1 Chapter 1

Matahari bersinar terang, menerobos masuk melalui sela-sela jendela kayu. Sinarnya yang hangat, meraba wajah seorang laki-laki Half-Human, Half-Elf, membuat rambut pirang kecoklatan itu tampak mengilap indah.

Familiar dengan perasaan nyaman sekaligus mengganggu, ia terpaksa membuka mata, menatap langit-langit indah penuh akan ukiran rumit berwarna putih. Ciri khas tempat tinggal para Elf. Ia menghela napas, duduk di pinggir kasur sembari menatap pantulan diri pada cermin seukuran tubuh.

Seorang remaja laki-laki berumur 18 tahun dengan warna mata selembut madu balik menatap secara dingin dan setengah mengantuk. Rambut pirang kecoklatannya telah cukup panjang, tampak sedikit kurang beraturan dengan beberapa bagian mencuat sana-sini. Namun, dia tampak tak peduli, hanya memegang ujung telinga yang cukup runcing, tak seruncing serta sepanjang telinga para Elf, tapi juga tak cukup pendek untuk disebut sebagai manusia.

Ia menghela napas sekali lagi, tahu hari ini akan sedikit melelahkan karena harus kembali ke akademi untuk menandatangani surat kelulusan. Bukannya dia tak senang telah berhasil, hanya saja ia mesti kembali menghadapi diskriminasi karena merupakan seorang 'Half'.

Di eranya kini, ras Elf dan manusia memang sudah tak lagi berperang. Namun, ketegangan yang ditimbulkan seribu tahun lalu masih membekas. Terlebih, bagi orang-orang berumur. Dendam serta kebencian tersebut masihlah ada.

Ibunya adalah seorang dari ras High-Elf, bisa dianggap seperti keluarga bangsawan para Elf yang hidup dengan mewah berkelimpahan. Sementara, Sang ayah berasal dari manusia kalangan bawah. Karenanya, Sang ayah tak pernah mendapatkan perlakuan adil di mansion, selalu dianggap sebagai biang masalah serta pembawa kutukan sampai posisi High-Elf tersebut dicabut. Hidup berubah 180 derajat. Segalanya berbeda serta terasa seperti neraka.

Tahun lalu, semuanya menjadi jauh lebih parah lagi. Usaha kedua orang tuanya mengalami masalah di kota, jatuh bangkrut, kemudian terjerat utang. Mereka hampir saja terpaksa menjual mansion, namun untungnya salah satu keluarga bangsawan berbaik hati mengulurkan tangan dengan syarat 'setengah dari mansion menjadi miliknya'.

Keadaan telah cukup baik, tetapi masih jauh dari kata 'mapan', sebab sulit bagi kedua orang tua untuk mendapatkan pekerjaan lain sesudah peristiwa tersebut dan mengingat mereka telah tinggal di pinggir kota, jauh dari mansion, terusir dari keluarga.

Ia bangkit berdiri, membuka pintu dan menengok kanan-kiri untuk memastikan kakek-nenek tidak sedang berkeliaran di koridor. Alasannya hanya dua, ia tak mau menemui kakeknya yang bahkan tak pernah menganggap dia hadir di dunia dan tak ingin bertemu Sang nenek yang selalu menyuruh ini-itu disertai beragam pertanyaan menyebalkan yang telah jelas jawabannya.

Sesudah memastikan mereka tiada, laki-laki itu buru-buru menyeduh kopi di dapur, menyiapkan beberapa potong sandwich, lalu berjingkat-jingkat naik ke atas, menutup pintu dan menguncinya. Kini, ia tinggal berpura-pura masih tidur jika nenek mengetuk pintu atau semacamnya.

Ia meletakkan nampan di atas meja belajar dari kayu putih indah dengan garis-garis melengkung layaknya gelombang radio berwarna keperakan, menghias tiap sisi. Sebuah kristal biru indah, mengeluarkan cahaya terang ketika ia berjalan mendekat. Kristal tersebut berada tepat di samping nampan, di mana bagian tengahnya tampak seperti baru saja di amplas hingga membentuk area datar berbentuk persegi panjang horizontal dengan lebar mencapai lima jari laki-laki dewasa. Alat yang mirip seperti sebuah smartphone jaman sekarang, dinamakan sebagai 'Crystal'.

