2 02 || ZWEI

제 2 장

Je 2 jang

"Entah. Tercipta untuk bersama atau hanya bertemu untuk sementara. Takdir lebih tahu selebihnya. Dan tangan manusia, tentu tidak bisa mengkreasikan sesuka hatinya saja."

Anna-Raden

⛄⛄⛄

Ini kali pertama menikmati jalanan DKI dari balik kaca mobil yang sedang ia kendarai. Jakarta memang lebih ramai dari Surabaya, tapi Hani menyukainya. Lampu-lampu pedagang kaki lima di beberapa area begitu menarik perhatian pengendara yang melintas begitu saja. Berbagai macam hiasan dan kursi taman yang disediakan di pinggiran jalan membuat warga setempat ramai berebut tempat dan mulai mengabadikan momen kebersamaan dengan cara mereka masing-masing. Nge-vlog bareng, misalnya.

Hani terus memandang keluar, memanjakan kedua matanya dengan kerlap-kerlip kota Jakarta, hingga mobil yang ia kendarai berhenti di sebuah gerbang perumahan elit.

Kebekuan segera terkoyak oleh suara klakson mobil yang barusan Pandu bunyikan. Misa dan Hani segera beranjak dan membuka pintu mobil setelah seorang satpam mempersilakan masuk.

Rasanya, Hani tidak asing dengan bangunan rumah yang sekarang ada tepat di hadapannya. Sebuah rumah yang banyak ditanami pepohonan dan terdapat air mancur buatan di mana ada pula kolam ikan di halaman taman utama. Rumah ini minimalis, namun terkesan modern dengan kombinasi gaya ala-ala Eropa. Rumah ini juga dominan dengan kaca-kaca bening, lantai terbuat dari marmer, dan terlihat susunan lampu-lampu yang indah seperti hotel berbintang lima. Sesungguhnya, Hani tidak tergiur. Dari semua apa yang ia lihat, rumah Hani yang ada di Surabaya juga tidak beda jauh dengan yang ini. Tetapi kini ia yakin rumah ini adalah kediaman Saka, teman papinya semasa SD.

Ketika Hani masih balita, mereka sering berkunjung ke rumah ini bersama abangnya. Namun sejak sekolah Hani dipindahkan ke Surabaya, dan sejak saat itu juga ia belum pernah berkunjung lagi.

"Mi, ini rumahnya Om Saka, ya?" tanya Hani memastikan, setelah melihat berbagai kemungkinan.

Misa hanya manggut-manggut sambil merapikan pakaiannya. "Kenapa?"

"Nggak beda jauh sama waktu yang dulu, bikin Hani jadi nostalgia."

"Parah lo, Pan. Coba itung, udah berapa lama lo gak ke sini woy?"

Dari ambang pintu rumah itu terbuka, seruan lantang menyentak telinganya.

Pandu terkekeh seraya mendekat, "yang penting gue inget. Kontak WA lo 'kan nggak gue blokir, lo-nya aja yang segala ganti nomer."

Hani sempat terhenyak, menyimak komunikasi langsung dari dua di antaranya. Apa nggak terlalu gaul pake lo-gue? Emang mereka lulusan tahun berapa sih?

"Apa kabar, Misa? Sehat 'kan?" Linda, istri Saka menyapa mamanya ramah.

Misa menjawab, "sehat-sehat aja sih. Kamu---juga 'kan?"

"Alhamdulillah sehat haha. Eh ini siapa? Anak kamu yang dulu sering main ke sini itu, bukan?"

"Dia Hani, Lin. Anak pungut yang aku besarin seperti anak kandung sendiri," jawab Misa memberi pernyataan.

Mendadak Hani melotot, tak terima disebut anak pungut, ia angkat suara. "Mi, kok aku dibilang anak pungut sih?"

"Hahaha astaga Misa sama recehnya ya waktu dulu SMA, Ndu." Saka yang notabene teman se-SMA Misa dan Pandu, terbahak.

"Tau ah kamu, Sa. Masa anak sendiri dibilang anak pungut. Jadi ini Hani, udah gede ya? Apa kabar sayang?"

"Hani baik, Te."

