2 Chapter 1 - Odd Mission I

"Akhirnya aku keluar juga dari arena terkutuk itu," gumamku sambil menghela napas.

Setidaknya kali ini aku sudah membalas apa yang selama ini terjadi pada diriku di masa lalu. Yang jadi pertanyaannya adalah apa yang akan aku lakukan sekarang? Itu adalah pertanyaan sederhana setelah berhasil mengenyangkan egoku.

Ada banyak sekali hal yang perlu aku lakukan, tetapi untuk saat ini mungkin harus mengkhawatirkan bagaimana nasiku sendiri. Aku juga masih ingat dengan keuangan yang mulai surut berkat sesosok makhluk mungil pengerat permen manis.

Lagi pula setelah aku pikir-pikir sekarang, baik pertarungan ataupun hadiah dari festival itu sudah sangat basi.

Saat ini di Kerajaan Ronove banyak sekali acara yang berlangsung dari dua hari sebelumnya. Perayaan Festival Kesatria Sihir—Cheias Vastica, inilah nama yang selalu aku dengar ketika festival ini berlangsung.

Namun, bagi orang-orang Kerajaan Ronove... mereka lebih menyukai festival kesatria sihir karena mudah diingat.

Banyak acara yang berlangsung dari mulai hiburan hingga stal makanan di mana-mana. Penghibur jalanan atau permainan lainnya, tetapi dari semua itu ada hal yang paling menonjol. Benar… itu adalah pertarungan dalam satu arena untuk menentukan siapa yang akan menjadi juaranya.

Hadiah yang raja kerajaan ini janjikan adalah sebuah gelar sekaligus status khusus sebagai kesatria elit—Kesatria Legiun. Mereka yang terpilih adalah orang-orang dengan kemampuan serta keterampilan tinggi dalam setiap bidang tertentu.

Tentunya tidak hanya terbatas pada kesatria saja, bahkan seorang pengguna sihir pun dapat masuk ke dalam jajaran kesatria elit tersebut. Entah, apakah ini adalah ide langsung dari sang raja, atau karena ada sesuatu sehingga penamaan ini muncul.

"Kalau nggak salah saat itu hadiahnya gelar dan juga uang, huh? Tapi sekarang sudah berubah…."

Aku tidak tahu seperti apa jelasnya, tetapi satu hal yang pasti adalah terbentuknya kesatuan unit kesatria elit ini karena diakibatkan oleh pertahanan kerajaan yang mulai lengah. Itu adalah pendapat serta dugaan liar milikku, tetapi lebih jelasnya aku masih belum tahu.

Mengingat bagaimana festival inilah yang mengubahku seutuhnya, aku tidak menyangka orang-orang ini masih mengingat diriku. Bahkan setelah bertahun-tahun aku pergi dari tempat ini dan memutuskan untuk kembali. Mereka masih mengenaliku dengan jelas.

Apakah aku memberikan kesan yang dalam seperti itu, huh?

Mungkin? Entahlah… lalu kenapa aku harus memikirkan hal tidak berguna ini? Hahhh… benar-benar yang terburuk.

"Kesatria Legiun? Lebih terdengar seperti kesatria bodoh bagiku."

Sebaiknya aku memikirkan bagaimana caranya hari ini agar perutku terisi. Setelah aku menyodok saku celana kanan, uang yang aku temukan hanya berupa dua buah keping perunggu.

Memesan minuman dengan uang ini adalah hal yang mustahil, apalagi memesan makanan, mungkin aku akan dilempari oleh sekeranjang batu yang ada.

"Bagaimana kalau kita pergi ke papan misi?"

Suara itu tiba-tiba saja muncul dari sebelah kananku. Pada awalnya sosok gadis kecil ini sedikit transparan dan begitu ia tersenyum kecil, tubuhnya yang transparan tadi menjadi solid, dan kini ia mengambang tepat di sebelah kepalaku.

"Fear? Aku kira kamu lagi keluar jalan-jalan, ternyata ada di dalam pedang"

"Pedang? Maksudmu tongkat kayu itu?" tanyanya lagi sambil memiringkan kepala. "Aku hanya ikut tidur sebentar karena di dalamnya sangat nyaman," lanjutnya lalu menguap lebar.

