2 CHAPTER TWO

Ashlan menatap punggung kecil yang berjalan di depannya. Gadis itu terlihat sangat rapuh seolah bisa hancur kapan saja. Ashlan salah tingkah saat punggung kecil yang ia perhatikan sejak tadi beralih menjadi wajah seorang gadis berambut hitam panjang yang menatapnya malu-malu. Yang mana terlihat menggemaskan dimata Ashlan.

"Maaf, harusnya aku tidak mendahuluimu" Ganiella menunduk, tangannya saling bertautan. Seolah menggambarkan betapa ia merasa malu dan gugup.

Ashlan mengontrol dirinya sendiri, ia benar-benar merasa malu pada dirinya. Menggemaskan? Yang benar saja. Ashlan hanya melirik Ganiella sebentar setelah itu berjalan melewati gadis itu dan membuka pintu flat kecilnya.

"Masuklah" Ganiella mengangguk dan menyusul Ashlan yang sudah masuk terlebih dahulu.

"Kau akan tidur di kamar Kayra, di sebelah sana" Ashlan menunjuk pintu berwarna putih yang berada di samping kanannya "Dan karya bilang padaku kau bisa menggunakan barang miliknya yang kau butuhkan termasuk pakaiannya"

Ganiella mengangguk ia hanya berani melirik Ashlan dari sela-sela bulu matanya yang lentik. Baginya Ashlan termasuk laki-laki yang tampan dengan tubuh tinggi dan proposional ditambah alis tajam dengan rambut yang sedikit berantakan dan hal yang paling menarik perhatiannya sejak pertama melihat laki-laki itu ialah dua mata tajam berwana coklat madu.

Ganiella mengamati Ashlan yang baru saja keluar dari kamarnya, ia merasa gugup saat mata coklat Ashlan menatapnya bingung yang masih belum berpindah dari posisinya sejak tadi, segera Ganiella kembali menunduk. Jantungnya berdebar kencang.

"Kau membutuhkan sesuatu?" Suara datar dan berat itu menyentak Ganiella, ia menggeleng pelan. Ashlan tidak mengucapkan apapun ia mengambil jaket yang berada di sofa dan hendak pergi.

"Mau kemana?" Cicit Ganiella pelan. Kini ia memberanikan diri untuk menatap mata Ashlan di depannya.

"Bekerja, Kayra akan pulang nanti siang jadi kau istirahat saja" Biasanya Ashlan akan langsung pergi begitu saja namun saat melihat Ganiella yang menatapnya ragu-ragu dan sepertinya ingin mengucapkan sesuatu membuatnya menunggu apa yang ingin dikatakan gadis itu.

"Aku takut sendirian"

—————

Selain menjadi pembalap liar Ashlan juga bekerja di sebuah bengkel milik Martin, seorang pria tua yang mengajarkan ia mengenai mesin dan trik-trik dalam balapan, Martin juga yang sering membantunya memperbaiki motor besar satu-satunya yang ia miliki.

"Kau sudah datang boy" Sapa Martin ketika melihat kedatangan Ashlan dan Ganiella yang berjalan di belakangnya "Oh.. siapa gadis itu? Kekasihmu?"

"Bukan, kau tahu aku tidak ingin melakukan hal yang membuang waktu seperti itu" Ashlan mengibaskan tangannya, membuat Martin menggeleng-geleng tidak habis pikir dengan laki-laki muda di depannya itu. Ganiella melihat pria tua berambut hitam yang sedikit panjang dan mulai memutih dengan seputung rokok di jarinya menatap ke arahnya "Jadi siapa namamu gadis manis?"

"Ganiella, dan kau menakutinya, Martin" Ucap Ashlan, saat melihat Ganiella yang memilih untuk bersembunyi di balik punggungnya. Martin yang melihat itu tertawa memperlihatkan garis-garis wajahnya yang tertarik ke atas "Tenang saja aku masih setia dengan mendiang istriku"

Ashlan juga tidak tahu mengapa ia memutuskan untuk mengajak Ganiella ke tempat bekerjanya. Ia hanya tidak bisa ketika melihat ketakutan gadis itu dan menatapnya penuh harap. Well, dua hari ini ia benar-benar tidak mengenal dirinya sendiri.

