1 1.1 Night on Buffalo

Buffalo, 1 November 2020

.

.

.

"JALANG!"

"SIALAN!"

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/under-the-blue-light_19438976906470405/1.1-night-on-buffalo_52181106383975466 for visiting.

"SAMPAH!"

Aku terhempas. Dinginnya aspal menyambutku. Pipiku memerah bekas tamparan. Sherry berada di depanku. Mengamuk dengan kata-kata yang tidak pernah kupercaya sanggup dia katakan. Matanya berkobar penuh amarah. Suaranya melengking di setiap tarikan napas.

Dan telunjuknya tidak berhenti menudingku.

"YOU PIECE OF SHIT!"

"Sherry-"

"DIAM!"

Sedangkan aku tidak benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi, ucapanku tertelan di tenggorokan. Aku masih setengah sadar saat Sherry menyeretku keluar dari apartemen kami.

"KAU TIDUR DENGANNYA!"

Aku menggeleng.

Itu tidak mungkin.

Aku tidak pernah berniat tidur dengan kekasihnya. Tidak sekalipun.

"KAU MENGGODANYA!"

"KAU MEREBUTNYA DARIKU!"

"DASAR PENGHIANAT!"

Aku menggeleng lemah. Bingung harus menjelaskan seperti apa lagi. "Itu tidak benar-"

"DIAM!"

Ini benar-benar buruk.

Sherry murka. Dia tidak akan percaya apapun yang aku katakan. Sedangkan Daniel, Si Baj*ngan itu sudah melarikan diri sejak kami tertangkap basah di ranjangku oleh kekasihnya. Yang mana aku tidak mengerti bagaimana Daniel bisa tidur bersamaku.

"ENYAH! AKU TIDAK MAU MELIHATMU LAGI!"

"Sherry-"

BRAK!

Sherry menutup pintu dengan kencang. Tinggallah aku bertahan dari sapuan angin malam sendirian, mengetuk pintu dengan putus asa, memohon agar didengarkan, tetapi tidak ada kesempatan.

Hatiku berdesir kecewa.

Bukan hanya karena aku menerima perlakuannya barusan, tetapi karena pada akhirnya aku tersadar. Persahabatan kami hanya disimpul oleh sehelai benang rapuh.

.

.

.

Aku tidak memiliki pilihan lain selain menyelusuri jalan setapak di pinggiran Buffalo. Berjalan dengan langkah terseok dan tubuh menggigil.

Aku mencari-cari rumah atau toko yang lampunya masih menyala. Berharap kemurahan hati pemiliknya agar aku dibiarkan berteduh sampai pagi tiba.

Jika sampai tengah malam nanti aku tidak menjumpai apapun, maka aku akan berteduh di kotak telepon umum. Itu lebih baik dari pada harus mati konyol karena kedinginan.

"Hhhh ...."

Suasananya begitu sepi. Di setiap langkah, aku merasa ketakutan. Tidak ada lagi orang yang berlalu lalang. Di setiap gang-gang kecil yang kulewati, rasanya bahaya seperti mengintaiku.

Kemudian di sudut jalan setelah jembatan pejalan kaki, kulihat ada sebuah restoran dengan bingkai pintu yang sedikit terbuka. Lampu restoran itu juga masih menyala terang meskipun aku tidak melihat ada pengunjung di dalamnya.

Dengan kepercayaan diri yang kupaksakan, atau lebih tepatnya dengan menekan syaraf maluku, aku masuk ke dalam dengan hati-hati. Aku langsung disambut oleh seorang wanita berambut brunette dan bermata cokelat yang tinggi menjulang.

"Ha-halo."

Wanita itu melihatku dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas. Ketika pandangan kami bertemu, senyum simpul dia berikan. "Sepuluh menit lagi kami akan tutup."

Itu adalah penolakan secara halus.

Aku mulai gelisah.

"Kalau kau ingin menumpang satu malam. Maaf, dengan berat hati kami tidak bisa mengizinkan."

Ini bukan penolakan pertama yang kudapatkan. Salah satu penghuni rumah di Blok G bahkan mengusirku dengan kasar. Mereka hampil menghajarku dengan tongkat baseball. Mereka pikir aku adalah pencuri yang berpura-pura menjadi gelandangan.

"Tapi jika kau tidak keberatan. Kau bisa memakai losmen tidak terpakai di belakang restoran ini. Well, memang tidak ada kasur di sana, tetapi kau bisa meminjam taplak meja dari sini sebagai penggantinya."

