webnovel

Clara.pov

"argh....!!!" seruku kesal, lalu kelempar komik yang sedang kubaca ke sembarang arah. sudah empat hari aku tidak keluar vila dan hanya melakukan kegiatan tidak jelas di vila, sangat membosankan. Dave sendiri berubah menjadi sok sibuk di kantor dan baru pulang menjelang matahari terbit, alias waktu dimana aku bisa tidur, membuatku tidak bisa melihatnya karena ketika aku bangun , sekitar jam sembilan atau sepuluh, dia sudah berangkat ke kantor, menyebalkan.

aku melihat jam dinding, sudah jam sebelas dan aku belum mandi dari tadi, tapi aku lapar, lebih baik aku turun dan sarapan, siapa yang peduli dengan penampilan kalau lapar sudah datang?

aku turun ke dapur, ada ratih disana, mungkin karena dia pelayan yang paling dekat denganku, makanya dia yang tetap stay di dapur untuk menyiapkan makan untukku dan menemaniku jika diperlukan.

"aku laper, makan apa sekarang?" tanyaku.

"tadi saya sudah masak ayam goreng, ikan goreng, ca kangkung dan sayur asam, akan saya siapkan" jawab ratih lalu mulai menyiapkan masakannya di meja. jujur, sebenarnya masakan ratih tidak terlalu enak, bukan berarti tidak bisa dimakan, tapi banyak pelayan lain yang bisa memasak lebih enak dibanding ratih, kalau dengan papa, jangan dibandingkan, tidak ada masakan pelayan sini yang lebih enak dari masakan papa, aduh.... aku jadi kangen papa.

"ratih, aku bosen banget disini, keluar yuk" ujarku disela makanku.

"Kata bos jangan dulu, tunggu keadaan aman dulu baru boleh keluar" jawab ratih.

"gak asik kamu, sesekali gak nurut sama Dave kenapa sih?" gerutuku, ratih tersenyum.

"mana berani saya melanggar perintah bos"

"bos apaan? dia tu cuma cowok diktator yang suka marah-marah gak jelas gara-gara hal kecil, childish" ujarku.

"menurutmu aku childish?" oh shit, aku menoleh ke belakang dan mendapati Dave, Diego dan mb. Rosa disana. sepertinya setelah kejadian malam itu mereka jadi sering bersama, dan aku tidak terlalu suka itu, maksudku, kenapa mereka bisa bersama dave sedang aku tidak? padahal aku kan istrinya, seharusnya aku yang berada di sampingnya dan mendukungnya. tapi sepertinya dukungan Diego dan mb Rosa jauh lebih berguna daripada dukunganku. selamat Clara, sudah menjadi istri yang tidak dibutuhkan suamimu. sialan, karena sedang datang bulan moodku jadi berubah-ubah tidak jelas dan sepertinya sekarang sedang buruk-buruknya, dan karena itu aku jadi kesal dengan kenyataan bahwa aku tidak penting bagi Dave.

aku bangkit dan menatap Dave tanpa takut.

"iya, kamu childish, kenapa? gak terima?" ujarku dengan nada menantang. Dave tampak tidak senang dengan itu, dia mendekatiku.

"harusnya kamu sadar diri siapa kamu sampe kamu berani ngatain aku kaya gitu, sekarang minta maaf sebelum aku marah dan nyuruh kamu berlutut saat ini juga, moodku lagi gak bagus, jadi jangan mempersulit dirimu sendiri" kata Dave dengan nada suara rendah, jika biasanya tatapan Dave cukup membuatku takut, kali ini tidak, hanya marah yang kurasakan.

"maaf? orang kaya kamu gak pantas buat nyuruh aku minta maaf ke kamu" ujarku. wajah Dave terlihat makin gelap.

"kamu omong kaya gini apa lupa sama janji kamu ke papamu untuk jadi istri yang baik buat aku? kamu lupa itu?"

diingatkan tentang itu aku makin kesal.

