1 CERITA MASA LALU

"Aku mau perempuan yang itu."

"Perempuan yang mana maksudmu?"

"Iya, perempuannya itu yang mana?"

"Yang itu, perempuan yang sedang berdiri di atas tanah sambil tersenyum kepada temannya. Mereka berbincang-bincang. Perempuan yang menggunakan baju berwarna kuning gading dengan senyum yang sangat menawan," begitu Bang Fizi seolah memberikan petunjuk tentang perempuan yang dia mau dan dia inginkan hari ini.

Hanya ada dua perempuan yang sedang berbincang-bincang di atas tanah, yang satu berbaju kuning gading dan yang satunya tidak. Perempuan yang menggunakan pakaian berwarna kuning gading itu adalah Ara.

Ara dikenal sebagai perempuan yang cerdas, baik hati, ceria dan ramah kepada semua orang meskipun Ara selalu tertutup tentang kehidupan dan keluarganya.

Ara tidak pernah berkumpul bersama dengan teman-teman yang lain. Dia selalu saja menyendiri bila itu berhubungan dengan kehidupannya.

Saat bersama dengan banyak teman rame-rame, biasanya Ara hanya mengikuti cerita teman-teman saja jarang sekali dia bercerita tentang dirinya sendiri.

Sepintas, Ara memang menarik. Kulitnya putih, tubuhnya mungil, matanya tajam, senyumnya lebar. Tetapi bila itu dihubungkan dengan pergaulan sehari-hari dia termasuk perempuan yang biasa-biasa saja. Dia tidak berasal dari kalangan high-class ataupun dari keluarga yang berada.

Jelas sekali berbeda dengan Fizi.

Fizi adalah laki-laki yang nyaris sempurna. Dia memiliki banyak sekali perusahaan di kota ini bahkan tersebar di seluruh Indonesia. Dia termasuk seorang pengusaha yang sangat terkenal. Namanya ada dimana-mana. Banyak sekali perempuan menginginkan menjadi istrinya bahkan ada yang rela untuk sekedar menjadi kekasihnya meskipun tidak menikah. Sampai segila itu perempuan-perempuan tersebut terhadap Fizi.

Hari ini Fizi justru menginginkan kan Ara.

Apa hebatnya seorang Ara bila dibandingkan dengan Katrin, Maya dan Silvana?

Ara sangatlah jauh sekali dari mereka. Penampilan Ara sama persis dengan penampilan mahasiswa kebanyakan. Sedangkan Fizi selalu berinteraksi dengan model-model terkenal, artis-artis ternama. Jadi sepertinya Ara bukanlah pilihan yang tepat buat Fizi.

"Menginginkan, itu maksudnya menginginkan yang bagaimana?"

"Ya, menginginkan saja. Apakah salah jika aku menginginkan dia?" tanya Fizi.

"Tidak salah sih, cuman maksud kita itu menginginkan yang bagaimana?"

"Sekedar untuk bersenang-senang atau untuk serius menikah dan membangun hubungan yang lebih jauh. Semuanya harus jelas dong! Jadi ketika kita berbicara dengan perempuan itu, kita jadi tahu materinya kan?"

"Menjadi apapun saja boleh, menjadi kekasih boleh, menikah juga boleh, hidup berumah tangga juga boleh. Yang pasti aku menginginkan perempuan itu dan jika kalian berhasil mendekatkan perempuan itu dengan aku maka aku akan memberikan hadiah sepuluh juta untuk masing-masing dari kalian."

"Beneran, seriusan, mau ngasih uang sepuluh juta hanya untuk menghubungkan Abang dengan perempuan itu?"

"Iya aku serius. Kamu bisa memangnya?"

"Iya gampang banget lah! Kita tinggal bilang aja sama Ara kalau kita punya Abang kaya raya, cakep, mau ketemu dan pengen makan malam sama dia. Susahnya gimana Bang? Semua perempuan juga pasti mau, ya kan?"

"Oke boleh saja, bisa di coba."

"Coba buktikan kalau kamu berhasil dan kamu bisa."

"Aku akan sangat senang sekali jika kamu bisa melakukannya."

"Iya bisa banget lah Bang, aku yang akan menjadikan diriku sebagai garansi bahwa Ara pasti akan mau makan malam dengan Abang yang aku ceritakan, dia pasti tidak akan menolak."

"Tapi kamu jangan salah lho! Ara itu bukan perempuan sembarangan. Kemarin saja dia ditaksir oleh anak dari Rektor, Ara malah menolak laki-laki itu".

