webnovel

Vila Pemimpin

Hari-hari berat telah aku alami, aku tak akan membuang waktuku untuk memikirkan semua masalah yang telah terjadi. Aku dikit aku membutuhkan refreshing hanya untuk menghilang kan rasa jenuhku.

Pagi yang cerah ini sangat mendukung untuk rencana kami. Aku, Ratih, Ana, Santi, Novi berencana untuk pergi berlibur tepatnya ke Puncak Gunung. Sebenernya rencana ini sudah lama, namun kami merealisasikan nya di liburan semester 2 ini. Senang rasanya, kami bisa berkumpul dan bermain bersama. Rasanya seperti baru kemarin kami berkenalan, tapi kini kami sudah menjadi teman dekat.

'tok tok tok'.. "Citra cepetan mama tunggu di bawah, teman teman kamu sudah berkumpul Mamah sudah menyiapkan semua keperluanmu.

Derasnya air hujan menyelimuti jalanan licin, kabut tebal berselimut kelam, menambah aura mencekam. Hari ini kami memutuskan untuk jalan menuju puncak gunung, meskipun sebenarnya kami sudah berada di daerah pegunungan, tapi kami memutuskan untuk berada di kaki gunung daerah Jawa untuk berlibur dan menghirup udara segar.

Di pagi hari kami berangkat dengan 3 motor, cukup melelahkan karena diperjalanan kami terhalang hujan.

"Ci, kita berhenti dulu sejenak", ucap Ratih. Akupun mengangguk, kamipun berteduh di saung yang berada di dekat rumah warga. Warga sekitar menawarkan sebuah penginapan. Namun salah satu dari kami, ada yang keberatan, sehingga memutuskan untuk mencari penginapan lagi.

Ditengah hujan deras, akupun berinisiatif untuk mencari penginapan sendirian, karena hanya aku orang yang satu satunya memakai jas hujan. Akupun pergi sendiri, dan pamit kepada teman temanku.

"Ra, aku mau beli makanan ya, sekalian tanya tanya ke rumah warga terdekat kali aja dapet penginapan"

"Ci, sekarang hujan deras. Disini aja dulu" ucap Ratih sedikit khawatir.

"Kamu gak boleh pergi sendirian, diluar hujan deras" tambah Ana sambil marah.

"Kalau kamu keluar, aku ikut" tambah Santi.

"Ya, rencana kita liburan, kalau nanti kalian sakit gimana?" tambah Novi.

"Kalian percaya sama aku, aku cuma beli makanan terus nanya ke warga sekitar, untuk nyari penginapan. Lagian, aku pake jas hujan ko". jawabku

"Kamu gak boleh membahayakan diri kamu sendiri" ucap Ratih.

"Ci, jangan pergi, aku benar benar khawatir" Novi

"Iya, sebaiknya kita menunggu hujan reda" tambah Ana.

"Aku janji, bakalan sebentar ya" jawabku sambil pergi meninggalkan mereka.

Hujan semakin deras, waktu menunjukkan pukul 15.00, tak terasa hari semakin sore dan semakin gelap. Aku berjalan sendiri membawa hp dan dompet kemudian membeli beberapa perlengkapan makanan dan kebutuhan yang kurang untuk berjaga jaga di penginapan. Ku tinggalkan motor ku di depan rumah warga, aku terus menyusuri jalan ditengah petir yang keras seolah olah menyambutku disana. Akhirnya aku menemukan seperti minimarket, kecil tapi lumayan lengkap. Disana akupun beristirahat sejenak sambil minum susu dan roti untuk mengganjal perutku.

"Semoga makanan ini bisa cukup buat semua orang". gumamku pelan.

Setelah selesai membeli barang dan makanan untuk kebutuhan, akhirnya aku memutuskan untuk berjalan kembali dan menemui warga sekitar.

"Permisi, nek mohon maaf mengganggu waktunya. Saya mau bertanya tentang penginapan disekitar sini yang kosong disebelah mana ya" tanyaku kepada nenek tua yang sedang melamun

"Ojo permisi.. nak..." ucap nenek tersebut, seperti tersinggung dan sedang memarahiku. Sampai akhirnya setelah aku mendengarkan ucapan nenek tadi aku menjawab dengan jujur.

