Webnovel

1 Panggilan Jiwa

Yang terkuat dialah yang akan menang. Begitulah yang selalu diucapkan oleh orang-orang yang ingin berkuasa di seluruh jagat galaksi ini. Tetapi, kemenangan sejati hanyalah dimiliki dan diraih oleh kebenaran. Sejak ribuan tahun yang lalu, perang antar planet selalu berlangsung demi merebut kekuasaan yang lebih tinggi. Planet kaya dan kuat akan menang dan menindas planet miskin dan lemah. Mereka menjajah, menjarah dan mengambil sumber daya dari planet miskin dan lemah tersebut. Kemiskinan, tidak adanya sumber daya makhluk, dan tidak adanya ilmu pengetahuan yang memadai membuat sebuah planet selalu tertinggal dari planet lain. Bahkan jika ada negara yang maju di planet tersebut, tidak banyak membantu. Negara tersebut hanya menjadi ibukota planet dan tempat tinggal seorang presiden dari planet tersebut. Bahkan di planet yang sudah maju baik dari segi sumber daya alam, sumber daya makhluk, ilmu pengetahuan, sampai teknologi yang maju, tidak ada yang namanya negara. Semua daratan yang ada di planet tersebut sudah menyatu atas nama planet. Tetapi tentunya mereka masih memiliki perbatasan wilayah karena mereka juga memiliki pemimpin masing-masing juga budaya masing-masing.

Planet miskin masih memiliki konflik antar negara. Tetapi planet maju lebih tinggi lagi. Mereka berkonflik bahkan beraliansi dengan planet lain untuk menjajah planet yang lainnya lagi terutama planet yang miskin. Mereka akan menyukai planet yang miskin namun memiliki sumber daya yang melimpah. Seperti emas dan perhiasan yang berharga. Kadang mereka tidak melakukannya dengan mengangkat senjata. Melainkan menggunakan senjata lain. Bentuknya lunak namun tajam. Yaitu lidah. Mereka mengeluarkan kata-kata manis nan indah agar planet yang ingin mereka jajah mau di bawah naungan mereka. Jika tetap menolak, mereka tak segan-segan untuk membunuh semua makhluk yang ada di planet tersebut. Sebagian lagi dijadikan budak pekerja.

Makhluk di setiap planet kadang melakukan migrasi atau mereka mengadu nasib di planet lain. Jadi, di planet baik planet miskin, berkembang ataupun maju, terdapat banyak sekali makhluk asing yang datang untuk bekerja, menetap, ataupun hanya sekedar berlibur. Dan tentunya, kebijakan tidak tertulis yang ada di setiap planet ialah mereka dilarang menikah jika tidak satu spesies dari planet asal mereka. Karena sering terjadi kasus mereka menikah beda spesies dari planet yang berbeda tidak menghasilkan keturunan yang sempurna. Untuk itulah mereka dilarang keras menikah beda spesies planet. Lagi pula, bukan cuma hanya cara bereproduksi mereka yang berbeda. Melainkan sudah fitrahnya mereka lebih menyukai lawan jenis dari spesies planet mereka masing-masing. Jika mereka melanggar dan tertangkap basah, mereka akan dihukum berat. Begitu pun bagi mereka pecinta sesama jenis baik dari ataupun spesies planet yang berbeda. Di planet manapun itu. Baik miskin ataupun kaya, mereka akan dihukum sangat berat karena itu adalah perilaku yang sangat menjijikkan. Semua makhluk setuju akan hal ini baik yang jahat ataupun yang baik. Sebab keturunan merupakan hal yang penting di galaksi ini. Terutama bagi mereka yang sedang berada di kursi tertinggi kekuasaan.

Setiap planet yang beraliansi, mereka akan saling berdagang dalam segala bidang. Terutama teknologi dan sumber daya. Dari bidang teknologi, mereka membuat sebuah ikat pinggang yang di mana fungsinya, ialah agar si pemakai bisa beradaptasi terhadap planet yang tingkat gravitasinya berbeda dengan tingkat gravitasi dari planet dia berasal. Dari bidang sumber daya tentunya emas dan sumber daya berharga lainnya. Dan yang paling penting ialah senjata. Dalam bidang militer ini, mereka memproduksi senjata. Yang paling sering terjadi ialah planet yang berkuasa dan terkuat dari sebuah aliansi, akan memproduksi senjata. Bahkan aliansi yang terkuat dari seluruh galaksi memiliki senjata dan tentara yang sangat banyak. Tentunya semua itu untuk menjadi yang terkuat dan menduduki tahta tertinggi di galaksi. Jumlah aliansi di galaksi ini tak terhitung jumlahnya. Namun yang terkuat hanya ada beberapa saja. Mereka tujuannya sama, yaitu menjadi elit di seluruh penjuru galaksi.

