20 Penghuni Hutan

-The Perfect Prince Devil-

Saat kudengar lonceng kematian, saat itu juga kebangkitan menyertai. Saat kidung memanggil, genderang perang bertalu-talu.

----------------------------------

Ada dua hal yang membuat athen terkejut setengah mati, pertama dua pria yang terlihat jahat. Mereka menyeringai menatap dengan masing masing kapak yang siap mereka kenalakan.

Dan yang kedua adalah sesuatu yang menggantung tepat di atas pintu masuk kamar. Sebuah lukisan dengan gambar seokor naga hitam yang meliuk.

Naga yang sama yang pernah Athena liat di punggung seseornag yang membuhunnya malam itu.

--------------

Athena bukan orang bodoh, tapi dia juga bukan orang yang bisa menganalisis sesuatu dengan tepat. Hanya saja instingnya mengatakan jika inilah tujuannya.

Sesuatu yang berdekatan, berhubungan dengan naga pasti menjadi hal tidak mengenakkan untuk dirinya, serta nasibnya.

Athena meneguk ludahnya dengan kasar, mengamati penampilan dua orang asing di depannya, sesekali melirik ruangan ini, mencari-cari simbol naga lainnya.

"Kita kedatangan tamu, Paman."

Degh …

Athena semakin waspada saat kedua pria itu melangkah mendekatinya. Olive masih berada di belakangnya, meremas jubah lusuh yang Athena kenakan.

Pria yang lebih tua mendekat, ia membuka penutup tudung mantelnya, memperlihatkan wujud pria tua itu yang mengerikan. Luka sayatan di sebelah mata kirinya membentang dari dahi ke ujung pelipis.

Athena mundur beberapa langkah, membuat Olive memekik pelan saat kakinya tersandung. Athena berbalik, menatap gadis kecil itu, menariknya kembali ke dalam pelukan, menyembunyikan rambut pirangnya.

"Ahh … ada dua orang ternyata." Seru pria itu.

"Kalian sedang berteduh? Kemaren sedang badai bukan?" seru pria yang lebih muda lagi.

Athena mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan rasa takutnya. Pikirannya sudah terlanjur mengarah jika tempat ini dan juga kedua pria asing itu orang jahat.

'Simbol naga adalah kunci dari kematiannya.'

"Dari mana asal kalian? kenapa bisa masuk ke dalam hutan sampai sejauh ini?"

Pria yang lebih tua mendekati Athena, ia memiringkan kepalanya sembari mengamati dengan tatapan curiga.

Athena tidak bisa menjawab, lidahnya kelu, diam … dan sesekali menatap kedua pria asing itu bergantian.

"Paman, kau membuat mereka ketakutan." Seru pria yang lebih muda, mencoba tersenyum menarik perhatian Athena. "Ngomong-ngomong, siapa namamu? Apa dia adikmu?"

Pria yang lebih tua menghela berat, ia menatap keponakannya itu beberapa saat, "Meed, kita perlu bicara."

Pria muda yang di panggil Meed langsung mengikuti pamannya, menjauhi ruangan, sayup-sayup Athena masih bisa mendengarkan perdebatan mereka.

"Mereka tidak berbahaya Paman, kelihatannya hanya kakak beradik yang berteduh dari badai kemaren."

"Wajahnya tidak asing."

Degh …

Athena mencengkaram tangan Olive lebih kuat, membuat gadis kecil itu bisa merasakan ketakutannya juga.

"Karena dia cantik, ayolah Paman, tidak ada orang cantik yang berhabahaya."

Helaan napas berat terdengar, "Kita harus menyingkirkannya. Sebelum dia datang."

Athena menyipitkan matanya, masih belum mengetahui siapa yang mereka sebut dengan kata 'Dia.'

"Maksudmu menyembunyikannya?"

"Bawa dia keluar pondok."

Tidak ada perdebatan lagi. Kedua pria itu tampak diam dalam beberapa menit sebelum salah satunya muncul di pintu ruangan. Athena mendongkrak, mendapatkan senyuman kecil dari pria muda itu.

"Kita belum berkenalan, namaku Meed, siapa namamu?" serunya.

Degh ….

Olive semakin mencengkram jubah lusuhnya, mendongkrak sedikit, ke arah Meed sebelum kembali beringsut di pelukan Athena.

"Jangan takut, aku akan menemani kalian ke luar hutan. Kalian tersesat bukan?"