"Mohon maaf nek, saya kurang mengerti bahasa daerah ini. Saya bukan asli orang sini. Kalau begitu, permisi mohon maaf mengganggu" ucapku terbata bata sambil permisi

"Oh ya.." Ucap nenek sambil terlihat kebingungan. Aku tak berani melihat nenek itu lagi, karena mungkin aku tidak sopan karena berbicara bahasa Indonesia. Tapi setidaknya aku sudah memberitahu aku bukan orang asli daerah sini. Maka dari itu aku gak ngerti bahasa daerah warga disini.

Diperjalanan aku bertemu dengan ibu tua, beliau menunjukkan salah satu vila dekat patung. Dan akhirnya aku merasa lega, dan berterimakasih kepada ibu tua tersebut.

Tak terasa, aku berjalan sudah terlalu jauh, seperti yang di tunjukkan oleh ibu tua tersebut. Villa ini terlihat besar, kemudian patung patung tersebut berdiri kokoh. Tak heran aku langsung menuju ke daerah dalam, karena gerbangnya terbuka dan terlihat ada mobil seperti mobil pengunjung. Aku mendengar suara TV yang sedang menyala. Akupun terus mencari sumber suara TV tersebut seperti ruang lobi atau pendaftaran aku kesana, tapi tidak ada siapapun dan terlihat di dalam sangat gelap.

Kaki ku gemetar, akupun baru menyadari aku berjalan sendirian kesini dan sampai di villa ini, kemudian terlihat ruangan seperti gedung tapi tak terlihat apapun karena gelap. Tiba tiba suara pintu terbuka

"Krieeettt" akhirnya pintu terbuka lebar. Disanapun aku langsung mundur, ingin berlari tapi kaki sudah lemas. Akhirnya aku berjalan mundur mempercepatnya langkah kakiku. Sampai di gerbang aku berlari secepat mungkin. Sampai akhirnya aku menabrak seorang warga.

"Nak, kamu gak apapa" ucap seorang pria tua.

"Saya tidak apa apa" jawabku cepat. Akupun menarik nafasku secara dalam dan panjang, dan memberitahu bapak tua menanyakan tentang penginapan.

"Silahkan masuk nak, ini keluarga bapak. Nah kebetulan kalau misalnya siang cuma ada nenek saja yang disini. Nenek gak bisa jalan, jadi kalian tidak usah khawatir. Nenek orangnya baik." Kebetulan Kami punya kamar kosong"

"Pak, villa yang disebelah juga tempat penginapan ya?" Tanyaku selidik.

"Enggak nak, itu udah lama gak berpenghuni. Kebetulan bapak yang menjaga vila itu, ini kuncinya ada di bapak. Setelah gempa 2006, vila ini tidak berpenghuni. Tapi pemiliknya kadang kesini terkahir beliau kesini 10 tahun yang lalu. Beliau sekarang sudah menjadi pemimpin. Kamu juga tau sendiri nak, beliau orang terkenal. Kalau kalian butuh penginapan, kalian bisa menghubungi bapak ke nomer ini. Kamu bisa menginap di rumah bapak untuk sementara waktu, kalau nanti ke maleman"

"Saya kira, vila itu berpenghuni, tadinya mau menginap disana. "

"Kalau mau tidur, disini aja nak. Jangan ke vila itu, itu vila kosong. Bapak sendiri sering lupa dimana naruh kuncinya" jawab bapak tersebut tegas.

"Terimakasih pak atas bantuan bapak. Nanti saya coba hubungi teman teman saya dulu. Kebetulan saya sendiri, jadi untuk kesepakatan bersama mungkin kami berdiskusi dulu untuk masalah penginapan." jawabku sangat antusias

"baik nak, hati hati. Jangan sampai kemaleman ya, soalnya ini udah sore. Kasian kalau mau istirahat boleh disini bilang keteman temanmu." jawab bapak tua

"terimakasih banyak pak, kalau begitu saya permisi. Kebetulan hujan nya sudah mulai reda" jawabku

"sama sama, hati hati nak" jawab bapak tua.

"baik pak" jawabku

Hari sudah mulai semakin gelap, waktu menunjukkan pukul 16.30 akhirnya aku sampai di tempat pertama bersama teman temanku berkumpul.

"Ci, Lo kemana aja" ucap Ratih khawatir sambil berlari ke arahku.

"Aku habis beli makanan, sambil nanya nanya penginapan terdekat"

"Ci, Lo gak usah pisah sama kita lagi, pokoknya kemanapun kita pergi harus bersama, kejadian kaya gini gak boleh terulang lagi. kami khawatir" ucap Novi

"Ada acara hujan segala sih, kami bener bener takut kamu gak kembali Ci" ucap Ana, sambil di pelototi Santi.

