Aku scroll terus … klik sana klik sini. Tampaknya tidak ada yang menarik.
Semua beranda Instagram didominasi dengan postingan yang kebanyakan berisi quotes, beberapa foto alay dari akun-akun yang aku follow, cover music, iklan dan tidak sedikit juga video-video singkat tentang motivasi hidup.
Dan tiba-tiba, entah mengapa di benakku terbesit pesan dari si Dinosaurus waktu itu. Aku jadi penasaran apakah dia on malam ini?
Telunjukku pun kuarahkan ke DM. Di sana hanya ada satu pesan yang tertinggal. Dan itu adalah bekas pesan darinya yang belum sempat kuhapus. Mungkin tidak akan kuhapus. Hehe.
Terlihat, ternyata dia masih on.
Ya, anak muda. Kebiasaannya dalam bergadang memang lebih jago ketimbang keuletannya dalam mengerjakan tugas ataupun dalam belajar.
Nyatanya memang juga kurasakan kalau kita asyik dengan apa yang kita sukai, kita bisa sampai lupa waktu. Ini tidak memandang sesuatu itu bermanfaat atau tidak untuk kita. Tapi lebih ke apa yang membuat kita enjoy and happy dengan apa yang kita lakukan.
Masalah dampak, pastinya rata-rata orang lebih acuh terhadap resiko yang bisa timbul nantinya di kemudian hari. Seolah tak peduli, gimana nanti saja.
Berbeda ketika kita terpaksa melakukannya. Enggak ada cinta, membuat kita tidak rela melakukannya.
Kita pastinya akan mudah jenuh dan menganggap hal tersebut sepele dan enggak penting yang kadang, padahal lebih banyak dampak positifnya.
Tapi kita enggan. Seolah menutup mata. Tapi ini jelas berbeda dengan suatu hal yang dipaksa dan nantinya terbiasa.
Ya renungin sendiri deh maksudnya apa. Aku pun ngawur. Hehe.
Intinya bergadang is … me time-nya para remaja. Bergadang is … healing-nya para remaja. Amboy healing, bahasa kekinian tuh. Haha.
Tapi bener. Bergadang, diam di kamar sambil menulis catatan harian apalagi ditambah dengan bonus iringan musik. Itu tuh merupakan suatu hal yang bisa bikin aku betah.
Semua masalah hidup tuh sejenak bisa lupa. Lupa karena ditumpahkan. Meskipun belum bisa diterima 100% oleh diri kita sendiri. Maka terus kita keluhkan di waktu malam-malam dengan keheningan ini.
Enggak benar-benar hening sih, nyatanya pikiranku masih kelayapan dan rasa penasaranku terhadap dunia maya pun masih tinggi. Di atas resonansi. Hihi. Apaan lagi resonansi.
Tapi, aku selalu merasa menjadi diriku. Sepi. Mengadu pada diriku sendiri dan Tuhanku, Allah terutama. Ya, ecek-eceknya hanya meratapi hidup. Bisa disebut nge-Galau-lah simple-nyamah.
Tapi enggak apa. Ini hidupnya para remaja.
Aku yakin, biasanya di jam-jam segini si Ayu sedang asyik-asyiknya chatan sama si Rizky.
Kalau sekarang dia lagi ngapain ya? Kan si Ayu jomlo sekarang. Pastinya kebiasannya pun berbeda. Pasti berubah. Entah itu membuat habbit baru atau merubahnya menjadi suatu pola kebiasaan yang baru.
Karena penasaran aku pun mencoba nge-chat si Ayu.
“YU! YUYU! YUhu!” Kuketik pesan seperti itu padanya.
Selang satu menit, tidak ada balasan. Tidak biasanya. Biasanya sesibuk apa pun Ayu chatan sama si Rizky, dia selalu gercep (gerak cepat) tuh, untuk bales pesan whatsaap-ku.
Ini … dia ke mana?
Ah, sudahlah tak perlu di spam chat. Aku tidak ingin mengganggu. Mungkin Ayu masih meratapi kisahnya yang baru saja kandas.
Aku juga lagi enggak mood bikin story di Instagram. Males saja.
Apakah aku sekarang butuh tidur? Tapi belum mengantuk. Namun, daripada melamun enggak jelas karena sedang tidak mood untuk menulis di buku diary dan males juga untuk ngapa-ngapain. Maka kupaksakan untuk tidur. Handphone kusimpan kembali ke tempat yang semestinya. Di atas meja belajar.
