1 CHAPTER 1: Permen Lollipop rasa Strawberry

Jika diingat-ingat pertemuan kita lucu ya, saat itu entah apa yang menggerakan hatiku untuk mendekatimu. Dirimu yang sedang duduk dibawah pohon sambil memeluk lutut dan menahan tangis. Akupun menghampirimu hanya dengan membawa permen rasa stawberry yang aku genggam di tangan kananku, dan tanpa berpikir panjang aku memberikannya kepadamu, berharap kamu berhenti menangis. Saat itu kami tidak menyadari, bahwa semesta baru saja menggoreskan takdir di langit oranye pada sore itu. Tak ku sangka, pertemuan yang terjadi begitu tiba-tiba ini dapat meninggalkan goresan luka sekaligus warna bahagia di kehidupanku. Tak ada yang menyangka pula, bahwa pertemuanku dengannya menjadi awal dari semua rangkaian cerita yang tertulis di novel ini.

>>>

Kicauan merdu burung menyabut pagi ini dengan sempurna. Terpaan angin yang begitu menyejukan menyentuh gorden jendela kamarku yang terbuka dengan lembut. Sudah dua jam yang lalu sejak matahari terbit di ufuk barat. Aku yang berumur 12 tahun masih berbaring di kasur dengan tubuh di bungkus oleh selimut lembut bermotif super hero ini memaksakan diri untuk terbangun. Sejak kemarin papa sudah berjanji akan mengajakku berolahraga di taman yang letaknya tidak jauh dari rumah kami. Bangun pagi dan berolahraga di taman atau hanya sekedar jalan-jalan biasa sudah menjadi kebiasaanku sejak aku berumur 10 tahun. Kata papa tubuhku harus selalu sehat dan bugar.

Aku yang sudah berhasil mengumpulkan nyawa untuk beranjak dari tempat tidur, menyeret kaki ke depan lemari untuk mencari baju olahraga yang biasa kukenakan

"Aduh dimana ya baju yang kemarin kupakai, udah dicuci belum ya?" Aku menggumam sambil mencari dimana letak baju olahragaku

"Ren! Sudah siap belum? Kok lama banget, nanti papa tinggal ni haha" Terdengar suara papa dari lantai bawah, akupun langusung bergegas menyambar jaket abu-abu yang terletak di kursi berlajar ku, seraya menjawab panggilan papa

"Iya pa..ini udah mau turun kok!" Aku menuruni tangga, lalu mendapati papa sedang mengenakan sepatu olahraganya di sofa ruang tamu

"Kamu belum sarapan kan? itu rotinya dimakan dulu, tadi mama yang membuatnya untuk kamu" Kata papa sambil menunjuk roti yang sudah dioleskan oleh selai kacang di atas meja makan

"Siap pa!" Akupun duduk di meja makan, lalu mulai memasukan roti yang dibuat oleh mama kedalam mulut.

Setelah roti itu sudah tuntas ku makan, aku dan papa beranjak meninggalkan rumah. Seperti biasa mama melambaikan tangan kepada kami sambil tersenyum.

"Hati-hati ya ren, pa" mama melambaikan tangan kepada kami, dengan senyuman yang terukir di wajahnya. Iya mama masih muda, sangat muda malah. Dulu mama menikah dengan papa saat mama masih berumur 21 tahun, tidak lama setelah menikah mama mengandungku, dan pada saat itu mama berhenti kuliah karena papa bilang mama akan kewalahan jika harus menggandung sambil berkuliah.

"Iya ma!" Aku dan papa menjawab serempak, seraya tersenyum ke arah mama

Seperti yang sudah kujelaskan tadi, jarak antara rumah dan taman tidak begitu jauh, kira-kira hanya membutuhkan waktu 15 menit saja, biasanya setelah selesai berolahraga aku dan papa menyantap bubur ayam yang ada di pinggir taman.

