1 1

'Hiks.. Sekarang aku sendirian di dunia ini'

(Y/N) POV

Aku meletakkan beberapa piring berisi makanan di meja makan. Sekarang tinggal sup aku kembali ke kompor dan mengaduk sup itu perlahan, setelah itu aku mengangkatnya dan meletakkannya diatas meja.

Tinggal yang kurang adalah orang yang memakannya, kemana orang itu kenapa lama sekali?

Kriett

Aku mendengar pintu kayu terbuka itu pasti dia sudah pulang, aku segera bergegas ke arah pintu dan benar itu dia

"Taeyong oppa" aku menyapanya dia tersenyum ke arahku lalu dia membuka mantel yang ia pakai, aku segera mengambilnya dan meletakkannya di tempat gantungan mantel

"Makanannya sudah siap, ayo makan"

Dia menggandeng tanganku lalu menarik kursi agar aku duduk. lalu kami menikmati makanan dengan nikmat.

Dia Lee Taeyong atau yang sering aku panggil Taeyong adalah kekasihku kami telah berpacaran lebih dari 4 bulan ini dan kami memutuskan hidup bersama karena aku memang takut tinggal sendirian, aku takut jika suatu saat musuh ayahku datang dan menyelakaiku

Ayahku mantan presiden korea selatan tapi sayangnya dia sedang berada bersama dengan ibuku di surga sekarang. Dia dibunuh dengan keji oleh musuhnya yang berkhianat karena gila kekuasaan. Saat meninggal dia meninggalkan pesan padaku untuk tidak mempercayai orang lain apapun yang terjadi karena orang-orang disekitar kami itu adalah orang yang sangat mengerikan

Tapi aku tidak bisa aku sangat mempercayai Taeyong, dia adalah satu-satunya alasan aku tetap hidup di dunia ini. Setelah ayahku meninggal semua aset milik ayahku di ambil oleh pihak bank, yang tersisa hanya barang-barangku dan benda-benada peninggalan kedua orangtuaku.

Aku bersyukur ayahku meninggalkanku sebuah rumah sederhana ini ya, walaupun tidak sebesar rumahku yang dulu tapi ini cukup untuk aku tinggali bersama Taeyong.

Aku terus bisa hidup karena Taeyong yang memberikanku semangat. Mungkin jika tidak ada dia aku tidak akan berada disini

Setelah selesai makan aku segera mencuci semua peralatan yang dipakai tadi, Taeyong memang lebih banyak diam tapi walaupun begitu aku yakin di balik sifatnya yang dingin dia sangat mencintaiku

"Ini kopi untukmu oppa" dia tersenyum menatapku lalu meletakkan kumpulan kertas yang ia baca tadi. Aku segera duduk di sampingnya

Aku meneliti garis wajahnya, dia begitu tampan setiap kali aku lihat seperti ini.

Aku ingin sekali mengatakan itu padanya tapi, aku tidak cukup berani untuk mengatakan itu

"Wae?" aku terkejut saat mendengar tiba-tiba ia melemparkan pertanyaan padaku

"Ha? Anni"

Aku lihat dia meletakkan gelas kopinya dan menghelakan nafas

"Katakan saja, aku tau kau ingin mengatakan sesuatu hmm?"

"Ah..itu..." aku terhenti apa aku ucapkan saja?

"Oppa, bagaimana pekerjaanmu? Apa menyenangkan?" aku mengubah pertanyaan itu, sebenarnya aku ingin sekali menanyakan hal itu

"Wae?" dengan datar dia bertanya

"Ceritakan padaku?"

"(Y/N), aku tau kau ingin sekali melihat dunia luar"

"Hehe kelihatan jelas ya" aku menggaruk tengkukku yang tidak terasa gatal

"Kau tidak bisa membohongiku"

Aku hanya diam sambil menunduk dan memainkan jari-jari tanganku yang saling bertautan

"Bukankah aku penah bilang padamu jika kau ingin, pergi lh keluar"

"Kau tau oppa aku sangat menginginkannya tapi aku masih sangat takut"

Semenjak 6 bulan yang lalu aku tidak pernah keluar dari rumah. Alasannya? Kata dokter aku trauma karena di tinggal oleh kedua orangtuatu padahal bukan sama sekali, aku tidak takut keluar tapi aku takut menemui orang-orang diluar sana. Selama sebulan setelah kematian ayahku, aku selalu terus memimpikan bagaimana ayahku meninggal aku... Menyaksikan bagaimana ayahku dibunuh

"Pergi young...."