"Satria si jagoannya Pandu nggak ikut nih?" tanya Saka celingak-celinguk mencari tanda-tanda kehidupan seseorang.

Pandu menjawab, "lagi di rumah nge-revisi skripsinya."

"Oh, nge-revisi. Emang gitu mahasiswa jaman sekarang, suka repot sama revisian. Dosennya niat banget nyusahin muridnya," jawab Linda yang kemudian diangguki oleh Saka.

Tanpa babibu lagi, Saka mendorong Pandu masuk ke dalam rumah. "Udah, masuk dulu gih. Udah dimasakin Linda banyak tuh didalem." Bersamaan dengan itu, suara Linda berteriak memanggil seseorang. "ALFIII ADA OM PANDU SAMA TANTE MISA NIH? KAMU KOK NGGAK KELUAR?"

Oh, ya! Hani baru ingat. Tante Linda 'kan punya anak tunggal di rumah ini. Iya, namanya Alfi, anak cowok yang dulu sering Hani usili jika sedang bermain bersama abangnya. Aduh, Hani jadi merasa paling nakal sewaktu kecil.

"IYA BUN ALFI NARO BOLA DULU DI GUDANG."

Suaranya terdengar dari halaman belakang rumah, bisa ditebak gerangan baru saja bermain bola di sana.

Melihat Hani yang masih berpikir, Linda menggandengnya untuk masuk. "Ayo, anggep aja rumah sendiri. Nanti makan yang banyak, ya."

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/spicy-boy_15620461306381305/02-%7C%7C-zwei_41988468758347217 for visiting.

Hani mengangkat tangannya miring sebatas dahi, memberi hormat pada Linda dengan riang. "Siiiiap, Tante."

Setelah membasuh kedua tangannya, Alfi menuju ruang keluarga yang saat ini sedang temu kangen sesama sahabat karib sejak bertahun-tahun lalu lamanya. Kedua kakinya ingin sekali menghampiri Pandu dan Misa. Tetapi ketika hendak menyalimi Pandu, betapa kagetnya mendapati seseorang dengan jarak dekat berberapa senti. Sedang menatap dirinya. Kedua mata cewek itu terlihat sangat sipit ketika tersenyum padanya.

"Hai," cengirnya tanpa dosa seraya mengulurkan tangan. "Honey Mulya, anaknya Mami Misa dan Papi Pandu. Calon anak SMA, tapi belum daftar sekolah." Jedanya sesaat. "Lo Alfi 'kan?"

Cowok berkaus lengan pendek itu mengerjap, menerima uluran tangan, lalu segera mengakhirinya. Bingung dari mana datangnya makhluk astral ini, dia menoleh ke arah Bundanya hendak meminta penjelasan.

"Iya ini kenalin, dia putrinya Om Pandu sama Tante Misa yang waktu dulu sering main ke sini bareng Satria, Al. Inget, nggak?"

Alfi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Nggak inget Bun, lagian dia 'kan udah kenalan gitu," ujarnya tidak peduli kemudian menyalimi punggung tangan Misa dan Pandu secara bergantian.

Bagus. Dia lupa dengan Hani. Itu membuat Hani terlihat sedikit tenang, mungkin Alfi juga akan lupa dengan aksi-aksi kenakalan Hani ketika kecil.

"Wah Alfi udah gede, ganteng, tinggi pula. Nggak kaya Hani yang dari dulu tingginya sebatas tiang jemuran bayi," ujar Misa lantaran sengaja menggoda putrinya yang mudah sekali tersinggung.

Mulai deh mulai. Nikmat banget ya, kalau nyindir anak sendiri. Batin Hani berteriak. Tapi apalah daya menjadi seorang anak, membantah takut dosa, diam dikira benar-benar salah.

"Ayo dimakan, kapan lagi dinner rame-rame kaya gini?" ujar Saka meramaikan suasana.

Hani mengambil sepanci sayur bayam di atas meja. Dengan perlahan ia menuangkan isinya ke dalam mangkuk yang sudah ditambah nasi oleh Linda. Karena seharian hanya terganjal pudding cokelat buatan mamanya, Hani berinisiatif mengambil menu makanan cukup banyak kali ini. Masa bodoh dikira rakus, apa pedulinya. Selagi gratis dan halal, Hani mah hayu-hayu saja.

