1 Prolog

Sorak para penonton mulai menggema di sekeliling arena pertarungan dengan semangatnya. Pertarungan antar kesatria di depan sana berhasil memikat perhatian penonton hingga jumlah yang luar biasa.

Suara aduan pedang saling berbenturan terlihat menyerupai kilat putih. Melesat luwes dengan lembut, tetapi kasar di saat yang sama.

Petarung kali ini adalah seorang perempuan berambut putih lengkap dengan pakaian rapi. Matanya yang biru-violet persis seperti permukaan air yang tenang. Menggenggam Rappier di tangan kanan, permainan senjatanya sangat lincah jika dibandingkan lawannya.

Sedangkan di sudut yang berlawanan adalah seorang lelaki berambut hitam yang membawa sebuah pedang di tangan kanan dan perisai yang kokoh di tangan kirinya. Sayangnya pergerakannya terbatas akibat zirah yang menutupi tubuhnya secara menyeluruh.

Perempuan berambut putih itu menari-nari di atas arena dengan anggun. Melesatkan setiap serangan dan hantaman dengan cepat. Sedangkan lawannya hanya bisa melangkah mundur dengan pasrah.

Sesekali kesatria itu menghunuskan pedangnya, tetapi nyatanya meleset semua. Di sisi lain merpati putih melompat seperti kelinci lincah lalu memberi tekanan bagai elang pemburu.

Berkat kemampuannya dalam memainkan senjata, sang kesatria besar kembali terdorong mundur. Terlihat dari napasnya yang terengah-engah, raut wajahnya pun menjadi kompleks. Tidak lama kemudian ia pun menunduk dan jatuh terduduk seperti kesatria.

Memanfaatkan momentum yang muncul, sang perempuan bergerak cepat lalu menghunuskan senjatanya tepat ke arah leher pria itu lalu berhenti begitu jaraknya hanya satu senti dari kulit.

Mulut sang kesatria besar sedikit menggeram, tetapi pada akhirnya ia menyerah dengan melepaskan semua atribut tempurnya. Dan sorak-sorai pun kembali terdengar mengisi penuh arena itu dengan kehidupan.

▼▼▼

Aku bisa mendengar suara orang-orang di luar sana dengan sangat jelas menggema di sini. Dalam ruangan kecil yang diperuntukkan untuk para peserta, aku duduk sendiri sambil memegangi pedang kayu.

Hingga sebuah suara memanggilku untuk pergi menuju arena. Aku pun bangkit dan meregangkan lenganku beberapa saat.

"Hmm... sepertinya kali ini giliranku."

Aku pun membuka pintu dan berjalan di lorong yang cukup panjang. Pemandangan ini… sangat membuatku terkenang dengan masa lalu. Aku pun tiba di ujung lorong dan cahaya matahari menyapaku bersamaan dengan sorakan yang tidak menyenangkan.

Layaknya ejekan dan hinaan yang sangat khas, aku terkekeh kecil mendengarnya.

"Hahaha... lihat! Apa kau tidak jera?"

"Woii.. sebaiknya kau mundur atau tidak kau akan di tendang keluar arena, ahahaha"

"Hahaha... Kesatria Gagal, ingat julukanmu. Sudah pasti kau akan langsung kalah."

Ini memang sangat menggelikan karena mereka masih mengingatku hingga saat ini. Aku jadi terharu, bahkan setelah bertahun-tahun tampaknya gelarku juga masih bertahan.

Selain itu… tempat ini masih tidak berubah sama sekali.

Lawanku kali ini adalah seorang lelaki berjanggut dengan aksen seperti orang mabuk. Ia menggenggam sebuah kampak dengan lengan kanannya. Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku merasa seperti anak kecil ketika berdiri di hadapannya.

"Anu... bisakah paman bermain pelan denganku?"

"Hahaha... ada apa pria kecil? Apakah kau takut dengan paman ini"

"Ahahaha. Tidak, tidak… hanya saja paman perlu berhati-hati dengan kaki paman," ucapku dengan seringai kecil.

"Kaki?"

Suara bunyi gong pun terdengar lantang dan pria besar di depanku dengan ganasnya langsung menerjang. Hahh… padahal aku sudah berbaik hati memperingatinya, tetapi ia sama sekali tidak menggubris hal itu.

Aku sendiri sebenarnya tidak ingin melakukan hal ini dan ingin bermain lembut dengannya, tetapi pada daya jika ia sama sekali tidak menerima kebaikanku, 'kan? Kalau begitu aku tidak usah menjadi orang baik lagi.

Mengandalkan teknik langkah kaki, aku menghembuskan napas, begitu kaki kanannya terangkat tinggi pada saat itu juga aku menerjang cepat menggunakan kecepatan kilat.

Setelah itu kutendang kaki kirinya sekuat mungkin hingga tubuhnya mengapung beberapa saat. Memanfaat momentum itu aku langsung mendorong tubuhnya dengan telapak tangan kanan sekuat mungkin.

Alhasil dalam hitungan detik itu tubuhnya terlempar jauh hingga menghantam dinding arena dalam.

"Bhuaggh!!—"

"Lihat? Seharusnya kau mendengarkan apa kataku… hahh," ucapku sambil menyeringai kecil.

Akhirnya aku berhasil membungkam orang-orang ini. Bahkan arena ini menjadi hening dengan ekspresi konyol mereka bisa kulihat dari tempatku berdiri dengan jelas. Sungguh menggelikan, bahkan aku ingin tertawa melihat raut wajah mereka.

Namun, keheningan itu akhirnya pecah dengan teriakan antusias seorang laki-laki yang kemudian dengan disusul oleh teriakan lainnya. Alhasil bukan saja telingaku yang dibuat berdengung oleh suara itu, tetapi aku juga bisa merasakan udara di sekitar sini sedikit bergetar.

Sebenarnya aku tidak berharap mendapatkan tepuk tangan atau penghargaan apa pun, apa yang aku inginkan adalah pembalasan. Setelah bertahun-tahun aku memendam perasaan ini, akhirnya hatiku menjadi lega.

"Aku menyerah!!" teriakku lantang lalu berjalan menuju ke luar arena dengan santai.

Dan sekali lagi suasana tempat ini menjadi hening selagi aku pergi menuju keluar arena dengan ekspresi puas.

Next chapter