Seorang CEO yang menjadi rebutan dua orang pelakor. Keduanya tidak mengetahui jika memiliki hubungan darah. Dua pelakor yang sama sama berjuang, hanya beda tujuan. Jika satu karena ingin memiliki dan memanfaatkannya tapi akhirnya jadi jatuh cinta pada si CEO. Maka satunya karena dendam tapi masih menyimpan erat cintanya pada sang CEO. Mungkinkah salah satu dari mereka mendapatkan cinta sang CEO? Atau justru keduanya harus gigit jari karena gagal mendapatkannya?
Namanya Nara, gadis manis berhijab panjang yang lugu.
Mencintai itu bukan berarti Memiliki. Apalagi hati seseorang yang sudah tertambat pada pilihannya. Demi sebuah Ambisi, Norma dan Aturan pun tiada arti, semua akan ditabrak. Akal sehat tak lagi digunakan. Menjadi Pelakor bukan karena keinginannya. Semua karena keadaan yang memaksa ia untuk berani mengambil keputusan itu. Tidak semua Pelakor itu salah, tergantung bagaimana kita cara memandang dan bersikap akan hal tersebut.
"Ra, maafkan aku ya Ra. Kamu terlalu baik buat aku. Kamu ga pantas buat aku Ra …" cowok itu menunjukkan ekspresi menyesal telah memberi harapan untuknya. Dia hanya bisa menangis sambil berharap jika ini sedang bermimpi. Semoga ini bukan kenyataan pahit yang harus ia terima.
"Kita temenan aja ya, rasanya lebih enak begini. Kamu ta anggep adik, adik ketemu gede maksudnya, hehehe." Alasan klasik dan basi yang cowok tersebut lontarkan kala itu. Candamu terasa garing mas, bukan itu yang ku harapkan, batin gadis ini. Air mata ini belum mengering dan luka di hati baru saja terluka, tapi cowok itu masih bisa bercanda dengan perasaannya. Ya Allah cowok seperti apa dia? Mengapa ia setega itu mempermainkan hatiku? Tanpa merasa berdosa seakan bahagia telah mengecewakan hatiku. Batin Nara terus bergejolak.
"Hati hati lho Ra, cowok Kalimantan itu rata rata playboy lho … " teringat kembali wejangan dari sang tante kala ia curhat dengannya soal cowok yang ia sukai.
"Tapi kan ga semua cowok begitu Tante." Jawab Nara membela sang pujaan hati. Ini adalah pengalaman cinta pertamanya kepada Basil. Cowok caem asal pulau Kalimantan yang terkenal akan kekayaan alamnya.
"Arek Kalimantan itu sugih sugih (kaya kaya) Ra, ga mungkinlah bisa jatuh cinta dengan kita yang dari wong ndeso, ra sah mimpi neko neko Ra, timbang mengko ati mu loro lho." Tante masih bersikeras agar ia tak melanjutkan hubungannya dengan cowok itu. Nara sudah di butakan dengan namanya cinta, tak ia pedulikan nasehat sang tante dan lebih percaya dengan cowok itu.
Semua berawal dari pandangan pertama saat Basil melihat Nara di depan kos nya. Penjual ayam goreng jadi saksi awal mereka kenalan. Basil namanya, cowok cool yang rada sableng, humoris, nekat dan humble. Ia mudah akrab dengan siapa saja, meski itu dengan orang yang baru di kenal. Kos mereka sangat berdekatan, kata orang hanya lima langkah sudah sampai tujuan.
Ada sepasang mata liar yang mengawasi gadis itu dari saat sedang memesan makanan ayam lalapan membuat diri Nara tidak fokus ingin memesan apa. Padahal tadi dari kos niatnya ingin membeli makanan favoritnya dengan beberapa menu tambahan seperti petai goreng. Apalagi perut yang tak lagi bisa diajak kompromi untuk menahan lapar. Tetapi ketika mendapat pandangan dari seorang cowok membuat rasa lapar itu jadi ambyar. Nara jadi salah tingkah dibuatnya, perasaannya jadi semakin ga karuan.
Melalui teman yang satu kos ia coba mengorek informasi mengenai gadis itu. Basil adalah kakak tingkat di atas Nara 3 tahun. Sudah lima tahun lebih ia mengenyam pendidikan di kampus yang sama dengannya. Seharusnya ia sudah lulus dan meninggalkan kampus ini. Hampir semua teman seangkatan dengan dia telah lulus dan pulang ke kota asalnya. Memang dasar Basil anak yang malas soal kuliah, tapi jika soal wanita pasti dia cepat larinya daripada kaburnya demit.