"aku sama sekali gak lupa, tapi kamu sendiri yang buat aku jadi kaya gini, kamu gak anggap aku penting buat kamu, gimana aku bisa jalanin peranku dengan baik? kalo gini yang salah siapa?!" ujarku emosi. tapi Dave malah menatapku dengan tampang bingung.

"maksud kamu apa sih?" tanya Dave.

"kalo punya otak mikir sendiri" kataku lantas pergi begitu saja.

dasar tidak peka, lupa apa kalau sudah meninggalkanku sendirian selama empat hari dan tidak mengajakku terlibat dalam masalahnya? yang istrinya itu aku atau Diego, atau mb. Rosa?

bruak! kubanting pintu kamar keras-keras lalu menghempaskan diriku di ranjang dan menenggelamkan wajahku di bantal lalu menangis. dasar Dave bodoh, gak peka, bego!

ya ampun.... kenapa aku jadi sangat cengeng? hanya karena ini saja aku sudah menangis. sadar Clara! untuk apa aku menangisi orang tidak berguna seperti Dave?

tok tok tok.... seseorang mengetuk pintu, siapa itu?

"ra, aku mau omong!" terdengar suara dave. sialan, kenapa dia harus datang disaat keadaanku begini?

aku segera berlari ke kamar mandi, tepat setelah pintu kamar terbuka aku masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam.

"ra, kamu di dalam?" tanya dave.

"udah tau nanya, aku mau mandi" balasku. tidak ada balasan, berhubung aku belum mandi sejak tadi aku memutuskan untuk mandi, siapa tau setelah aku mandi dave sudah tidak ada.

tidak perlu waktu terlalu lama, hanya dua puluh menit aku sudak selesai. aku keluar hanya memakai handuk kimonoku, rambutku yang basah kubungkus dengan handuk kecil, sepertinya dave sudah tidak ada, untunglah.

"ngapain kamu ngendap-ngendap?" aku berjingkat kaget saat mendengar suara itu, aku menoleh ke samping dan mendapati dave di samping pintu kamar mandi. aku buru-buru masuk kamar mandi, namun ketika hendak menutup pintu kamar mandi kembali dave menahannya, jadilah kami saling mendorong pintu.

"lepasin gak? ngapain sih kamu? minggir gak?!" kataku sambil berusaha mendorong pintu agar tertutup, tapi tenaga dave jauh lebih besar dariku, jadi aku kesulitan melakukannya.

"gak akan, kamu jelasin dulu kenapa kamu marah-marah gini, pake nangis segala, gak jelas tau" ujar dave.

"kamu sendiri ngapain kepo sama sesuatu yang gak jelas gini? unfaedah, tau gak?" balasku.

"justru karena gak jelas jadi perlu dikepoin biar jelas, buka gak?" ujar dave.

"enggak....!!! minggir....!!! jangan nyusahin aku deh!" karena kesal aku pun menggigit lengan dave yang sudah masuk.

"argh!" seru dave, reflek dia menarik tangannya, kesempatan untukku menutup pintu. sayangnya tangan dave belum sempurna keluar saat aku menutup pintu, jadi....

"argh...!!!"

seru dave kesakitan, saat jari-jarinya terjepit pintu.

"ya ampun dave!" jeritku setelah melepas pintu, dapat kulihat kulit jari-jari dave yang terkelupas dan mengeluarkan darah.

"dave, sorry, aku gak sengaja...." ucapku merasa sangat bersalah, aku berusaha meraih tangannya, namun dia menghempaskan tanganku.

"gak usah pegang-pegang!" bentak dave, lalu berjalan cepat menuju ruang kerjanya. aku mengikutinya masuk ruang kerjanya. baru kali ini aku masuk ke ruang kerja dave yang rapi dengan buku-buku dalam rak besar, lalu.... stop! ini bukan saatnya mendeskripsikan ruang kerja dave, pikirkan luka dave!

dave mengambil kotak p3k dari laci, dan meletakannya si meja kerja, dia duduk di kursinya lalu membuka kotak itu.

"a.... aku bantuin...."

