1 Permulaan

Tik..., Tok.., Tik.., tok.., Tik.., tok..., bunyi suara jam wecker menandai detik yang terus bertambah.

Kriiinggg..., kriiingg..., griiingg..., suara alarm jam wecker yang terus berbunyi.

Samar-samar terlihat sebuah tangan menggapai wecker tersebut, mencoba untuk mematikannya namun justru ia menjatuhkan wecker tersebut, seketika wecker tersebut pun berhenti berdenting membuat ruangan menjadi sunyi kembali.

"Byuur..." suara air yang sedang dihempaskan, "aggghhh..!?!?" suara teriak yang terdengar setelah suara air tadi, "Haruskah seperti ini setiap pagi.?" ucap seorang pria yang sedang berada diatas tempat tidur. "Sebenarnya sih nggak harus begitu, tapi kamu itu susah banget buat dibangunin Deryl." ucap seorang wanita yang tadi menyiramnya.

Deryl bangun dari tempat tidurnya dan menghampiri istrinya yang sedang memasak didapur, "kenapa? mau marah.?" ucap sang istri sembari mengangkat masakannya. "Nggak.., tapi kayanya ada yang lupa nih.!?" ucap Deryl sembari mengambil kursi lalu mendudukinya. "Lupa apa.?" ucap sang istri yang sedang menatapinya. "Kamu lupa yaa.?" ucap Deryl sambil menatap sang istri. "lupa apa.?" jawab sang istri sembari menatap Deryl yang saat itu sedang menatapnya dengan raut wajah yang terlihat bingung, "sudahlah...!" ucap Deryl sembari berdiri dan meninggalkan tempat duduknya mengakhiri pembicaraan tersebut.

"woouusss.." suara mobil yang melintas dengan kecapatan tinggi, pagi itu Deryl bergegas untuk pergi bekerja, waktu menunjukan pukul 07:00 pagi pada saat itu. Deryl berjalan mengenakan pakaian rapih selayaknya orang kantoran, membawa sebuah tas kulit yang dijinjingnya dengan tangan kanan, selagi berjalan Deryl menatap kearah langit diatas pepohonan taman yang sedang ia lewati dan melihat burung-burung yang sedang beterbangan. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti, lalu ia mengeluarkan handphone miliknya lalu melihat foto anak bayi yang sedang tertawa. Deryl tersenyum melihat foto tersebut lalu melanjutkan langkah kakinya untuk bergegas.

"Selamat pagi Pak." ucap seorang pria yang sedang berdiri membelakangi pintu kaca besar, "pagi.!" sahut Deryl sembari mengangkat tangan kanan miliknya lalu berjalan masuk kedalam kantor. "Deryl my bro..." sahut seorang pria sembari mengangkat tangan kanannya yang terkepal untuk bersalam dengan gaya mereka. "Gimana.,? udah enakan badan lu Der.?" tanya pria tersebut sambil berjalan menuju lift bersama Deryl. "yahh gitulah... udah mendingan Rik." jawab Deryl sembari memencet tombol lift.

"Lu tau gak Der.?! sekarang dikantor kita ini udah mulai diterapin peraturan baru.'' ucap teman Deryl "peraturan baru yang mana?" tanya Deryl, "yang itu... jd sekarang kalo kita terlambat absen gaji kita bakalan dipotong 10 persen.." jawabnya "Ting..." suara lift berbunyi, "ohhh... iya gua udah tau,!" ucap Deryl sembari memasuki lift bersamaan dengan temannya itu.

"Erik...!" teriak seorang pria berseragam rapih dengan mengenakan jas, "waduhh..mampus gua.." ucap Erik sambil menepuk jidatnya "gw lupa laporan Minggu lalu belum gua revisi.." ucap Erik sambil menatap Deryl, Deryl melihat kearah Erik "masih nggak berubah juga lu Rik, 3 bulan gua cuti ternyata lu masih kaya dulu... haha." ujarnya sembari tertawa.

