1 Chapter 1

Ini adalah sebuah kisah yang berlatar belakang di SMA Bina Teladan. Sebuah SMA swasta unggulan di Jakarta yang sangat terkenal di Indonesia. Hampir ribuan siswa SMP berniat untuk masuk di sekolah ini tetapi hanya 170 siswa yang diterima setiap tahunnya. Mereka berusaha dapat masuk ke SMA Bina Teladan untuk mendapatkan keistimewaan saat lulus dari SMA ini. Keistimewaan tersebut adalah mendapatkan nilai tambah untuk dapat memasuki seluruh universitas di Indonesia. Siswa lulusan SMA Bina Teladan selalu mendapatkan perhatian khusus dari universitas seluruh Indonesia. Namun, ada 20 siswa pilihan yang memiliki hak khusus untuk dapat masuk universitas di Indonesia pilihannya secara langsung dan jalur khusus untuk universitas luar negeri. 20 siswa pilihan tersebut adalah 20 siswa kelas khusus SMA Bina Teladan.

Semua siswa SMP berlomba-lomba untuk menjadi salah satu dari 170 siswa SMA Bina Teladan dan hanya 50 siswa peringkat teratas yang memiliki hak untuk ikut serta dalam seleksi kelas khusus. Pada tahun 2019 ini terdapat seorang pemuda bernama Sandy Romero, pemuda yang selalu ceria, usil, dan suka bercanda. Dia terpaksa harus mengikuti seleksi SMA Bina Teladan atas keinginan orang tuanya. Bukan hanya orang tua Sandy, hampir semua orang tua di JABODETABEK menginginkan anaknya untuk bisa bersekolah di SMA Bina Teladan.

Sandy adalah salah satu murid dari SMP 555 Bogor. Saat berada di SMP, Sandy memiliki sahabat bernama Yongki Wibowo yang sering ia panggil Wowo. Ketika momen perpisahan SMP mereka, Yongki bertanya kepada Sandy dimana dia akan meneruskan sekolahnya.

"Bro, lu nanti mau lanjut (sekolah) di mana?" tanya Yongki sambil merangkul leher Sandy.

Mereka berdua memang sama-sama tinggi, mungkin sekitar 165cm saat SMP. Mereka sangat dekat karena sering berada di kelas yang sama dan sering bermain futsal bersama.

"Orang tua gue inginnya sih ke SMA Bina Teladan. Lu di mana?" ucap Sandy dengan nada malas.

"Wah sama dong. Nanti tes bareng lah ya kita," ucap Yongki dengan semangat.

"Kalau Lu mau masuk di sana, gue jadi sedikit semangat nih," Ucap Sandy yang ikut semangat berkat jawaban dari Yongki.

"Kalau Lu sih kemungkinan besar bisa masuk karena selalu masuk 5 besar di kelas. Lah gue, masuk 10 besar aja gak pernah," ucap Yongki yang kemudian duduk di kursi taman dan meminum minuman kaleng yang ia bawa.

"Gampang nanti kita belajar bareng deh," ujar Sandy yang ikut duduk dan mengambil minuman Yongki lalu meminumnya. Mereka berdua memang selalu berbagi, baik itu makanan atau minuman.

"Serius ya. Awas aja kalau gue gak bisa masuk SMA Bina Teladan hahaha," ucap Yongki sambil tertawa.

"Kalau bisa masuk, Lu harus turutin semua kemauan gue selama setahun. Deal?" kata Sandy sambil menjulurkan tangannya.

"Lama banget setahun, setengah tahun deh," ucap Yongki sambil mengambil kembali minumannya.

"Oke setengah tahun," jawab Sandy dan mereka pun akhirnya setuju.

Setelah itu hampir setiap hari Sandy dan Yongki belajar bersama. Melihat Sandy tampak bersemangat, orang tuanya pun ikut berbahagia. Sejak kecil, Sandy memang dituntut untuk mendapatkan rangking di kelas. Dan Sandy selalu mendapatkannya walaupun hanya 5 besar dan tidak pernah mendapatkan peringkat 1 maupun 2. Selain pintar di kelas, Sandy juga jago dalam olah raga terutama futsal. Hampir setiap hari sepulang sekolah Sandy selalu bermain futsal dengan teman-temannya. Orang tuanya pun tidak melarangnya karena Sandy dan orang tuanya pernah membuat kesepakatan, yaitu Sandy bebas melakukan apapun asal dia berhasil memenuhi permintaan orang tuanya.

Tidak terasa waktu seleksi SMA Bina Teladan pun hampir tiba. Saat ini Sandy dan Yongki pun belajar bersama di rumah Sandy. Yongki yang panik, meminta Sandy untuk melakukan hal yang sering ia lakukan, yaitu menebak tipe pertanyaan apa yang kemungkinan akan muncul.

"San, Lu prediksi lah soal apa saja yang kemungkinan akan keluar," ucap Yongki sambil memohon kepada Sandy.

"Lu kira gue dukun," sahut Sandy sambil tertawa.

"Ayo lah. Lu kan jago kalau beginian. Demi orang tua gue nih," ucap Yongki sambil menempelkan kedua telapak tangannya.

"Panggil dulu gue Yang Mulia Sandy haha," ucap Sandy sambil tertawa.

"Ih bocah banget sih Lu," sindir Yongki.

"Mau gak? Bebas sih," ucap Sandy sambil meninggalkan Yongki.

"Ih iya-iya. Yang Mulia Sandy, mohon bantuannya untuk hamba," ucap Yongki yang secara terpaksa dan menahan malu.

"Haha nah gitu dong," ucap Sandy sambil tertawa.

Akhirnya mereka berdua melanjutkan belajar dan Sandy pun memberitahukan tipe-tipe soal yang kemungkinan akan diujikan saat seleksi SMA Bina Teladan.

Next chapter