Crystal itu mengeluarkan sebuah suara, tanda sebuah pesan telah masuk. Area datar itu menyala, memperlihatkan layar chat dengan nama seseorang tertera di pojok kiri atas, 'Kevin'. Ia tersenyum, menekan layar untuk menghidupkannya kembali kemudian membalas chat sembari tertawa tertahan karena tak ingin Sang nenek tahu dan mendengar dia telah bangun.

Begitu selesai, ia bergegas masuk dalam kamar mandi yang telah menyatu bersama kamar tidur, hanya dipisahkan oleh dinding tipis serta sebuah pintu cantik. Ia mandi, lalu mengenakan pakaian berupa kemeja putih dengan dua kancing bagian atas sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan dada bidang dan sebuah kalung baja putih kecil, celana panjang hitam, jaket kulit hitam dan sepasang sepatu putih bersih yang tampak seperti baru.

Ia memerhatikan pantulan diri pada cermin, tersenyum penuh percaya diri sembari mengatakan "Siapa yang peduli jika diriku Half? Akan kutunjukkan pada mereka, inilah diriku yang sebenarnya!"

Tak sampai lima menit kemudian, ketika ia berjalan kaki menuju akademi, tak sedikit orang memperhatikan penampilannya dengan berbagai ekspresi. Entah itu tersinggung, meremehkan atau sekedar penasaran. Penampakan seorang Half saja sudah membuat orang bertanya-tanya, terlebih dengan gaya berpakaian yang jarang ditemukan dalam kota, tentu saja akan menarik perhatian.

Kota ini disebut 'Mireas'. Salah satu kota besar milik kerajaan 'Indera' di timur dekat dengan laut yang terkenal akan penduduk barbarnya. Tak hanya itu, mereka takkan segan menghantam wajahmu jika kau tanpa sengaja menatap mereka atau membalas tatapan mereka, terlebih bagi seseorang yang memiliki tatapan tajam meski sebenarnya dirimu tak memiliki maksud apa-apa.

Berlagak lemah sama saja meminta diri untuk makin dikucilkan. Salah satu cara untuk bertahan adalah dengan menantang balik. Terkadang, lawanmu akan ciut, apalagi jika kau memanfaatkan tatapan tajammu dengan baik. Mereka adalah tipe yang disebut 'Bermulut Besar'. Atau.. Kau bisa saja terlibat perkelahian. Mereka adalah tipe 'Harga diri tinggi'. Hanya perlu memberi dua-tiga tinju ke wajah dengan keras, ditambah sedikit gerakan beladiri asing, maka mereka akan mundur sesudah memaki-maki atau berceramah agar terlihat dirinyalah yang mengampuni.

Namun, jika sampai bertemu di daerah kekuasaan mereka, satu-satunya cara adalah meminta maaf dan kabur. Kecuali jika dirimu ingin ditembak oleh panah dari belakang atau terpaksa menghadapi 10 hingga 20 orang. Dan perlu diingatkan, masing-masing dari mereka membawa senjata tajam yang telah diberi sentuhan magis. Tak perlu kaget jika tiba-tiba salah satu bagian tubuh terkena luka bakar, terkena sayatan misterius, lebam dan lain-lain.

Tetapi, meski begitu, mereka adalah orang-orang paling setia dan akan maju ke depan untuk melindungimu tanpa peduli siapa yang mereka hadapi. Tak terlihat sedikitpun rasa takut dalam tatapan tersebut, hanya niat melindungi yang besar.

Tak butuh waktu lama hingga gedung akademi mulai terlihat, menjulang tinggi di atas bukit layaknya sebuah colosseum besar, menanti para murid untuk masuk dan menciptakan keributan. Akademi itu memanglah salah satu dari tiga akademi terbaik dalam kerajaan, namun isinya penuh akan murid bekas berandalan yang ingin memiliki kehidupan sekolah damai.

Tetapi, aliran darah membara tersebut masih berada di sana, menunggu waktu yang tepat untuk mengalirkan adrenalin dan memaksa otak memilih satu pilihan yang telah terpatri dalam benak semenjak beribu-ribu tahun lalu.

Bertahan hidup..

