Webnovel

1 01 || EINS

제 1 장

Je 1 Jang

"Aku peringatkan, jangan mudah layu sebelum berkembang apalagi merasa kalah sebelum berjuang."

Anna-Raden

⛄⛄⛄

Segumpalan awan di penghujung bulan Juli menutupi panasnya siang ini sehingga sang mentari tak berani menunjukkan jati diri. Sedikit, hanya sedikit cahaya menelusup masuk pada celah-celah dari balik jendela berkaca minimalis di sebuah kamar lantai dua yang berhadapan langsung dengan hiruk pikuknya jalan raya. Menyinari sebagian lekuk wajah seorang gadis yang masih meringkuk seperti bayi dalam gulungan selimut biru berbahan fleece jahitan desainer ternama tahun ini.

Suhu udara di Jakarta yang terus meningkat seiring penyinaran matahari, membuatnya tak biasa beradaptasi dengan lingkungan baru. Sudah terhitung sehari lamanya ia meninggalkan kota Surabaya, kota di mana ia dibesarkan dan sejak itu pula ia belum pernah mengirup udara segar mengelilingi kota yang dijuluki si kota Bajaj di sepanjang DKI bersama abang atau kedua orang tuanya.

Seperti biasa, dia mengisi hari hanya untuk bersantai dengan waktu yang cukup lama, terlelap hingga melupakan waktu makan. Ya begitulah rutinitasnya mengisi liburan panjang kali ini. Memang, apalagi yang patut dilakukan oleh seorang Honey Mulya selain hibernasi dalam kamar?

Tidak ada, maksudnya tidak ada yang baik-baik saja jika Hani turun tangan melakukan ini-itu yang sebenarnya ia tidak bisa. Maka dari itu, Hani memutuskan tidak melakukan apa-apa daripada membuat seisi rumah menjadi kacau balau.

Memang. Hani bukan tipikal cewek yang biasa kamu temui. Bukan cewek berparas cantik-cantik jaim persis di novel-novel teenfict yang jarang atau bahkan tidak ada di kehidupan yang penuh drama ini.

Hani, adalah Hani sendiri tanpa ada yang menyamai. Cewek receh dipadu sifat keras kepala, tidak cantik, dan tidak anggun. Tetapi harus kuakui, dia manis dari segala sisi.

"HANI!!!"

Suara itu---

"CEPETAN BANGUN!!! KAMU MAU MATI HIBERNASI DI KAMAR SEHARIAN?!"

---kembali terdengar.

"HANI!!! KAMU DENGERIN MAMI NGGAK SIH?"

Sebenarnya teriakan itu sudah berulang kali bersirobok dengan indra pendengarannya, sukses memecah gendang telinga Hani sejak pagi tadi. Terganggu sih, terganggu. Tetapi remaja setengah bocah itu masih enggan membuka matanya.

"Iya, Mi. Telinga aku masih utuh dua nih buat dengerin Mami seorang," gumamnya dengan mata terpejam, tenang.

Tidak mendapat respons sesuai harapan, akhirnya seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar dengan membawa sandal swallow ket oranye begitu saja tanpa mengetuk.

"Bangun sekarang atau Mami tabok pakek raket nyamuk?" ancam Misa yang jengah menanti pergerakan putrinya.

Tak punya pilihan lain, dua kelopak mata dengan netra cokelat terang itu terbuka, takut sang mami mulai menggila.

"Astaghfirullah, Mami," celetuk Hani beristighfar.

"Apa?!"

"Yang Mami bawa itu sandalnya Bang Satria, bukan raket listrik lho Mi."

Seketika Misa kelabakan, terlambat menyadari bahwa yang ia bawa hanya seonggok sandal milik putra sulungnya. "Te-terserah Mami, kenapa kamu yang sewot? Mending kamu bangun sekarang, terus mandi deh!"

"Aku mau lanjut tidur satu meniiit aja. Boleh, ya?" rupanya ia masih berminat tawar-menawar di saat nyawanya belum terkumpul penuh.

Melihat maminya yang hendak protes, Hani manyambung ucapannya seraya bangkit mengecup pipi Misa bergantian. Kemudian berlari masuk ke kamar mandi setelah menarik asal handuk dari lemarinya. "Iya Mi, iya. Hani bangun Hani mandi, Hani nurut Hani imut."

⛄⛄⛄

Kurang dari satu jam, Hani selesai mandi dan berganti pakaian ala kadarnya. Kedua tangannya sibuk mengikat rambut sebahunya tanpa bersisir. Sesekali ia melenguh, meniup sebagian poninya yang basah terciprat air saat hendak mengguyur wajah. Merasa sudah siap, ia keluar kamar dengan langkah lebar-lebar, meloncat-loncat seperti anak kangguru menuruni satu persatu anak tangga.

Satria yang entah datang kapan, dari belakang menampik Hani hingga adiknya itu terdorong maju sampai benar-benar ke lantai dasar.

"Woy, sadar Bang sadar. Ini Hani bukan mantan yang seenaknya dibakar apalagi digampar!"

"Bodoooo amat," timpal Satria melewatinya.

Hani mendengus, cewek itu mengentak maju ke arah meja makan. "Abang Jahannam emang!" sorot Hani, ikut-ikutan duduk di kursi sebalah abangnya.

