13 12. Mulai Galau

Lagi- lagi aku mendengarkan denting piano lagi, kini bukan di Gedung rektor aku mendengarnya, melainkan di Aula Gedung Fakultas Teknik, tapi ternyata aku salah, itu bukan suara piano, melainkan suara alunan keyboard.

Aku benar, siapa yang lagi memencet tuts keyboard tersebut, siapa lagi kalau bukan JP. Suara indah Rana memandu suara keyboard JP.

Aku hanya bisa terpana mendengarnya.

JP dan Rana membawakan lagu berjudul moon river, lagu ini merupakan lagu yang akan mereka bawakan di acara pelepasan wisuda Kating yang akan melakukan wisuda beberapa hari lagi.

Semua yang mendengar seperti terbius mendengarnya.

Akhirnya mereka pun selesai menyanyikan lagu tersebut.

Aku pun masih berdiri di tempat yang sama, tak beranjak kemana- mana. Berdiri di belakang barisan bangku- bangku aula, jauh dari pandangan mereka.

Keisha tiba- tiba menepuk pundakku. "Nya, kamu ngelamun?"

Aku pun sadar. "Heh Kei, kamu sejak kapan disini?"

"Kamu ngeliatin JP main keyboard buat hati kamu meleleh ya?"

Aku menggeleng. "Eng... Enggak ko!" elakku.

"Ayo... kamu ketahuan..."

"Enggak Kei!"

Aku pun berjalan berdua bersama Keisha beranjak dari Gedung Fakultas menuju ke Gedung Perkuliahan. Kami berjalan menuju jalan setapak yang telah tersedia.

"Kamu bener ga ada perasaan apa- apa kan ke JP?" tanya Keisha lagi.

Deg.

Ini tentu langsung menghujam jantungku. Pertanyaan macam ini. Tentu aku meeleh Kei, aku hanya cewek biasa yang bisa kagum kepada cowok yang puya kharisma sedahsayat JP. Kini aku menempatkan JP sebagai salah satu cowok sempurna yang pernah aku kenal seumur hidupku, ga ada yang dia ga bisa di mataku. Aku terlalu rapuh untuk ga mulai menyukainya diam- diam. Ini adalah bentuk pengakuan terbrutal yang kuakui selama 19 tahun aku hidup di dunia.

"Ya enggaklah Kei!" elakku sebisaku.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/teruntuk-kamu-yang-pernah-jadi-bucin_16681966406932605/12.-mulai-galau_45954531753779508 for visiting.

"O.. bener kan ga ada?"

"Iya Kei, ga ada!"

Keisha pun menghela nafas lega. "Syukur deh Nya!"

"Syukur kenapa?"

"Gapapa sih. Abis aku takut aja kamu bisa meleleh hatinya gara- gara JP!"

"Emangnya kenapa kalau sendainya itu terjadi? Tapi aku ga meleleh kok sama JP." Buru- buruku mengelak lagi. "Biasa aja! Cuma aku mau tahu alasan kamu takut aku bisa suka sma JP!"

Aduh si Keisha kenapa lagi, kenapa bisa dia curiga sama aku kalo aku suka ama JP. Kesel sama diri sendiri.

"Gini Nya, track record nya JP sama cewek itu kurang bagus."

Aku menyipitkan mataku. "Loh, maksud kamu?" Aku terkejut.

"Pokoknya Aku mau nasihatin kamu dari awal Nya, jangan sampe kamu suka atau naksir sama JP."

"Kenapa Kei? Track record nya kenapa emang?"

"JP itu... PDKTnya sama siapa, nembaknya kemana..."

Deg.

Lagi- lagi jantungku mulai lagi.

"Aku ga ngerti Kei."

"Mungkin emang iya, sekalinya JP suka dan sayang sama seseorang, dia akan kasih sayangnya dia seratus persen buat itu cewek, dia bakal sayang banget deh sama itu cewek... tapi cara dia mendekati cewek itu sama sekali aku ga suka! Temen aku, literally sahabat aku pernah jadi korbannya! Dia dideketin sama JP selama berbulan- bulan, eh endingnya dia malah nembak sahabatnya sahabat aku itu!"

Cerita Keisha ini sudah cukup sekali menggambarkan kehidupan percintaan JP, dan aku percaya dengan Keisha, ceritanya pasti bukan fiksi belaka, ini benar- benar pengalaman sahabatnya sendiri.

Aku ga tahu kenapa Keisha cerita ini ke Aku. Aku aja sadar jika Aku ga mungkin ada harapan dengan JP, ini kenapa sih Keisha pake cerita hal begini ke aku. Ini kan percuma banget. Aku hanya akan meringis tanpa ada yang tahu.

**

Kali ini adalah mata kuliahnya siapa lagi kalau bukan mata kulianyanya Bu Andhita.

"Baiklah, kita kuis ya..."

Ibu Andhita, tidak ada angin, tidak ada hujan mengumumkan kuis dadakan di akhir materi yang baru Ia sampaikan tadi.

Batinku. Mampus gue!

Bu Andhita pun memberikan kuis dadakan dengan hanya 5 pertanyaan saja di dalamnya.

Akhirnya kami pun mulai nemjawabnya. Bu Andhita hanya memberikan kami waktu 10 menit untuk kami bisa menyelesaikan 5 soal yang jawabannya tentu nggak pendek. Kami dituntut menulis secepat- cepatnya.