"Ah, yang benar! Apa mungkin Ara menolak anak dari Rektor?"

"Iya benar, Ara justru menolak laki-laki itu. Dia tidak menerimanya padahal anak dari Rektor tersebut sangatlah tampan. Dia juga telah bekerja di sebuah perusahaan yang sangat ternama tetapi Ara tetap saja tidak menerima pinangannya."

"Gila benar! Berkelas dong! Dia sampai berani menolak anak dari orang yang mempunyai kedudukan di kampus."

"Lantas, apakah Rektor tidak tersinggung dengan apa yang dilakukan oleh Ara?"

"Aku juga kurang paham yang pasti. Setahuku Rektor memang kemudian memanggil Ara tetapi apa yang terjadi dalam panggilan itu tidak ada seorang pun yang tahu. Bahkan saat ini gosipnya permasalahan itu sudah berhenti dan mereda."

"Jika memang benar seperti itu, berarti apa yang aku inginkan bukan sebuah kesalahan kan? Perempuan itu pasti perempuan berkelas. Aku menangkap itu dari caranya berbicara dan caranya tertawa, asal kalian tahu aku sudah lama mengincar nya sudah dari sejak 2 tahun yang lalu aku terus-menerus mengikutinya meskipun saat ini aku sudah tidak sering berada di kampus ini aku sudah terlampau sering beraktivitas dengan kesibukanku Tapi tetap saja aku memperhatikannya dari jauh itulah mengapa aku sangat ingin kalian bisa menjadi penghubung antara aku dengan perempuan itu " begitu Fizi berkomentar.

Komentar Fizi itu jelas saja membuat mereka yang berada di samping Fizi menjadi terheran-heran.

Bisa-bisanya Fizi malah memilih Ara sebagai orang yang ingin dinikahinya.

Padahal mereka sebenarnya membawa Fizi ke kampus ini untuk memperkenalkan Fizi dengan banyak gadis-gadis cantik yang menjadi mahasiswa di kampus ternama. Tetapi Fizi malah tertarik terhadap Ara, sungguh itu merupakan sesuatu yang sangat jauh dari ekspektasi dan diluar dugaan.

"Oke, sepertinya hari sudah siang, sebaiknya kita segera pulang yang pasti kalian sudah jelaskan bahwa aku menginginkan gadis itu. Siapa tadi namanya?"

"Ara."

"Ya. Aku menginginkan perempuan itu. Perempuan yang bernama Ara itu adalah perempuan yang luar biasa menarik buat aku. Dan aku telah menunggunya sangat lama

"Kalau kalian memang ingin mencarikan aku jodoh kalian hubungkan saja aku dengan Ara. Aku pasti akan segera membuat keputusan untuk segera menikah. Bagaimana kalian mau kan?"

"Terserah kamu sajalah, kita tidak bisa lagi berkomentar semua mau Bang Fizi, yang menjalani kan juga Bang Fizi bukan kami."

Semua sepupu Fizi yang saat itu menemani Fizi untuk mencarikan jodoh di kampus mereka akhirnya merasa sudah tidak mampu lagi menghadapi apa yang diinginkan oleh Fizi.

Mereka bahkan tidak tahu apakah keinginan Fizi untuk mendekati Ara itu benar-benar keinginan dari hatinya atau hanya karena Fizi ingin menjadikan arah sebagai target pemenuhan nafsunya saja.

Saat ini semua mengenal Fizi dan mereka tahu seperti apa Fizi dalam menentukan sebuah pilihan terutama bila tu berkaitan dengan kehidupannya. Jadi rasanya tidak mungkin si Fizi benar-benar serius ingin menjadikan Ara sebagai calon istrinya.

"Oke kalau begitu. Kapan kalian akan memperkenalkan aku dengan perempuan itu? Aku pasti akan berterima kasih sekali kepada kalian."

"Secepatnya lah Bang! Jangan khawatir, kita pasti akan memperkenalkan Abang dengan perempuan itu.

Tidak akan terlalu sulit kok, tapi jangan lupa pada apa yang abang janjikan. Abang harus menyediakan uang itu, supaya kita mempunyai baterai untuk berjalan. Kalau tidak ada itu, kita tidak akan punya semangat Bang untuk melakukan pendekatan dengan Ara."

"Satu hal lagi Bang, Abang juga harus mulai berpikir bagaimana caranya nanti bicara dengan Tante dan Om bila ternyata pilihan Abang tentang jodoh itu adalah Ara.

Om dan Tante pasti tidak akan setuju bila Abang memilih Ara."

Next chapter