Fear… gadis kecil ini sebenarnya adalah "seorang" roh kontraktor. Lebih tepatnya entitas perwujudan alam yang terbentuk akibat keinginan orang-orang untuk mengemban Mana. Mirip seperti katalis, tetapi memiliki kesadaran sendiri, dan tentunya semua itu tergantung pada adaptasi tempat mereka lahir.

Namun, dalam kasus Fear, hal itu sangatlah langka… atau mungkin bisa aku sebut sebagai kasus langka. Nyatanya Fear sendiri tidak berafiliasi dengan unsur elemen alam itu sendiri, melainkan ia adalah roh yang dapat menjadi penguat Mana jenis apa pun.

Rambut panjang merah marunnya acak-acakan, hanya bermodalkan gaun musim panas putih yang bersih. Sosoknya mengambang di sampingku dengan begitu santai.

Walaupun tidak semua orang dapat melihat wujudnya dengan jelas, apakah ia tidak terlalu santai dengan sikapnya itu?

"Kuro… hei, Kuro!" panggilnya tiba-tiba.

"E-ehh?! Apa?"

"Mau kemana lagi? Kita sudah ada di sini, lhoo"

"O-oh."

Aku hampir lupa untuk apa kita pergi ke sini, tetapi hingga membuatku tidak sadar seperti itu. Mungkin aku terlalu memikirkannya… apakah ini tanda-tandanya aku harus mengambil hari libur?

"Maaf, tadi aku sedikit melamun. Jadi misi seperti apa yang menurutmu menarik?" tanyaku sambil melihat-lihat lembaran misi.

"Hmm… pembasmian? atau perburuan?"

"Pembasmian? Perburuan... lagi? Maksudmu berburu monster lagi? Bagaimana jika kali ini kita mengambil misi yang sedikit santai?" tanyaku sambil berpangku dagu.

"Tapi aku ingin makan permen itu lagi—"

"Emang kamu pikir salah siapa keuangan kita bisa sekarat, huh?"

"Ughh."

Wajahnya mulai merengut seperti menyesali perbuatannya. Jika sampai hal ini dibiarkan begitu saja, aku jadi tidak yakin uangku akan bisa bertahan sampai besok. Jangan sampai tampang manjanya itu membodohi kalian, jika aku lengah mungkin saja pundi-pundi uang tabunganku bisa habis dalam sekejap hanya karena permen manis.

Oh! Aku hampir lupa untuk menjelaskannya. Dalam penglihatanku Fear adalah seorang gadis kecil periang yang terlihat manja, tetapi bagi orang yang belum terbiasa dengan kenampakan sosok Fear. Apa yang mereka lihat adalah sebuah bola bercahaya—Orbs merah muda hangat yang memiliki ekor remah-remah cahaya kecil.

Aku sudah pernah menanyakan ini kepada beberapa orang dan itulah jawaban dari mereka. Dan bagaimana jika ada orang yang bisa melihat sosoknya ini? Mereka setidaknya harus memiliki ikatan denganku dan tentunya melalui izin Fear juga.

Ini adalah permasalahan sederhana yang terkadang dibuat rumit oleh Fear. Semua itu karena roh kontraktor menyerupai hewan dan seperti yang aku jelaskan sebelumnya, Fear adalah kasus yang sangat langka.

Aku pun mengambil selembar kertas usang dari pojok kanan atas papan misi, "Bagaimana dengan ini? Hmm… menjaga ternak ayam? Sepertinya menarik"

"Apakah itu artinya ada telur dan daging gratis?—Ughh"

Kupukul kepalanya dengan pose kampak. "Harapanmu terlalu tinggi dan sejak kapan monster penyantap permen sepertimu peduli dengan hal berbau daging-dagingan?" tanyaku sambil menghela napas.

"Kuro… tadi itu sakit tau." Matanya membesar seperti merengek, "Aku penasaran dengan rasanya, apakah itu artinya tidak boleh? Meski hidangan utamanya adalah makanan manis, tapi telur atau daging juga boleh, kok. Hehehehe," tuturnya dengan senyum lebar yang mengeluarkan air liur.

Sebenarnya aku melakukan kontrak dengan jenis roh apa? Ughh… kepalaku sakit karena memikirkannya. Aku memang sudah mengetahui sifat aslinya, tetapi aku masih kerepotan dengan sikapnya yang seperti ini.

