1 PERTEMUAN PERTAMA

"Aku tidak butuh lagi uangmu! Aku bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kakiku ke rumah ini lagi hanya untuk meninta uang bulanan padamu! Aku membencimu Hans Pratama!"

Gadis pun segera berlari keluar, tak peduli di luar hujan sedang turun dengan deras ia berlari menerobosnya. Ia berlari tanpa peduli lagi kemana arah langkahnya. Yang ada dalam benaknya hanyalah pergi sejauh mungkin dari rumah besar itu.

Karena tidak memperhatikan langkahnya dan juga jalanan Gadis tidak menyadari ada sebuah mobil yang berjalan ke arahnya. Ciiiiit...brak.

Xabiru tersentak kaget, ia buru-buru menarik rem tangannya dan keluar dari mobilnya. Ia kaget saat melihat seorang wanita berlari tanpa memperhatikan jalanan. Beruntung ia tidak sedang ngebut. Xabiru pun segera menghampiri wanita yang baru saja ia tabrak.

"Mbak...mbak, duh pingsan. Mana luka-luka begini, aku harus membawanya," gumam Xabiru. Pemuda tampan itu pun segera menggendong Gadis yang tak sadarkan diri ke dalam mobilnya.

Melihat luka-luka yang ada di sekujur tubuh Gadis Xabiru memutuskan untuk membawa Gadis ke rumah mewahnya ketimbang membawanya ke rumah sakit. Hal itu ia lakukan untuk menghindari pertanyaan yang mungkin ditujukan kepadanya. Sesampainya di rumah, ia segera menyuruh asisten rumah tangga untuk menelepon dokter pribadinya.

"Tolong ganti dulu pakaian gadis itu, basah kuyub semua, kau sudah panggil dokter?"

"Sudah, tuan. Biar saya ganti pakaian nona itu."

Xabiru pun segera keluar dari kamar tamu supaya tidak melihat saat gadis itu digantikan pakaiannya. Tak berapa lama dokter pribadinya pun datang dan memeriksa keadaan Gadis.

"Kau menemukannya di mana, Biru?"

"Dia tiba-tiba saja berlari di depan mobilku. Bayangkan saja, hujan begitu deras. Mungkin dia korban perampokan atau pelecehan melihat pakaiannya yang compang camping begitu."

"Gadis ini juga mengalami kekerasan. Kau lihat luka di tubuhnya, ini bekas cambukan. Manusia macam apa yang masih menyiksa orang dengan cambuk seperti ini. Aku sudah memberikan antibiotik dan ini salep yang harus kau oleskan ke lukanya. Ini obat yang harus ia minum, bekas lukanya akan hilang dalam beberapa hari. Aku pulang dulu."

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Xabiru menatap Gadis penuh rasa ingin tau. Entah mengapa hatinya tiba-tiba bergetar saat menatap gadis yang saat ini terbaring tak berdaya di hadapannya. Perlahan, Xabiru mendekat dan membelai wajah Gadis.

"Kau cantik sekali, kenapa sampai berlari di bawah air hujan yang deras," gumamnya.

Xabiru tersenyum, ia suka melihat gadis yang sedang tak sadarkan diri itu. Wajah Gadis memang cantik, dengan mata yang sedikit sipit, alis mata yang tebal, hidung mancung, bibir yang mungil dan merah merekah, kulit yang putih mulus, rambut panjang yang hitam legam tergerai membuat bingkai wajahnya semakin sempurna.

Tiba-tiba saja, gadis yang sedang ia tatap itu mengerjapkan matanya. Ia tersentak dan langsung berusaha untuk bangkit, namun kepalanya terasa sakit.

"Aduh, aku di mana?" tanya Gadis lirih.

"Kau di kamarku, tadi kau berlari begitu saja di depan mobilku sehingga aku tidak sengaja menabrakmu. Apa kau habis di rampok? Tubuhmu semua luka-luka, dokter yang memeriksamu mengatakan bahwa luka yang ada akibat cambukan. Apa benar ada yang mencambukmu?"

Gadis meraba pakaiannya, gadis cantik itu terbelalak kaget saat melihat ia sudah berganti pakaian. Matanya melotot dan dia langsung meraih bantal kemudian melemparkan ke arah Xabiru.

"Lelaki kurang ajar! Kau pasti sudah meraba-raba tubuhku! Pasti kau sudah, aaargh!"