Aku mengangguk dengan cepat. "Tidak apa-apa." Ini lebih baik dari pada harus tidur di jalanan.

Wanita itu melihatku prihatin. "Sebentar lagi akan masuk musim dingin. Cobalah mendaftar di Shelter. Jika kau beruntung, kau akan mendapat tempat tinggal dan pekerjaan. Lebih baik kau memulai hidup baru di sana dari pada -maaf, harus menjadi tunawisma."

Aku mengusap lenganku. Kebiasaanku ketika merasa tidak nyaman. "Iya, terimakasih banyak."

.

.

.

Wanita itu bernama Lucy. Dia adalah manager restoran yang tadi kudatangi. Dia murah senyum, ramah dan baik hati. Dia tidak hanya memberiku dua lembar taplak meja, tetapi juga memberiku satu porsi makanan hangat lengkap dengan minumannya.

Sekarang aku sudah berada di dalam losmen, baru saja selesai menikmati makanan yang Lucy berikan.

Aku tidur dengan posisi duduk di sudut ruangan. Taplak meja sudah kugelar menumpuk, tetapi rasa dingin dari lantai masih terasa menggerogoti tulang. Beberapa kali aku mengubah posisiku, tetapi sampai saat ini belum juga mendapatkan posisi yang nyaman.

Aku pun mulai menerawang. Mengapa hidup menjadi begitu sulit sekarang? Apakah aku telah mengambil jalan yang salah? Bagaimana caranya kembali? Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Tidak ada jawaban dari pertanyaan yang kutanyakan. Waktu terus berjalan dan lambat laut mataku mulai memburam.

.

.

.

Kau takut?

Iya.

Ayo pulang?

Kemana?

Indonesia.

.

.

.

Keesokan harinya aku kembali lagi ke restoran.

Pintu restoran masih terkunci, tirai jendela belum dibuka dan lampu dalam belum menyala. Restoran masih tutup, jadi aku memutuskan berjongkok di trotoar depan bangunan dan melihat orang-orang yang berlalu lalang. Taplak meja ada di pelukanku, sudah kulipat serapih mungkin.

"Elina?"

"Ya?" Aku mendongak saat namaku dipanggil.

Lucy ada di depanku. Memakai mantel abu yang terlihat hangat membungkus tubuhnya. Telapak tangannya dilapisi sarung tangan hitam dan ada craf warna kunyit yang melingkari lehernya. Nyaman dan tidak kedinginan. Bolehkah aku merasa iri atas keberuntungan yang Tuhan berikan kepadanya?

"Halo, Lucy," sapaku sambil bangkit.

"Kau pucat sekali," komentar Lucy.

Aku tersenyum kering.

Bagaimana aku tidak pucat kalau sepanjang malam aku kedinginan dan hidungku tersumbat. Andai saja aku belum menemukan tempat berteduh, mungkin sekarang aku sudah menjadi Olaf.

"Ayo masuk!" Lucy menarik tanganku agar mengikutinya. Dia membawaku masuk, melewati resepsionis, melewati meja pelanggan, melewati bar, melewati dapur, sampai kami berada di ruang ganti khusus karyawan.

"Seharusnya kami memiliki seragam dan sepatu cadangan di sini," gumamnya.

Dia merogoh-rogoh ke dalam lemari. Dan aku mulai merasa tidak enak lagi sebab terus merepotkannya.

"Aku hanya ingin mengembalikan taplak meja," cicitku.

"Tunggu sebentar."

Lucy tidak seharusnya sembarangan mengundang orang asing masuk, tidak peduli apakah dia manager atau bukan. Bagaimana jika aku adalah orang jahat? Apakah dia tidak berpikir sejauh itu? Bagaimana kalau sampai ada barang yang hilang? Aku tidak mau bertanggung jawab.

"Terimakasih, Lucy. Maaf, kurasa aku harus segera keluar sekarang. Taplak mejanya akan kuletakan di meja resepsionis." Aku baru saja ingin berbalik ketika suara Lucy menahanku.

"Oh, kubilang tunggu sebenar! Kau tidak mungkin berkeliaran dengan pakaian tipis seperti itu. Kau bisa mati. Nah! Ketemu!"

