1 Bab 1

Seorang gadis kecil berambut sebahu nampak terbangun dari tidurnya. Ia menguap dan menggeliat sebentar didalam kamar berarsitektur italia itu. Perlahan matanya melotot saat melihat wajahnya dari kaca. "EHH?"

Ia terkejut bukan main, wajahnya melohok melihat ke arah cermin lekat. Bahkan berulangkali ia kucek matanya atau cubit pipinya. Ini bukan mimpi, ini sungguhan. Gadis didalam cermin itu adalah dirinya. Gadis itu mendekati cermin dan melihat wajahnya seksama.

Ia masih tak percaya. Dia seorang anak kecil yang sangat imut, ini gila. Padahal usianya sudah tujuh belas tahun. Ia coba kembali mencubit pipinya dan yang ia rasakan hanya kesakitan.

Ia melihat sekeliling kamar megah yang luas itu. Terkesima. Ia juga melihat keluar jendela yang disana dapat terlihat sebuah Padang rumput dan beberapa kuda berkeliaran, perkebunan dan ladang.

"Tuan putri, sarapan sudah siap." Ujar seorang pelayan yang tiba tiba muncul dari balik pintu.

"Eh?? Kamu siapa?"

"Eh? Tuan putri lupa dengan saya? Saya marine kepala pelayan tuan putri."

"What? Tuan putri? Aku ini sedang dimana sih. Jelas jelas aku anak SMA kelas dua."

"Tuan putri sakit? Jika sakit biar saya bawakan makanan itu kesini."

"Tidak perlu! Nanti aku keluar."

"Baiklah tuan putri."

"Marine, aku mau bertanya."

"Iya tuan putri?"

"Namaku siapa?"

"Eh?"

"Eja namaku."

"Selena Raymond."

"WHAT!" Burung yang beterbangan diatas langit sampai kaget mendengar teriakan Selena.

"A-ada apa tuan putri, apa tuan putri lupa ingatan?"

"Ti-tidak aku sehat. Dia bukannya si anu aghh! Sudah sudah kau pergi saja ya. Aku nanti turun kok."

"Baik tuan putri, saya pergi dulu."

Marine mempermisikan diri dan keluar dari kamar. Selena langsung menutup selimutnya dan mengeluh gak jelas. "Aghh! Aku bisa gila! Aku harus ke psikiater! Ini mimpi kan? Aku berada di dunia novel! Dan saat ini aku adalah Selena, karakter jahat yang dimusuhi banyak orang. Ini gila!"

Bukan hanya mimpi namun ini bagian kenyataan yang tak bisa dipungkiri oleh gadis itu. Kenyataan dia saat ini adalah Selena gadis antagonis yang ada didalam novel "Love story of Alena"

Dan kenapa harus jadi Selena?? Gadis berperilaku buruk yang sangat gemar mengerjai Alena dan sangat iri dengannya. Dia pemeran pembantu disini dan seorang antagonis!

Selena kecil terdiam diatas meja makannya. Kenyataan bahwa makanan enak di hadapannya tak mampu membendung rasa khawatirnya. Meskipun begitu ia harus tetap makan, meski aslinya tidak selera. Apalagi para pelayan terus melihatnya sejak tadi. Tapi lihatlah makanan yang tersaji begitu banyak hanya untuk satu orang dihadapannya. Selena lahap memakannya. Seperti ingin membawa pulang ke dunia nyata. Enak sekali.

"Selena." Ujar seorang wanita bergaun biru dihadapannya. Ia membawa seorang anak laki laki yang tampak malu dan terus bersembunyi dibalik bajunya.

"Kenalkan dia sekarang adikmu, namanya Alvi Raymond."

Selena hampir membengkokkan sendoknya. Alvi adalah saudara tiri Selena, tidak sedarah. Ayahnya menikah dengan ibu Selena baru baru ini. Selena sangat yakin Alvi nanti akan jatuh cinta dengan alena dan selalu menjadi pahlawannya saat Selena mengganggu Alena. Era kehancuran Selena akan semakin dekat. Nasibnya sebagai peran antagonis akan sangat menyedihkan dibawah kekuasaan Alvi.

