webnovel

Pengakuan

Hukum pantas untuk manusia brengsek sepertiku.Tapi, aku tak sanggup jika dibenci nya.

o==[]::::::::::::::::>

Bayangan masa lalu terus berputar di kepala nya.

Rahang Taehyung mengeras.

Masih segar di ingatan,  kejadian dimana  orang yang ditabraknya terkulai lemah dengan darah yang mengalir dari kepala.

Hujan turun menemani mereka, dan bodoh nya ia hanya memandang tak percaya tanpa melakukan apa pun, berdiri di samping mobil.

Kriiit

"Ada telephon untuk tuan muda."

Taehyung enggan berbalik, matanya setia melihat bintang di langit dari jendela kamar. "Siapa P. Hong?"

Pria paru baya yang dipanggil P. Hong itu menjawab. "Namanya So hye tuan muda." mendengar itu Taehyung menoleh dengan wajah datarnya.

"Jangan menjawabnya!"

P. hong mengangguk kemudian membungkuk undur diri meski Taehyung tidak melihat.

Dapat di lihat pria tampan itu membuang napas frustasi, tangannya menggenggam erat gorden di sampingnya. mata tajamnya berubah sendu.

Haruskah aku mengatakannya?

*Be Mine*

Hari ini gadis itu berencana mengunjungi kedua orang tuanya, sudah lama Tzuyu tidak ke sana.

Sebelumnya dia menyempatkan diri untuk membeli sebucket bunga kemudian melanjutkan rencananya.

Kini gadis itu mengernyit kala melihat seorang pria berdiri gagah di depan rak penyimpanan abu orang tuanya. Dia melangkah mendekat dan membuang rasa penasarannya, namun langkahnya terhenti saat pria itu membalik kan badan.

Terkejut. Bukan pria itu tapi Tzuyu lah yang di buat terkejut, napasnya tercekat, matanya membelalak melihat pria di hadapannya.

Bagaimana tidak? itu adalah seniornya, Kim Taehyung. Pria itu juga meletakkan bucket bunga yang sering Tzuyu dapati saat berkunjung.

Ternyata bunga itu darinya, tapi kenapa?

Pandangan keduanya bertemu, gadis itu mengalihkan pandangannya karna tak tahan dengan tatapan Taehyung.

Tzuyu! apa sudah saatnya?

"Permisi senior." ucapnya lembut melangkah mendekat ke rak orang tuanya membuat pria itu melangkah pergi.

Tzuyu meletakkan bunga di rak itu.

"Apa kabar Ayah dan Ibu?" suaranya bergetar.

Kata demi kata dilontarkan guna mengobati rasa rindu yang menyesakkan dadanya, puas mengeluarkan isi hatinya gadis itu pamit sambil tersenyum.

kembali dirinya terkejut kala pria tampan sedingin es itu masih setia berdiri disana. Apakah pria itu menunggunya?

"Apakah senior yang slalu memberikan bunga ini setiap bulan?"

"Iya!" masih dengan wajah datarnya.

"KENAPA?" pekiknya. "M-maksud ku-"

"Aku membunuh orang tua mu!" potong Taehyung masih dengan nada datar tapi yang ia lihat berbeda dengan bayangannya.

Tzuyu terdiam, agaknya gadis itu masih berusaha mencerna perkataannya.

Taehyung mengambil napas dalam-dalam sebelum kembali berucap.

"Maksud ku! aku yang tlah membunuh Ayah mu."

Kali ini gadis di hadapannya membuka mulut, terkejut. Lebih tepatnya shock mendengar pengakuan Taehyung.Tak berlangsung lama karna Tzuyu segera menunduk.

Sepertinya pria itu harus mendekap di penjara dengan umurnya yang tergolong muda, harus kah ia menghabiskan masa mudanya di dalam penjara? bagaimanapun dia pantas mendapat kannya.

Jangan membenci ku

Taehyung memejamkan mata kuat-kuat menahan segala rasa yang berkecamuk di hati, rahangnya mengeras bukan menahan amarah tapi rasa bersalah.

"Senior bukan pembunuh."

Taehyung tak bisa berkata-kata, ia masih tak mengerti dengan pemikiran gadis di hadapan nya. Menyadari itu, Tzuyu kembali berucap.

"Ini memang sudah jalan takdir, tak ada yang bisa mengubahnya." terangnya dengan tenang.