Gadis menjerit karena dibalik kemeja yang ia kenakan ia tidak mengenakan pakaian dalam sama sekali.

"Ka-kau pasti sudah berbuat yang tidak-tidak kepadaku! "

Dengan penuh kemarahan Gadis pun memukul Xabiru dengan guling yang ada di dekatnya. Sementara Xabiru hanya menutup wajahnya dan menepis pukulan dari Gadis.

"Tunggu dulu... Aku bukan orang jahat, dan aku juga tidak berbuat apapun padamu!" sangkal Xabiru

"Bohong! Mana ada maling mau ngaku!" jerit Gadis masih memukul Xabiru.

Merasa kesal, Xabiru pun mendekat dan merampas guling di tangan Gadis dan memeluk gadis cantik itu untuk menahan gerakan tangannya. Pandangan mata mereka bertemu, telapak tangan Xabiru membekap mulut gadis sehingga gadis cantik itu berhenti menjerit.

"Aku bukan orang jahat. Bukan aku yang mengganti pakaianmu,tapi asisten rumah tanggaku."

Perlahan Xabiru pun melepaskan bekapan tangannya dan juga melonggarkan pelukannya.

"Aw! Sakit!" keluh Gadis.

"Aduh, maafkan aku. Sakit ya? Oiya, namaku Xabiru. Siapa namamu? Kenapa kau bisa berada di jalanan dengan pakaian sobek?"

Gadis menatap Xabiru sambil menggigit bibirnya merasakan perih di kulitnya.

"Na-namaku Gadis."

"Cantik secantik namamu," puji Xabiru. Pandangan keduanya kembali bertemu, Gadis merasa dadanya berdegub kencang. Xabiru memang tampan, wajahnya oriental khas Asia dengan matanya yang biru, mungkin karena itu kedua orangtuanga memberi nama Xabiru.

Xabiru kemudian beranjak dan mengambil segelas air kemudian memberikannya kepada Gadis.

"Minumlah dulu, supaya kau tenang," katanya. Gadis pun perlahan mengulurkan tangan meraih gelas yang diberikan Xabiru kemudian meminum air itu dalam sekali tegukan. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan dengan cepat ia berusaha bangkit dan berdiri. Namun, tiba-tiba kepalanya terasa sakit dan terasa pusing sehingga Gadis kembali terhuyung kebelakang.

Melihat hal itu, Xabiru bergegas menangkap tubuh Gadis dan membantunya untuk kembali berbaring.

"Kau ini baru mengalami hal yang buruk, bahkan tadi kau itu tertabrak mobilku sampai pingsan. Untung saja aku tidak sedang mengebut. Sebaiknya kau beristirahat dulu, lagi pula hari sudah malam."

"I-ibuku akan khawatir jika aku tidak pulang ke rumah."

"Ibumu akan lebih khawatir lagi jika melihatmu pulang dengan pakaian compang camping seperti tadi. Apa lagi dengan kondisi tubuhmu yang luka- luka seperti ini."

Gadis terdiam, ia baru menyadari bahwa sekujur tubuhnya memang terasa perih penuh dengan goresan luka. Perlahan air mata mulai menetes di pipinya. Melihat Gadis terisak- isak Xabiru pun mulai kebinggungan. Ia ingin memeluk gadis cantik itu, tapi ia takut. Akhirnya, Xabiru hanya duduk dan menatap Gadis dengan iba. Hingga akhirnya isak tangisnya tak terdengar lagi, perlahan Xabiru pun menyentuh bahu Gadis.

"Rumahmu di mana?" tanya Xabiru. Gadis menyebutkan alamat rumahnya dengan terbata-bata.

"Alamatmu tidak jauh dari sini. Tapi, tidak mungkin kau pulang dalam kondisi seperti ini. Malam ini kau istirahat saja dulu di sini, ya. Besok pagi, aku akan menyuruh asisten rumah tanggaku untuk membelikan pakaian. Jadi, kau bisa pulang. Pakaian yang kau pakai sudah sobek di sana sini dan mungkin sudah dibuang."

"Tapi..."

"Aku akan tidur di kamar sebelah. Kau bisa tidur di kamar ini."

"Ta-tapi."

"Aku bukan orang jahat, Gadis. Kalau aku berniat jahat, sudah sejak tadi aku melakukan yang tidak-tidak kepadamu."

Next chapter