1 CHAPTER ONE

Bunyi aungan knalpot yang memekangkan telinga membuat seorang gadis yang sedari tadi duduk di atas trotoar mengangkat wajahnya yang dipenuhi air mata, berdiri berjalan maju ke tengah jalan menunggu dua motor besar yang saling beradu satu sama lain maju mendekat ke arahnya.

Gadis itu berdiri lemah dengan mata yang terpenjam dan kedua tangan yang direntangkan. Gadis itu siap untuk menjemput ajalnya. Alih-alih rasa sakit, ia tidak merasakan apapun, ia mendengar decitan keras ban yang bergesekan dengan aspal dan juga makian keras dari orang yang mengendarai motor besar itu.

"Shit!!"

Ganiella——gadis itu, membuka perlahan kelopak matanya, di depannya seorang laki-laki tergletak dengan motor di atasnya, laki-laki itu berusaha mendorong motor besarnya menjauh dari tubuhnya. Bukannya membantu, Ganiella menatap laki-laki di depannya marah "Seharusnya kau tabrak saja aku!!!"

Dengan tertatih Ashlan——laki-laki itu, berdiri. Berjaln maju menuju gadis yang terlihat sangat berantakan "Kau pikir semudah itu? Aku tidak ingin menjadi pembunuh karena gadis gila sepertimu" Bukannya tersinggung Ganiella tertawa kencang tak butuh waktu lama tawanya berganti menjadi tangisan memilukan.

Ashlan sedikit merasa iba namun perasaan itu ia buang jauh-jauh. Ia membalikkan badannya lalu menaikki motor besarnya dan menyalakan motornya berniat untuk pergi meninggalkan Ganiella yang masih menangis di tengah jalan.

"If you don't want to kill me, so please save me" Lirihan lemah gadis itu mewakili ia sebelum jatuh tak sadarkan diri.

—————

"Kalah huh?" Ashlan berdecih mendengar nada merendah dari Evan, lawan balapannya kali ini.

"Aku tidak akan kalah jika tidak ada gadis gila yang menghalangiku" Setelah Ganiella pingsan, Ashlan menelpon Kayra, temannya untuk menjemput mereka dan membawa Ganiella ke rumah sakit. Setelah mengantarkan gadis itu ke rumah sakit, Ashlan kembali untuk mengambil motornya.

Evan, rival Ashlan dalam balapan kali ini tersenyum pongah melewati laki-laki itu sambil bersiul santai.

Kayra yang melihat itu mengelus tangan Ashlan pelan, menenangkan laki-laki itu yang terlihat sangat ingin menendang wajah Evan.

"Aku tidak menemukan kartu indentitas gadis itu, dan juga banyak bekas luka di tubuhnya, apa ia kabur dari suatu tempat?" Bisik Kayra selepas kepergian Evan.

"Aku tidak memiliki tanggung jawab apapun pada gadis itu, jadi lebih baik lupakan saja" Kayra menghelah napas keras mendengar ucapan dingin Ashlan yang sudah sangat ia hapal betul sifatnya.

"Ayo kita pulang"

Sejak kecil Ashlan hidup di sebuah panti asuhan, Donna——Ibu kepala panti asuhan mengatakan ia menemukan keranjang bayi laki-laki di pinggiran sungai yang hanya meninggalkan kartu pesan bertuliskan Ashlan Roberts. Mulai dari hari itu Ashlan hidup di panti asuhan, ia tidak memiliki banyak teman hanya Kayra, gadis yang berani menghampirinya dan mengajaknya bicara disaat anak-anak lainnya menjauhinya karena Ashlan tidak banyak bicara dan cenderung menyendiri. Setelah 19 tahun, Ashlan memutuskan untuk keluar dari panti asuhan dan hidup sendiri, Kayra yang mengetahui keinginan Ashlan memaksa untuk ikut laki-laki itu.

Ashlan memilih untuk menjadi pembalap liar untuk mencari uang untuk menghidupi mereka dan membiayai sekolah Kayra yang umurnya lebih muda 3 tahun darinya. Karena baginya Kayra sudah seperti adik perempuannya.

"Kau tidak lapar? Kalau kau mau aku bisa menghangatkan sisa makanan tadi pagi" Ashlan dan Kayra tinggal di sebuah flat kecil sederhana yang telah mereka tinggali selama 3 bulan ini.

"Aku ingin istirahat saja" Kayra sudah biasa mendapati sikap dingin dan cuek laki-laki itu namun baginya Ashlan adalah sosok laki-laki yang baik dan perhatian, hanya saja dengan cara yang berbeda.

Kayra mengerucutkan bibirnya "Padahal aku ingin makan malam denganmu" Ia melihat punggung Ashlan yang menghilang memasuki kamarnya. Di dalam kamar Ashlan terngiang-ngiang oleh ucapan gadis gila yang hampir ia tabrak tadi sebelum gadis itu jatuh pingsan.