Erik bergegas menuju bosnya sedangkan Deryl bergegas menuju meja tempat kerja miliknya.

Deryl mulai menyalakan komputer desktop miliknya lalu membersihkan meja kerjanya, tetapi Deryl mendapati sesuatu yang aneh dengan meja kerja miliknya. "Tiga bulan cuti dan meja kerja pun diganti.." ucapnya sembari berdiri dan melihat sekelilingnya, akan tetapi ia mendapati pemandangan aneh dari luar jendela kantor.

"aggghhh... aggghhh...!!" terdengar suara teriakan dari arah luar jendela, seketika dari dalam ruangan semuanya hening dan semua mata tertuju kearah jendela, lebih tepatnya ke arah suara-suara teriakan itu.

Beberapa orang berjalan menuju tepi jendela untuk melihat apa yang sedang terjadi, begitupun dengan Deryl, ia berjalan perlahan menuju jendela untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kemudian ia pun kaget karena melihat suatu kekacauan yang terjadi diluar gedung kantor tersebut, mereka melihat apa yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, manusia saling menyerang satu dengan yang lain, "aghhh... tolong...,!" begitu banyak jeritan yang mereka dengar. Bahkan gedung restoran didepan kantor mereka pun kacau, ada beberapa orang yang berusaha keluar dari jendela "tidak...! jangan mendekat, jangan mendekat... !" bahkan ada juga yang melompat keluar jendela dari lantai tiga "aggghhh...!"

Pada hari itu mereka tidak pernah menduga, akan terjadi hal seperti itu. Semua orang melakukan aktifitas mereka seperti hari-hari biasanya, entah apa yang sedang terjadi.

setelah melihat kekacauan tersebut, Deryl melihat berita di TV yang menyiarkan kejadian tersebut, "entah apa yang sedang terjadi.! namun orang-orang saling menyerang satu sama lain disini, mungkinkah ini kiamat?" ucap reporter TV. Beberapa orang yang sedang melihat tayangan berita itu bersamanya tiba-tiba berteriak histeris, kala itu Deryl hanya terdiam, terpaku seakan tidak berpikir apapun, namun setelah beberapa menit barulah ia sadar, " Sienna..! Sienna..! istriku...! " teriak Deryl dengan penuh khawatir.

Deryl segera pergi dari tempat tersebut namun bosnya mencegahnya keluar, "apakah kamu ingin mati diluar sana?" ucap Benny sang bos, "tapi gua harus turun bos.!" ucap Deryl terengah-engah, "Deryl.! biar gua..., gua juga mau nyelametin istri gua, tadi gua nelpon dia tapi cuma kedengeran suara teriakan doang...!" kata Erik dengan penuh kecemasan. "Kalian berdua ngga bisa main nyelonong keluar sana tanpa persiapan.!" ucap bos mereka, "tapi bos..." "lu berdua bakalan mati sebelum sempet nyelametin keluarga lu... tau?!!" ucap si bos memotong perkataan Deryl, "bener juga lu bos.!" ucap Erik memperkuat perkataan sang bos, "tapi bos gua nggak bisa diem disini aja sampe semuanya terlambat..,!" ucap Deryl, "ok.., sekarang kita perhatiin dulu apa yang sebenarnya terjadi diluar sana, kecuali lu mau mati konyol diluar sana.!" ucap bos mereka sembari menaiki tangga darurat. "Der... kayaknya si bos bener juga... kondisinya sekarang nggak memungkinkan...!?" ucap Erik sembari menepuk pundak sebelah kanan Deryl, "tapi Sienna..." ucap Deryl dengan tatapan kosong.

