, seakan seluruh istana menertawakan keberadaannya. Kadang, saat malam turun, ia berdiri di balkon tertinggi, memandangi kota yang berpendar jauh dibawah sana. “Apakah di luar sana ada tempat di mana aku bukan kutukan?” bisiknya pelan pada angin. Namun angin hanya membawa jawab yang tak pernah berubah—sunyi. Amarisa belajar diam seperti ibunya, belajar kuat seperti bayangan, dan belajar mencintai tanpa berani menginginkan. Ia tahu, darahnya sama dengan darah raja, namun tak satupun tangan di istana yang ingin menggenggamnya. Dan di balik setiap hari yang ia lalui dengan sabar, takdir sedang menenun jalannya sendiri—mendekatkan seorang pangeran dari kerajaan lain, yang akan menguji arti dari cinta, kebebasan, dan luka yang tak pernah sembuh. Di bawah langit senja Ardhapura, sang putri terbuang berdiri seorang diri. Bukan karena ia tak berharga, melainkan karena dunia belum siap menerima cahaya yang tumbuh dari kegelapan.

AgathaQuiin20 · Fantasy
1 Chs