1 BAB 1 RONIN DAN PENGANTIN PRIA

Ruang tunggu kelas atas ini berbau pangsit kukus, jauh lebih baik daripada kedai berbau keringat yang biasa aku kunjungi. Tapi ada yang salah dengan suaranya, ini terlalu sepi. Walaupun aku tidak menyukai para penjudi tua yang kompulsif [1] itu, minum sake murah terasa kurang tanpa bunyi derai bokuto [2] yang beradu tanpa henti sebagai suara latar. Dan minuman yang aku minum di sini terasa seperti air cucian beras, wajar jika harganya murah.

"Hmph, aku tidak yakin bagaimana kau bisa tahan dengan minuman busuk itu! Saat ini kita berada di salah satu chasitsu [3] terbaik di ibukota, yang menyajikan teh kelas tertinggi. Tidak bisakah kau setidak-tidaknya berpura-pura menghargainya?" suara yang mendengung, belum puber, dan sombong itu tidak lain adalah rekan perjalanan kecilku.

"Terlalu panas untuk minum teh." jawabku sekenanya.

"Kenapa kau tidak mencari kamar untuk kita?" alasan apapun agar anak ini menjauh untuk saat ini. Pertanyaan dan komentar terus menerus mulai membuatku sakit kepala.

Cibiran yang -telah terlalu- biasa aku lihat, terpasang di wajah kecilnya. Jawabannya digumamkan dengan suara sekecil mungkin. "Kenapa harus aku? Kakiku sama lelahnya dengan kakimu!"

Anak ini benar - kami telah berjalan cukup jauh, dan itu perjalanan yang sulit bagi siapapun, terutama untuk tipe kutu buku. Aku tidak menyuarakan jawaban melainkan membiarkan mataku yang berbicara. Dan itu terbukti efektif, bocah manja itu pun berlalu, melakukan tugasnya. Aku akhirnya mendapatkan keheningan yang kuinginkan.

Sebenarnya, jika aku mencoba memesan kamar di penginapan Ryokan Oomuraya [4] yang cukup terkenal, yang akan aku temui adalah kegagalan. Yup! Kegagalan! Tidak akan ada kamar yang tersedia untuk pengelana kusam yang memegang katana [5] seperti diriku. Tak perlu bagi kalian untuk menebak-nebak, penampilan benar-benar tidak cocok dengan sosok seorang samurai bangsawan.

Aku tidak seharusnya berada di sini, mata dari semua pelanggan di chasitsu ini melakukan yang terbaik untuk mengkonfirmasi fakta ini. Sebagaimana wajahku yang tampan, katana di pangkuan ku ini, membuat mereka 'tak nyaman'. Hei! Seharusnya aku yang merasa 'tidak nyaman' berada di lingkungan bangsawan ini, tapi apa dayaku, pekerjaan tetaplah pekerjaan.

Mengingatkanku kembali ke masa lalu, saat kelaparan dan berusaha keras untuk bertahan hidup di jalan-jalan Genfu yang dilanda kemiskinan.

Seorang pria yang cukup gempal, dengan takut-takut, berjalan ke arahku, setelah disuruh oleh istrinya, yang bahkan lebih gempal. keringat membasahi dahinya hingga ke kedua sisi dagunya. Sedikit aneh, bahwa bau itu begitu akrab, padahal aku tidak mengenali pria ini sama sekali. Tidak ada sedikit pun keberanian di matanya, tatapannya tertuju pada dada telanjangku.

Saat ini udara panas dan lembab di ibukota yang membuatku melonggarkan kimono [6] ku.

Ini adalah pertengahan musim panas terpanas dalam ingatanku. Itulah sebabnya aku minum sake ini dalam keadaan dingin.

"Er... kamu seorang samurai, aye?" Frasa itu bercampur dengan rasa takut yang terlalu ketara. Oh, dan juga kesedihan. Anda harus sangat putus asa, untuk salah mengira pengelana setengah mabuk sepertiku, untuk menjadi menjadi salah satu anjing peliharaan Hizen [7]. Mereka adalah ras murni! Aku pun segera menghabiskan sake dingin di cangkir ku sebelum memberikan jawaban. Rasa apel di minuman ku bukanlah satu-satunya hal yang mulai asam, seiring bergulirnya sangat waktu.

