webnovel

Cinta Satu Malam

Saat ia terbangun, Cheng Xi menemukan dirinya berbaring di tempat asing, dengan pria asing tidur disampingnya.

Punggung pria itu menutupi pandangannya. Dari sudutnya, yang dapat ia lihat adalah rambut pendek halus dan punggung ramping dari seorang pria.

Ya, seorang pria telanjang—setidaknya, tubuh bagian atasnya.

Cheng Xi melihat dirinya sendiri. Sangat bagus, ia juga nyaris telanjang. Kaos tipis di tubuh bagian atas dan pakaian dalam menutupi tubuh bagian bawahnya. Dia bisa melihat sisa pakainya berserakan di lantai. Celana jeans yang dikenakannya kemarin tergeletak di atas karpet di dekat jendela, seolah-olah menunjukkan kekasaran dari orang yang melepaskannya.

Tirai jendela tertutup rapat, seberkas sinar masuk melalui celah kecil.

Dia duduk, menggosok kepalanya yang sakit. Pria itu terbaring saat Cheng Xi bergerak. Saat dia berbalik, terlihat wajah muda, cukup tampan, dengan fitur wajah yang tegas tatapan tajam dan dingin, wajah acuh-tak acuh.

Tidak pantas memanggilnya orang asing, setidaknya mereka telah bertemu kemarin.

Tidur bersama setelah pertemuan… Cheng Xi menggosok kepalanya.

'Kamu sudah bangun?" ekspresinya tetap dingin seperti biasa, tatapannya berkelana diatas tubuh Cheng Xi yang ditutupi selimut. "Kamu naik sendiri ke tempat tidurku tadi malam."

Bibir Cheng Xi berkedut saat menjawab, "Aku yang naik ke tempat tidurmu?"

"Mm." Pria itu sepertinya tidak tahan melihat lesung pipi asimetrisnya Cheng Xi. Bergumam setelah mengistirahatkan kepalanya dengan menopangkan tangan, tidak berusaha menjelaskan lebih lanjut.

Cheng Xi melihat Lu Chenzhou tanpa ekspresi walau hatinya hancur—setelah kejadian itu, dia tidak dapat mengingat apapun, termasuk ia menaiki tempat tidur pria itu seperti yang ia katakan! Tentu saja, ini tidak sepenuhnya benar-- dia ingat bahwa keingintahuannya menyebabkan ia mengikuti Lu Chenzhou ke Phoenix Stage, bermain permainan dengan orang-orang disana, dan kemudian minum alkohol sebagai hukuman.

Dan setelah itu? Tidak tahu.

Bahkan tidak mengetahui apa-apa, dia sangat meragukan kejujuran dari kata-kata Lu Chenzhou. Bagaimana pun, saat ini bukan waktu yang tepat untuk menyelidiki, dengan berbaring setengah telanjang, apapun yang mereka ucapkan akan terasa aneh. Dia mengalihkan pandangannya, menutupi tubuhnya dengan selimut dan membungkuk untuk mengambil jaketnya yang tergeletak dibawah tempat tidur, kemudian bergegas mengenakannya dan bangkit dari tempat tidur.

Membungkus erat dirinya dengan jaket, Cheng Xi berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa. Ia mengambil sisa pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Selama adegan itu berlangsung, Lu Chenzhou hanya berbaring dan menutupkan mata.

Hanya setelah mendengar langkah Cheng Xi keluar dari kamar mandi pria itu mulai berbicara. "Apakah kamu akan segera pergi setelah membersihkan diri?" nada bicaranya biasa saja, terdengar seperti mendiskusikan cuaca. "Aku punya teknik yang hebat. Tapi kamu mungkn tidak merasakannya karena sedang mabuk."

Cheng Xi nyaris tersandung kakinya lagi, dan cepat merespon dengan membanting pintu kamar mandi. "Bang!"

Saat Cheng Xi keluar, Lu Chenzhou telah berganti ke posisi lain. Sekarang ia berbaring miring menghadap pintu kamar mandi. "Telah selesai berpakaian?" dia tetap bertanya dengan acuh tak acuh. "Akankah kamu memikirkan pernyataanku tadi?"

Ini mungkin sebuah undangan yang sangat aneh yang Cheng Xi pernah dengar, dengan nada bicara acuh tak acuh seperti itu membuat Cheng Xi ingin memukul pria itu.

Tak berapa lama, Cheng Xi mulai mengenakan sepatu bertumit tingginya kemudian berjalan ke sisi tempat tidur dan sedikit membungkuk untuk melihat pria itu.

Lu Chenzhou dengan tenang menatap kembali padanya, tatapannya gelap seperti gelombang laut saat badai, sejuk dan tegas.

Penampilan Lu Chenzhou benar-benar memikat; setidaknya, Cheng Xi belum pernah melihat yang lebih baik dari dia. Tentu saja, itu mungkin karena sifatnya yang menyendiri sehingga muncul perasaan itu.

Dia mengulurkan tangan dan menyentuh bibirnya sendiri. "Kamu serius?"

Alkohol itu meninggalkan sisa serak pada suaranya, tanpa diduga sedikit menimbulkan kesan sensual.

次の章へ