Aku pun mulai memejamkan mata. Tak peduli posisi tidurku seperti apa. Dan saat mata ini terpejam. Tak lama kubuka lagi. Gelap. Horror banget sih rasanya.
Ish dasar memang. Kalau merem emang gelap, kan? Mustahil terang. Lah aku ngelawak sih. Kucoba sekali lagi terpejam. Tetap gelap. Tapi aku tetap terpejam. Mencoba masuk ke dalam dunia mimpi.
Kuperkirakan sudah sepuluh menit merem. Balik sana balik sini, mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Namun tetap saja tidak kutemukan.
Aku pun kembali dirayu oleh handphone-ku. Memang ya aku. Sudah tahu kalau orang jomlo tuh pastinya enggak akan ada orang yang nge-chat. Ini masih berharap. Ya setidaknya balasan dari si Ayu mungkin.
Karena tak bisa menahan lagi, aku pun bangun dan mengambil handphone yang sudah tadi kutaruh. Kembali membukanya. Dan wawww! Aku tercengang. Bukan hanya tercengang saja. Tapi, cukup menarik.
Ada dua pesan sekaligus. Saat kubuka aplikasi whatsaap, pesannya jadi bertambah lagi satu. Totalnya jadi tiga pesan.
Ketiga itu adalah DM dari si Dinosaurus, ada kiriman curpan dari si Ayu, alias curhatan panjangnya, dan terakhir. Ada nomor whatsaap baru yang mengirimiku pesan. Dari ketiga pesan itu, yang paling membuatku tertarik membukanya lebih dulu adalah pesan dari nomor baru itu.
Yang baru lebih menarik dan bikin penasaran, bukan? Melihatnya yang tidak familiar pun membuat aku lebih tertuju padanya karena berbeda.
Aku pun mengklik pesan itu.
Tunggu!
Aku syok banget. Dilihat dari foto profilnya, dan terutama kata-kata pembukanya. Dia bukanlah orang asing.
Dia ….
“Assalamu’alaikum, Mit. Ini aku Malik. Kalau kamu enggak bisa nemuin aku pas ingin balikkin jas hujan milikku, kamu chat aja nomor ini ya. Disave juga boleh.” Di akhiri dengan emot senyum.
Demi apa ini?
Tidak akan aku sia-siakan. Pastinya aku save dong.
“ArgggghhhHHH!” jeritku girang. Ini bukan mimpi, kan? Aku tadi belum sempat tertidur kan?
Aku pun turun dari kasur. Berjalan beberapa langkah menuju cermin yang lumayan besar. Kaca yang selalu memperlihatkan wujud asliku dengan jujur.
Kali ini kutatap wajahku sendiri dengan serius di cermin. Biasanya aku tidak suka memandangi wajahku berlama-lama di cermin. Habisnya gampang bosen sih. Aku malah lebih suka memandang wajah orang lain. Aku yang masih belum bisa bersyukur memang gituh, hadeuh. Sangat tidak dianjurkan ditiru oleh siapa pun.
Kucubit kedua pipiku, aku pun sengaja tahan napas, dan kulakukan uji tes terakhir. Kucium cermin itu. Dan nyatanya tersentuh. Terasa dingin tuh cermin, dan aroma mulutku yang belum sikat gigi pun juga tercium.
Jelas. Ini bukan mimpi. Malik benar-benar menghubungiku lewat chat whatsaap. Senangnya.
Segera kubalas keburu malam.
“Wa’alaikumsalam. Iya, Malik. Aku save ya.” Duh, berasa bergetar gini jari jemariku. Tapi kusambung kalimat baru. Kalimat penyesaan. “Oh ya, yang tadi aku benar-benar minta maaf. Aku bener-bener enggak konsen tadi. Yang ada di pikiranku cuman ingin pulang segera. Jadinya ….” Emot tanda menyesal pun kutampakkan. Meskipun sudah meminta maaf, rasanya tetap saja mengganjal.
Sambil menunggu balasan, kuketik lagi pesan lanjutan. Aku ingin bertanya padanya. Habisnya aku penasaran.
“Kamu dapet nomor handphone aku dari siapa?”
Sudah. Aku sudah mengirim pesan itu padanya.
Namun sebenarnya yang lebih penting adalah … kenapa? Apakah karena jas yang kupinjam itu harganya mahal? Jadinya Malik mencoba mengingatkannya dengan cara halus biar aku paham? Ah masa iya sih. Ngaco deh aku. Paling mahal juga mungkin jas yang kupinjam itu seharga dua ratus ribuan saja.