1 A Girl On The Edge Of The Wall

Gadis itu menginginkan kematian. Lebih dari apa pun yang ada di dunia ini, gadis itu hanya mengharapkan kematian.

Alasannya hanya satu. Yaitu, untuk lepas dari rantai takdir yang mengikatnya.

Gadis itu sudah tak ingin merasakan rasa sakit. Gadis itu tak lagi ingin merasakan kepedihan. Ia hanya ingin lari dari dunia yang menyangkalnya, dari orang-orang yang membencinya.

Tapi walaupun gadis itu menginginkan kematian, ia tak menginginkan rasa sakit.

Untuk itu gadis itu pergi menuju tembok. Ada rumor di mana tembok dapat memberimu kematian tanpa rasa sakit, karenanya ia melangkahkan kakinya. Hanya berharap tembok dapat memberinya kematian instan.

Tapi rantai takdir tak ada niat untuk melepaskan gadis itu.

Padahal tinggal sedikit lagi ia mencapai tembok. Tapi di hutan barat di mana ia saat ini sedang melangkahkan kakinya, segerombolan serigala yang sedang lapar mengejarnya.

Bukan pertama kali dalam hidupnya ia berlari sekuat tenaga dari mara bahaya, namun untuk kali ini sedikit terasa berbeda.

Itu karena ia berlari sekuat tenaga dari kematian yang dia inginkan.

Membuatnya ingin tertawa. Hingga sampai kematiannya, apakah rantai takdir tak ingin melepaskannya? Apa sampai kematian pun dia harus merasakan rasa sakit? Apa sampai kematiannya pun dia harus merasakan kepedihan?

Di dalam lubuk hatinya gadis itu menangis.

Kenapa dirinya harus menerima takdir seperti ini? Kenapa harus dirinya? Kenapa tidak orang lain? Apa karena ia berbeda dengan orang lain? Apa karena tanduk kecil yang tumbuh di dahinya ini?

Di dalam hatinya gadis itu terus bertanya.

Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal, namun karena hal itu tak bisa aku mencoba mencari kematian tanpa rasa sakit. Namun walaupun begitu apa itu tetap tak diperbolehkan…?

*Bruk!!!*

Gadis itu terjatuh.

Mungkin karena gelapnya malam ia tak dapat melihat pijakannya dengan jelas. Ia tersandung lalu terjatuh.

Bukan hanya itu, tubuhnya terguling di lereng jurang yang ia tak sadari berada di bawah pijakannya.

Namun beruntung ia tak menerima luka serius. Mungkin sekitar lima menit ia terus berguling ia akhirnya sampai di bawah jurang.

"Kohe-kohe!"

Ia terbatuk, menggeram karena rasa sakit yang menimpa tubuhnya. Ia mencoba untuk terbangun tapi tubuhnya tak mau mendengarkan perintahnya. Dari kejauhan suara langkah kaki dari gerombolan serigala mulai dapat terdengar.

Sudahlah. Lagi pula mati tetaplah mati, mau bagaimanapun caranya yang terpenting aku dapat memenuhi keinginanku…. Pikirnya sesaat sebelum ia melihat pemandangan di depannya.

Sebuah tembok. Sangat besar dan tinggi. Walaupun ia sudah sering melihatnya dari kejauhan, tapi pemandangan di depannya membekukan tubuhnya.

Menakjubkan. Hanya satu kata itu yang ada di benak pikirannya. Sesuai dengan namanya «tembok misterius yang memisahkan dunia» tembok itu memiliki keindahan serta kemegahan di luar nalar umat manusia.

*Tap-tap, tap-tap*

Gadis itu tersadarkan oleh langkah kaki dari gerombolan serigala yang semakin mendekat. Ia menarik kembali pikirannya. Untuk terakhir kali dalam hidupnya ia tetap ingin mati tanpa rasa sakit.

Karena ia tak dapat berdiri, ia mencoba untuk merangkak. Sedikit demi sedikit ia mencoba maju. Dari rumor yang ia dengar jika kau dapat menyentuh tembok walaupun hanya sedikit maka kau akan menerima kematian tanpa rasa sakit.

Demi itu ia terus bergerak maju hanya untuk mencoba menyentuh kematian yang ia inginkan.

*Wouf!*

Gadis itu terlalu fokus untuk mencapai tujuannya hingga ia tak memperhatikan sekitarnya, lalu saat menyadarinya seekor serigala sudah menemukannya dan saat ini berada di belakangnya.

Tentu saja ia terkejut tapi ia tetap berusaha untuk tetap maju. Namun serigala itu tak memperbolehkannya. Serigala itu berlari maju dan menggigit kaki kiri gadis itu.

"Ahhhh!"

Dapat terdengar suara teriakan keras dari si gadis. Tapi hanya itu. tak ada waktu untuk menangis, si gadis tahu betul akan hal itu. Ia mencengkeram segumpal tanah di tangan kanannya lalu melemparkannya tepat pada mata serigala itu.

Serigala itu yang mendapat serangan tiba-tiba dari si gadis melepaskan gigitannya. Seri gala yang terlihat kesakitan itu berjalan mundur. Ini adalah kesempatan. Si gadis yang menyadarinya menambah kecepatan merangkaknya.