Selain senjata, mereka juga memproduksi pesawat luar angkasa yang berkecepatan cahaya. Bahkan teknologi terbaru sudah ditingkatkan. Disebut dengan teknologi akselerasi. Di mana kecepatan cahaya bisa ditambah beberapa kali lipat yang berakibat pada penggunaan bahan bakar yang banyak pula. Dari setiap planet, mereka memiliki stasiun luar angkasa sendiri. Di mana mereka mengatur keluar masuknya baik makhluk, ataupun barang-barang impor dan ekspor ke planet lain. Stasiun ini letaknya bukan di luar angkasa. Melainkan di daratan. Di mana ditandai dengan lapangan yang besar untuk mendaratkan pesawat luar angkasa. Mereka juga memiliki keamanan yang tinggi (terutama di planet maju) di mana sistem bisa mendeteksi jika ada ancaman atau pesawat musuh mendekat. Jika planet miskin, biasanya mereka tidak memiliki sistem keimanan sama sekali. Jadi siapapun bisa singgah di sana bahkan hanya untuk sekedar beristirahat atau membeli bekal bahan bakar, peralatan, makanan, dan minuman yang dijual oleh makhluk dari planet tersebut. Di planet yang maju, pesawat luar angkasa militer sering berpatroli mengelilingi planet dan melawan musuh jika menyerang.

Jumlah waktu dari setiap planet berbeda-beda. Untuk itulah di galaksi ini dibuat sebuah sistem waktu yang berlaku bagi setiap planet. Artinya, jika di planet tertentu misal sudah memasuki tanggal satu bulan tiga tahun dua ratus, waktu galaksi akan berbeda. Misal tanggal empat bulan tujuh tahun tiga ribu. Jadi jika seseorang mempunyai alat penunjuk waktu, maka waktunya akan menunjukkan dua waktu yang berbeda. Yaitu waktu dari planet dia berasal, dan waktu galaksi. Jika singgah di planet lain, maka waktu dari planet dia bersal akan berubah menjadi waktu planet yang dia singgahi. Tapi dai tetap akan melihat waktu dari planet dia berasal dengan melalui menu opsi. Selain waktu, galaksi ini juga menetapkan uang galaksi yang bisa dipakai untuk bertransaksi di setiap planet.

***

Di ujung galaksi nan jauh, terdapat planet berkembang. Planet ini dulu sempat dijajah oleh planet lain. Namun akhirnya planet ini bisa mengusir penjajah yang sudah menjajah selama lebih dari lima ratus tahun waktu planet tersebut. Makhluk planet ini disebut dengan manusia. Sumber daya di planet yang disebut bumi ini cukup melimpah. Setelah bebas dari penjajah, presiden planet ini langsung mengambil alih sumber daya planet ini agar bisa dinikmati oleh semua negara. Planet ini hidup makmur. Namun tetap masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Menengah pun ada. Seperti di desa yang tandus ini. Desa Lura namanya. Di sini warganya bekerja sebagai penambang batu bara. Sudah sejak lama warga desa ini bekerja sebagai penambang batubara. Bahkan desas desus mengatakan warga sini sudah menambang sejak zaman penjajahan dan turun temurun diwariskan ke pada anak cucu mereka. Sehingga mereka dijuluki si ahli menambang. Walaupun di zaman sekarang anak-anak mereka banyak yang merantau ke planet lain. Jadi tinggal menghitung waktu gelar itu akan luntur bagi warga desa Lura.

Malam sudah datang. Semua warga sudah masuk ke rumah mereka masing-masing yang terbuat dari tanah liat. Warga di sini tidak memakai listrik untuk penerangan. Mereka memakai lampu minyak untuk penerangan ketika mereka makan malam atau untuk belajar anak-anak yang masih sekolah. Umumnya, rumah mereka bertingkat dan berbentuk persegi berderet-deret saling berdekatan. Pintu yang terbuat dari kayu, dan kadang mereka manggantung tanaman hias di jendela mereka. Memasak mereka masih menggunakan tungku dan kayu bakar. Jendela mereka tetap menggunakan kaca yang mereka beli dari pusat kota. Jika musim dingin tiba, mereka menyalakan tungku pembakar untuk menghangatkan tubuh. Musim dingin di daerah sini bukan musim salju ataupun musim hujan. Melainkan hawa dingin yang menusuk tulang. Terutama ketika malam. Warga yang tinggal di kota mereka mempunyai alat yang bisa mendinginkan atau menghangatkan ruangan. Jadi ketika musim dingin, mereka menyetel alat agar bisa menghangatkan ruangan. Jika musim panas sebaliknya. Daerah ini sebagian kecil daerah di negara beriklim tropis. Jadi mustahil ada salju.

