"Hei, kalian!"
Suara akrab memanggil mereka berdua dari belakang, dengan cepat Yoo Jonghyuk berbalik dan tebakannya benar. "Kim Dokja?"
Si pemanggil, Kim Dokja, terlihat seperti seorang anak yang dipukuli oleh sekelompok gangter ditambah ekspresi lelahnya seolah dia berlari maraton untuk mencari mereka. Itu patut dipertanyakan bagaimana dia bisa menemukan Yoo Jonghyuk dan God Of Stories di sini?
Dan mereka tak perlu menunggu jawabannya.
"Jangan lanjutkan tindakan kalian!" peringat Kim Dokja sambil terengah-engah dan mengeluarkan benda yang disembunyikan dalam kotak kayu kecil, itu bola kaca di kamar Ayahnya, dia mencurinya. Tanpa peduli apakah nyawanya akan melayang nanti, Kim Dokja akan memberitahu dua orang ini, alasannya? Dia tidak tahu, pokoknya dia merasa harus melakukannya.
Yoo Jonghyuk menyipitkan matanya untuk melihat bola kaca tersebut, kemudian dia memahaminya. Bola kaca itu seperti cermin banyak sisi, atau tepatnya kaleidoskop. Di salah satu sisi, Yoo Jonghyuk melihat bahwa keberadaannya dan God Of Stories ditampilkan di sana, tetapi Kim Dokja tidak ada. Apa dia hantu? Ataukah karena dia inti dunia cerita ini?
"Kau, sial, apalagi ini?!" teriak God Of Stories yang menunjuk bola kaca itu dengan ekspresi ngeri di wajahnya.
Inilah arahan yang disebutkan 'orang itu', temukan benda yang menunjukkan banyak sisi darinya, dan kata-kata "Bunuh musuh di balik layar." Hanyalah lelucon untuk membuat situasi mereka lebih dramatis. Namun, God Of Stories takkan jatuh pada tipuan lagi, 'orang itu' mengatakannya dengan suara datar yang penuh kepalsuan lagi.
'Dia' bersikap serius ketika mencoba membuat pernyataan yang memukul mereka dari belakang kepala, maksudnya berkebalikan dari apa yang diucapkan.
Iris mata abu-abunya memantulkan bayangan bola kaca yang merekam aktivitas mereka di dalamnya saat ini. Selain itu, ketika Kim Dokja menggeser seperti layar sentuh smartphone, rekaman berubah ke adegan lain. Wajah Yoo Jonghyuk mengeras setelah mengkonfirmasi rekaman selanjutnya, yaitu rekan-rekan partainya ditampilkan di sana sedang berada di suatu ruangan besar yang berisi benda-benda aneh, dan dia tahu apa benda-benda itu, itu adalah 'hadiah' yang dijanjikan. Betulkah? Yoo Jonghyuk masih tidak yakin, tetapi melihat bahwa anggota partainya berekspresi sedih, terharu, terhibur, dan kecewa, menegaskan dugaannya.
"Hei," seru Kim Dokja tiba-tiba. "Aku tahu ini sulit dipahami, tetapi bisakah kalian mengajakku jika kalian benar-benar ingin melanjutkan tindakan itu meski sudah diperingatkan? Maksudku, aku harus memberitahu kalian bahwa rencana yang hendak kau berdua lakukan akan merusak sesuatu. Itu, aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa berpikir begini," lanjutnya dengan suara semakin pelan. Namun, God Of Stories dan Yoo Jonghyuk dapat mendengar getaran dari suaranya. Kim Dokja entah mengapa terlihat takut, bukan ketakutan pada kematian, tetapi hal lain yang lebih besar, misal dunia cerita ini dihancurkan.
Akan tetapi, bagaimana dia tahu? Apakah 'orang itu' meninggalkan bisikan atau peringatan dalam pikirannya sebelum pergi? Semakin terkuak segala hal tak masuk akal ini, semakin sulit menerimanya, tetapi pada saat yang sama mereka harus percaya bahwa itulah yang terjadi.
Sama seperti bagaimana Han Sooyoung putaran 1863 sebenarnya adalah God Of Stories ini dan bagaimana kedua Han Sooyoung tidak mengatakan bahwa salah satu dari keduanya adalah avatar atau tiruan atau mungkin karakter?