Ini adalah pertaruhan. Apakah gadis itu yang terlebih dahulu mencapai tembok atau serigala itu yang terlebih dahulu memulihkan dirinya.

Sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi, maka aku dapat pergi dari dunia ini dengan tenang.

Serigala itu meraung. Mengikuti instingnya dia memanggil kawan-kawannya untuk mendekat.

Namun si gadis tak memedulikannya, ia hanya terus merangkak sekuat tenaga.

Lalu tak lama kemudian serigala lain yang mendengar panggilan temannya telah datang, dan saat ini sedang mengepung si gadis.

Di saat yang sama, si gadis yang tadi terus merangkak menghentikan langkahnya. Ia terdiam, dengan lengan kiri yang terulur ia terhenti. Bukan berarti ia menyerah, tapi karena ia telah mencapai tujuannya.

Jika dilihat dengan lebih jelas, pada jari tengah lengan kirinya yang sedang terulur terlihat sedikit menyentuh tembok.

Tidak bukan sedikit. Tapi ia berhasil menyentuh tembok tersebut.

Namun tak terjadi apa-apa. Walau ia telah menyentuhnya tak terjadi apa pun.

Serigala di sekelilingnya menggeram marah, mungkin karena ia telah menyakiti teman mereka, mereka menunjukkan aura membunuh yang pekat.

Itu benar. Lagi pula ini hanya kabar angin. Jika dipikirkan kembali cerita mengenai 'seseorang yang menyentuh tembok akan mati tanpa rasa sakit' pasti juga hanya sekedar buatan. Dan mungkin sebenarnya orang-orang yang pergi ke tembok itu mati karena menjadi santapan serigala-serigala ini.

Sungguh, sangat bodoh untuk mempercayainya.

... Walaupun begitu gadis itu tetap mempercayainya. Kenapa gadis itu tetap mempercayainya? Karena ia hanya berharap kalau di suatu tempat di dunia ini ada tempat untuknya mengakhiri hidupnya dengan tenang.

Gadis itu terdiam dengan pasrah. Di sekitarnya gerombolan serigala yang melihatnya melompat menerjang untuk memakannya.

Ah… tapi tetap saja, mati itu menakutkan.

Aku... tak ingin mati.

...…

Tidak ada respons. Walau ia terus menunggu tak ada yang terjadi, Ia tak kunjung mati.

Sebenarnya apa yang terjadi? Untuk memastikannya ia membuka matanya.

Lalu di saat itu ia melihat sebuah keajaiban. Sebuah kegelapan. Itu berasal dari tembok, keluar menyebar kegelapan itu menyelimutinya bagaikan sebuah kepompong.

Sekilas ia dapat melihat serigala di sekitarnya yang tadi melompat terpukul mundur.

Sebenarnya apa yang terjadi? Kegelapan apa ini? Apa kegelapan ini bagian dari tembok? Gadis itu tak tahu.

Kegelapan itu terus menyelimuti gadis itu, lalu memakannya.

*****

Ini di mana? Ia tak tahu.

Ingatan terakhir yang ia miliki adalah saat ia hendak dimakan oleh segerombolan serigala....

Itu benar, aku hendak mati oleh segerombolan serigala… lalu sebuah kegelapan menyelimuti tubuhku... lalu...… aku tak ingat lagi.

Jika ia mengingatnya lagi seharusnya ia sedang berada di luar, tapi tempat ini berada di dalam sebuah bangunan…?

Sebenarnya apa yang terjadi, setelah dimakan oleh bayangan itu aku… kenapa bisa berada di sini…?

Gadis itu mencoba berdiri, tapi saat itu rasa sakit yang sangat pekat menyengat tubuhnya.

Ah… aku lupa, bahwa kakiku mengalami luka karena gigitan salah satu serigala itu.

...…

Hah… untuk ke depannya aku harus bagaimana…?

"— Oya? Sepertinya diriku mendapat seorang pengunjung yang tak diundang. Katakan, siapa namamu dan dari mana asalmu, gadis cantik?"

Sebuah suara memasuki telinganya. Ia mengangkat pandangannya ke atas untuk melihat seseorang yang berbicara padanya.

Karena ruangan ini di terangi oleh cahaya rembulan dari atap kaca di atasnya ia dapat dengan jelas melihat sosok seseorang tersebut.

Seorang peria…? Dari suaranya ia terdengar seperti itu. Ia terlihat memakai jas yang tampak tua. Dia terlihat sangat tinggi, mungkin dua kali lebih tinggi dariku. Mungkin umurnya sekitar 20 tahunan. Dan lebih dari itu dia memakai sebuah topeng iblis yang sangat mencolok.

"Kau sepertinya sedang terluka, apa kau tak apa-apa?"

Tanpa sadar ia terdiam olehnya.

Ingin sekali ia menjawab pertanyaan dari peria itu, tapi rasa kantuk yang pekat tiba-tiba saja menyelimuti tubuhnya.

Karena banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya, gadis itu jatuh terlelap kehilangan kesadarannya.

Next chapter