1 Duka Nestapa

Suara ledakan itu masih terekam jelas dalam pikiran gadis kecil berkulit putih serta berhidung nan mancung itu.

Gadis kecil bermata hijau serta memiliki bulu mata hitam nan tebal itu masih mengingat peristiwa 2 bulan yang lalu saat ledakan terjadi di dekat rumahnya, di ibukota Damaskus, Syria.

Zulhaya Ayyub nama gadis kecil berusia 7 tahun itu.

Usia yang sangat kecil untuk mengalami sebuah trauma yang hebat.

Haya, sapaan akrab gadis kecil itu kehilangan keluarga besarnya yang menjadi korban ledakan akibat perang saudara di negaranya, Syria.

Trauma tentu saja terjadi padanya.

Gadis kecil yang periang dan aktif itu kini menjadi pendiam dan pemurung.

Merasa tidak aman tinggal di negaranya sendiri, akhirnya kedua orang tua Haya memutuskan untuk berimigrasi ke tempat lebih aman demi masa depan sang buah hati.

Haya beserta kedua orang tua dan adiknya yang masih berusia 3 tahun akhirnya terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka.

Tanah air tercinta tempat para nabi dan wali.

Tempat yang diberkahi yaitu Syria.

Sampai akhirnya mereka sampai di Indonesia, karena sebelum melanjutkan ke negara tujuan, mereka singgah dulu di negara tempat persinggahan sambil menunggu proses dari pihak terkait untuk mengirim mereka ke negara tujuan.

Di tempat singgah ini, Haya beserta keluarga dan pengungsi lainnya tak di perbolehkan bekerja. Karena memang negara ini bukan negara tujuan mereka untuk memulai hidup baru. Mereka hanya mengandalkan dari pemberian masyarakat sekitar yang berbelas kasihan pada para pengungsi.

Alhamdulillah, setiap hari ada saja orang baik yang memberi dan membantu.

Sebenarnya para imigran ini memiliki pekerjaan dan keahlian yang baik di negaranya. Ada yang berprofesi sebagai dokter, arsitek, insinyur dll.

Namun, karena tak ada izin kerja yang legal maka mereka tak bisa bekerja di negara ini.

Apa boleh buat, lebih baik hidup disini daripada di negara asal yang setiap saat ketakutan akan ledakan bom.

Kematian seolah menjadi teman yang selalu menemani ketika mereka berada di tanah kelahirannya.

"Habibty, turiidiin?". (Sayang, kamu mau ini? ). Tawar ibu Alaa pada putri kecilnya, Haya, yang sedang terdiam dipojok sudut ruangan.

Haya hanya menggelengkan kepalanya seolah memberi isyarat jika ia tak ingin apapun. Kesedihan hatinya masih sangat melekat dalam relung jiwa dan hatinya.

"Habibty, kulii syuwayyah..!". (Sayang, makanlah cepat..!). Kata ibunya Haya sambil menyodorkan roti dan minum pada Haya.

"Yamma, asytaq Jidd". (Mama, aku rindu dengan kakek). Menatap dan melihat ibunya.

Kakek dan nenek telah meninggal dan menjadi korban ledakan yang terjadi di ibukota Damaskus sekitar 2 bulan yang lalu.

Haya memang sangat sayang dengan nenek dan kakeknya. Haya merupakan cucu kesayangan keduanya.

Haya belum paham jika kedua nenek dan kakeknya telah tiada. Ibunya bilang jika nenek dan kakek Haya pergi jauh dan suatu saat akan berkumpul kembali dengan Haya.

Ibu Alaa, tak ingin membuat anaknya sedih dengan mengatakan jika nenek dan kakeknya telah meninggal dunia.

Yang jelas ia menjelaskan pada Haya jika Haya menjadi anak yang baik dan patuh pada Allah serta pada orang tuanya, maka suatu saat Haya bisa bertemu dan berkumpul dengan kakek dan nenek serta keluarga besarnya kelak. Ya, tentu saja maksud ibu Haya adalah mereka akan berkumpul di surga yang telah di janjikan oleh Allah bagi semua umat Islam yang taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.

"Kita akan bertemu dengan kakek dan nenek, serta keluarga besar kita, jika Haya menjadi anak yang baik dan patuh". Kata ibu Alaa memberi pengertian pada Haya yang terlihat sedih dan murung.

