1 Sebuah Impian

Luna kini tengah mereguk indahnya bulan madu saat musim semi di Seoul, Korea bersama dengan pria bermata hijau berambut coklat tua yang kini telah resmi menjadi suaminya. Sekilas, wajah lelaki berusia dua puluh lima tahun itu mirip seperti Tom Cruise semasa muda.

Luna dan Brian menikmati keindahan cherry blossom saat menghadiri Seoul Cherry Blossom Festival. Sudah cukup jauh mereka berjalan dari hotel menuju tempat acara festival, Luna pun meminta untuk istirahat sebentar di kursi taman.

Sungguh, ia masih tak menyangka jika keinginan yang ia utarakan 8 tahun yang lalu bisa terwujud. Terlebih lagi, ia bisa berkunjung ke negeri ginseng bersama dengan lelaki yang amat ia cintai.

"Am I dreaming?" tanya Luna pada sang suami.

"No, sweetie. You are not dreaming," jawab Brian yang mengatakan bahwa sang istri sedang tidak bermimpi.

Luna menyandarkan kepalanya di bahu Brian sembari menikmati keindahan cherry blossom yang ada di sekeliling, kemudian menutup kedua matanya. Ia menarik nafas, lalu mengembuskannya perlahan. Wanita itu mulai mengingat kembali segala kejadian pahit sebelum akhirnya ia meraih kebahagiaan seperti sekarang.

***

"Pengen deh suatu hari nanti bisa ke Korea. Siapa tau nanti bisa ketemu member BTS, 'kan," ucap Luna pada sahabatnya sembari tersenyum dengan mata yang memandangi poster BTS yang ia bentangkan di atas meja.

"Gue yakin, lo pasti bisa mewujudkan keinginan lo itu," Raissa menatap ke arah Luna, dan menyentuh pundak sahabatnya untuk meyakinkan bahwa ia bisa mewujudkan impiannya itu.

"Hah? Lo mau ke Korea? Alah, jangan mimpi lo. Bayar SPP aja lu nunggak terus," sahut Clara yang duduk persis di belakang Luna dengan nada sinis.

Raissa yang mendengar ucapan Clara spontan menengok ke arah belakang, menatap tajam gadis berambut lurus berkulit putih yang baru saja menghina sahabat karibnya.

"Lo, kok, ngomongnya kaya gitu, sih? Jangan mentang-mentang lo anak pejabat jadi bisa seenaknya merendahkan orang lain!" ucap Raissa.

"Suka-suka gue, dong! Mulut, mulut gue kenapa lo yang sewot?!" Clara bangkit dari duduknya, berbicara dengan nada tinggi sambil melotot.

"Udah ... udah ... kok, kalian jadi malah berantem gini." Luna berusaha menahan tubuh Clara yang tengah menantang sahabatnya.

Clara kemudian kembali duduk di bangkunya sambil melipat kedua tangan di depan dada, lalu membuang muka. Sedangkan Luna, ia menarik tangan Raissa, dan mengajaknya keluar dari kelas. Ia ingin berbicara dengan sahabatnya di luar agar tak didengar oleh Clara.

"Risa, seharusnya lo gak perlu ngelakuin hal kaya tadi. Gue gak mau kalau lo sampai ribut sama Clara cuma gara-gara gue. Please, gue mohon, lo gak perlu bela gue tiap kali Clara menghina gue. Oke?" Luna memohon pada sahabatnya sambil memegang kedua tangannya.

"T—tapi, Lun."

"Gak ada tapi tapian. Pokoknya, lo harus dengerin apa kata gue. Ngerti?"

"Iya, gue ngerti," jawab Raissa malas karena sebenarnya, ia tak ingin menuruti permintaan Luna.

Dari kejauhan, Luna melihat guru bahasa Inggris tengah berjalan ke arah kelas mereka. Pelajaran bahasa Inggris akan segera dimulai karena bel pergantian jam pelajaran telah berbunyi saat mereka keluar dari kelas.

"Yuk, masuk! Bu Erni udah dateng, tuh," ajak Luna sambil menarik tangan Raissa. Mereka pun segera bergegas masuk ke kelas untuk kembali belajar.

Setelah seharian belajar di kelas, mereka akhirnya pulang pada pukul dua siang. Panas yang masih terasa menyengat membuat kulit Luna terbakar matahari tiap kali pulang sekolah yang menyebabkan kulitnya sedikit lebih gelap dari teman-teman yang lain. Walaupun berkulit gelap, ia memiliki alis yang tebal dan juga wajah yang manis dengan lesung pipi.

Luna bersekolah di sebuah SMA favorit yang sebagian besar muridnya merupakan orang berada. Berkat kepandaiannya, ia bisa mengalahkan ratusan siswa SMP lain yang mendaftar di sekolah tersebut.

Jarak antara rumah dan sekolah Luna cukup jauh. Ia terbiasa berjalan sejauh dua kilometer untuk sampai di rumah kontrakan tempat dimana ia tinggal. Gadis belia itu pun harus menyusuri jalan dan juga gang sempit yang tak dilalui angkot agar bisa sampai di rumah. Luna hanya diantar oleh sang ayah pada pagi hari sebelum ia berkeliling tak menentu dengan motornya mencari orderan.