Athena mengangguk samar.

"Ayo …." Cicitnya.

Mungkin dia sudah bosan meninta Athena untuk memberitahukan namanya.

Athena membantu Olive agar berjalan di sisinya. Mereka beranjak dari ruangan itu, mengikuti Meed keluar pondok. Athena mengitarkan iris gelabnya saat mereka melewati sosok pria tua yang menatap penuh peringatan.

Athena membuang muka, memusatkan perhatiannya ke arah jalan. Yang penting keluar dulu dari tempat ini.

-------The Perfect Prince Devil------

Meed membawa mereka ke arah hutan yang lebih lebat, ranting-ranting menjulang, undakan batu yang di penuhi tumpukan salju putih.

Bukan itu yang membuat alisnya mengerut bingung. Ia sudah mengira jika Meed tidak akan mengantarnya keluar hutan, jelas mereka pemburu. Rasa curiga sudah sejak awal memenuhi benak masing-masing.

"Kau pasti bingung kemana aku akan membawamu, bukan?"

Pria itu terkekeh pelan saat mengatakannya. Kapak kecil yang dia bawa-bawa sejak tadi langsung menjadi perhatian Athena, bukan ganggangnya yang terbuat dari kayu hitam dan di ukir , tapi jejak merah kehitaman yang tersisa di ujung kapak itu.

'Sisa-sisa darah ….'

Athena menarik Olive yang menggigil ketakutan. "Si-siapa kau?" seru Athena.

"Meed … namaku Medd."

Athena mengerutkan alisnya, bukan itu yang ingin dia ketahui. Siapa yang peduli jika pria di depannya itu memperkenalkan nama.

"Kami hidup di dalam hutan, sedikit terasing. Tapi percayalah kami masih beradab." Meed terkekeh lagi saat melihat ekspresi Olive. "Adikmu ketakutan eh?"

Degh …

"Jangan takut, aku hanya membawamu pada kelompok kami."

Kina meraka sampai di depan sebuah undakan besar yang tertutup salju. Maed menyapunya, sebuah batu besar yang ia dorong, membuat gesekan pelan sampai terpampang sebuah mulut gua yang terlihat lebih gelab.

"Masuklah …"

Athena menolak, "Kau mau mengurung kami di sini?"

Athena mulai kembali memikirkan kata 'menyingkirkan' yang menjadi perkataan Meed dan juga pamannya tadi.

Meed terkekeh, "Apa yang kau pikirkan. Ini rumah kami, sepertinya kau perlu mengenal mereka dulu sebelum kembali keluar hutan."

Meed mendorong punggung Athena dengan cepat, membuat ampunya memekit pelan. "Masuk! kalian hanya perlu menyapa, sudah kukatakn kelompok kami beradab."

Meed menyalakan obor, membuat penerangan kecil di sisi gua. Menuntun Athena dan Olive agar lebih cepat masuk ke dalamnya. Derap langkah mereka bergema, memantul di sepanjang lorong gua yang panjang, meliuk.

Athena berusaha mengingat jalan keluar, mungkin ia membutuhkan ini nantinya. Tidak ada jaminan mereka, dia dan Olive akan selamat setelah ini.

Setelah melalui beberapa belokan mereka mendapati ruangan yang lebih terang, rupanya itu di dapatkan dari pantulan sisi-sisi lagit-langit gua yang terbuka, membuat cahaya merambat lurus masuk ke dalam.

Meed berhenti di depan sebuah batu besar yang menyerupai pintu. Ia mengetukkan ujung kapak kecil miliknya di sana.

Tak berapa lama kemudian, batu digeser dari dalam, menampakkan dua orang, satu perempuan dan satu laki-laki yang seumuran dengan Meed.

"Meed, kau datang?" si wanita mengedarkan pandangannya, menatap lurus kearah Athena dan Olive, "Dan kau membawa orang asing?"

Meed menagngguk, "Paman menyuruh ku untuk membawanya, dia tersesat. Mungkin karena badai. Berikan mereka makanan."

Setelah mengatakan itu, Meed menjauh, menyisakan si perempuan dan pria muda lainnya.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/the-perfect-prince-devil_18503860906094905/penghuni-hutan_54171448704557574 for visiting.

"Apa kita masih memiliki roti?"

"Diam Ed!!" si perempuan membentak kasar. Ia menghela berat, berusaha tersenyum, "Kalian ikutlah denganku."

Bersambung ….

Next chapter