"Haya makan roti ini dahulu, Haya harus mendengarkan perkataan Mama, Haya mau menjadi anak yang baik kan ?". Mencoba meyakinkan dan membujuk Haya untuk makan makanan yang telah dia bawa.

"Haya mau". Jawab Haya yang mengambil makanan dan minuman yang di bawa oleh ibu tercintanya.

"Makan yang banyak sayang, mama mau melihat adik dahulu". Kata ibu Alaa pada Haya.

Haya hanya menganggukkan kepala sebagai isyarat menyetujui perkataan ibundanya.

Haya melahap makanan yang diberikan oleh ibundanya itu. Rasanya sedikit aneh di lidahnya, tak seperti roti yang biasa ia makan ketika ia berada di rumahnya di Damaskus, Syria.

Namun, Haya tetap melahap makanan itu karena ia berfikir ia harus patuh pada kedua orang tuanya dan juga kepada Allah jika ia ingin bertemu dengan nenek dan kakek.

Setelah makan makanan yang dibawakan oleh ibundanya, Haya kecil pergi berjalan menyusuri keindahan kota Jakarta bersama kedua teman yang baru ia kenal seminggu yang lalu.

Fahad dan Yumna, kedua anak tersebut merupakan pengungsi asal Afghanistan.

Sama seperti Haya, anak-anak tersebut juga terpaksa meninggalkan negara kelahirannya karena konflik yang sedang terjadi di negaranya.

Fahad berusia 10 tahun, sedangkan Yumna berusia 7 tahun, sama seperti Haya.

Meskipun batu berkenalan seminggu yang lalu, namun, ketiga nya telah akrab dan seperti tak bisa terpisahkan.

Kali ini mereka pergi bersama ibu Yasmin, seorang relawan yang setiap hari mengajar di tempat pengungsian mereka.

Hal itu karena anak-anak pengungsi tidak diperbolehkan pergi ke sekolah formal karena mereka tidak memiliki dokumen dan surat izin untuk belajar di negara ini.

Hal tersebut yang mengetuk hati ibu Yasmin seorang guru di sebuah sekolah di Jakarta ingin menjadi relawan dan mengajarkan pelajaran kepada anak-anak kecil tersebut.

Setiap Minggu pagi hingga siang, ibu Yasmin selalu menyempatkan datang untuk mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan untuk anak-anak.

Hari ini Minggu pagi, ibu Yasmin sengaja meliburkan kegiatan belajar mengajar, beliau mengajak pergi para siswanya untuk keluar jalan jalan menuju taman bermain.

Sekitar 6 orang anak ikut dalam jalan jalan kali ini, termasuk Haya, Fahad dan Yumna.

Siswa lain tak bisa ikut karena mereka membantu orangtuanya di pengungsian.

Ada yang menjaga adiknya, ada yang membantu ibunya mencuci baju.

Memang setiap Minggu, siswa siswi sangat sibuk membantu pekerjaan orang tua mereka.

"Haya, hurry up!". (Haya, Ayo cepat! ). Teriak Fahad pada Haya yang sedang berpamitan pada orang tua nya untuk pergi jalan-jalan dengan ibu Yasmin.

"Intadzir syuwayya". (Tunggu sebentar). Jawab Haya menggunakan bahasa Arab.

Haya memang belum terlalu bisa berbicara bahasa Inggris ataupun bahasa Indonesia.

Tetapi ia paham apa yang dikatakan oleh teman-temannya.

Namun, ia belum bisa berbicara dengan lancar.

Biasanya mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris satu sama lain, tak jarang juga mereka menggunakan bahasa isyarat untuk membuat paham satu sama lain.

Setelah meminta izin pada orang tuanya dan orang tua Haya memberi izin untuk Haya pergi

jalan-jalan bersama ibu Yasmin, akhirnya mereka pun berjalan menyusuri kemegahan bangunan dan ramainya ibukota Jakarta.

Belum terlalu banyak lalu lalang kendaraan.

Hari masih sangat pagi.

Udara pun masih segar belum tercemari oleh polusi udara.

Sungguh hal itu membuat kita memperoleh udara segar dan menyehatkan.

Jarak antara tempat pengungsian dan taman kota hanya sekitar 200 meter.

Tak jauh, hanya membutuhkan waktu 8 menit untuk sampai.