Akhirnya 10 menit pun usai.

Semua jawaban kami dirolling ke sampaing kanan sedangkan yang paling depan menerima dari belakang hingga Bu Andhita bilang stip, barulah kertas kambi berhenti rolling.

"STOPPP!"

Kami pun berhenti rolling dan memeriksa jawaban teman kami dengan menyamakan persepsi jawaban yang benar dari Bu Andhita. Tentu ini bukan jawaban salah dan benar namun setiap jawaban ada pointnya dimana nilainya satu jawaban jika sempurna 20, setengah sempurna 10, dan sedikit tepat 5.

Susah kan untuk mendapatkan nilai 100?

Pencocokan jawaban pun dimulai.

Nilai batas lulus dari tes kuis dadakan ini adalah 60. Akan ada hukuman untuk kami yang tak lulus nilai ambang kelulusan kuis ini, yaitu membuat persentasi di pertemuan selanjutnya alias 2 hari yang akan datang.

Akhirnya pencocokan jawaban pun selesai.

Aku hanya mendapat nilai 50 dan itu artinya aku harus mendapatkan hukuman.

Mampus gue, makan tuh persentasi. Aku hanya bisa menangis dalam hati.

Ketika disuruh menunjuk tangan yang mendapat nilai 60, aku pun termasuk di dalamya.

Aku pun menoleh ke belakang, siapa sangka jika Seseorang yang selalu bernilai perfect ternyata juga mendapat nilai di bawah 60. Iya, siapa lagi kalau bukan JP.

"Jadi yang mendapat nilai kurnag dari 60 ada 11 orang saja. Baiklah Ibu akan bentuk kelompok 3 orang per kelompok untuk peresntasi materi 2 hari lagi!" Bu Andhita pun membacakan siapa- siapa kelompoknya dan memberitahu tema materi persentasi masing- masing kelompok tersebut.

Aku jujur malu karena sat- satunya cewek yang tidak lulus kuis ini.

"Ilyas, Willi, Iwan materinya adalah SDLC Fase analisis. Kemudian kelompok terakhir, sisa dua orang saja, jadi tidak apa ya hanya kalian berdua, VANYA dan Galang kalian berdua berkelompok, materinya adalah SDLC Fase Desain. Sekian sampai jumpa hari Jumat, jangan lupa yang persentasi! Kirimkan file PPTnya ke Ibu juga!" Bu Andhita pun mengakhiri kelasnya.

Aku pun mendengar namaku disebut untuk berkelompok dengan JP membuatku sangat sesak dan sangat tak menyangka akan dijadikan sekelompok dengan JP yang isi kelompoknya Cuma berdua saja.

Aku pun tahu akan dihampiri oleh JP.

"Van..."

Aku sontak menoleh. "Iya Jep!"

"Kita sekelompok lagi!"

"Iya Jep, berdoa doang."

"Kamu pasti bosen ya ketemunya aku lagi, aku lagi?" JP membetulkan ranselnya menggendongnya di punggungnya dengan hanya dipakai sebelah pundaknya saja.

Aku pun hanya tersenyum simpul.

"Jujur Van, gue beneran lagi sibuk- sibuknya sekarang..."

"Gapapa kok Jep... Gue kerjain sendiri aja... toh ga banyak- banyak amat ini materinya!"

"Enggak- enggak.... gue bakal tetep bantuin!" tolaknya sembari menunduk menyamakan tingginya dengan posisi aku duduk.

"Tapi kan lo sibuk, Jep..."

"Gue janji bakal tetep bantuin gimana pun caranya!"

"Iya Jep!" Aku mengangguk.

"Jujur gue itung- itung, ada rapat yang bisa gue batalin yaitu kemungkinan di Kamis malem yaitu jam 8. InsyaAllah gue bakal ngusahain banget buat bisa ga ikut meeting AIA buat ngerjain persentasi ini Van!"

"Gue ga enak kalo lo sampe harus ga dateng meeting apalagi kalo itu meeting penting, Jep!"

"Ga kok Van! Gue gapapa tapi ijinnya tetep perlu ada waktu,yang jelas gue janji bakal ngerjain persentasi ini bareng lo!" tegasnya.

"Ok, makasih ya Jep!"

"Ngerjainnya di kontrakan lo aja ya!"

Aku mengangguk.

"OK, Gue tunggu lo di kontrakan gue Jep besok lusa!"

"Iya, sambil lo cari bahan, gue juga cari bahan dulu juga."

"Iya pastinya!"

"Yaudah kalo gitu gue cabut duluan ya Van! Gue tahu lo cukup pengertian. KALo ada apa- apa hubungi gue lagsung, masalah pansus juga jangan sungkan konsultasiin ke gue, gue open buat ditanya pendapat apapun itu. Gue akan bantu apapun selagi gue mampu."

Kata- kata JP ini seakan meluluhkanku lagi. Entah kenapa Ia harus pamit padahal pergi ya tinggal pergi dan juga kena dia harus menebalkan kata- kata semuanya bisa dikonsultasikan kepada dirinya seakan- akan semua masalahku bisa dicurhatin ke Dia. Kalau begini hatiku bisa salah kaprah, hatiku bisa mengartikan lain kata- katanya tersebut. Galau banget rasanya mendengar semua kata- katanya tapi aku masih terngiang- ngiang nasihat dari Keisha.

Aku hanya mengangguk dan membiarkannya pergi.

**

Next chapter