Hampir seluruh murid dalam akademi adalah manusia dan manusia adalah mahluk mengerikan jika sudah membicarakan bertahan hidup. Entah apa yang akan mereka lakukan sesudah membuang moral, mengikuti insting layaknya mahluk buas. Bahkan monster sekalipun masih mengerti dan takkan membunuh sesamanya. Sedangkan manusia? Tak perlu dibicarakan lagi.

Di depan gerbang, tampak banyak orang berkumpul dari berbagai ras. Remaja laki-laki tersebut berhenti melangkah, diam memerhatikan wajah-wajah baru lalu mengingat ini adalah hari pendaftaran murid baru. Ia menghela napas, lanjut melangkah melewati kerumunan sembari berusaha menghiraukan tiap pandangan maupun bisikan terhadapnya.

Sosok dia yang dulu takkan berani melakukan ini. Ia lebih memilih untuk memutar jauh dibanding harus melewati kerumunan orang banyak, terlebih jika banyak gadis seumuran di dalamnya. Bukan karena takut atau semacam itu, lebih kepada malu. Ia tak tahan tatapan yang mereka berikan, meskipun tiap teman laki-laki merasa iri tak mendapatkan tatapan-tatapan tersebut.

Namun kini, ia menghadapi semuanya bahkan membalas tatapan beberapa gadis yang langsung memalingkan wajah dengan rona merah dan juga, memberi tatapan tajam yang seolah mengatakan 'Waspadalah' pada para laki-laki.

Ia terus melangkah pelan penuh percaya diri sampai akhirnya berhasil melewati kerumunan dengan jantung berdebar kencang layaknya penabuu genderang perang. Kedua tangan mulai gemetar, tapi lekas ia menutup mata, mengepalkan tangan, menghela napas panjang dan kembali berjalan menuju taman akademi.

Disana, terlihat lebih dari dua puluh murid dari beragam angkatan. Mereka semua tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing hingga seorang gadis manusia menyahut "Woww! Ada sosok tampan berjalan ke sini semuanya!" Dan tiap pasang mata berbalik menatap sosok Half yang tak pernah mereka lihat sebelumnya, walau kasus sebenarnya ialah sosok itu telah berubah dibanding yang dulu. Ia terlihat lebih tinggi dan berisi dengan kepala ditegakkan, namun tak terlalu tinggi sehingga tampak rendah hati.

"Gila! Rain! Kau tampak berbeda" Sahut Kevin, seorang laki-laki dari ras manusia yang telah menjadi sahabat Rain semenjak duduk di bangku kelas 10. Dia sendiri terlihat berbeda dengan tubuh yang makin gemuk, tanda semasa liburan ia hanya makan dan tidur untuk menghabiskan waktu.

Bisik-bisik mulai terdengar di sekitar. Para gadis tampak tertarik, menatap sosok baru itu dengan intens, sementara Rain berusaha mengacuhkan mereka sambil tertawa bahagia bercampur malu karena pujian sahabat-sahabatnya.

Yah, jika dibandingkan dengan sosok kurus pemalu di masa lalu, tentu saja dia terlihat jauh berbeda. Hasil olahraga dan beladiri telah menaikkan tingkat kepercayaan dirinya, meski ia masih malu membalas tatapan gadis cantik. Salah satunya yang sedang duduk tepat di samping sahabat perempuan Rain, Willow.

"Tampaknya ada yang mengikuti gaya Nixon- oh, aku tahu! Kloningan Nixon versi tak sempurna!" Sahut Ryan sambil terbahak-bahak oleh leluconnya sendiri, seorang Dwarf muda yang terkenal akan kemahirannya mengutak-atik barang serta seorang pendengar yang baik, membuat ia sering di ajak bepergian oleh gadis-gadis Elf cantik dan mereka tak pergi hanya berdua, namun sekumpulan Elf yang seluruhnya adalah perempuan. Padahal, tampangnya hanya biasa-biasa saja.

Sesuatu yang Rajin masih pertanyakan sampai sekarang.

"Berhenti Ryan. Rain sudah bekerja keras untuk mendapatkannya, tapi masih saja gagal mendapatkan kencan" Timpak Kevin, lalu terbahak-bahak bersama Ryan yang tawanya makin menggelegar dan mereka tahu mengapa hal tersebut begitu lucu. Dapat dikatakan, itu adalah salah satu kebodohan Rain yang paling parah.