"Tolong... tolong...! aggghhh... !!" teriakan seorang perempuan yang berlari dijalanan, yang kemudian ditangkap oleh beberapa kawanan. "Mereka memakannya...!" ucap Erik menatap Deryl dan bos mereka, "kita harus turun men... nggak bisa diam aja kaya gini...! itu cewe perlu bantuan...!" ucap Erik lagi yang kemudian di sanggah oleh Deryl, "nggak bisa... satu, dua, tiga, empat..." beberapa kawanan tersebut mulai mencabik kaki tangan dan perut perempuan itu, "lima, enam, tujuh..." beberapa dari kawanan tersebut mulai meninggalkan jasad korbannya, "delapan, sembilan..." perempuan tersebut pun mulai bergerak dengan sekujur tubuh penuh dengan luka, "masih hidup men..." ucap Erik, "sepuluh..." perempuan tersebut berdiri dan kemudian berlari dari tempat kejadian, "rrrrgh..." suara dari perempuan tersebut, "kita harus mempelajari waktu dan cara bagaimana mereka terjangkit..." ucap bos mereka sembari melihat arah luar jendela dimana mereka bertiga berdiri untuk memperhatikan wanita yang meminta pertolongan tadi, "liat yang sana, sebelah kiri deket perempatan..." ucap Erik menunjuk ke arah seseorang yang sedang berlari menghindari kawanan manusia yang sedang mengejarnya, "dia lolos... " ucap Erik, "tunggu dulu... itu ada yang lagi ngejar dari belakang, larinya kenceng tuh..." ucap bos mereka, terlihat seseorang berlari mengejar dari arah belakang kawanan yang sedang mengejar pria tadi, dengan lari yang cukup cepat sekitar 2 atau 3 kali lebih cepat dari kawanan tersebut, setelah berhasil menangkap pria tersebut dalam hitungan 10 detik kemudian pria tersebut pun berubah menjadi seperti mereka.

"Kawanan yang sedang berada di luar cukup banyak, mustahil kita bisa lolos.!" ucap Benny bos mereka, "bisa...! kita bisa ngelawan" ucap Deryl sembari mengepal tangannya, "tapi kita nggak tau caranya ngebunuh mereka...!" ucap Erik, "praaak ...!" suara pintu tempat ruangan rapat yang sedang mereka bertiga gunakan untuk memperhatikan kondisi luar kantor didobrak, "ohhh shiittt...!" teriak Erik yang kaget melihat kejadian tersebut, "lari...! larii...!" teriak Benny bos mereka, terdapat lebih dari 20 orang yang sudah terinfeksi mengejar mereka bertiga, "rrgghh...! ngrrrhhh" suara kawanan yang sedang mengejar mereka, "lewat pintu sini...!" mereka berlari menuju ruangan sebelah kanan dari ruangan rapat tersebut, ruangan rapat di kantor tersebut memiliki beberapa akses menuju ke ruangan lain, mereka bertiga pun masuk kedalam satu ruangan kamar mandi khusus pria, "bagaimana mereka tau kalo kita bertiga ada dalam ruangan rapat...!" ucap Erik terengah engah, "tapi anehnya...! kenapa kita bertiga nggak tau apa-apa kalo ternyata mereka udah nyampe di dalam kantor kita?" ucap Deryl sembari menghela napas berkali-kali, "ruangan rapat di kantor kita ini dibuat kedap suara, jadi kita bertiga nggak bisa denger apa yg terjadi di luar ruangan tadi..." jawab Benny, "kayanya mereka tau lokasi kita dari temen-temen kita yg masih hidup tadi.." ucap Deryl, "bisa jadi... karena waktu mereka hidup, mereka tau kalo kita ada dalam ruangan rapat tadi..." ucap Benny sembari melihat dirinya di kaca kamar mandi tersebut, "sekarang gimana caranya kita keluar bos...?" tanya Erik ke Benny sembari buang air kecil, "gila gua hampir kencing celana men..." ucap Erik kepada Deryl, " hahaha... dalam keadaan panik lu masih sempet ngerasa kencing juga Rik...!" ucap Deryl yang sedang menunduk dengan kedua tangan memegang kedua lututnya, "ssstt...! jangan ada yang berisik, kayanya mereka ada di luar..." ucap bos mereka berbisik, "arrrtghhh...!" suara kawanan terdengar dari luar pintu kamar mandi.