20 19. Malam LDKO

Aku pun bolak- balik dari dapur ke ruang tengah untuk membawa minuman.

Saat Ku sedang di dapur, tiba- tiba Bella menghampiriku.

"Van, sini Gue bantuin!"

"Makasih Bel!"

Ia pun dengan sigap membantu menuangkan air ke dalam cangkir yang telah dituangkan kopi.

Aku pun membawa nampan lagi ke ruang tengah bersama Bella.

"Sumpah, susu Vanya emang beneran enak!" ujar Randy.

"Iya, seger banget sumpah!" timpal Richard.

"Heh, lu bilang susu- susu... ambigu tahu omongan Lu Ran!" tegur Kak Metha.

"Metha... Apa yang ambigu? Jelas- jelas susu Vanya itu maksudnya susu buatan Vanya! Lu kali Met, YANG PIKIRANNYA KEMANA- MANA?!" Randy mengegas.

"Gue jelas- jelas udah bisa mentranslate omongan Lu ya Ran! Otak Lu nggak mungkin lurus!"

"Astagfirullah... Dosa Lu Met, nuduh Gue begitu!" balas Randy.

JP yang baru datang memberi pengumuman kepada semu PANSUS.

"Temen- temen Pansus... Gue mau briefing lagi! Yuk Temen- temen Kita kumpul dulu ke Halaman belakang!" ujarnya.

"Jep, Lu ga mau minum dulu? Si Vanya buatin susu enak loh!" ujar Randy.

JP hanya geleng- geleng melihat kelakuan Randy yang tampak gesrek.

"Gue tunggu di belakang ya!" ujar JP.

Aku pun duluan ke halaman belakang bersama Rana.

Aku duduk di sebelah Rana dan di depanku sudah ada JP. Ia sedang memainkan Hpnya.

JP pun menghentikan aktivitasnya bermain HP saat menyadari ada Aku dan Rana.

"Oh iya, rundown acaranya udah OK kan Ran?" tanya JP.

"Udah Jep! Ini udah Gue bawa semua!" Rana menunjukan mapnya yang berisi berkas- berkas penting.

"Terus Van, Lo nggak usah repot- repot buatin minum kaya tadi deh... Biarin mereka pada mandiri! Kalo Kakak Alumni yang bakal dateng, iya nggakpapa la Lo layanin, tapi kalo teman- teman pengurus... jangan deh!"

"Ta... Tapi Jep... Kan Gue PJ Konsum."

"Ya tapi nggak gitu juga..." ujar JP.

"Iya Nya, nanti ga usah lagi... Biar pada buat sendiri!" ujar Rana.

**

Akhirnya acara pertama di malam puncak LDKO ini dimulai yaitu acara baris berbaris yang dilanjutkan dengan acara api unggun.

Aku hanya berjaga di pinggir saja, tugasku sebagai Kakak malaikat yang akan menolong jika ada yang merasa perlu bantuan.

Semua Peserta telah diberikan peringatan jika ada yang sedang sakit agar tak ikut acaranya.

Namun tak ada yang mengangkat tangan untuk minta ditolong.

Di halaman yang sangat luas, semua peserta berkerumun dengan di tengahnya telah ada api unggun yang menyala cukup besar.

Akhirnya acara sesi pertama pun selesai jam 10 malam. Semua peserta disuruh kembali ke villanya dan akan kembali dipanggil jam 12 malam.

Sebelumnya semua peserta telah dibentuk kelompok untuk kegiatan sesi selanjutnya yang mana dipanggil bedasarkan kelompok.

Aku pun juga ikut tidur sebentar sembari menunggu jam 12 tiba.

**

Akhirnya jam pun menunjukan pukul 12 malam dimana Kami pun harus memulai sesi selanjutnya puncak acara LDKO.

Aku pun membantu memanggil dan membangunkan para peserta LDKO di villa mereka.

Aku memmanggil peserta pertama atau kelompok yang pertama.

Jadi sesi kedua ini adalah permainan berkelompok, dimana akan dipanggil per kelompok dan menuju posko- posko yang telah ditetapkan yaitu ada 3 posko yang harus mereka lalui.

Posko pertama adalah posko spiritual dan rohani. Di posko ini akan ada sharing- sharing mengenai spiritual, rohani maupun motivasi oleh Pengurus BEMT. Umumnya Pengurus yang ada di posko ini adalah tipikal Pengurus yang memang ramah dan baik, jadi ini posko paling gampang dan pasti bisa dilalui oleh para peserta LDKO karena tak akan ada hukuman serta pertanyaan yang susah juga di posko ini. Untuk posko ini, aku adalah Pjnya dan hanya Aku satu-satunya Pansus yang berjaga di posko ini, sedangkan yang lain adalah pengurus BEMT biasa.

Lalu posko kedua adalah posko nasionalisme dimana disini akan diberikan tes mengenai yang berhubungan dengan nasionalisme, seperti Pancasila, bendera, lagu wajib, kebangsaan, dan lain- lain. Apabila merek menjawab salah maka ada hukumannya, namun hukumannya masih terbilang ringan seperti push up 10 kali, atau skotjam 10 kali, pokoknya masih belum berat. Umumnya posko ini diisi oleh Pengurus yang tegas, PJ dari posko ini adalah Della yang juga merupakan pengurus Departemen Kaderisasi. Ia dan beberapa Pengurus BEMT berjaga di posko ini.

