1 Ide Gila

"Kita nggak bisa lanjutin hubungan ini Del." Ucapan Bima bagai badai di tengah cuaca cerah.

Laki-laki yang bernama Bima itu memutuskan hubungan begitu saja dengan Adel. Sebelumnya, hubungan mereka baik-baik saja. Tidak ada masalah atau semacamnya. Bahkan, tadi malam Adel dan Bima telponan seperti biasa. Tidak ada gelagat yang mencurigakan.

"Apa katamu?" Adel tidak bisa percaya atas apa yang didengarnya ini. "Kita putus? Tapi kenapa? Apa aku membuat kesalahan? Jawab, Bim! Apa salahku sehingga kamu ingin kita putus." Adel mendesak Bima untuk mengatakan yang sebenarnya. "Kita pacaran sejak dua tahun yang lalu dan selama itu, tidak ada masalah besar. Kamu juga tidak pernah mengeluhkan sikapku, begitu pun juga aku."

Bima tak langsung menjawab. Dia menatap kopi di depannya—saat ini mereka tengah berada di salah-satu cafe di Jakarta. Netranya beralih menatap Adel. Ia pun berkata, "Kita memang tidak ditakdirkan bersama. Aku ... aku berpikir selama kita menjalani LDR ini, kalau kita memang tidak bisa bersama."

Diketahui Adel dan Bima menjalin hubungan selama dua tahun dan satu tahun terakhir ini mereka menjalani LDR karena Bima harus berkerja di luar kota. Mereka pun sangat jarang bertemu secara langsung.

"Tapi apa alasannya, Bim? Aku butuh alasan yang lebih spesifik." Seketika itu pula Adel teringat akan salah-satu artikel yang memuat tentang rawan putusanya hubungan yang menjalani LDR. "Apa ada wanita lain? Maksudku saat kita ...."

"Ya," jawab Bima tanpa keraguan. "Aku menemukan wanita yang lebih cocok untukku. Dia banyak memiliki keunggulan yang aku inginkan. Dia sangat kompeten dalam bekerja."

Dada Adel terasa sesak mendengar pengakuan Bima. Sebelum mereka memutuskan untuk berpacaran, Adel sudah katakan kalau dirinya bukan lah wanita dari kalangan berada atau pun memiliki pendidikan yang tinggi. Bima bilang waktu itu tidak mempermasalahkannya, tapi sekarang apa?

"Kau bilang—"

"Aku salah. Ternyata menyukai orang yang memiliki keunggulan yang kita miliki jauh lebih menyenangkan." Bima berdiri. "Aku harus pergi, Monika menungguku di dalam."

Adel menatap kepergian Bima dengan tatapan sendu. Ia memejamkan mata, mencoba mengurangi rasa sesak yang masih mengganjal di hatinya.

*****

Adel tak bisa menghentikan tangisannya kala mengingat Bima yang memutuskannya secara sepihak. Ia mengambil tisu untuk mengelap air matanya.

Adel juga tak memperhatikan pintu apartemen Maya yang terbuka. Ya, wanita itu saat ini sedang berada di apartemen milik temannya yang bernama Maya.

Maya yang melihat Adel masih menangis hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia pergi Adel masih menangis dan saat kembali wanita itu masih menangis. "Udah lah Del. Lupain tuh manusia laknat! Dia nggak pantes buat lo tangisin. Harusnya dia nyesel karena udah nyia-nyiain lo." Maya menaruh belanjannya di meja dapur dan kembali ke ruang depan.

"Susah, May. Kita udah pacaran dua tahun. Tadi malem dia telepon pengen ketemu sama gue, tapi pas kita udah ketemu dia malah minta putus." Adel masih menangis. Di cafe ia menahan mati-matian tangisannya. Adel tak ingin Bima menganggapnya lemah.

"Iya, gue tahu, tapi gimana lagi? Lo juga pastinya nggak mau kan buat mohon-mohon biar kalian tetep lanjut. Jadi, berhenti menangis Del. Tuh, tisu gue abis lama-lama. Stok terakhir itu. Gue lupa beli tadi. Kalo kayak gini caranya, tadi gue beli deh tisu sepabrik pabriknya," gurau Maya.

"Becandaan lo nggak lucu!"

"Lah, gue nggak bercanda Neng Adel. Abang emang mau nyetok tisu buat Eneng. Siapa tau nangisnya sampai tahun baru."

Adel menatap datar Maya. Ia tahu temannya ini mencoba untuk menghiburnya. Adel lemparkan kotak tisu kosong pada temannya tersebut. "Tuh, makan kotak tisu."

"Galak bener jadi orang."

Punggu Adel disandarkan pada sofa. Ia memilih menyalakan tv dan mengambil toples yang berisi keripik pisang. Tak lupa kedua kakinya ia taruh di ata meja. Saluran tv yang dipilihnya ialah kartun dari negara tetangga. Bukan yang kepalanya botak, tapi yang tokoh utama memiliki power hingga bisa pecah jadi tiga orang.

"Eh buset, tuh kaki sopan banget," sindir Maya yang hanya bergurau saja.

"Berisik lo. Udah diem."

Sesekali gelak tawa terdengar dari Adel ketika menyaksikan adegan yang dianggapnya lucu. Melihat hal itu, Maya menjadi merinding sendiri. "Tadi dia nangis kejer, tapi sekarang malah ketawa ketiwi kayak orang sinting."