"Tidak appa, aku akan berada disini aku akannkenolongmu dari iblis itu"

"Dasar gadis bodoh"

"Pergilahhh"

Dorr

"Appaaaaaa"

"(Y/N)" aku tersadar dari lamunanku saat tangan Taeyong menyentuh pundakku

"Ha?"

"Kau melamunkan apa?" tanyanya

"Anni" jawabku singkat

"Aku berjanji akan mengajakmu keluar"

"Jinjja? Oppa akan menemaniku?"

"Iya kita akan piknik, tapi berjanjilah padaku untuk tidak terlalu takut"

"Nde" aku menjawab dengan semangat, aku tersenyum ke arahnya dia hanya mengusak rambutku pelan

~~~~~

Author POV

(Y/N) meletakkan segelas teh hangat di meja kerja Taeyong

"Kau sedang apa oppa?" tanya (Y/N)

"Biasa kerjaanku" jawab Taeyong datar, dia masih sibuk menatap kertas-kertas yang berada di tangannya membolak-balikkan kertas itu

(Y/N) berjalan ke belakang kursi Taeyong dan memeluknya dari belakang

"Ada apa Hm?" tanya Taeyong, dia meletakkan kertas-kertas itu di atas meja

"Aku merindukanmu" (Y/N) memeluk Taeyong dari belakang menenggelamkan kepalanya ke sela-sela pundak dan leher Taeyong

Sangat menenangkan baginya memeluk Taeyong seperti ini, bau badannya seperti aroma cokelat yang menenangkan untuk (Y/N)

"Kau tidak bisa tidur?" tanya Taeyong, dia menyentuh lengan kurus (Y/N)

"Aku takut bermimpi buruk" (Y/N) mengeratkan pelukkannya di tubuh Taeyong

"Baiklah, ayo kita tidur" Taeyong menarik tangan (Y/N), lalu dia tiba-tiba menggendong (Y/N)

(Y/N) mengalungkan tangannya di leher Taeyong

••••

Taeyong membuka pintu kamar dengan hati-hati lalu meletakkan (Y/N) di atas kasur dengan sangat lembut

Dia menyelimuti tubuh mungil (Y/N) dan segera ikut berbaring di samping (Y/N)

Taeyong mendekatkan tubuhnya kepada (Y/N) lalu memeluknya membawa dia ke dadanya

"Jadi kapan kita akan pergi?" tanya (Y/N)

"Besok aku akan meluangkan waktuku untukmu jadi bersiap-siap lah"

"Baiklah"

"Tidur lah yang cukup agar kita bisa sepuasnya pergi besok" Taeyong mengelus rambut hitam (Y/N) sampai gadis itu akhirnya tertidur ~~~~~~ (Y/N) sedang sibuk memotong kimbab yang ia buat "Kau sedang apa?" tiba-tiba Taeyong muncul di belakang (Y/N) dan bertanya "Ini makanan untuk kita oppa" jawab (Y/N) Taeyong memeluk (Y/N) dari belakang, perlakuan inilah yang semakin membuat (Y/N) merasa jika Taeyong itu memang mencintainya sungguh dia benar-benar bahagia asalkan ada Taeyong di sisinya ••• Setelah yakin semuanya siap (Y/N) bersiap-siap mengenakan bajunya Taeyong baru saja selesai menelpon seseorang (Y/N) keluar dari kamar dan mengejutkan Taeyong dari belakang dengan cara memeluknya Taeyong langsung berbalik menatap (Y/N) dia langsung memegang tangan (Y/N) menyuruhnya untuk melepaskan pelukkannya Tapi tidak sungguhan di lepaskan, Taeyong malah memegang tangan (Y/N) dan menatap gadis itu "Kau membuatku terkejut" "Hehe mianhae, aku sangat bersemangat hari ini oh iya, bagaimana penampilanku?" (Y/N) menatap dirinya dan mendongak ke arah Taeyong "Kau cantik" cukup simple jawaban Taeyong tapi membuat ada seperti ribuan kupu-kupu yang berada di perut (Y/N) yang bertebangan keluar "Gomawo" (Y/N) tersenyum lebar "Ayo kita pergi" Taeyong menggandeng (Y/N) menuju ke pintu depan untuk menuju mobil mereka "Kau siap?" tanya Taeyong, (Y/N) mengangguk yakin "Ayo" Taeyong menarik (Y/N) keluar dan membawanya ke arah mobil mereka yang ada di garasi Tiba-tiba kaki (Y/N) terhenti, dia