Alex yang semenjak tadi sibuk dengan Crystalnya, mulai ikut tertawa "Bagaimana Rain? Aduh, aku tak ingin menjalin hubungan, aku ingin fokus pada masa depan! Eh- ada gadis cantik, kenalan ahh.. " Tambahnya, membuat gelak tawa makin keras hingga murid-murid lain mulai memerhatikan.

Ya, itulah kebodohan Rain yang paling parah. Dua tahun lalu, ketika duduk di bangku kelas sepuluh, sesudah patah hati, dengan mantapnya ia mengatakan kalimat yang sama persis hanya untuk menelan ludah sendiri tak sampai setahun kemudian. Saat seorang junior terlihat untuk pertama kali dalam cafetaria akademi dan berhasil merebut hati hanya dalam tatapan pertama.

Hubungan mereka baik-baik saja, bahkan romantis sampai diketahui oleh satu akademi karena selalu jalan bersama. Tak sehari pun mereka berpisah. Sayangnya, semua berakhir di bulan kesepuluh mereka dan Rain mengalami depresi hingga trauma yang kemudian menjadi energi serta semangat untuk berubah. Hanya saja, sudah cukup banyak hubungan dia yang gagal, sehingga perubahan Rain pin menjadi bahan ledekan.

"Membentuk tubuh seperti ini, itu sulit kawan. Butuh proses, bukannya cuma makan-tidur" Balas Rain, tak mau kalah.

Ryan bangkit berdiri, melipat lengan layaknya bos besar sambil tertawa menantang "Apa gunanya sixpack kalau hubungan selalu gagal? Haha! Lihat aku! Makan-tidur tapi selalu di ajak ke sana-ke mari dan bukan oleh cewek sembarangan. High Elf!" Sahutnya bangga "Tak semudah itu mengalahkanku kawan"

Sementara Kevin berteriak "Woooo.. " Dan Alex tertawa keras, Rain hanya menghela napas. Ketiga orang ini memanglah sahabatnya, namun mereka bisa menjadi jauh lebih menyebalkan dibanding musuh bebuyutan. Buruknya, mereka tahu segala rahasia Rain, sehingga melancarkan serangan balasan. Cuma diam menerima nasib.

Lagipula, alasan sebenarnya mereka menghina adalah karena banyaknya emas yang ia habiskan hanya untuk mantannya itu. Ia diberlakukan bak putri raja, sementara ketiga sahabatnya telah memperingati untuk menyimpan saja emas-emas tersebut karena dia bukanlah gadis yang baik, bahkan teman-teman sekelas menyadari hal ini. Tetapi, Rain tetap saja menutup mata, berpura-pura segalanya layak dan akan menjadi lebih baik. Sayangnya, kenyataan memang kejam.

"Lalu, apa yang akan kita lakukan disini?" Tanya Rain bingung melihat keempat sahabatnya hanya duduk tenang tanpa menggenggam secarik kertas yang menandakan mereka telah lulus "Kalian belum mengambilnya?"

Ryan menggeleng "Para guru sedang rapat mendadak. Entah karena alasan apa. Setidaknya, kita bisa duduk bersantai di sini" Jawabnya tampak tak peduli dan memang begitulah Ryan. Hidup dengan santai tanpa terlalu memusingkan apapun, kecuali jika hal tersebut begitu krusial.

Rain duduk di samping Kevin, lalu mulai mengecek Crystal meski sebenarnya tak ada yang ingin dia lihat dalam benda tersebut. Hanya agar terlihat sibuk dan tidak celingak-celinguk seperti orang bodoh.

Detik demi detik berlalu, namun masih belum ada tanda-tanda para guru akan keluar dari ruang rapat. Rain yang sudah gelisah memutuskan untuk menyimpan Crystal, lalu bangkit berdiri diikuti tatapan empat sahabatnya yang tampak bingung melihat raut wajah sahabat mereka.

"Ada apa?" Tanya Kevin.

Tepat saat itu juga, terjadi ledakan besar di lapangan latihan akademi, tak jauh dari tempat mereka berada.

Next chapter