"Ya, maksud kita, kita bener bener khawatir sama Lo. takut kenapa-napa" jawab Santi.

"Udah, sekarang aku baik baik aja. Aku janji, aku bakalan dengerin kalian dan bakalan tetep bareng kalian" jawabku tegas.

Semua orang mengangguk setuju, aku menceritakan, tentang penginapan yang di tawarkan bapak tua tadi, kebetulan, aku punya nomer hp nya. Namun aku memberikan pilihan, karena sedikit lebih jauh dari sini. Teman temanku memutuskan untuk mengambil kesepakatan kita akan bermalam di perumahan terdekat daerah sini, sehingga barang barang langsung di angkut ke tempat tujuan.

Sampai akhirnya kami semua mandi, makan dan beristirahat di penginaapan pilihan teman temanku. Kami semua bercanda sambil tiduran di kamar kami. Waktu tidak terasa sudah larut malam. Teman-temanku beristirahat dan tidur, kemudian akupun menyusul bersama mereka.

Ditengah malam, aku terbangun karena ingin minum, ku langkah kan kaki ku ke dapur untuk mencari gelas. Namun, ada satu yang membuatku penasaran, 'siapa yang mau nikahan?' gumamku, malam malam begini ko banyak banget suara gamelan. Setelah aku minum, akhirnya aku kembali ke tempat tidur ku, karena waktu menunjukkan pukul 1 malam.

Matahari pun bersinar terang, menunjukkan bahwa cuaca hari ini benar - benar bagus. Kami pun melanjutkan perjalanan, kami hanya sampai di kaki gunung dan hanya berfoto - foto kemudian kembali lagi ke rumah. Di perjalanan, rasa penasaran ku tinggi, sebelum pulang aku bercerita kepada bapak penjaga di perumahan tentang vila pemimpin. Dan jawaban dari bapak penjaga perumahan itu membuat diriku membeku

"Nak, kamu benar benar masuk ke vila itu?"

"Ya, saya masuk karena saya melihat ada mobil seperti mobil turis dan gerbangnya memang terbuka"

"Masa?" tanya bapak penjaga sambil bercanda

"Serius pak, tapi pas masuk juga saya kira ada penghuni soalnya ada nyala seperti TV, tapi tiba tiba pintu sebrang terbuka dan gelap tidak terlihat apa apa.

"Nak, sebenarnya. Gerbang itu selalu tertutup, pemiliknya pun terakhir kali berkunjung 10 tahun yang lalu. Tidak ada seorang pun yang pernah masuk ke vila sana, karena memang itu tertutup dan kuncinya di penjaga nya. Bukan sembarangan orang yang bisa masuk ke vila itu, karena sudah lama tidak berpenghuni."

Akupun menjawab sambil memikirkan sesuatu. " Lalu, bagaimana saya bisa masuk pak? Mata saya juga melihat dengan jelas, gerbangnya terbuka dan terlihat seperti ada mobil asing disana. Tapi bapak benar, ketika saya masuk memang tidak ada siapa siapa. Jadi kaki saya gemetar dan ingin segera pergi dari sana."

"Ayo kita coba buktikan, bahwa pintunya tertutup, kalau kamu gak percaya nak"

Aku hanya bisa tersenyum mengangguk mendengar penjelasan dari bapak penjaga perumahan.

Sampai akhirnya semua teman- temanku tau, dan mereka sangat jauh lebih khawatir tentang keadaanku. Sampai akhirnya kita pergi naik motor kembali. Karena aku penasaran, aku bertanya kepada Ratih tentang keberadaan vila pemimpin itu.

"Ratih, stop dulu."

"Ada apa Ci"

"Lihat, gerbang vila itu. Apa yang kamu lihat?"

Ratih menjawab.. "Ci, jangan yang aneh aneh deh, udah jelas pintu gerbangnya tertutup dan vila itu sepi. Ayo kita pulang, gak usah di pikirin."

"Oh ya, ayo pulang." Jawabku.

Dan kalian ingin tau apa yang aku lihat? Jawabanku masih sama, aku melihat gerbang vila pimpin itu terbuka lebar. Memang sepi, tapi terlihat seperti ada mobil asing, tepat seperti pertama kali aku melihatnya dan masuk kesana sendirian.

Bab berikutnya