webnovel

Membuat keputusan

Setelah Ivanka bercerita dengan Ko Andy membuat hatinya lebih lega. Ko Andy adalah sosok pria yang di hormati Ivanka.

Malam hari nya Ivanka bertemu Ryan. Ivanka memilih pergi ke tempat yang agak jauh dari perusahaan mereka untuk mengatakan keputusan nya kepada Ryan.

Mereka tiba di kafe Pojok. Kebetulan tempatnya tenang dan mereka juga mendapat meja yang bagus untuk membuat mereka bisa berbincang dengan santai.

Setelah makan dan berbincang banyak hal, Ivanka memulai berkata ke inti permasalahan.

"Aku akan mengambil peluang untuk pergi ke Cina. Karena selain untuk gaji yang besar, aku juga bisa belajar lebih banyak disana."

Mendengar perkataan dari mulut Ivanka, wajah Ryan berubah. Dari senyum-senyum menggoda berubah menjadi kesedihan.

"Apakah itu sudah keputusan final mu? Bisa kah kau memilih ku? Walaupun gaji ku tidak sebesar gaji mu tapi sudah lumayan ditambah lagi aku juga mendapat promosi naik pangkat dari staf menjadi kepala shif. Semua uang gaji ku akan ku berikan kepadamu". ucap Ryan penuh harap.

"Maaf tapi aku ingin mencoba nya. Aku akan kembali dalam 3 tahun. Dan aku tidak akan menahan mu." ucap Ivanka

Andy : " Apa maksud mu ?"

Ivanka : "Aku berterima kasih atas apa yang sudah kau berikan kepada ku selama ini. Aku sangat menghargai nya. Dan aku tidak akan menyusahkan mu lagi. Kita memulai ini dengan baik, mari kita mengakhiri dengan baik pula. Mulai sekarang kita akan mengambil jalan yang berbeda. Aku berdoa agar kamu menemukan wanita lain yang jauh lebih baik dari ku."

Ivanka merasa sakit yang dalam di relung hatinya. Dia tetap menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia ingin terlihat kuat di depan Ryan.

"Tidak!!"

"Kalau memang keputusan mu itu, aku akan mendukung mu, aku akan menunggu mu. Setelah kau kembali kita akan menikah." Ucap Ryan dengan kesungguhan nya.

Tapi yang membuat Ivanka terkejut dia melihat air mata menetes di wajah pria yang di cintai nya itu.

Dia tidak pernah melihat pria menangis di depannya. Itu membuatnya bingung. Dia tidak tahu harus melakukan apa.

Lalu Ivanka memajukan posisi duduknya dan meraih tangan hangat Ryan.

"Tiga tahun bukan lah waktu yang sebentar. Dan aku tidak ingin membuat mu terbebani. Aku bukan cuma keluar kota tapi kita akan di pisahkan negara juga. Untuk kita berkomunikasi juga akan sulit. Jadi aku mau kamu mendapatkan kebahagian mu." ucap Ivanka.

"Kamu tidak usah merasa terbebani. Aku yang akan menunggu mu, jika kau mendapatkan pria lain di sana aku tidak akan menuntut apapun. Tapi jika kamu pulang dan masih mencintaiku, aku masih ada disini untuk mu" jawab Ryan masih dengan air mata yang sesekali turun dan dia akan memalingkan wajah nya untuk menyembunyikan tetesan air matanya dari pandangan Ivanka.

Ivanka adalah wanita pertama yang membuatnya menangis, bahkan yang lebih parah dia tidak bisa menahan air matanya di depan wanita yang di cintai nya.

Ryan sulit untuk melepaskan Ivanka. Bukan tidak mungkin Ivanka akan melupakan nya. Di sini dia cukup populer. Dia mempunyai magnet yang dapat membuat pria penasaran saat melihatnya tersenyum dan dia juga selalu bisa membuat orang di sekeliling nya nyaman. Ivanka tidak pernah merasa dirinya menarik tapi dia juga mempunyai kepercayaan diri yang luar biasa. Dia hanya mensyukuri apa yang ada di dirinya membuatnya tidak sombong dan menjadi nilai plus lagi buat dirinya.

Cuma Ryan juga menyadari Ivanka tipe keras kepala. Saat dia sudah memutuskan sesuatu, dia tidak akan goyah.

Nächstes Kapitel