Namun, Maya bersyukur temannya ini bisa tersenyum kembali meski sementara. Maya memutuskan untuk ikut menonton. Kedua perempuan itu pun larut dalam menonton.

Satu jam kemudian, kartun yang keduanya tonton sudah berakhir dan hari pun kini menjadi gelap. "Del, yul kita clubbing," ajak Maya.

Adel yang mendengarnya langsung menolehkan pandangannya. "Clubbing? Kita clubbing? Lo gila apa?"

"Gue masih waras Adel Sayang. Kita ke sana cuma buat seneng-seneng doang. Nggak ngapa-ngapain. Udah lama nih gue nggak joget. Kalau di club kan nggak malu kita joget kayak orang kesurupan juga."

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/skenario-cinta_20153110105159905/ide-gila_54098122623735025 for visiting.

"Nggak mau gue. Lo aja sana. Lagian di sana banyak pak boi."

Maya memang sudah terbiasa untuk pergi ke club, tapi tidak dengan Adel. Jangankan pergi ke club, minum alkohol saja wanita itu tidak pernah. "Ayo lah Del. Cuma sekali ini aja, ya. Lagian kita cuma minum jus dan joget doang. Habis itu kita pulang. Tenang aja, nggak ada yang berani macem-macem kalo kita nggak ngeladenin."

Maya tak pantang menyerah. Wanita itu terus merengek dan membujuk Adel ikut ikut dengannya. Adel lama kelamaan tak tahan dengan rengekan Maya. Ia pun mengangguk. "Cuma sekali ini aja."

*****

Orang-orang mulai berjoget saat DJ memutar musik. Mereka berjoget dengan lepas. Selain itu, bau alkohol langsung masuk ke indra penciuman mereka saat mamasuki club.

Adel melihat ke sekeliling. Banyak orang mabuk dan melakukan skinskip di sana. Pakaian wanita di sini juga tergolong minim, terutama para pegawai wanitanya. Mereka tidak hanya menawarkan minuman, tapi juga tubuh mereka sendiri—itu menurut Adel.

Maya menggeret tangan Adel hingga menuju tempat minuman. Mereka pun duduk. "Tolong dua jus untuk kami."

Bartender itu mengangguk. Ia cukup familier melihat wajah Maya dan juga pesanan wanita tersebut. Awalnya ia sempat heran mengapa hanya memesan jus, tapi lama kelamaan ia menjadi terbiasa dengan pesanan unik Maya.

"Siapa dia? Temanmu?"

"Ya," jawab Maya. "Tapi jangan berani-berani mengganggunya. Awas saja kau," peringat Maya.

Bartender itu melihat Adel. "Dia bukan tipeku. Wajahnya terlalu kalem." Ia pun telah selesai menyiapkan pesanan kedua wanita itu.

Sementara itu, Adel mengedarkan pandangannya. Namun, ia menyesalinya karena melihat Bima dan wanita yang ia yakini bernama Monika sedang berjoget ria. Seketika hatinya memanas.

Adel langsung berseru. "Berikan dua minuman untuk kami. Bukannya jus."

Maya terkejut dengan pernyataan Adel. "Lo serius Del? Tapi lo—"

Maya menghentikan ucapannya saat melihat Adel yang tanpa ragu menenggak minuman beralkohol. "Hanya sekali ini saja, May. Cepat minum."

Maya juga ikut meminumnya. Tidak seperti maya yang lumayan kuat minum, Adel justru sudah mabuk. "Bima laknat!" umpat Adel. "Dia pikir gue nggak bisa apa cari penggantinya. Kalau gue mau, gue bisa mendapat laki-laki saat ini juga."

Racauan Adel membuat satu ide 'gila' terlintas di benak Maya. "Kalo gitu, gue tantang lo buat nyium siapa aja yang masuk dalam hitungan sepuluh detik."

"Ok, nggak masalah." Tanpa pikir panjang, Adel menyanggupinya.

Satu

Dua

Tiga

Empat

Lima

Enam

Tujuh

Delapan

Sembilan

Sepuluh

Seorang laki-laki besar tinggi masuk ke dalam club. "Cium gih."

Adel berdiri dan menghampiri laki-laki itu. Sekarang Adel berada tepat di depannya. "Minggir, Nona."

Adel tak menjawab. Wanita itu berjinjit dan memegang tengkuk si laki-laki kemudian menciumnya. Laki-laki tadi terkejut dengan aksi agresif wanita di hadapannya ini. Ia tidak menolak, justru merengkuh pinggang Adel dan memperdalam ciuman mereka.

Damn

Rasa bibir Adel benar-benar kenyal dan manis bagi si laki-laki. Sedangkan Maya hanya melongo.

"Rejeki nomplok," celetuk Maya.

Mereka berhenti dengan napas memburu. Kedua kening saling menempel. Maya segera menghampiri keduanya. "Maaf, Tuan, teman saya sedang mabuk dan dia tak tahu apa yang dilakukannya. Kami permisi."

Maya langsung membawa Adel keluar dari club. Sedangkan laki-laki yang bernama Dava tadi menarik ke atas salah-satu sudut bibirnya. "Menarik."

Next chapter