"Aku bukan samurai!" jawabku sambil tetap memandang cangkir kosong di tanganku. Dan menoleh perlahan ke arah pria itu sambil berkata, "Perbaiki aksen anda, atau bangsawan di sini akan menguliti anda, hidup-hidup."

Pria yang ketakutan itu menyeka keringat dari alisnya dengan lengan bajunya. Seperti aku mulai menyukai sandiwara ini. Tapi aku lebih berharap bajingan kecil itu berhasil menemukan kamar secepatnya.

"T...tolong jangan mengadukan kami, master samurai. Maksudku, yang kumaksud adalah...." dia meraba-raba kata yang tepat. walaupun dia dan aku sama-sama tahu, kata yang dia cari, tapi terlalu takut untuk mengatakannya.

RONIN [8]

"... namaku Eiji Ogawa. Aku dan istriku di sini bersama anak kami utnuk mengatur pernikahan dengan keluarga cabang Nakagawa. Jika anda mau duduk di meja kami, kehadiran anda akan memberi kami kehormatan besar." Eiji membisikan rencana itu seolah-olah dia adalah seorang politisi yang mencoba meyakinkan atasannya.

Sang istri melepaskan Haori [9] jingga - jaket formal - dan tersenyum lebar. Aku mungkin telah meremehkan orang-orang ini, jika tidak ada yang lain, mereka telah bersiap. Rencananya adalah mendandani seorang ronin kotor dan menganggapnya sebagai pengawal - semi terhormat. Sebuah keluarga tanpa garis keturunan yang kuat, namun memiliki seorang samurai dalam pekerjaan pribadinya? Itu dapat memiliki arti dari kekayaannya dan kehormatannya.

Sejujurnya, rencana ini cukup menggiurkan, haruskah aku membantu mereka?

Aku mengangkat kendi yang hampir kosong untuk mengisi gelas lagi. Bau pangsit hampir menutupi seluruhnya, tapi aku masih bisa mencium bau busuk persekongkolan. Apakah itu tipuan atau tidak, aku tidak tahu, aku lebih memilih untuk waspada.

"Nope! Tidak tertarik. Aku hanya ingin minum dengan tenang."

Bahu Eiji merosot, tapi dia juga mengeluarkan desahan lega. Dia bahkan mungkin berharap untuk hasil ini, supaya dia bisa kembali ke mejanya dengan mengetahui setidaknya dia telah mencoba. Aku tahu tipe itu dengan cukup baik. Keluarga pasti akan jadi bahan tertawaan karena dianggap rendah, mereka akan terungkap sebagai pecundang dari Genfu dan hanya itu.

Dia telah menyebutkan seorang anak, tetapi aku tidak dapat menemukan calon pengantin yang disebutkan. Kecuali... Aha! Tersembunyi di balik gulungan karpet empuk, yang tidak lain tidak bukan adalah istri dari si pria gempal. Seorang sosok yang anggun duduk. Jauh dari sosok anak-anak, sosok ini - untungnya - tidak terlihat seperti orang tua yang melahirkannya.

Ia mengenakan pakaian berukuran kecil, dengan yukata - kimono musim panas. Aku hanya membiarkan mataku melihat-lihat kaki yang panjang dan berotot itu. Ia memiliki lengan seorang pelaut, dengan urat menonjol di semua tempat yang tepat. Fitur maskulinnya merayap menuju pahang yang dipahat, dan rambut hitam pendeknya dibiarkan tergerai.

Satu hal yang pasti, wanita manapun yang duduk di hadapannya adalah wanita yang beruntung.

Catatan kaki:

[1] Kompulsif adalah sifat suka memaksa.

[2] Bokuto adalah pedang kayu yang menyerupai katana - pedang Jepang.

[3] Chasitsu adalah ruangan yang dibuat untuk upacara minum teh.

[4] Ryokan Oomuraya adalah salah satu penginapan terkenal di provinsi Hizen.

[5] Katana adalah pedang Jepang.

[6] Kimono adalah baju tradisional Jepang.

[7] Hizen adalah provinsi lama di Jepang di pulau Kyushu yang berbatasan dengan provinsi Chikuzen dan Chikugo.

[8] Ronin adalah sebutan bagi samurai tanpa tuan.

[9] Haori adalah jaket tradisional Jepang, sepanjang pinggul atau paha, yang dikenakan di atas kimono. Haori menyerupai kimono pendek.

Next chapter