Lucy menghadapku sekarang. "Ini ukuran paling kecil. Harusnya muat. Pakailah. Aku akan menunggu di luar." Dia memberiku satu set seragam dan sepatu sebelum meninggalkanku sendirian.

Aku mengamati apa yang dia berikan, kemudian tidak bisa tidak bersyukur atas kebaikannya.

Ternyata tidak semua orang Amerika bermental rasis kepada ras Asia. Lucy adalah pengecualian.

Aku segera keluar setelah mengganti pakaianku. Lucy ada di samping pintu, menyender pada tembok dan terlibat percakapan dengan seseorang di ponselnya. Sepertinya begitu serius, jadi aku mengambil jarak cukup jauh dan menunggu.

"Aku tau, Will. Aku yang akan menjaminnya."

"Kau tidak perlu bicara pada orang tuaku. Aku saja sudah cukup."

"Oke. Semoga harimu menyenangkan."

Lucy mengantongi ponselnya dan menghadapku. Dia tersenyum. "Tidak buruk," katanya sambil menilai penampilanku.

"Terimakasih," balasku.

"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

Pertanyaan Lucy membuatku gamang. Apa yang akan kulakukan setelah ini? Tentu saja aku ingin kembali ke apartemenku. Namun mengingat tempramen Sherry yang tinggi, rasanya sulit menemuinya dalam waktu dekat. Aku tidak ingin ada pertengkaran kedua di antara kami.

"Ngomong-ngomong aku sedang mencari satu anak magang untuk menggantikan karyawanku yang cuti." Lucy menyeletuk sambil memperhatikanku. "Well, hanya tiga bulan dan bayarannya tidak besar, tetapi cukup untuk bertahan hidup di sini."

Mengapa sangat kebetulan sekali?

"Apa aku punya kesempatan melamar di bagian itu?" tanyaku penuh harap. "Aku tidak masalah dengan bayaran yang kau berikan. Selama aku tidak tidur di luar dan bisa makan, itu sudah cukup." tambahku.

Lucy menyilangkan tangannya di depan dada. "Kau bisa mencuci piring?"

"Aku bisa."

"Menyapu? Mengepel?"

"Aku bisa."

"Melayani tamu?"

"Aku bisa."

"Kau bisa menghapal dengan cepat."

".... Aku akan berusaha."

"Bagus. Apa kau mengerti manner pelayan? Fast Casual Dinning? Fine Dinning? Jenis-jenis makanan?"

Alisku mulai mengkerut.

Aku tidak tau, tetapi tidak mungkin aku menjawab tidak tau. "Aku tau sedikit dan aku akan berusaha untuk tau lebih banyak lagi." Well, aku bisa mempelajari fine- apa itu selama bekerja di sini nanti.

Lucy mengangguk. "Bagus. Selamat bergabung, Elina!"

Aku terdiam saat mendapati Lucy menjabat tanganku.

Semudah itu?

"Aku diterima?" tanyaku tidak percaya.

"Well, yeah, tapi jangan senang dulu, kau dalam pengawasanku."

Aku mengganggguk patah-patah dalam ketidakpercayaan. Kemudian menundukan tubuhku, berterimakasih. Kebiasaanku yang lain ketika seseorang membantuku keluar dari masalah.

"Terimakasih, Lucy. Aku akan berusaha sebaik mungkin," ujarku.

"Kuharap kau memegang kata-katamu. Aku memang belum tau asal-usulmu, tetapi aku pandai menilai orang. Di sini ada CCTV, juga ada perjanjian kerja sama yang mengikatmu. Jika kau macam-macam, kau harus siap menerima konsekuensinya."

Aku menganggukan kepalaku lagi. "Baik."

Lucy memang baik, tetapi dia adalah seorang manager. Manager jelas tidak akan bertindak hanya karena rasa kasihan saja. Aku tidak tau hal baik apa yang dilihat Lucy dariku, tetapi aku telah berjanji padanya. Aku akan berusaha menepatinya.

.

.

.

SNYX'S NOTE:

1. Buffalo adalah sebuah kota pinggiran yang terletak di New York, Amerika Serikat. Pada tahun 2018, banyak artikel yang menyebut Buffalo sebagai kota termiskin di New York.

2. Shelter yang disebut Lucy mengacu pada tempat penampungan tunawisma yang tersebar di Amerika. Di tempat itu, para tunawisma tidak hanya diberi tempat tinggal, tetapi juga diberi pelatihan, ketrampilan dan pekerjaan.

Next chapter