1 Prolog

Matahari percaya diri menampakkan dirinya, Halaman masih saja dipenuhi oleh dedaunan kering yang berserakan. Namun, sepertinya dia akan menyapunya sebentar lagi setelah menyiapkan teh hangat kepadaku. Duduk di kursi teras beralas kayu ini sungguh sempurna untuk menikmati pagi hari dengan kicauan burung yang rewel, tetapi aku suka dengan suaranya. Tak lama kemudian, dia datang kepadaku bersenyum cantik dengan membawakan teh hangat.

Seperti hari kemarin, di pagi hari pengantar koran dengan sepeda tua dan lonceng klasiknya tiba di rumahku dengan senyum khasnya mengantarkan koran, menambah kesempurnaan pagi ini. Aku mengambil kacamataku di meja sebelah kursi yang kududuki, lalu mulai membaca koran. Berita utama hari ini adalah tentang warga kota yang diangkat sebagai pemimpin Badan Intelejen Negara dalam satu periode kedepan, aku bangga kepadanya, teman yang selalu bisa kuandalkan.

Dia kembali lagi ke dalam rumah menuju dapur untuk menyiapkan sarapan di pagi hari ini. Aku menengok kedepanku, dan kurasa dugaanku salah, dia lupa menyapu halaman. Memang wanita yang lucu, mungkin tebakanku saja yang salah, mungkin juga dia akan menyapunya setelah ini. Sudahlah kurasa memang waktunya untuk sarapan terlebih dahulu.

Setelah duduk di meja makan dia menghampiriku lagi dengan wajah cemasnya seraya berkata "Dia belum bangun tidur juga, bagaimana ini ?". Lalu kusarankan untuk membangunkannya dan mengajaknya makan bersama. Usianya saat ini menginjak 16 tahun, waktu pubertas awal bagi anak-anak. Mereka mulai bertindak sesuka hati dan mengabaikan orangtuanya. Namun, dia selalu bersabar menghadapinya, anak yang mulai tumbuh menjadi remaja , dan tugas berat orangtua dimulai dari sini.

Setelah mereka  turun tangga aku menyapa mereka berdua dengan ucapan "selamat pagi", dengan mengangkat tangan kananku dengan maksud untuk menghidupkan semangat di pagi hari. Namun gadis remaja itu nampak cuek lemas menghampiriku dan duduk di kursi di sebelahku. Suasana terkadang hening seperti ini, namun wanita ceria itu selalu berhasil menghidupkan suasana hening kami, dan kuharap dia segera menyapu halaman setelah ini.

***

Aku gadis berusia 16 tahun. Aku memiliki banyak teman di kota. Aku sebal tinggal di desa dengan rumah tua seperti ini, aku tidak betah di rumah. Aku selalu pergi bermain dengan teman-temanku, meninggalkan dua orang bodoh yang selalu sok asik kepadaku. Kukira mereka berdua memang orang bodoh, aku lebih pintar dari mereka dalam beberapa hal.

Hari inipun sama, teman-teman gadisku mengajakku main ke kota, mereka datang kerumahku seperti biasanya. Orang tuaku selalu bersikap ramah yang menurutku terlalu memaksa, dasar orang kampung, begitu menurutku.

Kubuka lemari, aku pilih baju yang cocok untuk kupakai, kurasa wanita itu baru saja menyetrika baju beberapa jam yang lalu, tapi langsung kupakai saja. Seperti biasa, aku pamit kepada mereka, dan berangkat ke kota.

Hari ini aku tampil cantik sekali, kuharap ada cowok ganteng tertarik padaku. Kurasa diantara teman gadisku yang lain, akulah gadis yang paling cantik. Semua orangpun tahu itu.

"Oh, kita sudah sampai."

Kusuka tempat seperti ini, pusat pembelanjaan modern. Berbeda dengan pasar yang ada di desaku. Pintu yang terbuka sendiri saat kumelintasinya, semua barang mewah yang ada di depanku, aku suka semuanya. Untung saja ibu memberiku uang jajan, cocok untukku membeli peralatan make up, mereka berdua bilang aku masih anak kecil. Huft, kurasa mereka tidak mengerti perasaan gadis remaja.

***

Ah, sekarang sudah mulai sore, duduk di kursi kayu seperti ini selalu nyaman untukku. Langit sudah mulai jingga, bahkan aku kembali melihat tukang koran pagi tadi melintas kembali melewatiku sambil menyapaku, kurasa dia akan pulang, dan lama sekali anak itu pulang kerumahnya.

"Sayang, masuklah kerumah. Hari sudah mau gelap," istriku memanggilku dengan senyum manisnya.

"Tapi, dia belum pulang. Bagaimana ini ?"

"Tak masalah , sebentar lagi dia akan pulang kok!" lagi-lagi dia mencoba meyakinkanku.