"Jadi artinya kamu tidak keberatan dengan misi ini, 'kan?" tanyaku memastikan sambil menggoyang-goyangkan selebaran.

Fear mengangguk mantap dengan ekspresi bercahaya, "Yup! Aku 100% tidak keberatan sama sekali. Kalau begitu ayo kita lakukan sekarang juga," tuturnya dengan senyum lebar.

Aku mendongak untuk memastikan langit tidak mendung dan sepertinya hari ini cerah-cerah saja. Malah ini adalah cuaca yang sangat bagus untuk melakukan perjalanan ke luar kota. Dengan kondisi cuaca yang cukup sejuk dan sinar matahari juga tidak terlalu terik, aku akan langsung pergi menuju ke tempat misi ini.

Setelah kami memutuskan untuk benar-benar mengambil misi ini, akhirnya kami pergi menuju ke luar kota. Dalam hal ini setidaknya aku memiliki kenalan yang bisa aku andalkan.

Beberapa di antaranya adalah para penjaga gerbang kerajaan. Inilah beberapa manfaat yang bisa aku dapatkan dengan cara bergaul dengan mereka, salah satunya adalah aku bisa mengetahui informasi terkini tentang Kerajaan Ronove atau hal-hal aneh yang terjadi belakangan ini.

Informasi mengenai Kesatria Legiun pun aku dapatkan dari mereka. Walaupun tidak terlalu lengkap, setidaknya aku bisa mengetahui gambaran besarnya.

"Kamu lagi mikirin apa lagi, Kuro? Ahh… tunggu, jangan-jangan itu hal yang merepotkan, ya?" tanya Fear sambil menyentuh bawah bibirnya dengan jari telunjuk mungil.

"Tidak serumit apa yang sedang kamu bayangkan sekarang, Fear," jawabku lalu mengelus rambutnya pelan. "Aku hanya sedang melihat garis akhir misi ini"

"Garis akhir?"

Aku pun mengangguk pelan. "Umm. Apakah ini misi berbahaya atau tidak, sebelumnya aku lihat tidak melihat imbalannya. Mungkin orang yang menulis surat ini tidak mencantumkannya atau mereka merahasiakannya karena hal tertentu"

"Ummu… Ummu. Kamu benar juga. coba aku lihat." Fear mengambil selebaran misi dari tanganku. "Iya nih. Gak ada imbalannya. Terus kenapa kamu mau mengambilnya?"

Mulutku menyungging kecil, "Bukankah aku sudah mengatakannya sejak awal?"

"Masa?" tanyanya sambil memiringkan kepala.

"Ahahaha. Kamu ini pelupa atau pura-pura lupa? Aku mengambilnya karena terlihat menyenangkan."

Ekspresi Fear pun sedikit tersentak. "Oh! Benar juga."

Setelah melewati jembatan batu yang melengkung ke atas kami tiba di depan gerbang kota. Hanya memberi lambaian tangan singkat, para penjaga gerbang memberiku jempol, dan pada saat itulah suara derekkan rantai terdengar saling mengejar.

Perlahan-lahan gerbang kayu tebal cokelat berlapis baja itu terangkat ke atas. Setelah benar-benar terangkat seutuhnya, aku pun melangkah keluar, dan mendapati pesona pemandangan hijau sejauh mata memandang

Pepohonan di kiri-kanan, jalan bebatuan yang tersusun rapi, dan dua buah pagar kayu singkat. Semua itu adalah apa yang pertama kali aku lihat dan biasa aku lewati sehari-hari jika mengambil misi ke luar kota.

Ketika para penjaga menyorakiku dengan riang, aku pun melambaikan tangan sekali lagi. Hahh… dasar mereka para pemangsa daging bakar, mungkin aku harus mengurangi jatah mereka sekali-kali.

Misi kali ini adalah melakukan penjagaan pada peternakan ayam. Seharusnya dengan memelihara Anjing penjaga saja sudah cukup untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan, tetapi orang yang memasang misi ini sepertinya masih berharap.

Aku bisa melihatnya dari selebaran yang ia pasang di papan misi kota. Sangat usang dan terkesan sudah lama, apakah orang ini masih mengharapkan ada seseorang yang mengambil permintaannya meski tidak ada imbalan pasti? Hanya orang bodoh saja yang mau menerimanya dan predikat itu jatuh padaku.