"Udah berapa hari nih di Jakarta?" tanya wanita berhijab hijau tosca itu yang duduk di samping sang mami.

"Iya nih udah jalan-jalan kemana aja kalian?" tambah Saka dengan mulutnya yang penuh makanan.

"Baru satu hari, pegel banget rapi-rapi rumah, eh udah lo undang aja makan malem," jawab Pandu.

"Bener, bahkan belum sempet jalan-jalan nih," ujar Misa membenarkan.

Linda dan Saka hanya manggut-manggut sampai tatapan wanita berhijab itu jatuh pada menu makanan yang Hani ambil.

"Kok cuma ambil lauk ringan? Tante udah masakin daging tuh, enak banget kok. Kamu cobain, ya?"

Belum terjawab, Misa segera menyahut. "Emang gitu anaknya, Lin. Susah banget kalau makan daging, dia tipenya vegetarian banget. Tiap hari makan daun."

Apaan makan daun? Ini yang dimakan juga bukan daun sembarangan kali. Daun bayam woy daun bayam, bukan daun pisang kok. Harus sebegitunya ya, sang mami memojokkan Hani.

Linda tertawa kecil menanggapi Misa. "Eh nggak gitu kali, Sa."

"Makan aja kali, dagingnya enak kok," seloroh Alfi memakan daging di piringnya dengan lahap.

Takut Linda tersinggung, Hani jadi buru-buru menjelaskan. "Bukan nggak enak, cuma Hani gak tega aja makannya."

Alfi unjuk suara. "Lah apa hubungannya sama lo?"

Heleh, ini cowok niat banget buka perkara sama gue.

"Ya gak tega, bayangin aja pas nyembelihnya."

"Justru dengan lo yang anyi-anyi. Itu bikin makanan yang udah dimasak bisa mubazir."

Karena perkataan Alfi barusan Hani menjadi tertohok. Mengapa ia baru sadar bahwa selama ini telah menyia-nyiakan makanan sedangkan di luar sana masih banyak yang membutuhkan.

"Oke, besok-besok kalau ada daging gak kemakan dan masih utuh, gue amalin deh ke anak jalanan, lebih barakah 'kan," entah Hani memilih untuk berbicara terang-terangan tentang apa yang ia pikirkan di otak kecilnya itu.

"Gue gak nyuruh lo sedekah, cuma lo itu harus belajar makan daging. Ya kali besok kalau lo udah sukses, gak masakin anak lho daging? Bisa-bisa kurang gizi hidup sama lo," jelas cowok yang hampir setengah dari makanannya itu sudah habis.

Saka terbahak menyimak situasi. "Huahahaha ngakak Ayah dengernya. Gimana ya, kalian itu kaya lagi ngomongin masa depan tahu nggak sih?"

Hani dan Alfi mengernyitkan bingung menoleh pada Saka.

Melihat ekspresi kedua remaja tersebut, Saka jadi kikuk. "Udah lanjut makan aja. Percuma kalian gak akan ngeh."

***

🙂 AUTHOR RADEN POV

Eh, kalian bantu kasih jempol dong. Jempolmu gak akan ilang walau diberikan ke gue seorang kok :v

Yang sehat ya kalian, jan lupa rebahan. Karena nge-haluin areknya juga butuh mental sehat dan pikiran kuat. Maksudnya kuat menerima dia dengan yang lain wkwkwk

Semoga yang letih cepat pulih, yang patah tersambung kembali, dan yang sakit cepat sembuh -

Dadah dan selamat malam minggu 😂

NOTE: KAMI BERHARAP AGAR ANDA MAU IKHLAS DAN LEGOWO MEMBERIKAN SECUIL KOMENTAR. JANGAN SUNGKAN UNTUK MEMBERIKAN SARAN, KRITIK SERTA KOREKSIAN. BECAUSE "our readers are our mentors" DAN KOMENTARNYA SEPEDES MUNGKIN KALAU BISA, KELUARKAN SISI MACANMU DI SINI. KAMI SIAP MENAMPUNG.

dari bocah yg sedang letih merevisi⛄

Raden&Anna

Next chapter