Pertemuan mereka di warung kecil si tukang ayam goreng lalapan, membuat semuanya jadi indah buat seorang Nara. Entah kenapa ia seperti merasa di atas awan awan nan lembut dan mengkhayal menjadi pacar seorang Basil yang menurutnya handsome serta sangat baik di matanya. Di tambah teman teman sekos juga sudah mengenal dia dan turut mendukung hubungan mereka. Melalui mak comblang teman sekos dan kebetulan seangkatan juga, Nara dan Basil akhirnya jadi sepasang kekasih.
Padahal waktu itu si Basil tidak menyatakan langsung perasaannya kepada gadis. Ia hanya menitip salam, seperti anak ABG waktu SMP atau SMA pacaran yang hanya main nitip nitip salam melalui teman. Mungkin lebih tepatnya cinta monyet. Tapi gadis tersebut sudah terlanjur jatuh hati padanya. Meski hanya menitip salam baginya itu sebuah tanda bahwa cowok itu juga menyukainya.
Sebuah warning juga pernah dilontarkan oleh seorang sahabat bernama Ba'on. Dia seorang penjual makanan ringan di depan kampus. Meski bergaya lebay ia sangat baik orangnya. Banyak ayam kampus yang menjadi list langganannya untuk disajikan kepada para lelaki hidung belang ala zebra cross. Tetapi itu bukan kehendak si Baon untuk merangkap pekerjaan tersebut. Semua karena keinginan mereka dan kebetulan kawan ini juga banyak relasinya.
"Kamu yakin Ra dengan Basil, dia itu PK lho. Meski tak ada pacarnya tapi banyak korbannya Ra."
"Apa itu PK, On? Pria keren atau pria kece?" tanyanya polos kala itu.
"Penjahat Kelamin Ra. Sama kayak playboy gitu lah."
Hmmm … rasanya ga mungkin ah, Basil jadi PK (Penjahat Kelamin) atau playboy. Apalagi untuk gadis gadis di kampus ini yang terkenal matre meski mereka cantik, sudah pasti akan pilih yang tajir dong di banding yang biasa seperti Basil, menurutnya dalam hati kala itu. Nara akui cowok ini mesti caem tapi ia tak memiliki harta atau ketajiran seperti gambaran cowok cowok playboy pada umumnya. Minimal seorang donjuan itu memiliki pellet jepang (mobil) atau berpenampilan menarik.
Sangat berbanding terbalik dengan Basil yang cuek, slengean dan biasanya hanya menumpang pada temannya yang memiliki kendaraan. Segala hal buruk mengenai cowok ini tidak merubah rasa suka dalam hati ini. Semuanya terbantahkan dengan hatinya yang telah buta akan cinta saat itu.
Namanya Nara Maheswari, artinya bidadari langit yang terkenal. Kedua orang tuanya tidak salah memberi nama itu. Selain nama yang indah, secara fisikpun ia mendapat anugrah yang luar biasa dari Maha Pencipta. Semua menurun dari Ayah yang keturunan Jawa Timur dan Ibu yang berasal dari Jawa Barat. Kolaborasi keduanya menghasilkan seorang gadis yang rupawan, yaitu Nara.
Kota kelahirannya adalah Malang, biasa lebih dikenal dengan sebutan Kota Apel. Namun ada juga yang menyebutnya kota pelajar. Semuanya benar karena kota ini menjadi tempat berkembang biaknya buah apel dan banyak tempat untuk menuntut ilmu di semua jenjang. Suasana kotanya juga sangat mendukung untuk segala suasana. Banyak factor yang mendukung untuk menjadikan kota ini sebagai kota metropolitan.
Apalagi sekarang kota Malang juga sangat crowded dibandingkan 10 tahun silam. Perkembangan zaman membuat kota ini juga turut berubah fungsinya. Jika biasanya dalam waktu sejam bisa mengelilingi kota, kini tak bisa lagi. Kondisi zaman sudah berubah, semuanya mengikuti zaman yang ada.
Menjadi pacar seorang Basil baginya adalah keberuntungan untuk seorang Nara. Dia selama ini sangat sulit untuk menerima cinta seseorang, tetapi dengan cowok itu hatinya terasa special, mungkin jika bisa dikatakan special itu pakai telur mata sapi. Padahal ia tak pernah mengungkapkan hatinya secara langsung. Namun baginya jika melihat dari sikap baik pada dirinya, rasanya sudah cukup membuat hati seorang Nara berbunga bunga.