19 18. Menuju Villa

Akhirnya Puncak pelaksanaan Kegiatan LDKO tiba juga.

Semua PANSUS LDKO sudah mempersiapkan apa yang harus dikerjakan sesuai tanggung jawab bagiannya masing-masing. Contohnya Aku sebagai penanggung jawab dari medis dan konsumsi yang telah siap akan keperluan konsumsi dan juga obat-obatan yang harus dibawa.

Dikarenakan berangkat jan 4 sore, maka Aku pun langsung memesan makan malam dari tempat makan sekitar Kampusku saja, tentu dengan budget yang sudah dipersiapkan dan sangat cukup untuk semua peserta maupun panitia, tak lupa pengurus BEMT dan juga special guess star kita, siapa lagi kalau bukan Kakak- Kakak Senior Alumni. Selain itu kopi, susu, dan teh juga tak lupa Aku beli. InsyaAllah nggak ada satupun yang ketinggalan.

Perkiraan, Kami akan sampai di Sumedang pukul 6 sore. Para Peserta LDKO diangkut menggunakan Truk Militer TNI Isuzu yang kapasitas satu truknya bisa mengangkut sekitar 30-40 orang. Bagian Logistik menyewa dua mobil karena yang diangkut bukan hanya para peserta namun juga beberapa Pengurus BEMT juga ada yang naik Truk tersebut karena tidak muat jika harus menggunakan kendaraan pribadi.

Aku sendiri sebenarnya sudah merasa tak enak badan dari jam 12 tadi. Mungkin efek begadang yang tanpa henti.

Batinku. Nggak bisa pusing, minum tolak angin, sama pake minak kayu putih di seluruh badan, kalau bisa minyak kayu putihnya diminum dah biar sembuh.

Seluruh konsumsi makan malam sudah berada di dalam gedung kesekretariatan. Semua harus diangkut ke dalam Truk, Aku pun membawa satu kresek besar makanan yang bentuknya berupa nasi bungkus yang maih hangat tersebut karena baru selesai dibuat jam setengah 4 sore ini. Iya, ini akan ngaret, sudah biasa jika semua kegiatan BEMT ngaret, justru Aku yang akan heran jika tidak ngaret, hingga Aku pun sengaja meminta dibuatkan makanannya agak mepet agar tidak cepat basi, apalagi ini makanan yang dibungkus dengan kertas nasi lalu lauknya dicampur menjadi satu dengan nasi. Ini namanya budget minimalis-seminimalisnya.

Aku harus memastikan semua konsumsi masuk ke dalam truk sendiri.

Saat Aku membawa kresek turun ke bawah, JP melihatku. "Yaampun Van, Kamu minta tolong anak cowok aja buat bawa konsumsi begini! Ngapain Kamu bawa sendiri!" tegurnya.

Ia pun meraih kantong kresek besar dari tanganku. "Masih banyak?"

Aku tertegun sejenak. "Masih ada 3 kantong lagi Jep!" ujarku spontan karena masih terkejut.

"Yaudah, itu ada anak cowok yang lagi nganggur!"

"Gue takutnya yang lain pada sibuk juga!"

"Nggak usah takut buat minta tolong! Gue aja deh yang bilang!"

"O... OK Jep!"

JP pun memanggil Dido dan Richard. "Tolong bawain konsumsi dong Do, Cad! Mmasih ada 3 kantong lagi di atas!"

Richard geleng- geleng. "Tuh kan Nya... Gue bilang juga apa, Gue entar dimarahin sama JP kalo Lo sendiri yang bawa makanannya! Bener kan!" ujar Richard.

Aku pun kesal. "Bilang apaan?!" Aku mulai naik darah. "Alah... Gue dari tadi gotong-gotong nih kresek sendiri ke atas nggak ada yang peduli! Dari tadi Lo liatin Gue doang Cad!"

"Ngomong dong Nya kalo mau minta tolong!" timpal Dido.

"Ya kalian juga yang harusnya peka kalo ada cewek bawa barang berat sendiri, ya bantuin dong!" sindir JP balik.

Dua teman kelasku ini memang nggak ada pekanya sebagai cowok, ngeliat cewek barang berat bukannya nawarin bantuan, malah... ah ya sudahlah... batinku.

Aku sendiri semakin terharu JP membantuku saat Aku dalam kesusahan. Sebenarnya Aku memang tidak enakan meminta tolong sesuatu yang sudah menjadi tanggung jawabku. Aku tipe orang yang tidak ingin merepotkan sehingga agak sungkan minta tolong.

Akhirnya semua kantong makanan pun sudah masuk ke dalam truk, begitu juga printilan makanan dan minuman lainnya juga sudah masuk semua ke dalam truk. Lalu perlengkapan medis Aku masukan ke dalm mobil Randy.

Keisha menghampiriku. "Nya, Kamu udah enakan belum?"

Keisha tahu jika Aku sedang tidak enak badan karena Ia tahu saat Aku mual-mual tadi siang.

"Masih agak pusing sih Kei!"

"Kamu beragkatnya nebeng mobil aja kalo gitu, jangan naik truk!" nasihat Keisha.

"Gapapa kok kei, lagian konsumsinya kan ada di truk semua."

"Udah deh, daripada Kamu sampai sana malah kenapa-napa!" Keisha memanggil JP. "Jep, Nyanya bareng mobil aja ya... Anaknya lagi ga enak badan soalnya!"

JP memasang wajah serius. "Oh gitu... yaudah Van, bareng mobil Randy aja!"