If you don't want to kill me, so please save me

Ashlan menggelengkan kepalanya keras, menghalau sedikit rasa penasaran pada gadis yang hampir ia bunuh kalau saja ia tidak memiliki reflek yang cepat.

—————

Methodist Hospital Of Chicago

06:00 AM

Seorang gadis terbaring lemah dengan selang infus di tangannya gadis itu mulai membuka matanya yang menampilkan dua bola mata berwarna biru. Pandangannya berpendar melihat kesekeliling. Ganiella mendengar suara pintu terbuka, gadis itu segera memejamkan matanya, pura-pura tertidur.

"Apa ia belum sadar juga?" Dalam kepuraannya, Ganiella mendengar suara gadis yang mebicarakannya. Dalam hati Ganiella bertanya-tanya, siapa gadis itu?

Setelah itu ia merasakan seseorang mendekat ke arahnya "Aku tau kau sedang pura-pura tertidur" kali ini Ganiella mendengar suara dingin laki-laki yang membuatnya tersentak. Segera ia membuka matanya menatap takut-takut ke arah dua orang yang menatapnya dengan tatapan berbeda. Suara laki-laki yang ia dengar tadi sudah pasti berasal dari laki-laki yang berada di depannya dengan tatapan tajam. Sedangkan di sebelahnya ada gadis cantik dengan senyum lebar menatapnya senang.

"Siapa?" Dengan susah payah Ganiella mengeluarkan suaranya yang serak, tenggorokannya benar-benar kering. Seolah mengerti, Kayra memberikan segelas air. Yang langsung ditenggak habis oleh Ganiella.

"Namaku Kayra, siapa namamu?" Ganiella menatap mata coklat Kayra yang menatapnya antusias, seolah ia mendapatkan teman baru.

"Ga-nie-lla"

"Dan laki-laki kaku di sebelahku ini Ashlan" Ashlan melirik kesal Kayra, saat matanya melihat Ganiella yang menatapnya intens entah mengapa Ashlan tidak bisa mengalihkan mata biru yang baginya menyimpan banyak misteri. Setelah sadar Ashlan berdehem mengalihkan pandangnya.

"Kau menyelamatkanku" Tapi sialnya ucapan lemah Ganiella membuat Ashlan mau tidak mau kembali menatap mata biru itu lagi.

Ashlan menghindari kenyataan itu yang membuatnya merasa bukan dirinya sama sekali, ia bukan manusia yang memiliki empati tinggi terhadap seseorang, entah malaikat mana yang merasuki dirinya kala itu membuatnya memutuskan untuk menyelamatkan gadis gila yang ingin bunuh diri "Kau sudah melihatnya, sekarang kau harus segera ke sekolah, anak nakal!" Kayra mendengus saat tangan Ashlan menjitak kepalanya lembut.

Ya, Pagi ini Ashlan benar-benar dibuat kesal karena Kayra mengacamnya mogok sekolah kalau mereka tidak datang melihat keadaan Ganiella di rumah sakit. Padahal ia sudah tidak ingin tahu menau tentang gadis gila yang ia temui semalam, dengan terpaksa Ashlan menyetujuinya yang membuatnya berada di rumah sakit pagi ini.

Entah mengapa hal kecil yang dilakukan Ashlan membuat Ganiella tersenyum, sudah 5 tahun sejak kejadian itu ia tidak pernah tersenyum, bahkan ia merasa aneh saat bibirnya tertarik untuk membentuk sebuah senyuman.

"Tidak, sebelum kita mengantarnya pulang" Sergah Kayra cepat sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/source-of-my-life_17711649806607905/chapter-one_47544422077876643 for visiting.

"Ti-dak!! Jangan, jangan bawa aku pulang tidak ke tempat itu, tidak!!" Ganiella mendadak panik mendengar kata pulang, wajahnya berubah takut, badanya gemetar ia meringkuk memeluk tubuh gemetarnya. Kayra yang melihat Ganiella begitu takut dan panik langsung memeluk gadis itu, menenangkan "Baiklah, kau akan ikut bersama kami, tidak ke tempat dimana pun itu yang membuatmu takut"

Ashlan tidak kalah terkejut dari Kayra, ia bisa mersakan ketakutan yang sangat besar dari gadis itu saat Kayra menyebut kata pulang. Gadis itu banyak meninggalkan pertanyaan-pertanyaan di otak Ashlan, sejak pertama ia melihat Ganiella yang berdiri pasrah dihadapannya seolah ia telah siap menjemput ajalnya kemarin.

"Benarkan Ash?" Ashlan tidak begitu memperhatikan ucapan Kayra, ia hanya menggaguk saja, karena setelah itu ia melihat gadis yang dipeluk Kayra mulai tenang dan entah mengapa Ashlan merasa bersyukur.

"Terima kasih" Ashlan kembali terjebak di dalam mata biru itu yang menatapnya lemah. Membuat Ashlan tanpa sadar mengatakan dalam hatinya jika ia ingin melindungi gadis ini.

Next chapter