Meja belajar kayu yang diletakkan di sudut kamar minimalis dengan satu jendela ini, seorang lelaki sedang duduk sambil menulis sesuatu diterangi oleh lampu minyak. Wajahnya kalem dan rambutnya agak panjang sedikit, matanya tajam dan dagunya yang berwibawa, serta perawakannya yang sedang, sibuk membolak-balik kertas. Dia kemudian berdiri dan menghampiri jendela lalu memandang ke atas langit gelap yang dipenuhi oleh bintang. Dalam pikirannya dia membayangkan betapa luasnya galaksi ini. tempat terjauh yang pernah dia kunjungi ialah planet Sabarki tempat temannya yang jaraknya 50 tahun cahaya. Ditempuh dalam waktu dua jam menggunakan pesawat luar angkasa umum dengan akselerasi empat kali lipat. Jadi, jika mesin diakselerasi satu kali, maka kita akan bisa menempuh jarak 12,5 tahun cahaya hanya dengan waktu 30 menit.

"Seberapa luas galaksi ini." gumamnya dalam hati.

Kemudian dia kembali duduk dan merapikan kertas-kertas yang dia bolak-balik tadi kemudian dia tertidur lelap. Esoknya dia bergegas bangun untuk memulai aktivitas yaitu bekerja di tambang. Hari-hari seperti biasa. Bertemu dengan teman satu pekerjaan yang rata-rata adalah para bapak-bapak yang kadang suka menggodanya kenapa masih bekerja di tambang. Pengap dan panasnya gua tambang membuat semua pekerjanya melepas baju mereka. Sehingga keringat yang bercampur dengan tanah kotor menghiasi tubuh mereka. Lampu penerang hanya lampu listrik yang ditanam di sepanjang pinggiran sisi gua. Walaupun terang, namun jika lebih masuk ke dalam, udara akan semakin menipis. Jadi hanya orang-orang tertentu saja yang bisa bekerja di kedalaman gua tambang yang sangat dalam.

"Nak, berhentilah kau bekerja. Pergi ke galaksi nan luas di sana. Jangan seperti kami." Kata seorang bapak berbadan tambun yang memakai kaca mata.

"Nanti lah. Saya masih pikir-pikir lagi." Jawab dia.

"Ayolah Darma." Bapak itu mendekat.

Darma hanya diam saja sambil lanjut menggali.

"Kamu sendiri sudah bisa bahasa galaksi?" Tanya bapak tersebtu kemudian.

Darma masih diam.

"Eh, dia itu selalu juara. Kau tidak tahu ya dia pernah menjuarai lomba pidato pakai bahasa galaksi di planet Sabarki." Kata seorang bapak yang lain.

"Mana aku tahu."

"Ayolah kalian jangan bicara yang aneh-aneh." Kata Darma kemudian.

Malam hampir tiba. Darma pulang untuk mengistirahatkan diri. Mandi air hangat dan santapan makan malam ditemani lampu minyak dan seorang wanita yang sangat dia cintai. Ibunya. Wanita paruh baya dengan rambut pendek sebahu dan bertubuh agak gemuk ini selalu menemani Darma ketika makan malam. Selama makan mereka membicarakan banyak hal.

Saat mencuci piring kotor, Darma kembali melamun. Sebenarnya dia ingin sesuatu yang baru. Bosan dia terus-terusan bekerja di tambang. Lagipula, sudah banyak orang yang merantau ke berbagai planet di galaksi na luas di sana. Dia ingin melihat banyak makhluk dari planet lain. Selama ini dia hanya menyaksikan tayangan di televisi tentang liputan di planet lain.

Di lain kesempatan, Darma mengutarakan niatnya kepada ibunya bahwa dia ingin pergi merantau ke planet lain. Tentu saja hati ibunya senang karena dia kini menempuh jejak ayahnya. Walaupun ayahnya meninggal karena kecelakaan kerja di planet tempatnya bekerja. Tidak ada yang bisa di salahkan. Ayahnya memilih planet miskin yang keamanan kerjanya angan minim.