Ayah Luna bekerja sebagai ojek online dengan penghasilan yang tak tentu, sedangkan ibunya bekerja sebagai tukang cuci. Namun begitu, ia tak pernah malu dengan pekerjaan orangtuanya. Justru, ia malah bangga karena mereka berdua mampu menyekolahkan dirinya di sekolah favorit, walaupun biaya untuk SPP sering menunggak.

Setiap hari, orang tua Luna hanya sanggup memberikannya uang saku sebesar sepuluh ribu rupiah yang hanya cukup untuk membeli mie ayam, ketoprak, atau nasi putih beserta lauk sepotong ayam goreng berukuran sedang.

Luna terbiasa menjalani kehidupannya penuh dengan kepahitan. Dulu, sebelum ibunya bekerja sebagai tukang cuci, ia membawa bekal nasi goreng beserta telor mata sapi untuk makan siang. Terkadang, ia hanya diberi uang saku lima ribu rupiah yang hanya cukup untuk membeli sepotong roti. Beruntungnya, ia memiliki seorang sahabat berhati malaikat yang selalu bersedia untuk membantu. Membelikannya makanan dengan sukarela.

Luna masih ingat saat Raissa mengajaknya berkenalan ketika mereka pertama kali belajar di kelas sebagai murid SMA. Tanpa ragu, ia mengulurkan tangannya pada Luna untuk berkenalan saat ia tengah duduk di bangku seorang diri, tanpa satu pun orang yang mau duduk satu bangku dengannya hanya karena penampilan yang berbeda dari teman-teman yang lain.

"Hi, gue Raissa Utomo," ucapnya memperkenalkan diri.

Dengan sedikit rasa canggung, Luna menyambut uluran tangan gadis berambut panjang dan ikal dengan tatapan mata sendu itu. Ia kemudian memperkenalkan dirinya pada Raissa.

"Nama gue Luna Mahira."

"Gue boleh duduk di sini?" tanya Raissa.

"Oh, iya, boleh," jawab Luna sambil mengangkat tasnya yang ada di atas bangku.

***

Selama lebih dari satu semester belajar di sekolah yang mayoritasnya adalah orang kaya mulai membuat hati Luna gusar. Ia merasa rendah diri dan juga tak berharga di mata teman-temannya. Tiap kali melihat Luna, mereka selalu menatap ke arahnya dengan tatapan sinis yang meremehkan.

Luna sudah tak tahan lagi dengan perlakuan teman-temannya. Walaupun ia tak mengalami perundungan, tetap saja ia merasa tak nyaman karena terus menerus diperlakukan seperti itu. Sampai pada akhirnya ia curhat kepada sahabat karibnya, Raissa.

"Risa, gue pindah sekolah aja, deh, kayaknya pas kenaikan kelas."

"Loh, kenapa emangnya?"

"Jujur, gue ngerasa gak nyaman sama perlakuan teman-teman yang lain ke gue. Itu bikin mental gue down. Mungkin memang gak seharusnya anak orang miskin kaya gue sekolah di sini," tutur Luna dengan wajah tertunduk.

"Lun, liat gue," pinta Raissa sambil mengangkat dagu sahabatnya. "Masa lo mau nyerah gitu aja cuma gara-gara mereka? Masuk ke sekolah ini gak gampang, loh. Lo udah mengalahkan ratusan siswa lain untuk bisa sekolah di sini. Jangan sia-siakan kesempatan yang udah lo dapetin cuma karena manusia yang gak bisa menghargai orang lain," ujar Raissa sambil memegang bahu Luna dan menatap matanya lekat.

"Iya, gue tahu, Ris, tapi di sini yang benar-benar menghargai gue cuma lo doang."

"Ya udah ... sekarang gini, kalo misalnya orang tua lo mengizinkan lo untuk pindah, lo boleh pindah."

Luna terdiam dan mulai berpikir untuk membicarakan perihal kepindahannya kepada kedua orang tuanya. Ia sudah bertekad bulat untuk tidak lagi menimba ilmu di sekolah yang dulu pernah diidamkannya itu.

Malam hari saat kedua orang tuanya sudah berada di rumah, Luna memberanikan diri untuk mulai mengemukakan niatnya.

"Ma, Pa, Kakak boleh gak kalau pindah sekolah?"

"Pindah sekolah? Kenapa emangnya, Kak?" tanya sang ibu sambil mengerutkan kening saat mendengar pernyataan putrinya.

"Gak kenapa-kenapa. Kakak cuma merasa kalau Kakak gak seharusnya sekolah di sana."

"Loh, tapi sekolah itu, 'kan, pilihan Kakak sendiri," Ibunda Luna mulai bingung dengan keputusan putrinya yang tiba-tiba saja meminta untuk pindah sekolah.

"Iya, Kakak tau, tapi, setelah dijalani, Kakak merasa gak nyaman."

Ibunda Luna terdiam tak merespon lagi perkataan putri semata wayangnya. Sedangkan Luna, ia masih menunggu respon sang ayah yang sedari tadi tak bersuara. Ia ingin tahu apakah sang ayah setuju, atau malah menentangnya.

Next chapter