1 Hasan Dipaksa Orang Tuanya Untuk Meneruskan Pendidikannya Di Pesantren

Hasan namanya, remaja yang baru berumur 17 tahun. Dia hidup di sebuah desa, sebut saja Desa Jambewangi. Orang tuanya mempunyai keinginan agar dia menghabiskan masa remajanya di dalam pesantren.

Kisah berawal dari dia lulus pendidikan MTS.

Di sore hari matahari mulai menyembunyikan cahayanya di balik pegunungan yang banyak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan besar, sehingga mampu menutupi silaunya sinar matahari.

Hasan berangkat ke mushola di mana biasanya ia mengaji. Di Mushola itu sudah banyak kaum remaja. Salah satu menyambutnya.

"Mas, ada apa kok terlihat sedih?" tanya teman Hasan yang lalu menghampiri pemuda galau itu.

"Ahh, tidak ada apa-apa Zan," jawab Hasan dengan nada datar.

"Jangan gitu, aku kan temanmu Mas," sahut teman Hasan yang bernama Izan membujuk Hasan agar mau bercerita.

"Walau aku tidak bisa menghilangkan rasa sedih kamu, siapa tahu dengan kamu bercerita beban fikiranmu bisa berkurang." Perhatian Izan pada temannya.

Hasan menghirup napas dalam-dalam dan melepasnya. "Gini Zan, Orang tuaku menyuruh aku agar mondok di pesantren karena aku sudah selesai sekolah MTs," jelas Hasan dengan wajah tak bersemangat.

"Hmm, gitu to masalahnya," sahut Izan sambil menepuk-nepuk bahu Hasan.

"Maksudnya? Kamu setuju jika aku hidup di pesantren?!" sontak sahut Hasan dengan menatap Izan.

"Bagus itu, berarti Orang tuamu sayang kepadamu, mereka ingin kamu hidup menjadi orang yang mempunyai pedoman dalam menjalani hidup," jawab Izan dengan nada pelan dan ada benarnya bagi Hasan.

Hasan mendekat ke Izan dan berbisik, karna takut pengurus mushola mendengarnya sebut saja Mirza namanya. "Zan, kamu tahu kan...! kalau aku baru saja jadian dengan Aurel," bisik Hasan pada Izan.

Belum selesai Izan menjawab, dari belakang tembok berukiran dan dihiasi beranekaragam bunga terdengar suara panggilan, "San....Hasan.... San... kemari!" pak Ustadz memanggilnya.

Dengan nada tegas Izan berkata "Tuh, kamu dipanggil Ustadz, cepat kesana," sambil menarik tangan Hasan.

"Iya Ustadz," sahut Hasan.

"Zan, kita lanjutkan nanti ya," kata Hasan, sambil berjalan ke rumah Ustadz.

"Iya, Mas," sahut Izan dengan berteriak.

"Assalamu'alaikum Ustadz," salam Hasan sambil mencium tangan Ustad. Dan bertanya "Wonten nopo Ustadz nimbali kulo (Ada apa Ustadz memanggil saya)?" sambil merundukkan badan.

"San...!" Ustad menyapa Hasan

"Dalem, Ustadz, (Iya, Ustadz)" sahut Hasan

"Farel sampun dugi San? ketwau kulo dereng semerep larene (Farel sudah datang San? dari tadi saya belum melihatnya)" tanya Ustad, sambil melihat-lihat ke arah mushola mencari Farel.

"Farel saket Ustadz, dinten niki mboten saget tumut ngaos, (Farel Sakit Ustadz, hari ini tidak bisa mengikuti pengajian," jawab Hasan.

"Oh ngoten, geh pun sampean mawon ingkang Adzan, niki sampun wancine sholat magrib, (Oh begitu, kalau begitu kamu saja yang Aszan, sekarang sudah waktunya sholat magrib," ungkap Ustadz sambil memandang wajah Hasan.

"Kulo Ustad, (Saya Ustadz)" sahut Hasan, dengan rasa tak percaya.

"Enggeh sampean, (Iya kamu)" sahut Ustadz dengan nada lembut

"Geh Ustadz, (Iya Ustad)" sahut Hasan

kemudian Hasan bergegas ke Mushola.

dan berkata dalam hatinya "Alhamdulillahirobbil 'Alamin".

Izan yang duduk-duduk di serambi Mushola memandang Hasan yang tersenyum yang terlihat lesung pipinya, dan bertanya, "Hai Mas, ada apa senyum-senyum sendiri? hayo habis diberi apa?" ledek Izan dengan tersenyum tipis.

"Apaan sih kamu ini, ini saya disuruh Ustadz gantiin Farel Adzan," jawab Hasan, sambil balas senyuman.

"Oh, kirain apa Mas, ya udah silahkan adzan," suruh Izan pada Hasan, dengan nada tinggi.