"Kau-"

"Senior! jangan salahkan diri mu. Aku tahu kau juga tak menginginkannya." ucapnya dengan senyuman manis, tak ada kebohongan di mata. Senyuman itu begitu tulus dan menenengkan.

Taehyung terkesima, air matanya lolos membasahi pipi, dengan cepat ia hapus jejak dipipinya sambil terkekeh.

Dirinya jatuh pada pesona Tzuyu. Untuk kesekian kalinya, Taehyun slalu terpesona setiap melihat ketulusan gadis itu.

Taehyung melangkah mendekat menatap dalam manik mata Tzuyu.

"Aku harus bagaimana? sepertinya aku menyukaimu."

Dipandang dengan jarak sedekat ini membuat Tzuyu gugup, bahkan ini bukan pertama kalinya tapi kali ini Tzuyu merasa jantungnya sedang maraton.

"M-maaf kan aku, aku menyukai orang lain." setelahnya Tzuyu melangkah pergi meninggal kan Taehyung yang terdiam di tempat.

Hancur. Itulah yang dirasakannya mendengar jawaban Tzuyu. Apa dia ditolak?

***

Keesokan harinya, Tzuyu menaiki tangga menuju lantai dua, tiba-tiba saja ia terhuyung.

Hampir saja terjatuh kebelakang, namun Tzuyu kembali mendapat keseimbangan saat tangan seseorang mendorong punggungnya.

Tzuyu berbalik tapi pria itu berlalu melewati nya, kembali dirasakannya aura dingin itu, kim Taehyung.

Taehyung melangkah di koridor lantai dua, sebenarnya ia risih melihat gadis yang tersenyum kearahnya.

"Oppa." sapanya manja merentangkan kedua tangan.

"Pergi!" seru Taehyung menyingkirkan tubuh gadis di hadapannya.

"Yak! oppa."

Taehyung tidak mengubrisnya, tangannya meletakkan headphone yang melingkar di leher ke telinga. So hye berjalan kesal tapi senyumnya kembali merekah kala melihat pria tinggi yang pokus pada hp.

"Eun woo." sapa So hye melambaikan tangan, langkahnya melebar ketika pria itu berbalik arah tanpa memandangnya.

"Menghindari ku?" tanyanya setelah berhasil menarik lengan Eun woo menghadapnya.

Eun woo mendengus. "Apa yang kau ingin kan?"

"Kenapa sikap mu berubah?"

"Jangan mendekati ku, pacarku bisa marah." ketus Eun woo.

"Bohong! Kau tidak pernah punya pacar." ejek So hye.

Gadis itu melotot melihat Eun woo tiba-tiba mencium seorang gadis.

"Lihat! berhenti menggangguku." seru Eun woo tangannya merangkul Nancy.

Nancy memegangi bibir yang baru saja di cium Eun woo, So hye melangkah pergi. Kekesalannya sudah di puncak.

"Aahhhkk!" pekik nancy saat tubuhnya hampir jatuh akibat dorongan Eun woo.

"Jangan berharap." Eun woo mendesis.

*Be Mine*

Tzuyu melangkah kesal, mengentak kan kaki dan sesekali mengayunkan kakinya ke udara. Bagaimana tidak? sedari tadi Jungkook tidak bisa dihubungi.

Biasanya pria itu menjawab panggilannya, dengan perasaan kesal Tzuyu mengayunkan kakinya ke udara.

Dugh!

Yak! apa gadis itu gila?

Pasti dia sudah bosan hidup.

Seperti itulah bisikan para murid kala melihat sepatu Tzuyu mendarat mulus dikepala Taehyung.

Tzuyu menutup mulut dengan kedua tangan. Taehyung melotot sambil memegang kepala nya yang sakit.

Taehyung mendekat dengan sepatu gadis itu di tangannya. Tzuyu menelan berat salivanya, tubuhnya menegang. Pria itu ada di hadapan nya.

Seketika semua tercengang tak terkecuali Tzuyu, pasalnya pria itu berjongkok memakai kan sepatu ke kaki Tzuyu.

Mata Tzuyu mengerjap-ngerjap lucu, Taehyung terkekeh mengacak surai Tzuyu sebelum ia berlalu pergi.

Tzuyu bergidik ngeri mendapat tatapan horor semua murid, ia berlari sebelum dirinya mendapat masalah.

Salam manis,

Ra

次の章へ