1 Kelulusan Dan Perjodohan

Kring … kring ….

Suara bel sepeda menghiasi meriahnya sorak kelulusan sekolah menengah atas di salah satu sekolah di Kota.

Seorang gadis muda, yang mempunyai mimpi tinggi menjadi seorang dokter, tengah mengayuh sepeda mengarah jalan pulang ke rumahnya.

"Alhamdulillah, aku lulus dengan nilai yang bagus. Ibu pasti bangga banget, dengan ini aku bisa mengejar beasiswa untuk kuliah," batin gadis itu dengan gembira.

Gadis itu bernama July Reina Ankara. Gadis berusia 19 tahun ini adalah seorang gadis pemimpi. Di mana dirinya memiliki banyak angan-angan yang ingin di capainya ketika dewasa.

Akan tetapi, impiannya harus pudar ketika Ibunya mengatakan bahwa dirinya harus menikah dengan seorang pria berusia 28 tahun dan menyandang status duda.

"Assalamu'alaikum, Ibu, July, pulang," salam July.

Saat ia kembali ke rumah, July mendapati rumahnya sedang kedatangan tamu dengan menggunakan mobil mewah. Ia pun terus bertanya-tanya, siapa gerangan yang datang ke gubuk kecilnya.

"Mobil siapa? Bagus banget, siapa ya yang datang?" gumam July.

"Assalamu'alaikum," salam July masuk ke rumah dengan langkah hati-hati. Memeriksa siapa gerangan yang datang.

"Wa'alaikumsallam,"

"Oh, dia sudah pulang, Nyonya. Sebentar, ya," ucap Marwiyah, Ibunya July.

Marwiyah segera mendekati July. Memintanya untuk duduk bersama dengan para tamu. Gadis berambut sebahu ini sangat bingung, kenapa Ibunya memperlakukannya dengan baik kala itu.

Bukan rahasia umum lagi, Marwiyah selalu memperlakukan July dengan kasar. Mengingat July bukanlah anak kandungnya, membuat Marwiyah tak pernah menyayangi July.

July, ditemukan di depan rumahnya ketika bulan Juli dan saat itu cuaca sedang bagus. Saat itu, Marwiyah masih berusia 17 tahun, sudah tidak sekolah karena terhimpit hutang keluarga, yang mengharuskan Marwiyah harus putus sekolah dan memutuskan untuk bekerja.

Marwiyah sampai saat ini belum menikah, karena ia tak ingin jika suatu saat nanti, ketika dirinya memiliki suami, suaminya akan jatuh cinta kepada July, yang memang memiliki paras cantik dan memiliki pesona yang akan membuat pria luluh.

"Nyonya Fahira, Nyonya Besar, perkenalkan, ini anak satu-satunya saya. Namanya, July. Dia baru saja lulus sekolah,"

"Coba, saya lihat hasil raport kamu," pinta Nyonya Besar kepada July.

"July, ayo berikan!" desak Marwiyah.

Dengan sedikit gemetar, July memberikan hasil ujian dan tes lain selama tiga tahun sekolah. Melihat ekspresi Nyonya Besar yang tersenyum, Marwiyah yakin anaknya masuk dalam kualifikasi sebagai menantu di rumah itu.

"Pernikahan akan terjadi dua minggu lagi. Siapkan dia dengan baik, saya tidak ingin menerima penolakan," ucap Nyonya Fahira dengan sinis.

Bagaimana tidak terkejut, July yang baru saja ingin melebarkan sayapnya, kini dipatahkan oleh perjodohan pernikahan dadakan yang akan dilaksanakan dua minggu lagi tanpa sepengetahuan dirinya.

"July, sampai bertemu dua minggu lagi," kata Nyonya Fahira kembali dengan sinis.

Sementara Marwiyah mengantar Nyonya Fahira dan Nyonya besar ke luar, July masih duduk termenung di sofa yang telah usang di makan usia. July tak habis pikir dengan Ibunya yang mau menikahkannya di usia yang sangat muda.

"Besok kita ke kelurahan mengurus semua berkasnya. Kamu harus siap-siap lebih awal," ucap Marwiyah setelah keluar mengantar tamunya.

"Ibu kenapa tidak membicarakan hal ini dulu padaku? Kenapa Ibu mengambil keputusan tanpa berdiskusi dulu padaku, Bu?" tanya July kecewa. "Harusnya, Ibu tanya dulu. Aku mau menikah atau tidak dengan anak Nyonya itu," imbuhnya.