Tapi bagaimanapun itu ia harus mencegahnya. Saat Alvi dewasa ia akan menjadi Playboy kelas kakap yang digandrungi banyak wanita. Namun hatinya kepincut dengan kecantikan Alena dan nantinya dia jatuh cinta padanya. Selena bersikeras akan menghancurkan kesempatan itu atau tamatlah riwayatnya.

"Jika aku bersikap baik padanya sejak kecil dia pasti akan selalu ada di pihakku kan? Aku harus membuat Alvi luluh padaku. Aku harus dekat dengannya apapun caranya!" Ucap Selena dengan tangan mengepal kuat dan semangat membaranya.

Alvi selalu terlihat murung, ia merasa kekuatan apinya dapat menghancurkan segala yang ia punya. Alvi memiliki kekuatan api yang dapat membakar. Ia masih terus menyalahkan diri dari kejadian yang pernah terjadi beberapa tahun lalu saat peristiwa kebakaran dirumahnya.

Ayahnya sangat memarahi Alvi sampai ia dikurung berbulan bulan di kamarnya, terasingkan. Hingga ia pun memutuskan untuk tidak memakai kekuatannya lagi. Sikap keras ayahnya membuat Alvi tersiksa dan mengubahnya menjadi orang yang berbeda dimasa depan

Selena mendekati Alvi. Kenyataan mereka sedang berada di taman sekarang. "Kamu kenapa diam aja? Mau main ayunan sama aku?"

Alvi terdiam, ia terlihat ragu dan malu. "Eh, maaf kak tapi ayah melarangku bermain main."

"Haha masa nggak boleh sih kita kan masih anak kecil. Ayo kita main."

Selena menggandeng tangan Alvi dan mengajaknya bermain ayunan dibelakang istana. Alvi mendorong ayunan itu berkali kali hingga Selena merasa senang, ia terus tertawa sepanjang bercerita banyak hal. "Alvi katanya kamu pengguna sihir api ya?"

"Aku tidak boleh lagi menggunakannya."

"Katanya pengguna sihir api sepertimu bisa membuat kembang api loh. Apa kamu bisa?"

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/terjebak-putri-antagonis_17706488905442105/bab-1_47530579146624410 for visiting.

"Bis.. aku tidak bisa." Alvi mengepal tangannya.

"Ayolah Alvi tunjukkan padaku. Katanya itu keren banget loh"

"Kakak ayo kita pulang."

"Alvi ulang tahun besok aku mau melihat kembang apimu."

"Eh?"

"Ya Alvi, pliss. Besok aku ulang tahun loh."

"Tidak tahu." Alvi murung.

"Pliis."

Saat itu Alvi tidak memberikan jawaban. Dia masih terlalu takut dengan kemungkinan melukai itu. Selena paham, tapi apa salahnya. Selena bersikeras membujuk Alvi sampai tiap bertemu selalu membahas itu, lalu disaat ia sedang bermain bola atau sendirian di taman, Selena selalu muncul tiba tiba entah menyamar jadi pohon atau semak semak. Sifat kepala batu Selena terus membuat Alvi goyah, pada akhirnya Selena pun mendapat persetujuan dari Alvi.

Di hari ulang tahunnya Selena melihat kembang api yang diciptakan oleh Alvi. Kembang api itu menyala nyala dan meledak di angkasa. Tepatnya saat itu malam hari, mereka melihat kembang api itu dibelakang istana dekat taman. "Waah indah sekali." Ujar Selena, saat melihat redup dan terangnya kembang api itu lewat matanya. "Alvi kamu hebat."

Alvi merasa ikut senang. Ia tak pernah membuat seseorang sampai sebahagia ini apalagi dengan kekuatan apinya. Kekuatan yang sempat membuatnya ingin menghilang saja.

"Alvi aku ingin kembang api itu membentuk hati diatas kepalaku."