"Beneran nggakpapa Gue naik mobil Randy?"

"Iya gapapa... daripada Lo sakitnya tambah parah! Gue yang bilangin ke Randy deh!" tawar JP.

Aku dan JP pun menghampiri Randy. "Ran, Vanya jadinya bareng mobil Lo! Dia lagi sakit soalnya, kasihan kalo harus naik truk!"

"Oh, sok aja... Gue mah terserah, tapi bukannya udah pas ya penumpang mobil gue?" tanya Randy.

"Gue ngalah aja yang naik truk Ran! Lo ngangkut cewe-cewe aja!" ujar JP.

Mobil Randy adalah mobil jazz yang hanya mampu menampung 5 orang termasuk dirinya.

"Tapi Gue kan nggak tahu jalan Jep! Mana mobil Kita jalan paling depan bukan?!" TANYA Randy.

Bella yang ada di situ memberi ide. "Gue aja deh yang naik truk, JP kan harus bantuin Randy nunjukin jalan, mana villa nya kan tempatnya lumayan terpencil kan kata Lo?"

"Bel, serius nggakpapa?" tanya JP.

"Selow Jep! Nggakpapa kok Gue naik truk! Udah biasa juga Gue kalo trip kemana-mana naik truk!" ujar Bella.

"Bel, makasih ya... Aku jadi nggak enak!" ujarku.

"Iya... nggakpapa kok Nya! Udah Gue bilang, udah biasa Gue naik truk!"

Akhirnya Aku pun ikut naik mobil milik Randy.

"Ac nya Gue pasing paling kecil nih Nya, Gue takut lo malah mabok!" ujar Randy.

"Iya makasih Ran!"

Sementara di sebelahku ada dua cewek Kamsis yang lain yaitu Helen dan Gisca. Mereka hanya tersenyum melihatku.

Sepanjang perjalanan, Aku tak berbicara apa-apa. Sementara Gisca, Helen, dan Randy saling bercakap-cakap dan bersenda gurau. Sementara JP juga jarang berbicara. Ia lebih fokus memberitahukan jalan kepada Randy.

Aku malah sampai ketiduran, makanya Aku tidak tahu ada apa di jalan. Tiba- tiba Aku terbangun saat waktu sudah pukul 6 sore, aku tertidur sekitar setengah jaman.

Ternyata JP sedang menelpon seorang driver pembawa truk TNI. Mereka saling berkomunikasi untuk memastikan jalanan yang dilalui sudah benar.

Padahal kan yang bagian logistik si Randy yang ngurusin transportasi tapi ini malah JP yang ngurusin. Iya sih Randy yang batuin nyarterin mobil truknya dan Dia juga lagi nyetir mobilnya sendiri! Tapi kan tetep aja... apa-apa JP jadinya kelihatannya!

**

Akhirnya Kami pun tiba di villa.

Semua peserta LDKO diberikan wakti di istirahat di sebuah rumah villa. Satu villa dipakai untuk para peserta LDKO, sedangkan satu villa lagi dibuat beristirahat para pengurus BEMT dan juga nantinya untuk Kakak-Kakak alumni. Para Kakak alumni mungkin baru akan datang tengah malam nanti. Mereka datang menggunakan kendaraan pribadi.

Aku membuatkan teh hangat untuk semua peserta LDKO.

Dibantu oleh Wanda, Pengurus Departemen Humas, Ia tak membiarkanku sendiri mengurus konsumsi di dapur.

JP, Randy, Fajar, Rana, dan Della mengurus semua peserta di villa sebelah.

Aku dan Wanda lalu dibantu Pengurus Cowok membawa teko dan gelas-gelas plastik.

JP pun keluar dai villa peserta.

"Makanannya udah dibagiin semua Jep?" TANYAKU.

"Udah Van, tadi ada Rana sama Della yang bagiin."

"Tehnya juga udah dibuatin ya?"

"Iya udah Jep!"

"Thanks ya Van..." JP tersenyum kepadaku.

"Ini kan emang udah tanggung jawab Gue Jep!"

Akhirnya para peserta dipersilahkan beristirahat lagi sebelum acara yang akan dimulai nanti jam setengah 9 malam.

Aku pun kembali ke Villa Pengurus.

Aku pun berinisiatif menawarkan temanku yang lain minuman.

"Ada yang mau dibuatin teh atau susu?" tanyaku.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/teruntuk-kamu-yang-pernah-jadi-bucin_16681966406932605/18.-menuju-villa_48720078929198723 for visiting.

"Duh, anak Gue emang terbaik..." puji Koordinator Departementku, siapa lagi Kalau bukan Kak Dean.

"Gue juga mau dong Van!" ujar Kak Iqbal.

"Iya boleh..."

"Gue mau susu!" ujar Kak Iqbal.

Tiba- tiba Dido, Richard, dan Randy menimbrung.

"Nya, Gue dong... susu juga..." ujar Richard.

"Gue juga mau nyobain susu buatin Lu dong Nya!" ujar Randy.

"Eh Gue juga mau!" Dido ikut- ikutan.

"Sabar... Sabar... iya entar Gue buatin!" ujarku.

Aku pun ke dapur untuk menyiapkan minuman.

Lalu akhirnya Aku membuatkan beberapa gelas susu dan akhirnya Aku membawanya ke ruang tengah kembali.

Aku benar- benar kerepotan mengurus permintaan minuman yang diinginkan oleh teman-temanku. Aku sibuk sendiri mengurus konsumsi di dapur.

**

Next chapter