9 Semester tiga

Perubahan besar telah ku lalui setelah aku memeluk agama Islam. Aku lebih percaya diri dan lebih ceria dibandingkan dengan hari sebelumnya. Masalahku dengan Zahrah belum juga terselesaikan. Ia masih marah kepadaku dan tidak pernah membalas pesan yang ku kirimkan padanya.

Perkuliahan kembali berjalan seperti biasanya. Ku mulai dengan hari yang ceria. Di sela-sela liburanku, aku sempat menulis sebuah syair untuk Zahrah.

"Malam gelap menakuti diri ini. Kulihat ia dari kejauhan sana, memanggil namaku dengan pelan. Wajahnya yang cantik rupawan dengan kain yang menutupi sekujur tubuhnya. Aku berjalan pelan menghampirimu. Berkata dalam hati betapa mengagumkannya engkau. Kulihat sisi Tuhan yang lain dalam dirimu. Dalam gelap ku engkau menerangi, dalam diam ku engkau menuntunku, dan dalam ketidakpahaman ku engkau mengajarkan. Aku bahagia karena engkau disini, di dalam hati ini tak satupun nama kecuali namamu. Menguasai tempat yang telah lama kosong dan tua. Aku tidak memiliki sejuta kata untuk menggambarkan betapa berartinya dirimu untukku. Aku menemukan hatimu yang suci dalam kesendirian. Selembut sutra yang aku berselimut didalamnya, dan terkadang meneteskan air mata. Demi keagungan Tuhanku, tak pernah sekalipun terbesit dalam pikiranku untuk membuatmu menangis. Jika suatu hari nanti hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, semua itu diluar dari rencana ku. Ketahuilah bahwa aku mencintaimu lebih dari orang-orang yang bisa mencintaimu".

Ketika teringat akan hal itu, tanpa ku sadari Zahrah telah berdiri tepat di depanku dari kejauhan, namun ia tidak melihatku. Matanya berfokus pada sisi lainnya. Aku sempat berfikir bahwa ia sedang menungguku, namun ternyata ia sedang menunggu teman yang lainnya.

Aku berjalan menuju ruang kelas dengan mengambil jalan yang berlawanan dari tempat Zahrah berdiri bersama temannya. Aku berusaha membuat segala sesuatunya baik-baik saja. Tidak ingin mencampur adukkan masalah pribadi dengan perkuliahan.

Dalam ruang kelas yang seperti biasa, aku duduk di sudut paling belakang, sementara Zahrah duduk di tengah paling depan. Jika dulu aku sering mengamati orang-orang di kelas ini, sekarang beda lagi, aku hanya mengamati satu orang yaitu Zahrah. Tanpa memalingkan pandangan darinya, aku tersenyum sendiri.

Zahrah berdiri meninggalkan tempatnya duduknya menuju keluar ruangan. Aku bertanya-tanya kemana ia akan pergi. Tidak terlalu lama ia pun kembali. Ia melewati tempat duduknya dan berjalan perlahan menuju ke arahku.

"Oh sial, jangan lagi". Kataku dalam hati sambil menunduk.

Zahrah meletakkan sebuah minuman kaleng di mejaku lalu meninggalkan ku kembali ke tempatnya tanpa mengatakan apapun.

Tiga orang teman yang tidak terlalu akrab denganku datang menghampiri. Zahrah diam-diam memperhatikan. Salah satu dari mereka berkata bahwa dosen tidak masuk hari ini. Mereka kemudian mengajakku ke suatu tempat. Lalu aku mengiyakan. Hanya saja aku sudah terlalu sering menolak mereka dan itu membuatku merasa buruk. Sesekali sepertinya tidak apa-apa jika mengindahkan ajakan mereka.

Ketika hendak pergi bersama mereka, Zahrah berbicara dengan suara yang agak keras. Melemparkan amarah kepada ketiga teman itu. Aku diam memperhatikan Omelan nya. Matanya melotot kepada ketiga orang itu sambil berargumen. Kembali lagi seluruh mata berpusat kepadanya, ia tak pedulikan. Aku mencoba menghentikannya, namun ia memberontak. Aku tidak bisa apa-apa.

Ketiga teman itu keluar ruangan meninggalkan ku. Sementara Zahrah masih melototi mereka. Betapa malunya aku. Merasa bersalah kepada mereka.

"Bicaralah padaku jika ada yang membuatmu tidak senang"

"Jangan melemparkan kemarahan seperti itu".

Aku berkata seperti itu dengan suara yang pelan dan hati-hati agar Zahrah tidak tersinggung.