Mendengar itu, Satria tidak terima. Ia menyikut lengan cewek itu. "Apaan sih, sirik aja lo!"

Misa menggeleng menatap tingkah kedua anaknya dalam berinteraksi, merasa sudah terbiasa dengan tabiat keduanya.

"Pulang ngampus kok gak ngetuk-ngetuk asal nyelonong dan tiba-tiba ada di sini, besok-besok jangan diulang ya," tutur Misa pada Satria. Dia harus bersikap bijak di depan kedua anaknya, meskipun dahulu ketika ia remaja paling-paling tak ada bedanya. Malas dan blak-blakan.

"Iya, Mi. Nggak bakal Satria ulangin," angguk Satria yang kini sudah diberi adiknya dua jari jempol dengan bibir komat-kamit tak bersuara seolah berkata, doubel kapok ya Bang.

"Yaudah, ngapain kalian ke sini? Mau bantuin Mami cuci piring?"

"Ya ambil jatah makan lah Mi," ucap kedua kakak-beradik itu sambil memasang mimik wajah syok, takut-takut tidak dikasih makan seperti tempo hari yang lalu ketika pindahan.

"Males ah Mami udah siang, nanggung kalau masak sekarang. Nanti aja sekalian makan malem di rumah temennya sahabat Mami. Mau 'kan?"

Ini salah satu sikapnya yang turun murni ke Hani. Bedanya, Misa itu malas masak. Kalau Hani itu malas keluar rumah, terlalu senang hibernasi dalam kamar dan nonton anime-anime kesukaannya.

"Oh yaudah,Satria juga baru aja habis makan-makan sama temen BEM, nggak lapar juga kok."

Saoloh enteng banget bilang 'oh yaudah' di sini posisi Hani belum sarapan dari pagi. Mau ditaruh mana ini cacing di perut? Dari tadi demo ingin dinaikin jatah makannya, bukan malah diajak puasa sunnah kaya begini.

"Kok gitu? Hani 'kan belum makan, Mi." Kini giliran abangnya balik mengacungkan jempol diam-diam ke arahnya. Bersamaan dengan itu terdengar tanda-tanda klakson khas Toyota milik Pandu berbunyi.

"Aduh gimana ya, Han, kalau masak sekarang juga mesti beli bahan ke supermarket dulu."

Hani meluluh, tidak mungkin ia balas membentak maminya hanya karena meminta jatah makan. Kalau dipikir-pikir memang dia yang selalu salah, karena tidak bangun pada waktu yang tepat.

"Misalnya kamu laper banget, Mami udah bikinin kamu pudding cokelat tuh di kulkas, dimakan ya."

"Wah yang bener? Makasih Mami," seru Hani berterima kasih.

"Iya, dong. Kalau gitu Mami mau nyambut Papi pulang kerja dulu ya, bayy."

Misa melengos, keluar rumah membuka pintu.

"Sekalian Mi digelarin red keset pake taburan kembang biar sambutannya kek Kim Do Jin ngelamar Seo Yi Soo," usul Hani setengah berteriak agar Misa mendengarnya.

Pria di sampingnya refleks menoleh pada adiknya, "red carpet begoo. Makanya jan banyakin nonton drakor tuh otak," ralat Satria.

"Apasi? Geje Bang geje, sumpah geje. Yang nonton drakor kan mata aku bukan otak aku kali, Bang."

"Serah dah, gue perhatiin lo makin lama makin somplak, dek."

Hani berdecak pelan, bukannya melawan ia malah mengambil satu buah payung yang asalnya terletak di gantungan sapu dekat wastafel dapur. Niatnya ingin meninggalkan dapur, namun Satria memanggil. "Han."

Gadis berponi itu menoleh, menunggu kata-kata mutiara yang hendak keluar dari mulut abangnya.

"Mau ngapa lo bawa payung segala? Ujan aja nggak ada," tegurnya menatap cengo Hani.

"Buat nyambut Papi Ayahanda Prabu Sang Bapak Ayah di teras. Biar kek di drakor waktu Hye Sung yang mayungin Soo Ha, Bang. Mau ikutan?"

Whut the fuck? Biar kaya drakor?

Jikalau Satria punya riwayat autis, mungkin sekarang ia benar-benar kejang karena dilanda dilema. Dilema, antara mau ngakak dan nangis ketika membayangkan adiknya ini jadi calon kandidat orang gila sedunia.

"Lah anjir, Papi nggak amnesia kek Soo Ha yang di film deng!"

"Dih, ketahuan toh pecinta drakor juga si Abang mah mulai sarap ya? Laki kok nonton drakor, mending nonton Naruto sama Shiva sana," ejek Hani sambil menarik kelopak matanya ke bawah.

Satria nyaris membuka suara hendak memaki, namun adiknya itu terlanjur melesat cepat pergi dari sana.

"Iya juga ya, gimana adek gue gak somplak kalau abangnya aja juga sarap."

Cicak-cicak di dinding turut menjadi saksi ketika Satria mengaku pada dirinya sendiri.

***

AUTHOR POV

Hay hay see you again! Raden come back with chapter one ehhe :D

Sori, ya publish ulang. Soalnya ada yang perlu dirombak lagi alurnya 🙂

Next chapter