Benar. Aku adalah seorang lelaki yang bodoh karena mau mengambil misi tidak jelas seperti ini. Namun, sesekali aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda selain memburu monster atau melakukan misi pengumpulan bahan-bahan.

"Kuro, aku tidak tahu di mana tempat misi ini," tutur Fear yang kini melayang terbalik sambil berusaha melihat selebaran di tangannya lebih serius.

"Tempat? Ahh… hmm. Coba aku liat dulu," sahutku sambil melirik Fear.

"Nih. Ambil aja…."

Aku pun mengambilnya lalu melihat kembali isi dari misi itu dengan lebih teliti. "Sepertinya kamu tidak bohong, ya? Tapi guratan ini…."

Aku menemukan bagian kecil yang tidak jelas karena sebuah guratan. Mungkin daripada sebuah guratan, ini terlihat lebih mirip seperti goresan yang disengaja.

Dari apa yang aku dapatkan, misi ini mengatakan untuk menjaga peternakan ayam selama malam hari di malam bulan purnama. Ya, kalian tidak salah membacanya, dan entah kenapa hari ini memanglah bertepatan dengan munculnya bulan purnama.

Hal ini menandakan selain serigala hutan akan ada sesuatu yang lebih berbahaya muncul. Aku tidak tahu apa itu, tetapi lebih baik aku juga harus mewaspadainya dari mulai sekarang.

Dengan keterangan tempat yang tidak jelas dan juga ada kemungkinan ancaman lain. Sepertinya pilihanku untuk mengambilnya adalah langkah yang tepat. Aku juga tidak akan merasa bosan karena tampaknya misi ini berbeda dari pekerjaan lainnya.

Aku juga ingat tempat serigala hutan sering berkumpul. Jika tidak salah tempat itu terletak di antara bukit kecil di sebelah barat Kerajaan Ronove, tempat itu dihuni oleh orang-orang yang memiliki pekerjaan sebagai pembudidaya hewan ternak.

Anggaplah tebakanku ini benar, maka aku tidak perlu lagi menanyakan hal ini kepada orang lain, dan bisa dengan tenang menikmati hari cerah ini tanpa terganggu oleh sesuatu yang merepotkan. Ya. Hal itu adalah menanyakan jalan.

"Gimana, Kuro? Kamu tahu di mana tempatnya?"

"Kurang lebih. Hanya saja aku tidak terlalu yakin, tetapi jika tebakanku benar, maka misi ini adalah permintaan dari Desa Kirius yang terletak di sebelah barat Kerajaan Ronove," jelasku singkat sambil memejamkan mata sebentar.

"Desa Kirius? Kayaknya aku pernah dengar tempat ini"

"Kamu tidak salah, kok. Nama desa ini memang sering diperbincangkan, apalagi kalau itu urusannya dengan daging, dan telur. Ada banyak desa yang memiliki barang khususnya sendiri dan Desa Kirius ini mengurusi hal-hal tentang produk yang bisa dihasilkan dari Ayam," lanjutku lalu menghembuskan napas.

"Jadi kita bisa mendapatkannya gratis, 'kan?" tanya Fear antusias.

Aku tahu seberapa bersemangatnya roh gadis kecil ini, tetapi mengharapkan semua produk itu gratis… aku tidak yakin akan semudah itu. Namun, jika harganya dipangkas hingga semurah mungkin, mungkin aku masih bisa mempercayainya.

Lagi pula saat ini aku juga tidak memiliki uang banyak dan semua itu berkat Fear sendiri. Sampai saat ini aku masih bertanya-tanya, apakah entitas seperti dirinya memiliki urat malu atau tidak? Hahh… memang hidup itu tidak selamanya enak.

"Itu pun kalau beruntung. Ingat… itu dieja B-E-R-U-N-T-U-N-G. Lagi pula kita tidak tahu imbalan apa yang akan mereka berikan setelah misi ini selesai," tuturku menegaskan.

"Baiklah. Aku mengerti. Daging Ayam… telur goreng gulung, Desa Kirius... aku datang. Hehehehe."

Sebaiknya lain kali aku harus menyegel Fear di dalam pedangku jika tidak ingin berakhir tragis. Ya… lebih tepatnya aku tidak ingin uang simpananku berakhir tragis di tangan roh gadis kecil ini.

Next chapter