"Ok, Jangan mudah menerima ajakan orang lain jika engkau tidak mengetahui kemana mereka akan membawamu"

"Mereka bertiga terkenal sering mabuk-mabukan dan bermain wanita"

"Apakah aku akan membiarkanmu mengikuti kebiasaan mereka?"

Aku diam dan mengucapkan dengan singkat kata maaf. Ia kembali ke tempat duduknya begitu pula aku.

Dengan mata memerah Zahrah menatapku. Tatapan itu benar-benar sebuah kemarahan. Aku berbicara dengannya dan berusaha meluruskan kesalahpahaman yang lalu.

"Ketahuilah, aku marah demi kebaikanmu"

Kata yang ia ucapkan itu membuatku merasa buruk. Pada awalnya aku tidak mengerti mengapa sikapnya seperti itu, akhirnya aku tahu bahwa ia hanya ingin melindungi ku.

Semua kesalahpahaman telah ku luruskan. Hubunganku dengan Zahrah kembali membaik. Aku merasa sangat senang.

Aku ingat bahwa aku belum memberitahukan ibuku bahwa aku telah menjadi seorang mualaf. Aku tahu bahwa hal itu akan membuatnya marah dan kecewa. Maka ku urungkan niat memberitahunya untuk sementara sampai aku kembali ke Korea.

Tidak banyak teman di kampus yang mengetahui bahwa aku telah berpindah agama. Kupikir Ariel dan Zahrah merahasiakan hal itu. Aku tidak ingin membuat orang lain mengetahui hal itu dan kupikir mereka berdua paham keinginan ku itu.

Ketika tiba waktu sholat, aku akan menuju masjid yang sedikit agak jauh dari lingkungan kampus. Semua itu agar orang-orang di sekitar kampus tidak melihatku. Aku mengikuti kebiasaan Ariel yang ketika terdengar suara adzan, aku akan meninggalkan kesibukanku yang lain lalu menuju ke masjid. Bahkan ketika perkuliahan sedang berlangsung dan dosen masih menjelaskan materi, aku akan meninggalkannya keluar ruangan dan menuju masjid.

Kami bertiga sering melakukan hal itu sehingga membuat dosen curiga. Beruntungnya beliau adalah dosen yang baik, sehingga kami tidak berurusan dengan pihak kampus. Dengan penjelasan yang baik dari Ariel dan pengertian dari dosen tersebut, maka semua akan baik-baik saja. Karena hal itulah beliau orang ketiga di kampus ini yang mengetahui bahwa aku adalah seorang mualaf. Beliau memelukku erat sesaat setelah mengetahui hal itu. Aku sudah tahu akan seperti itu.

Beliau memberikan sebuah nama panggilan untukku yaitu "Muhammad". Beliau mengganti namaku yang asli dalam absen dengan nama itu. Sebenarnya aku merasa bahwa nama itu tidak pantas untukku karena ku tahu bahwa nama itu adalah nama yang sangat Agung. Nama dari seorang rasul utusan Allah. Nama dari seorang jenderal perang. Nama dari Seorang pembawa pesan. Nama dari seorang pemimpin. Seorang yang berhasil mengibarkan bendera keislaman dan merobek-robek bendera kekafiran.

"Pantaskah diri ini memakai namamu wahai Rasulullah?".

"Allahumma sholli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad."

Beberapa dosen dan teman di kampus sudah mengetahui bahwa aku adalah seorang mualaf. Ku pikir mereka merasa senang karena hal itu. Semua terlihat baik-baik saja.

Tidak terasa aku telah berada pada setengah perjalanan yang membuatku menikmati hidupku saat ini. Aku lebih giat lagi dalam hal belajar, terutama belajar tentang agama baru ku ini.

Duniaku adalah tentang psikologi. Aku belajar tentang diriku sendiri. Mengetahui bahwa bagaimana kejiwaan ku yang dulu dan yang sekarang. Dalam teori psikologi agama, aku mengerti bahwa seseorang bisa dilihat kedalaman agamanya ketika ia selesai melaksanakan kewajiban dalam agama mereka masing-masing. Jika tingkah lakunya baik maka itu berarti ia melaksanakan kewajibannya dengan baik, begitu pula sebaliknya.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/the-massengger-(sang-pembawa-pesan)_17363526605548105/semester-tiga_47004400538927984 for visiting.

Aku melihat kekurangan dalam diriku ini yang masih belum mendalami agamaku sendiri. Menuntut diri lebih banyak berjuang untuk agama ini. Baik bagi orang lain maupun untuk diri sendiri.

Next chapter