"Aku tidak mau, akan kutunggu disini sampai kapanpun."

"Dasar kamu ini !

baiklah jika kamu membutuhkanku, aku ada di dapur. Aku akan menyiapkan makan malam."

"Iya! " jawabku kecut.

Kurasa aku memang harus menunggu gadis kecilku pulang. Dia membuatku khawatir, apalagi dia pergi dengan dandanan seperti itu, dia sangat berbeda dengan ibunya yang polos dan ceria.

Beberapa jam kemudian,

"Sayang, makan malam sudah siap. Kamu masuklah dulu!"

"Dia belum pulang juga, bagaimana ini ?"

"Makan malamlah dulu, kamu kan bisa menunggunya disini!"

Yaampun suamiku terlalu khawatir, itu terlalu berlebihan menurutku. Lagipula anakku pasti pulang sebentar lagi, aku selalu percaya padanya. Lagipula gadis itu memang selalu pulang malam. Apa pria itu belum menyadarinya? Ya ampun. Bahkan setelah makan malampun dia kembali lagi keluar, dia memang ayah yang bodoh. Padahal diluar cuacanya dingin, dia tetap bersikeras tidak mau masuk kedalam sebelum ia menyambut putrinya pulang . Tapi sekarang sudah pukul 20:30.

Seperti biasa pria itu tertidur lagi diluar, ya ampun kenapa dia segampang ini untuk tidur ? Kurasa memang masa mudanya dia sudah pemalas, jadi wajar saja. Hari inipun aku harus memindahkan dia ke sofa tengah rumah. Ini konyol, seorang wanita sepertiku harus menggendong pria tua aneh yang menunggu putrinya pulang, dan anehnya lagi ini terjadi berulang kali. Sekarang tinggal aku sendirian yang menunggunya di teras rumah. Dan tepat sekali, dia pulang kerumah pukul 21:30. Tetanggaku selalu bilang kalau dia anak nakal, kurang ajar sekali mereka. Anakku adalah gadis yang manis.

"Aku pulang Bu," suara Rose yang tidak bergairah.

"Selamat datang Rose, masuklah, aku sudah menyiapkan makanan."

"Tidak perlu, aku sudah makan tadi."

"Oh, yasudah. Kurasa kamu lelah, beristirahatlah!"

Dia lalu berjalan masuk kerumah dan mulai menaiki tangga yang menyinggung rak buku di bawah tangga, dia mengambil buku di tangga yang sepertinya aku lupa untuk bereskan tadi siang setelah kubaca.

"Buku apa ini Bu ? Sampulnya lucu sekali," sepertinya dia tertarik dengan buku itu.

"Oh, itu album fotoku!" buku itu adalah fotoku dan suamiku saat kami masih muda.

Dan Rose sudah mulai membuka dan melihatnya.

"Ini ibu ? Dan yang ini.... Ayah?"

"Ya benar."

Dia kemudian turun tangga, berlari kecil menghampiriku. Kurasa dia benar-benar tertarik.

"Sejak kapan ayahku setampan ini ?"

"Ayahmu memang tampan kok."

"Ibu, ibu !".

"Ada apa Rose?" dia mulai riang, walaupun semalam ini.

"Tolong ceritakan bagaimana kalian bertemu dong !"

"Yaampun, anak remaja memang selalu bersemangat tentang cinta ya, baiklah kemari Rose! Aku akan menceritakan dongeng panjang kepadamu. "

Di sisi lain, hatiku berbicara apakah memang aku harus menceritakan semuanya sekarang juga ? Di momen acak seperti ini ?

"Disamping ayah yang lagi tidur itu?" lanjut Rose menghampiri.

"Tidak masalah kok!" kami tersenyum kecil sambil mendengar dengkuran dari pria aneh disamping kami.

"Rose, ini sekalian akan menjadi cerita panjang mengapa kita tinggal di desa kecil seperti ini, jadi bersiaplah!"

Dia sudah cukup dewasa untuk mendengar ini, sesuai apa yang suamiku mau. Dia menyerahkan tugas berat ini padaku, karena dia bukan seorang pendongeng yang baik.

***

Ini hari pertamaku menjadi kepala Badan Intelejen. Aku harap dia tidak mengendorkan kewaspadaannya. Bagaimana tidak, orang itu sudah hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Aku dengar, besok hari pertama anaknya masuk SMA. Memang benar kata orang, waktu terlalu cepat berlalu.

Sudah belasan tahun berlalu dari kejadian besar itu, sampai akhirnya aku berhasil mencapai apa yang aku mau. Menjadi kepala Badan Intelejen, untuk satu tujuan.

Yaitu memiliki otoritas untuk menyelidiki backstage negeri ini. Aku sangat yakin mereka masih aktif berulah.

Aku tidak sembarang bicara, di samping kananku sudah ada benda yang sama dengan waktu itu.

Next chapter