Kim Dokja yang bersama Plotter juga sama, yang itu sama sekali tidak menyangkal bahwa dia 'Kim Dokja'. Namun, juga tidak menyatakan bahwa 'orang itu' bukan 'Kim Dokja'.
Potongan teka-teki sekali lagi berserakan dan menyebabkan kebingungan besar di pihak mereka yang sebelumnya adalah bagian dari sebuah dunia cerita 'Ways Of Survival' yang telah dicampurtangani oleh satu-satunya pembaca yang tahu akhir dunia.
"Kim Dokja." Yoo Jonghyuk memanggil sambil menghampiri seseorang yang merupakan 'cerminan' dari orang paling misterius itu. Banyak rahasia mulai terungkap secara mendadak maupun perlahan dan tak satupun dari mereka yang menjadi rekan 'orang itu' dapat menerimanya begitu mudah.
Tetap saja, mau tak mau inilah kebenarannya. Inilah akhirnya, dan seharusnya mereka yang menjadi bagian dunia cerita 'Ways Of Survival' yang diubah olehnya berhenti di epilog yang telah ditentukan. Namun, sama seperti kesimpulan awal Han Sooyoung bahwa dia takkan membiarkan cerita ini berakhir, maka dia menemukan kesimpulan barunya yang asli, dirinya yang lain, tls123, penulis yang diatur untuk menciptakan dunia kehancuran dengan alasan 'demi menyelamatkan dia'.
Yoo Jonghyuk berdiri tepat di depan Kim Dokja yang sekarang linglung, yang terakhir dengan gugup menyerahkan bola kaca itu sambil berkata. "Aku mungkin mendapat masalah besar nanti, t-tapi firasatku menyuruhku untuk memberikan ini." Walaupun dia mengakui bahwa dia menolak permintaan mereka dulu. Itu sebelum dia mengetahui 'apa bola kaca ini'.
Yoo Jonghyuk hanya menatapnya tanpa mengambil bola kaca itu, tatapannya begitu intens membuat Kim Dokja sedikit merinding.
Kim Dokja bertanya-tanya dalam hati, kenapa seseorang menatapnya seperti itu? Dia belum pernah menerimanya, apalagi Ibunya yang jarang dia lihat di rumah. Satu sudut hatinya meneriakkan sesuatu tentang dia hanyalah bagian dari sesuatu yang diatur, dia boneka. Namun, Kim Dokja tak bisa menerimanya, dia bukan boneka. Oleh sebab itu, tindakan nekatnya sekarang adalah taruhan dari kepercayaannya.
"Benar, kau bukan boneka. Tak peduli ada berapa banyak darimu yang ada di luar sana dan orang bodoh yang kukenal itu, setiap darimu pasti hidup dan memiliki cerita yang berbeda," kata Yoo Jonghyuk seolah dapat membaca pikirannya. Yang terakhir terkesiap dan hampir saja menjatuhkan benda di tangannya. Itu gawat.
"Kalau begitu." Yoo Jonghyuk meneruskan. "Apa kau siap menemui ujung di luar dunia ini? Meninggalkan duniamu, Kim Dokja?"
Bagi Yoo Jonghyuk, semua Kim Dokja tetaplah Kim Dokja, tak peduli apakah mereka berbeda. Perasaan ini sama seperti yang diutarakan 'orang itu' ketika dia mendapatkan jawaban setelah dipaksa menabrak tembok oleh Yoo Sangah, wanita yang menakutkan. Untuk 'orang itu', Yoo Jonghyuk mulai dari regresi ke-0 sampai dirinya sekarang tetaplah Yoo Jonghyuk.
Dan Plotter juga Yoo Jonghyuk, dia tak terima untuk satu hal ini. Plotter sudah mendapatkan 'Kim Dokja'-nya, lalu bagaimana dengan dia?
Sangat sulit hanya menahan satu, tetapi sekarang muncul banyak sekali dari 'orang itu', dia menyimpulkan itu dari dunia ilusi dan sekarang dunia cerita ini. Apa perbedaan keduanya? Lalu bagaimana cara 'orang itu' mengumpulkan semua jiwanya yang tersebar ke alam semesta saat terbangun di ranjang rumah sakit? Peristiwa yang sangat berkesan itu masih teringat jelas.