Kami pun memasuki pagar taman yang pinggirnya dihiasi dengan dedaunan hijau yang menyejukan mata. Yang lebih uniknya lagi adalah, saat menginjakan kaki di taman ini, kalian akan disambut dengan ranting-ranting berbentuk setengah lingkaran yang dihiasi dengan bunga warna-warni dan dedaunan hijau yang terjulur di atas kepala kalian, selain itu kalian juga akan mendapati satu air mancur besar yang terletak di tengah-tengah taman. Dulu aku suka sekali memberi makan ikan yang ada di dalam air mancur itu. Jika dilihat dari lokasi dan pemandangannya, taman ini tidak perlu di ragukan lagi. Lokasinya yang strategis dan lumayan sunyi sangat pas untuk berolahraga, serta pemandangan yang begitu menawan dan mamikat mata, menjadi kesenangan tersendiri terhadap para pengunjung. Taman ini juga cukup luas, ada banyak pohon besar dan semak-semak, serta beberapa bukit kecil di sudut-sudut taman. Aku,papa, dan mama suka sekali menghabiskan waktu di bukit itu, pemandangan senja akan jelas terihat dari bukit yang mungil nan sejuk itu.

"hah..hah..aduh capek ni pa" aku menekukkan lutut dan membungkukan badan seraya meletakan kedua tangan di atas dengkul

"Iya nih, udah sekitar 40 menit kita jogging mengelilingi taman" jawab papa sambil menyisir rambut dengan jari-jari tangannya

"Kita duduk dulu yuk Ren!" ajak papa sambil menggenggam tanganku

"Oke pa, eh tapi sebelum itu Ren mau beli es krim dulu ya di Indumaret" aku menunjuk toko yang letaknya tepat di seberang pagar taman.

"Baiklah, papa tunggu di sini ya" papa tersenyum sambil mengacak-ngacak rambutku, papa pun memberikanku uang sebesar 10 ribu.

Setelah mendapatkan uang dari papa, aku pun bergegas pergi ke Indumaret untuk membeli es krim coklat kesukaanku. Matahari sudah mulai beranjak naik sejak tadi, pancaran sinarnya juga semakin lama semakin meyengat tulang. Membeli es krim adalah pilihan yang paling tepat sekaligus menyegarkan untuk saat ini. Aku pun memasuki Indumaret dengan mengantongi uang 10 ribu yang diberikan papa tadi. Saat masuk aku langsung di sambut oleh petugas Indumaret dengan ramah, wangi dari toko ini tak asing lagi di hidungku. Aku langsung membelokan badan menghadap ke kiri dan menggeser tutup freezer yang biasanya digunakan untuk menyimpan berbagai rasa es krim. Setelah mendapatkan apa yang kumau, aku pun menuju ke kasir untuk membayar es krim coklat ini.

"Jadinya berapa mbak?" Aku bertanya kepada petugas Indumaret di depanku

"6 ribu aja dik" jawab sang petugas sambil tersenyum kearahku. Tanpa banyak bicara lagi, aku langsung memberikan uang 10 ribu yang ku kantongi.

"Terimakasih" kata petugas sembari menerima uang 10 ribu itu dariku

"Maaf dik, kembalinya sepertinya kurang. Apakah tidak apa-apa jika di gantikan dengan permen lollipop rasa strawberry?" Tanya petugas kepadaku, aku pun mengangguk sambil tersenyum kearah petugas itu. Hitung-hitung lollipop ini bisa ku makan sambil mengerjakan tugas sekolah, sepertinya menyenangkan. Pikirku.

"Terimkasih" Aku menerima permen itu seraya tersenyum ke arah petugas Indumaret. Aku mendorong pintu Indumaret dengan lengan tangan kananku. Aku pun berjalan dengan wajah berseri-seri sambil menjilat es krim coklat yang ku genggam semenjak keluar dari Indumaret tadi. Tak lupa permen lollipop rasa strawberry ku genggam di tangan kiriku.

>>>

Saat itu aku belum mengetahui, bahwa permen itu akan jatuh ke tangan orang lain. Orang yang nantinya menjadi bagian paling penting dari cerita ini, karena sesungguhnya cerita ini bukan tentangku. Namun cerita ini menceritakan tentang dirimu, tentang bagaimana indahnya senja saat dilewati bersamamu.

Next chapter