10 Zahrah Syahidah Aulia

Wanita dengan nama indah yang menempati ruang khusus dalam hati ini. Dalam jarak pandang yang sangat jauh, ku perhatikan ia dalam diam ku. Masih tetap pada perasaan awal bahwa aku mencintainya lebih dari orang-orang yang bisa mencintainya.

Pada ruang khusus dalam hati ini, takkan ada yang mampu menggantikannya. Ku panjatkan doa dalam sujud ku di hadapan sang maha kuasa dengan sesering mungkin menyebut namanya. Untuk pertama kalinya sejak aku mulai berdoa, hanya nama itu yang berada di sela-sela kalimat yang ku panjatkan.

Aku tak pernah meminta lebih kepada Tuhanku. Segalanya telah dicukupkan untukku. Namun aku berharap suatu hari nanti, wanita itulah yang berada disisi ku. Menuju surga yang telah dijanjikan, menuntunnya ke tujuan semula. Untuk bersamanya, ku buat perjanjian dengan Tuhanku. Sebuah perjanjian yang akan menuntunku pada arah semestinya.

"Ya Robb ku. Aku tidak pernah tahu kedepannya akan bagaimana sebab aku hanyalah seorang hamba yang tunduk atas ketentuanMu. Ya Robb ku. Telah kusadari diri ini adalah hamba yang buruk. Hanya engkaulah yang menyembunyikan keburukan ini. Ya Robb ku. Tuntunlah diri ini ke arah yang lebih baik, Bantulah hamba menjadi seorang yang pantas untuk bersamanya. Ya Robb ku. Ku usahakan dengan baik dan ikhlas untuk menyenangkanMu, maka untuk itu ketika aku dalam perjalanan menuju kepadaMu(menjadi lebih baik). Jamin lah bahwa ia akan baik-baik saja dan tetap bersamaku. Ku tahu bahwa orang-orang terdahulu membuat janji kepadaMu dan engkau adalah Tuhan yang maha benar. Maka tidak ada sedikitpun keraguan dalam hatiku untuk membuat perjanjian kepadaMu. Ya Robb ku. Sayangilah hamba sebagaimana engkau menyayangi hambaMu yang lain. Amin Allahuma Amin".

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/the-massengger-(sang-pembawa-pesan)_17363526605548105/zahrah-syahidah-aulia_47036010172826559 for visiting.

Telah ku tanamkan dalam hati untuk suatu hari nanti aku akan menikahi Zahrah. Menjaganya dalam tidurnya, menuntunnya, Bertanggungjawab terhadap dirinya dan anak-anak ku nanti. Membangun cinta dibawah naungan cintaNya. Menua dan melihat anak-anak ku beranjak dewasa. Hingga Allah berkata "waktunya pulang".

Perasaan luar biasa itu terus terbawa dalam hati kemanapun aku pergi. Akan tetap tersimpan pada tempatnya (hati). Nama yang begitu indah terucap dan begitu enak terdengar, akan ku simpan selama aku hidup.

Aku ingat ketika pertama kali aku melihatnya begitu anggun. Saat dimana di tengah lapangan sepakbola ia berdiri menatap langit yang cerah lalu tersenyum. Dari kejauhan ku pandangi ia. Wajahnya yang natural alami tanpa riasan dan tanpa kosmetik. Membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama.

Di hari yang lain ketika ia berlari dengan tergesa-gesa menuju masjid, aku mengamati dari jauh. Aku tersenyum melihat tingkah lucunya, cara ia berlari begitu indah.

Lalu aku teringat akan kejadian memalukan di ruang kelas. Ketika aku menjadi pusat perhatian dalam ruangan itu. Ketika Zahrah memakiku, ketika ia menegurku, ketika aku masih membencinya.

"Wahai Robb ku. Apakah engkau yang memberitahukan ia bahwa aku sering mengamatinya?". Tanyaku dalam hati sambil tersenyum.

Next chapter