"biar aku sendiri!" tolak dave kasar saat aku mencoba membantunya mengobati lukanya.

aku hanya diam mengamati dave yang susah payah membuka botol alkohol dan saat dia menuangkannya....

"argh....!!!" teriaknya kesakitan saat sebool alkohol tumpah di jari-jarinya yang terluka. andaikan bukan aku yang menyebabkan dave terluka, sudah pasti aku menertawakannya, hanya saja tidak seperti itu, aku yang salah dan melihatnya begitu membuatku sangat tidak tega dan makin merasa bersalah.

"makanya sini aku bantuin" ujarku sambil mengambil alih tangan dave, kali ini dia tidak protes. karena tidak ada kursi untukku duduk, aku duduk di meja kerja dave.

"hei, jangan dudukin mejaku" protesnya.

"udah diem aja, cuma bentar" balasku. aku mulai mengobati luka dave.

"argh! sakit bego!" seru dave saat aku mulai 'mengoperasinya', aku tau aku tidak berbakat dalam hal beginian, dan sepertinya aku tadi agak kasar saat melakukannya jadi dia kesakitan.

"sorry, aku akan coba lebih pelan, jangan banyak gerak, sorry udah buat kamu jadi kaya gini, tapi sebenernya ini gara-gara kamu sendiri lho, coba kamu gak nahan aku pasti jarimu gak akan kaya gini" ucapku. aku mencobanya lebih pelan, kali ini dia hanya meringis menahan sakit.

"udah tau salah, tapi masih aja nyoba membela diri" balas dave terdengar kesal.

"iya iya aku yang salah dan kamu bener, puas?" kataku, malas berdebat. kami diam, dapat kurasakan tatapan mata dave yang sejak tadi tak lepas dari wajahku, membuatku enggan untuk memalingkan muka padanya, bukan karena takut akan tatapannya yang tajam, tapi tatapannya kali ini sangat intens, seakan-akan seluruh bagian wajahku merupakan sebuah inti penting yang tidak dapat terlewatkan dan itu membuat jantungku senam zumba di siang bolong seperti ini. atau mungkin hanya perasaanku saja, pastinya otakku agak geser setelah kejadian malam itu dan membuatku berpikir yang tidak-tidak.

"jadi.... kenapa kamu marah?" tanya dave tiba-tiba. aku meliriknya sekilas dan tatapannya belum berubah.

"bukan masalah baru sih sebenernya, tapi mungkin karena aku lagi 'dapet' jadi emosian gini" jawabku.

"jadi masalah apa yang bikin kamu marah?"

aku diam sesaat, berniat menyelesaikan balutan perban terakhir pada jari dave.

"kamu tau aku pengen jadi istri yang baik buat kamu, tapi selama ini kamu kaya gak pernah aggap aku sebagai seseorang yang penting buat kamu, gimana aku bisa jalanin peran itu? aku tu pengen bisa bantu kamu kaya diego, kaya mb rosa yang selalu disisi kamu, bukan cuma santai-santai di rumah kaya gini, seakan-akan ada enggaknya aku sama sekali gak penting buat kamu" ujarku setelah selesai membalut luka dave.

"bodoh, kalo kamu terlibat kamu bisa kena masalah juga, harus berapa kali aku jelasin ini ke kamu?" ujar dave. aku diam sesaat.

"tapi tetep aja aku gak suka itu. aku pengen terlibat dengan apapun yang ada hubungannya sama kamu, atau kalau aku emang gak bisa bantu kamu dalam masalah ini seenggaknya kamu perhatian dikit sama aku, anggap aku ada, jangan pulang pergi tanpa kabar sama sekali kaya gini seolah-olah aku gak ada dan gak berharga buat kamu sama sekali" ujarku sambil menatap dave, dave sama sekali tidak menghindari tatapanku. mataku terasa panas dan dalam hitungan detik air mataku mengalir, aku mulai terisak.