Lalu di posko terakhir adalah posko fisik dan mental dimana akan ada ujian fisik dan mental. Hampir semua Kakak senior Pengurus berjaga di posko ini. Posko ini JP langsung yang menjadi Pjnya. Posko ini memang posko yang paling lumayan kejam dan keras karena posko ini melatih mental dan fisik para peserta.

Aku pun mengisi posko pertama ini dengan memberikan motivasi dan menanyakan kepada semua peserta apa yang menjadi harapan dan motivasi mereka disini. Akhirnya semua peserta sampai kelompok terakhir telah selesai melewati poskoku.

Aku pun bergegas menuju ke posko terakhir untuk mengecek apakah sudah ada korban yang bergelimpangan di posko ini. Aku pun melihat peserta ada yang sedang berbicara dengan ilalang, pohon, lalu ada juga yang sedang dihukum dengan merangkak di rumput.

Aku pun melihat kembali mengecek apakah ada yang butuh bantuan. Namun ternyata para peserta cukup kuat dan tangguh.

Aku melihat JP yang berbicara lantang dan tegas. Disini, Aku agak syok melihat JP memegang rokok. Ia tak seperti biasanya terlihat merokok. Di saat Aku sudah tak asing melihat pemandangan teman- temanku seperti Richard, Dido, Randy merokok, namun ini baru pertama kalinya sekali JP tampak merokok.

Ia membuatku agak kecewa karena tak menyangka jika Ia merokok. Aku pikir selama ini Dia tak merokok namun ternyata sama saja, Ia juga merokok seperti anak- anak cowok yang lain.

Aku pun kembali melanjutkan tugasku untuk mengecek para peserta.

Akhirnya sudah ada kelompok yang sudah selesai menjalani sesi ini. Waktu sudha menunjukan pukul 4 pagi, mereka kuberi minum yang sudah kembali ke Villa. Mereka tampak sudah sangat kelelahan.

Akhirnya Aku pun kembali ke villa pengurus begitu selesai mengurus para peserta.

Begitu Aku sampai Villa pengurus ternyata banyak Kakak alumni yang baru tiba. Aku pun menanyakan minuman yang mereka inginkan. Bang Eross dan Bang Luthfi ingin kopi panas, sedangkan Kak Muthia, dan Kak Harry ingin tehb panas.

Maka Aku pun kembali ke dapur membuatkan minuman yang dimaksud.

Aku pun mencari- cari kopi.

Ternyata tinggal satu sachet.

"Tuh kan... Mereka pasti ngambilnya ga kira- kira... perasaan Aku udah bawa banyak deh, ini masak udah tinggak sau aja?!" gerutu pada diri sendiri.

Aku pun punya ide. Kali ini Aku membagi dua kopi sachet tersebut untuk bang Eross dan Bang Luthfi.

"Rasanya sama saja kali ya?" ujarku sembari mengaduk minuman tersebut.

Lalu Aku pun menyajikan minuman tersebut di atas nampan dan membawanya ke ruang tamu.

Aku menaruh nampan di meja.

Di situ sudha ada JP yang sedang berbincang dengan Bang Eross dan Bang Luthfi.

Bang Eross dan Bang Luthfi masing- masing menghisap batang rokok yang mereka pegang sementara JP sudah tak merokok lagi kini.

"Thanks ya Dek... siapa namanya?" tanya Bang Luthfi, seorang cowok berparas tampan dengan tubuh tinggi tegap, rambut pendek, serta berkaca mata.

"Saya... Saya Vanya, Bang!" jawabku.

"Vanya, sebelumnya makasih banget ya udah dibuatin kopi.. tapi... tapi..." Baeng Eross memasang wajah keheranan dan menatapku.

"I... Iya Bang?"

"Ini kopinya kayanya... hmmm... kamu bagi- bagi ya?" terkan Bang Eross.

Batinku. Ya Allah ketahuan.

Aku pun panik.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/teruntuk-kamu-yang-pernah-jadi-bucin_16681966406932605/19.-malam-ldko_48743029623807352 for visiting.

"e... e..."

"Lut, coba rasain kopinya!" ujar Beng Eross.

Bang Luthfi pun menyeruput kopinya. "E.. Enak kok..."

"Bang Eross, Vanya ini dari tadi udah ngurusi konsumi semua peserta, panitia, pokoknya tanggih banget... Semua minuman yang dibuat Vanya enak- enak aja kok dari testimoni anak- anak yang lain!" bela JP.

Bang Eross tersenyum. "Iya... gapapa.. Asal nanti kalo udah punya suami jangan disediain kopi setengah sachet kaya gini juga ya, Van!" Suara Bang Eross memang agak berat dan ngebas. Ia memiliki wajah yang tampan dengan kulit putih, rambut gondrong yang agak kriting dimana Ia membando rambut depannya agar kelihatan tidak berantakan.

Aku pun tertegun. Aku seketika jadi baper saat Bang Eross menyebut kata suami.

Batinku. Suami? Iya, insyaAllah. Kalo Dia jadi suami Aku, Aku pasti bakal kasih yang terbaik untuk Dia.

**

Next chapter