Mungkinkah ... malah sebaliknya?
Hening yang lama sampai akhirnya Kim Dokja ini mengangguk dengan tekad. "Aku ingin tahu … kalian pasti melihat bahwa aku tak ada dalam rekaman ini," ujarnya. "Aku ingin tahu alasannya dan mengapa Ayahku sangat waspada tentang benda ini …."
God Of Stories terkejut karena tak menduga anak bodoh ini akan mengucapkan sesuatu yang begitu bermakna. "Hah," dengusnya saat menyamakan anak ini dengan 'dia'. Tidak, dia menggeleng, seharusnya dia tidak membandingkannya.
Ah, God Of Stories terlambat memahami arti kata-kata si protagonis. Bukankah mereka berdua berniat memanggil 'orang itu'? Lalu kenapa si protagonis yang sibuk dengan dirinya sendiri menyerukan hal ambigu yaitu menemui ujung di luar dunia ini?
Ujung? Apa maksudnya? God Of Stories tiba-tiba merasa punggungnya berkeringat. 'Tidak mungkin, kan,' pikirnya dengan keras. 'Tidak mungkin, protagonis ini mengetahuinya."
Itu ada di ranah lain bagi God Of Stories untuk bahkan menyebutnya, sesuatu yang dijelaskan 'pemilik sebelumnya' Tower Of Nightmares ketika pertama kali bertemu dalam dunia naungan 'The First Nightmares'.
—Ini adalah akar, dan untuk mencapai ujung ... kau harus memiliki izin dari salah satu 'anaknya'.
—Tak perlu mengerti perkataanku, ini hanya hal-hal yang kusimpulkan sendiri setelah lama mengembara. Namun, harus kuakui, aku bahkan tak bisa menyentuh sedikit batangnya.
—Apa kau tahu, duniaku berada di akar. Namun, untuknya berbeda. Perenungan yang panjang kemudian sampai ke beberapa hipotesis.
—Jadilah God Of Stories dan rawatlah semua cerita dari seluruh alam semesta alternatif di bawah Tower Of Nightmares, dan tempatmu akan berada lantai tertinggi Pohon Ilusi.
—Peraturan untukmu adalah jangan keluar dari sana.
—Kecuali The First Nightmares memintamu secara langsung.
Dan God Of Stories benar-benar mematuhinya, pada saat ini dia harus mengakui penyebab dari tindakannya. The First Nightmares.
Satu puzzle menempatkan diri ke bagian yang tepat.
"Aku juga ingin tahu ... bagaimana caraku hidup di dunia yang mengandalkan masa sekarang bagi diriku yang hidup di masa lalu?" sahut Yoo Jonghyuk dengan pandangan nostalgia yang mengarah ke langit gelap.
"Yoo Jonghyuk," panggil anak perempuan di belakangnya. "Kau … tahu itu, sejak kapan?" Suaranya terdengar takut.
Sedikit seringai menghiasi wajah tampan yang pertama. "Sejak aku mendapatkan ■■ milikku," jawabnya.
"Apa itu?" tanya God Of Stories, mengesampingkan Kim Dokja yang menganga.
"Kau pasti bisa menebaknya dengan sangat jelas," tutur yang pertama sambil menoleh ke arahnya.
Yang terakhir mengerutkan kening. "Ini bukan waktunya bercanda. Kau belum memberitahuku ■■ milikmu!"
Yoo Jonghyuk berbalik dengan tatapan tak percaya. "Apa kau entah bagaimana kehilangan kemampuan terbaikmu? Prediksi?"
God Of Stories cegukan, dia menggenggam kedua tangannya dan dengan gagap berteriak. "Y-ya! Entah hal sialan apa yang mengambilnya! Jadi, katakan padaku!"
Sebelum Yoo Jonghyuk dapat bersuara lagi, —
<Time Controller yang Agung telah memulai perjalanannya lagi>
Kedua figur mainan di tangan kirinya bernyanyi untuk membungkam mereka sementara hingga —
"Terlambat," bisik Yoo Jonghyuk dengan murid-murid matanya membesar.
***