13 Lebaran perdana

Hari terakhir berpuasa. Hati terasa gelisah. Seakan-akan sesuatu akan pergi meninggalkan. Aku berharap bisa bertemu lagi bulan yang suci ini di tahun depan. Semoga saja Allah masih memberiku kesempatan.

Aku menuju pusat kota untuk membeli keperluan lebaran. Baju muslim, sajadah, kopiah, dan kue lebaran telah ku beli. Seluruh umat muslim terlihat bergembira. Kulihat mereka bersama keluarganya berbelanja. Ku bayangkan jika suatu hari nanti aku dan keluargaku juga melakukan hal yang sama. Sungguh menyenangkan.

Suara takbir terdengar di seluruh penjuru kampung. Aku berada di masjid menyiapkan keperluan lebaran esok hari. Warga kampung bahkan anak-anak berkeliling menyuarakan kalimat takbir dengan gembira dan hati yang senang. Ku bersihkan seluruh sudut masjid agar terlihat indah dan nyaman digunakan. Aku sangat bahagia bisa berguna di lingkungan masyarakat ini.

Walaupun perasaan gembira terasa, masih saja ada perasaan sedih di tinggal oleh bulan Ramadhan, bahkan kupikir aku belum memaksimalkan kesempatan meraih ridho Allah di bulan Ramadhan ini. Sungguh tidak ada yang tahu apakah kita masih diberi kesempatan untuk bertemu bulan Ramadhan tahun depan. Hatiku menangis mengingat itu.

Ini malam yang panjang. Setiap sudut kampung sangat ramai, suara tawa anak-anak yang sedang melakukan takbiran. Terlihat dari raut wajah mereka kebahagiaan yang sulit untuk diungkapkan.

Seluruh warga kampung yang bertemu denganku mengundangku ke rumahnya ketika esok hari setelah melaksanakan shalat Ied. Ku terima undangan mereka. Ada kebahagiaan tersendiri hidup di tengah-tengah orang-orang yang memiliki hati yang mulia dan kebaikan tanpa balas budi. Hatiku terharu akan hal itu.

Tiba waktunya bangun. Suara adzan sholat subuh mulai berkumandang. Dengan keadaan baru bangun dari tidur, segera ku bangkitkan tubuhku meninggalkan tempat tidur, mengambil wudhu, lalu menuju masjid.

Sholat Ied pertamaku. Aku sangat terharu melihat seluruh umat muslim berkumpul di satu tempat. Terlihat indah dipandang, pakaian yang mereka kenakan. Aku dengan pakaian baru ku duduk di Saf paling depan dengan serius mendengarkan khutbah. Banyak pelajaran yang ku dapatkan tentang hikmah dari bulan suci Ramadhan ini.

Sholat Ied telah selesai. Kini waktunya memberi selamat dan saling memaafkan. Ku lihat orang-orang saling memaafkan dengan senyuman, berjabat tangan. Aku bertamu ke rumah pak Arman dan mengucapkan selamat hari raya idul Fitri dan mohon maaf lahir dan batin. Aku di sambut dengan baik oleh keluarganya dan disediakan makanan dan ke yang enak. Bukan hanya pak Arman, setiap kali aku berjalan melewati rumah warga, selalu saja pemilik rumah memintaku untuk mampir ke rumahnya. Ku indahkan ajakan mereka.

Sungguh betapa menyenangkannya hari itu, aku sangat menikmati makanan yang disajikan kepadaku, walaupun aku sudah merasa kenyang, tidak sopan bagiku menolak kebaikan mereka.

Ariel sedang berada di kampungnya di Jawa timur. Ia sempat mengajakku ke rumahnya untuk lebaran namun aku menolak, karena lebih dulu pak Arman memintaku untuk tetap tinggal.

Sebuah SMS dari Zahrah telah ku terima. Ia mengajakku ke rumahnya. Ia akan menjemput ku satu jam kemudian.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/the-massengger-(sang-pembawa-pesan)_17363526605548105/lebaran-perdana_47146919381760611 for visiting.

"Secepat itukah aku bertemu orangtuamu?". Tanyaku bercanda. Ia tertawa mendengar hal itu.

"Apa yang kau pikirkan?"

"Aku hanya mengajakmu untuk bersilaturahmi"

"Hahahaha".

Aku tiba di rumah Zahrah dan bertemu keluarga besarnya. Kupikir seluruh keluarganya berkumpul. Perasaanku mulai gugup. Aku menyapa seluruh keluarganya termasuk orangtuanya. Tampak dari wajahku kegugupan dan perasaan malu. Ayahnya yang merupakan seorang dosen di kampus ternyata mengenalku. Alhamdulillah. Beliau mulai membuka percakapan dengan bertanya bagaimana kabarku. Beliau memintaku menceritakan bagaimana perasaanku setelah memeluk agama Islam dan menjalani puasa.

"Awalnya agak sulit untukku. Karena ini sesuatu yang baru pertama kali aku melakukannya, ini sebuah keputusan yang besar. Aku tidak tahu bagaimana hidayah itu datang, tapi sepertinya memang aku ditakdirkan untuk memeluk agama Islam. Perasaanku saat ini lebih bahagia lagi menjalani kehidupan ini dibandingkan dengan kehidupan sebelum aku memeluk agama Islam. Kini aku mengetahui tujuan hidup yang pasti."

Setelah bercerita panjang lebar bersama Ayah Zahrah. Aku diajak untuk menikmati makanan yang telah disediakan di ruang makan. Aku sungguh sudah merasa kenyang tapi bagaimana mungkin aku menolak ajakan mereka.

Ketika masuk ke ruang makan, kulihat seluruh meja makan di penuhi makanan yang lezat. Kupikir seluruh jenis masakan ada di meja ini. Mulai dari ketupat, opor ayam, kare, gulai, daging sapi, hingga tumis yang terlihat agak asing bagiku. Perutku tidak sanggup lagi menampung makanan. Aku benar-benar sudah merasa sangat kenyang.

Sungguh... Dari sekian lama aku berada di Indonesia, hari ini adalah hari yang paling membahagiakan, sangat terlihat jelas dari wajahku kebahagiaan yang tidak pernah ku dapatkan sebelumnya. Puji syukur kepada pemilik seluruh hari, yang memberikan kebahagiaan, yang sedang menghiburku dari sana. Aku mencintaimu wahai Tuhanku.

Next chapter