"bodoh, bisa-bisanya aku nikahin cewek bodoh dan cengeng kaya kamu gini"

eh, apa maksudnya mengatakan hal itu?

dave berdiri, aku agak terkejut saat ia tiba-tiba memegang pundakku, dengan sedikit membungkukan badannya dia menatap mataku yang kini sejajar dengan matanya.

"denger, buat apa aku lindungi kamu kalo kamu gak berharga buat aku? lagian.... gak semua orang nunjukin perhatiannya dengan cara yang sama kaya selalu nanyain kabar dan lain sebagainnya, aku gak suka buang-buang waktu kaya gitu. gimana caraku lindungi kamu, gak buat kamu terlibat dalam masalahku, marah ke kamu dan memenuhi kebutuhan kamu, ya itu caraku nunjukin perhatian sama kamu. kedengerannya seolah-olah aku gak peduli dan mungkin kamu juga kurang puas dengan itu. tapi emang ini cara yang bisa aku lakuin dan aku harap kamu bisa terima itu" ujar dave sambil menatapku tanpa kedip.

"bohong" ucapku pelan. dave menghela napas dan melepas tangannya dari pundakku.

"aku gak tau gimana lagi cara jelasin ke kamu, mau percaya atau gak itu pilihan kamu, yang penting aku udah berusaha semampuku" ujar dave lalu beranjak pergi. tidak, aku harus menghentikannya.

aku melompat turun dari meja dan memeluk dave dari belakang, jantungku berdetak kencang, terkejut dengan apa yang telah kulakukan, memeluk dave! yang benar saja?! otakku sudah tidak bekeja atau bagaimana? bisa-bisanya aku bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu! dave pun sepertinya juga terkejut dengan tindakanku.

"jangan pergi dulu, please....aku... aku percaya sama kamu, jadi.... jangan pergi dulu ya, please...." ucapku gugup.

sebenarnya aku ragu antara harus mempercayai kata-katanya tadi atau tidak, jika memikirkan perkataan dave yang dulu, sepertinya yang ia katakan barusan hanya omong kosong. tapi.... memangnya apa lagi yang kuharapkan? bukankah itu yang kuinginkan selama ini? diberi perhatian dan dianggap berharga? biarlah kali ini aku mempercayai kata-katanya, andaikan dia hanya berbohong, maka biarlah, biarkan aku menjadi orang bodoh yang mempercayai ucapan dave untuk kali ini.

dave melepas pelukanku, dan berbalik menatapku dengan jarak yang amat dekat. terlalu dekat hingga aku sulit untuk bernapas.

"beneran kamu percaya?" tanya dave, aku mengangguk, lalu dave tersenyum, buka senyum dingin tentu saja, tapi senyum hangat yang seperti.... entahlah, aku tidak ingat dave pernah tersenyum seperti ini padaku. aku hanya bisa diam terpaku ketika dia mulai menghapus air mata di wajahku.

"gini donk dari tadi, jadi aku gak perlu cemasin kamu kaya tadi" ujar dave, bukan membuatku membaik, melainkan membuatku semakin ingin menangis.

"hiks.... hiks...." aku berusaha menahan isakanku, tidak ingin wajah yang sudah dibersihkan dave kembali dikotori air mata.

"hei hei, kok nangis lagi?!" ujar dave panik. dasar bodoh!

"hiks.... hiks.... dave....!" aku memeluk dave dan menenggelamkan wajahku di dadanya yang kini mulai basah oleh air mataku.

"hei! kamu ngotorin bajuku! habis ini aku harus ke kantor lagi!" seru dave.

"dasar pelit! cuma numpang bentar, kaya gak punya baju lain aja kamu!" ujarku disela tangisku. dave menghela napas panjang lalu berkata.

"ok, khusus hari ini aja aku biarin kamu kaya gini, besok lagi jangan harap" aku tidak peduli dengan perkataan dave karena setelahnya dia balas memelukku sambil mengelus kepalaku, sangat nyaman, terus lakukan dave, biarkan aku menikmatinya meskipun hanya sebentar saja.

Chapitre suivant