webnovel

Kenangan yang Indah

Autor: mawarose7
General
En Curso · 3.1K Visitas
  • 1 Caps
    Contenido
  • valoraciones
  • N/A
    APOYOS
Resumen

Jika kalian menjadi diriku, siapa yang akan kalian pilih?

Chapter 11. Problem

Namaku Park Hana. bisa kalian lihat dari namaku, aku berasal dari Korea Selatan. Ibu dan Ayahku warga asli korea selatan. aku pindah ke Indonesia saat umurku menginjak tujuh tahun. awalnya orangtuaku ke Indonesia karena urusan pekerjaan, namun mereka malah menyukai negara ini hingga memutuskan menetap disini.

sebenarnya, jujur.. aku tidak mau berada di Indonesia. bukan karena aku benci negara ini, tapi.. aku ingin bertemu dengan seseorang di Korea. Aku terlalu rindu padanya.

tapi mau bagaimana lagi? orangtuaku sangat mencintai Indonesia, aku tidak bisa apa-apa, hingga.. saat umurku menginjak sepuluh tahun, aku baru tahu bahwa seseorang yang kurindukan itu tidak lagi berada di Korea.

kuceritakan kisahku dengan sahabat-sahabat ku, dengan mereka berdua, dengan semua orang yang ku kenal, dan menunjukkan bahwa aku tetap menghargai mereka walau keputusan ku sudah bulat.

Namaku Park Hana, umurku tujuh belas tahun.

-------

Aku menekan tombol pena ku karena bosan. wali kelas kami belum juga menunjukkan batang hidungnya walau bel sudah berbunyi sekitar lima belas menit yang lalu.

Seorang perempuan berambut pendek duduk disebelahku. Dia Fina, sahabatku sejak SMP.

"Apa Pak Hasan sakit? biasanya dia selalu datang tepat waktu," Fina memulai pembicaraan.

"Bukankah itu keinginanmu sejak dulu? agar selalu bisa main ponsel dengan nyaman?"

"memang keinginanku. tapi, Pak Hasan selalu datang tepat waktu, sekarang tidak. bukankah itu aneh?"

saat mulutku ingin bersuara lagi, tiba-tiba seluruh murid di kelasku pergi ke tempat duduknya, begitu juga Fina.

aku menoleh kearah pintu kelas. seorang guru laki-laki yang masih muda, berjalan maju kearah meja guru. dia pak Hasan, wali kelas kami.

"maaf karena bapak telat. ada masalah soal lembar ujian tadi," dia berkata dengan suara beratnya.

hari ini memang ujian, namun bukan ujian resmi. ini hanya bentuk ujian uji coba. ujian hari ini kebetulan fisika.

"bapak akan membagikan soal ujian tiga puluh menit lagi. gunakan waktu ini untuk menghapal, paham?"

"paham!" semua murid menjawab.

Pak Hasan segera keluar dari kelas, langsung semua murid mengobrol kembali, tanpa menghapal apapun atau menanyakan soal pelajaran yang tidak di mengerti.

karena suasana yang sangat ribut, aku pergi keluar dari kelas. rencananya aku ingin pergi ke toilet, bukan membolos.

saat aku berada di toilet, tanpa sengaja aku mendengar sebuah pembicaraan. pembicaraan dua orang teman sekelasku.

"mana kertas ujian yang kamu curi di kantor guru itu? cepat, berikan!" terdengar suara perempuan yang terlihat galak, dia Rifa.

aku menoleh kearah mereka berdua dengan posisi yang masih sembunyi-sembunyi. terlihat perempuan lainnya, dia bernama Windy, dia memberikan sebuah kertas, yang aku yakini adalah kertas ujian. aku melihat ekspresi Windy yang begitu ketakutan.

aku mengepalkan tanganku. mereka menindas orang yang lemah. aku benci ini.

"kerja--"

"apa yang kalian lakukan?" aku bertanya, memberanikan diri muncul dihadapan mereka berdua.

Rifa berdecih. "kamu mendengar semuanya?"

"Kamu menyuruh orang lain untuk mengambil soal ujian?" ekspresiku sekarang terlihat begitu marah.