"Kau bisa tunggu di sana selagi aku bekerja" Jujur, Ganiella terlihat lebih hidup ketika ia menganti pakaian rumah sakitnya menjadi pakaian casual Kayra, kulit putih pucatnya kini sudah sedikit berwarna dan rambut hitam panjangnya ia kuncir tinggi memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus membuat Ashlan harus mengontrol pandangnya agar tidak terus melihat ke arah gadis itu dengan pikiran kotornya.

Di sebuah bar kecil Ganiella menunggu, ia memperhatikan Ashlan yang sedang bekerja menggunakan seragam montirnya yang mana membuatnya semakin terlihat tampan. Ganiella berusaha untuk tidak memperhatikan gerak-gerik Ashlan namun laki-laki itu seperti magnet yang selalu menarik perhatiannya.

"Dia terus melihat ke arahmu" Dave melirik Ganiella yang duduk sendirian di bar dan melihat ke arah mereka terutama ke arah Ashlan. Ashlan hanya berdehem dan kembali melanjutkan pekerjaannya "Aku baru melihatnya, dan yang ku tahu teman perempuanmu hanya Kayra dan Sara yang aku tidak yakin apa bisa dikategorikan sebagai perempuan, apa aku salah?"

Ashlan menatap Dave tajam "Kalau kau tidak ingin bekerja lebih baik kau pergi, aku bisa mengerjakan ini sendiri" Dave menghela napas pasrah "Okay okay..dasar pemarah, aku kan hanya bertanya"

Ya, meski Ashlan memiliki banyak penggemar perempuan yang membuatnya sakit kepala, yang selalu memiliki banyak alasan agar bisa bertemunya, seperti saat itu ada satu gadis yang datang dan mengatakan pedal remnya tidak berfungsi, setelah dicek Ashlan tahu betul jika gadis itu sendiri yang memutuskan kabel remnya. Dan masih banyak lagi pelanggan gadis muda yang datang dengan kerusakan-kerusakan yang sangat masuk tidak akal. Hanya Kayra dan Sara yang menjadi teman perempuanya. Sara salah satu gadis yang juga bekerja di bengkel Martin, gadis dengan tubuh tinggi dan rambut coklat sebahu itu terbilang cukup tomboy yang mana selalu menjadi olok-olokkan teman laki-laki lainnya karena memiliki tubuh yang terlalu rata untuk ukuran seorang gadis.

Ganiella mencium bau parfum menyengat yang memenuhi rongga hidungnya, ia melirik laki-laki berambut pirang di sampingnya yang sepertinya salah satu pelanggan yang sedang menunggu mobilnya diperbaiki.

"Apa yang terjadi dengan mobilmu?" Ganiella tidak yakin jika laki-laki itu mengajaknya bicara namun ia melihat sekeliling dan tidak mendapati siapapun kecuali dirinya "Tentu saja aku bicara padamu" Ganiella tersenyum malu "Maaf"

"Kau belum menjawab pertanyaanku" Ganiella bisa mendengar nada kecewa dari laki-laki di sampingnya "Aku bukan pelanggan" Ucap Ganiella kaku.

"Liam" Laki-laki berambut pirang itu mengulurkan tangannya dengan tersenyum menawan. Dengan ragu-ragu Ganiella menjabat tangan itu "Ganiella"

"Jadi Ganiella, kalau kau bukan pelanggan apa kau bekerja di sini?" Ganiella menggeleng.

"Lalu?" Liam sungguh penasaran, baginya Ganiella terlihat misterius yang membuat Liam tertarik. Ganiella hendak membuka mulutnya sebelum Ashlan datang membuatnya menutup kembali mulutnya "Mobilmu sudah selesai, Liam"

"Ah, cepat sekali padahal aku masih ingin bicara padamu Ganie" Liam menampilkan raut kecewa, ia mengambil kunci mobil yang diberikan Ashlan "Kalau begitu aku pergi dulu semoga aku bisa bertemu dengamu lagi mysterious girl, dan terima kasih Ash" Ganiella menatap Liam yang melambaikan tangan ke arahnya, dengan kaku Ganiella membalas lambaian tangan itu dan tanpa sadar tersenyum.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/source-of-my-life_17711649806607905/chapter-two_47724655565399312 for visiting.

"Ganie" Bisik Ganiella pelan, entah mengapa ia merasa senang dengan panggilan itu. Ashlan yang sedari tadi hanya menonton berdecak "Baru sehari dan sudah tebar pesona dengan senyumanmu itu" lalu membalikkan badannya melanjutkan pekerjaannya. Ganiella yang sempat mendengar ucapan Ashlan menatap punggung laki-laki itu heran.

Next chapter