"Besok izin kerja. Kamu temui seorang agen di kota. Dia kenalan ayahmu. Namanya Sumandi. Kantornya ada di pusat kota dekat dengan gedung pemerintahan. Pokoknya kamu tanya saja Sumandi. Semua orang akan kenal siapa dia." Kata Ibunya.

Esok harinya Darma ke kota. Perjalanan ditempuh hanya satu jam menggunakan bus. Awalnya dia ingin menggunakan pesawat C6-20 di mana pesawat komersial ini begitu kecil hanya menampung sekitar sepuluh orang beserta pilot. Bentuknya segi tiga dan lepas adas secara vertikal. Jadi lebih efisien jika ini turun di mana saja. Darma tidak jadi naik pesawat itu karena ketinggalan jadwal. Jadi dia naik bus.

Hiruk pikuk di kota sungguh berbeda ketika di desa. Kota bernama Fursa ini adalah kota yang kecil. Namun kota ini jauh lebih maju ketimbang desa Lura. Jalanan mulus, gedung-gedung tinggi saling saling berdekatan seolah mereka sedang berlomba mana yang paling bisa menyentuh langit. Di atas banyak sekali hilir mudik mobil terbang. Di darat, juga ada mobil. Yang bisa terbang, dan yang tidak bisa. Darma pergi ke salah satu gedung kantor dekat gedung pemerintahan. Dia masuk dan menemui resepsionis dan mengatakan kalau dia ingin bertemu dengan Sumandi. Setelah berapa saat, Darma dipersilakan naik ke lantai paling atas menggunakan lift dan memasuki ruangan direktur.

Saat masuk, seorang pria berkulit gelap memakai jas warna abu-abu sedang sibuk memeriksa berkas. Ketiak melihat Darma, dia mempersilakan duduk di sofa.

"Silakan-silakan duduk." Katanya dengan ramah.

Darma menunduk malu-malu. Tanpa basa-basi, Darma langsung mengutarakan niatannya.

"Ah! Jadi kamu mau kerja di bidang apa?"

"Mungkin tambang saja, Pak." Jawab Darma singkat.

"Ah! Janganlah. Ayahmu dulu juga di tambang. Masa kau mau di tambang lagi."

"Dari mana Bapak tahu?"

"Ibumu menelepon saya dan sudah diceritakan semua."

Darma mengangguk.

"Begini. Saya turut berduka cita apa yang menimpa ayahmu dulu. Dia sangat pekerja keras sekali. Untuk itu lah aku tidak akan merelakan kau kerja di tambang lagi. Itu membuatku sedih, nak."

"Terus saran Bapak apa?"

"Bagaimana kalau kau kerja di stasiun luar angkasa. Kebetulan sedang membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Aku akan masukkan kau ke bagian kebersihan. Bagaimana?"

Darma diam.

"Ayolah. Gajinya juga cukup besar. Kau bisa menyisihkan sebagian gajimu untuk ibumu."

"Soal biaya bagaimana?"

"Ah! Itu tak perlu kau pikirkan. Aku beri gratis. Bahkan ongkos ke sana aku yang tanggung."

Darma melihat wajah Sumandi dengan serius.

"Dengar. Anggap saja ini sebagai tanda aku menghormati ayahmu. Sungguh aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin dia tenang di alam sana."

Darma mengangguk.

Sumandi loncat dari tempat duduknya dan berjalan menuju mejanya lalu mengambil selembar kertas.

"Isi formulir ini." katanya.

Darma kemudian mengisi formulir.

"Kamu boleh keluar dari kerjaanmu. Dua hari lagi, kamu akan dibekali pelatihan soal kebersihan."

Darma pulang dan memberi tahu kabar ini kepada ibunya. Tak banyak ambil waktu, dia langsung memberi surat pengunduran diri ke bagian personalia dan mengambil sisa upah. Kemudian dia pamit kepada ibunya. Dengan penuh haru Darma meninggalkan desa. Bukan hanya desa, tapi dia akan meninggalkan planet tempat dia dilahirkan. Dia juga berjanji pada ibunya akan kembali dan tidak akan kenapa-napa seperti ayahnya.

Tiga bulan Darma dibekali ilmu tentang kebersihan. Selama itu pula dia mengenal orang-orang baru di tempat karantina. Suasananya sungguh nyaman. Para pelatih pun sungguh profesional dan didatangkan dari penjuru galaksi.

Next chapter