Rifa melangkah maju mendekatiku. "memangnya kenapa?"

aku mengambil kertas ujian itu. "kembalikan!!" Rifa terlihat marah.

"Jika aku melaporkan ini kepada guru--"

Windy mengambil kertas ujian itu dari tanganku. "jangan lakukan itu, Hana. percuma."

Windy memberikan kertas ujian itu kepada Rifa kembali. Dia dengan cepat menarik tanganku, keluar dari toilet.

Windy membawaku ke ruang yang jauh dari sekolah. dia menatapku dengan tatapan kesal. "harusnya kamu tidak ikut campur!"

"eh?" aku bingung saking terkejutnya. kukira dia akan berterima kasih kepadaku karena sempat membela dirinya.

"kamu tahu kan? dia anak sahabat kepala sekolah. jadi tidak apa-apa jika dia mendapat bocoran soal dan--"

"mau dia anak sahabat kepala sekolah atau anak presiden sekalipun, jika dia berbuat salah.. maka dia harus di tegur! mencuri soal ujian? itu adalah perbuatan yang salah."

"tapi--"

"Windy, jangan lakukan hal itu lagi. kamu bisa saja dalam bahaya. aku akan pergi ke kelas. aku harus menghapal."

aku meninggalkan Windy sambil berjalan ke kelas ku kembali. sial! aku jadi tidak bisa ke toilet gara-gara anak sialan itu.

---------

ujian telah di mulai. semua orang mengerjakan soal ujian dengan teliti. kecuali murid di kelasku. ada yang memakai penghapus untuk menentukan jawabannya, ada yang asal-asalan, dan sedikit yang serius walaupun mereka terlihat tidak mampu menjawabnya.

aku termasuk dari anak-anak itu. sungguh, soal ujian ini begitu sulit. bagaimana caranya aku menjawabnya?

aku menoleh kearah Rifa. dia terlihat senang. pasti dia senang karena dia mendapat jawabannya karena dia memang sudah tahu soalnya dari tadi.

aku berdecih dan kembali fokus kepada lembar jawaban.

---------

tidak terasa waktu ujian sudah berakhir. semua murid memberikan lembar ujiannya kepada Pak Hasan.

Pak Hasan menatap seluruh isi kelas, lalu menghela napas berat. "kita akan melakukan pemeriksaan. diharapkan kalian menaruh tas kalian di atas meja. bapak mendengar keluhan bahwa ada yang mendapat lembar ujian."

Sontak Windy menatap kearahku. dia seakan-akan bertanya apakah aku yang membuat laporan itu. aku langsung menggeleng. mungkin ada seseorang yang mendengar pembicaraan di toilet selain diriku, Windy, dan Rifa.

Pak Hasan memeriksa satu persatu tas murid di kelas kami. saat giliran Rifa tiba, aku sudah menduga bahwa dia akan tertangkap. namun, hal ini begitu aneh, bahkan sangat aneh. di tasnya tidak ada satupun lembar ujian itu. tidak mungkin dia membuangnya dengan mudah. aku yakin dia pasti melihat jawaban yang sudah ia terima dari Windy saat ujian.

sekarang giliran ku. ntah kenapa jantungku berdetak begitu cepat. aku terus bertanya-tanya dalam hati, kenapa jantungku berdetak cepat? aku kan tidak mencontek.

tasku di periksa satu persatu. Pak Hasan mengeluarkan beberapa buku. buku pelajaran, buku novel, dan buku catatan. lalu dia mengeluarkan kotak pensilku. dan terakhir, benda terakhir ini..

Semua Murid langsung terkejut melihatnya. Lembar soal ujian fisika, lengkap dengan jawabannya, ada di tasku secara tiba-tiba.

"Park Hana, bisa jelaskan ini?"

aku menatap lembar soal itu. bagaimana bisa.. lembar itu ada disana?

También te puede interesar
Tabla de contenidos
Volumen 1

valoraciones

  • Calificación Total
  • Calidad de escritura
  • Estabilidad de Actualización
  • Desarrollo de la Historia
  • Diseño de Personajes
  • Contexto General
Reseñas
¡Guau! ¡Si dejas tu reseña ahora mismo, sería la primera!

APOYOS