melihat seorang laki-laki paru baya dan anak kecil melewati pekarangan rumah mereka Taeyong menatap cemas ke arah (Y/N), lalu dia menyentuh pundak (Y/N) Dia bisa merasakan jika tubuh gadis itu bergetar hebat "Gwenchana ada aku disini" ucapannya dapat membuat (Y/N) sedikit tenang Taeyong membimbing (Y/N) menuju mobil mereka ~~~~~ Taeyong dan (Y/N) menikmati waktunya bersama di sebuah taman, membentang alas di tanah makan bersama-sama di bawah langit yang biru terasa sangat menyenangkan bagi (Y/N) walaupun itu bukanlah untuk pertama kalinya mereka makan bersama Memang pada awalnya (Y/N) sangat takut apalagi saat dia keluar dari mobil dan melihat begitu banyak orang di luar, kepalanya langsung pusing dan ketakutan menjalar di sekujur tubuhnya (Y/N) berbaring meletakkan kepalanya di atas paha milik Taeyong matanya terpejam menikmati betapa nyamannya berada di luar seperti itu Taeyong fokus membaca buku yang berada di tangannya, ia menatap wajah (Y/N) yang tengah tertidur, mengusap lembut rambut gadis itu Kening (Y/N) berkerut karena sinar matahari menyinari wajahnya, Taeyong yang sadar akan hal itu langsung mendogak menatap matahari dan wajah (Y/N) secara bergantian Taeyong membentangkan bukunya tadi sehingga wajah (Y/N) yang disinari matahari sekarang menjadi teduh •••• "Kita mau kemana oppa?" tanya (Y/N) kepada Taeyong yang sedang fokus menyetir "Kau lihat saja nanti" jawab Taeyong tanpa menatap (Y/N), dia masih sibuk dengan jalanan yang ada didepannya (Y/N) hanya tersenyum kecut lalu memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil di sampingnya menatap pemandangan luar yang sudah gelap karena sudah malam Sudah lebih dari 2 jam mereka menempuh perjalanan yang tidak diketahui kemana tujuannya Beberapa menit kemudian mobil mereka berhenti didepan sebuah villa "Ayo keluar" ajak Taeyong, dia sedang melepaskan sabuk pengamannya dan keluar lebih dulu "Dimana ini?" gumam (Y/N) Taeyong membukakan pintu untuk (Y/N) dan membantunya keluar, pemuda itu menariknya (Y/N) terkejut saat mereka masuk ke pekarangannya dia melihat sebuah meja yang sudah di tata rapi serta jalan setapak yang dihias sempurna oleh lampu-lampu "Oppa ini-" kata-kata (Y/N) terhenti saat dia menoleh Taeyong sudah memegang sebuah buket bunga mawar yang berwarna Biru (Y/N) menatap Taeyong sedikit tidak percaya, apa ini mimpi? Ini terlalu indah jika disebut sebuah kenyataan "Ini semua untukmu" ucap Taeyong dia mnyodorkan bunga itu, dengan senang hati (Y/N) menerimanya dan langsung mencium bunga mawar itu "Aku tau kau suka warna biru jadi aku mencarinya khusus untukmu" "Terimakasih oppa" (Y/N) memeluk Taeyong dan di balas oleh pemuda itu 2 "Aku sangat bahagia terimakasih" gumamnya "Aku tidak tau bagaimana hidupku jika tidak bertemu denganmu" (Y/N) semakin mengeratkan pelukkannya Taeyong melepaskan pelukkan (Y/N) dan menatap wajah gadis itu, dia sedikit mengusap rambut gadis itu dan meletakkannya tangannya di pipi "Aku akan menjaga dan membahagiakanmu terus (Y/N) selama sisa hidupku" ucap Taeyong lalu ia membawa (Y/N) ke dalam pelukannya "Aku percaya padamu, jadi tolong jangan pergi" (Y/N) mengeratkan pelukkannya Taeyong berwajah datar sambil terus mengusap punggung (Y/N) 'Maaf' TBC.... Hehe maaf hrus author update lagi soalnya yang tadi kepotong gra2 keknya gk kesimpen

Next chapter