Alvi awalnya tidak yakin, namun Selena terus memaksanya, ia pun coba turuti keinginan Selena. Ia pakai jarinya membentuk hati diatas kepala Selena. Tiba tiba saja sebuah percikan kembang api menyentuh mata selena, gadis itu berteriak kesakitan sambil memegang matanya. Ia menjerit ketika percikan itu kembali mengenai kepalanya. Selena yang kesakitan langsung membuat alvi ketakutan setengah mati, kenangan pahit saat ia membakar rumahnya sendiri dan dipukul oleh ayahnya membuat dirinya ingin menangis. Ia terpatung dikungkung rasa bersalah.

Esok harinya, mata kanan Selena diperban. Tabib mengatakan matanya terkena percikan yang menyebabkan sedikit luka di tepian kulit. Ia menuturkan bahwa tiga hari lukanya akan segera pulih.

"Kamu baik baik aja kan nak?" Ujar Carlina Campbell ibu Selena. Wanita anggun berusia 30 tahun dengan warna rambut coklat yang mirip dengan selena ini nampak khawatir. Sudut matanya terus menuju Selena dengan tangan mengusap rambutnya.

"Iya mah. Alvi mana mah? "

Clarkson, ayahandanya yang mendengar nama itu langsung merengut kesal. "Ini semua karena dia, dia pantas dihukum kurungan."

"Jangan pah! Ini semua salahku. Bukan Alvi yang salah, mah pah yang salah Selena. Selena yang bilang ke Alvi supaya minta diperlihatkan kembang api di hari ulang tahun Selena."

Menurut jalan cerita di novel ayahnya terlihat sangat membenci Alvi. Sebagai ayah dan anak, hubungan mereka tidak terlalu dekat. Clarkson selalu bertindak tegas kepada Alvi, bukan hanya karena dia penyebab mansionnya terbakar, namun wajahnya yang sangat mirip dengan mantan istrinya yang pergi dengan lelaki simpanan. Itulah yang membuat Clarkson tidak menyukai Alvi yang merupakan anak dari perempuan itu.

Selena langsung bergegas keluar dari kamar. Ibunya berteriak memanggil "Selena!"

Di saat yang sama Alvi mengurung diri didalam kamar. Pelayan bergumul dihadapan kamarnya.

"Pangeran Alvi kasihan, dia pasti merasa bersalah."

Para pelayan itu berkerumun dihadapan kamarnya, mereka yang tadinya berniat memberi makan malah jadi bergosip.

Selena tiba tiba datang dan berdiri dihadapan kamar Alvi. "Ini semua bukan salahmu!" Teriak Selena. Alvi yang sedang duduk mendekap kedua tumit mendengar suara Selena dari luar. Ia kemudian menjawabnya.

"Kakak lebih baik pergi. Ini jelas salahku. Ini hukuman yang setimpal buatku."

"Jangan konyol! Aku yang menyuruhmu melakukan hal itu, ini jelas salahku!"

"Pelayan minggir!"

"Eh tuan putri mau ngapain?"

"Hyaaaa!"

Selena mendobrak pintu itu dengan kekuatan Samsonnya. Tahu saja dia orang yang jago beladiri sebelum ini, ia adalah karateka yang terkenal seantero sekolah. Pintu itu ditabrakkan berulang kali oleh ujung pundaknya hingga menghasilkan suara yang gaduh.

Alvi terkejut saat gadis itu berhasil mendobrak pintunya seperti layaknya Samson. Ia tercengang membatu saat melihat gadis mungil berambut coklat itu nyengir kuda dihadapan matanya. "Hehehe kena kamu!"

Alvi tidak percaya dengan gadis ini, bagaimana mungkin anak kecil bisa sekuat dia yang mampu mendobrak pintu yang terkunci sampai bisa terbuka. Ia pun berakhir melihatnya begitu lama dengan tatapan heran.

"Jangan pernah melakukan hal ini lagi! Kamu tahu kan aku kakakmu? Kamu harus selalu terlihat di dekatku, pokoknya jangan menghindar ataupun pergi! Karena kakakmu ini pasti akan menemukanmu!"

Alvi terkesima melihat Selena dan menatapnya tanpa berkedip. Gadis ini...

Next chapter