"Apa jika Ibu tanya kepadamu, kamu mau menikah? Tidak, 'kan? Kamu hanya ingin sekolah, sekolah dan sekolah saja," sulut Marwiyah. "Mengertilah, Nak! Ini semua demi keluarga kita, Ibu mohon, pahamilah." ucap Marwiyah sampai menyatukan tangannya untuk July.

Marwiyah tidak membenci July, jika memang dengan pernikahan bisa melunasi hutangnya, Marwiyah juga akan lakukan itu pada dirinya sendiri. Namun, pria yang hendak di nikahkan dari keluarga kaya itu masih dibawah Marwiyah, terpaksa Marwiyah meminta July untuk melakukannya.

"Kenapa, Bu? Aku sudah lulus, aku akan kerja sambil kuliah dan akan melunasi hutang kita dengan pelan, Bu. Kenapa aku harus menikah?" tanya July.

"Hutang itu, mereka ingin kita membayarnya dengan keturunan. Ibu menolak jika mereka hanya ingin kamu mengandung saja. Maka dari itu, Ibu menginginkan pernikahan," sahut Marwiyah.

"Jadi ini nikah kontrak? Nikah kontrak itu dilarang agama, Bu. Kenapa Ibu lakukan ini?" Ju;y berharap bisa negosiasi dengan Ibunya.

"Hutang kita sangat banyak. Ingat saat kamu sakit keras, saat kamu hendak masuk sekolah, dan saat kita tidak bisa makan? Ibu berhutang dengan Nyonya Fahira, July. Mereka meminta kamu melahirkan pewaris, setelah itu … kamu bebas ingin melakukan apapun juga. Ibu juga akan membantumu untuk biaya kuliah, Nak," jelas Marwiyah dengan suara gemetar, antara sedih dan emosi yang ia rasakan saat itu.

Ucapan Marwiyah membuat hati July terluka. Ia menjadi bimbang dengan keputusannya ingin menjadi seorang dokter yang sudah di cita-citakan sejak kecil.

"Jadi, aku tidak akan jauh beda dengan orang tua kandungku yang telah membuangku, Ibu. Aku akan membuang anakku nanti, apa bedanya aku dengan orang tuaku?" sulut July.

"Dia akan besar di keluarga Ayahnya. Kenapa kamu keras kepala? Tolong, Ibu tidak ingin mendengar penolakan lagi darimu. Aku korbankan masa muda untuk merawat dirimu, apa kamu juga tidak ingin berkorban demi diriku?" Marwiyah pergi setelah mengatakan kata-kata keramat itu.

~~~

Hati July semakin kacau malam itu, ingin rasanya dirinya memberontak. Namun, saat July melihat wajah wanita yang telah membesarkannya seorang diri, July menjadi tidak tega. Mungkin memang ini sudah suratan takdir July, harus menikah dengan yang bukan menjadi pangeran masa depannya.

Di kamar, air mata July tak hentinya mengalir. Selama ia hidup, memang sering kali mendengar Marwiyah mengeluh. Tapi, July tidak pernah mendengar Ibunya meminta hal lebih padanya.

"Aku belum siap menikah. Tetapi, jika aku tak menikah dengan putra Nyonya Fahira, bagaimana nasib orang Ibuku? Ahh … aku lelah, mataku terasa berat, akhirnya aku terlelap di dalam tidurku." gumamnya dalam hati, sampai ia terlelap.

Keesokan harinya, ketika sarapan suasana menjadi sedikit canggung. Marwiyah hanya diam saja. Itu membuat hati July semakin sakit dibandingkan dengan pupusnya cita-cita. Marwiyah mungkin belum bisa menjadi Ibu sekaligus Ayah yang baik. Akan tetapi, pengorbanan Marwiyah memang butuh dihargai oleh July.

"July mau menikah dengan anaknya Nyonya Fahira, Bu," ucap July dengan terpaksa.

"Jika kamu memang tidak mau … Ibu bisa cari cara lain. Mungkin Ibu akan jual rumah ini, sebaiknya kamu segera cari kontrakan atau kos saja. Nanti setelah rumah ini terjual, kita bisa segera pindah tanpa bingung lagi mau ke mana," tutur Marwiyah.

Marwiyah sangat menyayangi July meski masih suka kasar. Akan tetapi, July adalah sumber kekuatan dirinya dalam menjalani hidup. Marwiyah masih berharap July bisa bertemu dengan orang tua kandungnya.

Next chapter