Setelah beberapa waktu pengajian selesai mereka pulang kerumahnya masing-masing dan Hasan berpesan pada Izan, "Zan! jangan pergi ya nanti, saya mau ke rumahmu," pesan Hasan pada Izan berharap bisa menyelesaikan permasalahannya.

Setibanya dirumah Hasan disambut kedua Orang tuanya, "Hasan...!" sapa ayah pada Hasan.

"Iya, Ayah," sahut Hasan, dengan wajah murung dan menundukkan kepalanya ke lantai yang berhiaskan keramik putih.

"Duduklah, Ayah mau ngomong sesuatu pada kamu San," Ayah merayu Izan dengan lemah lembut.

"Iya Ayah," sahut Hasan, sambil mulai duduk dan kemudian terdiam seribu kata mendengar apa yang akan di nasihatkan padanya.

"Hasan, kamu kan sudah selesai pendidikan MTsnya, mumpung Ayah masih bisa bekerja Ayah Ibumu ingin kamu meneruskan pendidikanmu di Pesantren," ungkap Ayah sambil merangkul pundak Hasan.

"Tapi Yah," sahut Hasan sambil mengangkat kepala dan memandang ke arah Ayahnya.

"Tapi apa, tidak ada tapi-tapian Hasan harus pergi ke Pesantren titik," sontak Ayah lalu pergi ke kamar.

"Ibu...!" Hasan memanggil Ibunya yang ada disampingnya seraya tidur di pangkuannya sambil meneteskan air mata. dan berkata "Ibu, aku tidak mau ke Pesantren Bu, Hasan Mengaji di Mushola saja Bu," ungkap Hasan pada Ibunya. "Boleh ya Bu," lanjut Hasan, sambil mengangkat kepalanya dari pangkuan Ibunya.

"Hasan, mengapa Hasan tidak mau ke Pesantren? apa Hasan mau kerja? atau ingin sekolah saja?" tanya Ibu pada Hasan, sambil mengelus-ngelus kepala Hasan.

"Hasan, putra Ibu yang paling ganteng, gini Hasanan!, masa remaja itu waktu yang sangat baik untuk membentuk karakter seseorang, waktu paling mudah digunakan untuk memperbanyak pengetahuan, waktu yang sangat tepat dalam menanam kebaikan. Ada Pujangga mengatakan "Belajar di waktu kecil ibarat mengukir di atas batu artinya ya sangat mudah dan membekas tetapi belajar di masa tua ibarat mengukir di atas air artinya tidak mungkin bisa dan tidak berbekas," nasihat Ibu pada Hasan.

"Sudahlah Hasan, ikuti kemauan Ayah Ibumu, tak mungkin kami mejerumuskanmu, kami ingin mengarahkan yang tedbaik untuk kamu," ibuh Ibuk Hasan.

Belum sampai Hasan menanggapi nasihat Ibunya, terbukalah bilik kamar Ayah yang di hiasi selambu kain berwarna biru, Kreee...k, bunyi pintu terbuka.

"Hasan!" sapa Ayah sambil mendekati Izan.

"Kamu kan sudah tahu kalau Ayah ini sudah tua, begitu juga Ibu mu, mungkin tidak lama lagi Ayah dan Ibu meninggalkan kamu selamanya, siapa yang nantinya mendoakan kami kalau bukan kamu San, kamu anak laki-laki satu-satunya, Saya dan Ibumu berharap sangat kamu bisa mendo'akan nantinya," nasihat Ayah terahir lalu mengajak Ibunya ke kamar.

"Difikirkan ya San," kata Ayah sambil berjalan ke kamar.

"Bagaimana ini?" tanya Hasan dalam hati sambil mengusab air mata yang menetes dan membasahi pipinya.

Malam pun semakin larut gelap menutupi tumuhan semak belukar, Hasan pun pergi ke rumah Izan dengan diiringi suara nyanyian serangga mendayu-dayu di telinga seakan-akan mengajak berjoget ria.

Sesekali dia menengok ke kanan dan kiri, cahaya senter menemani perjalanannya, setapak demi setapak dilaluinya hingga tiba di rumah Izan.

"Tok...Tok...Tok," bunyi ketukan pintu terdengar bertubi-tubi

"Assalamu'aikum, Izan!" salam Hasan sambil memanggil Izan.

"Wa'alaikumsalam Warohmatullohi Wabarokatuh, Iya Mas!" sambil menarik gagang pintu, Kreeeek..."silahkan masuk," sahut Izan, sambil menarik tangan Hasan.

"Bagaimana Mas?" tanya Izan sambil mempersilahkan duduk Hasan di kursi.

"Gini Zan, tadi aku di nasihati Ayah Ibu aku banyak-banyak yang intinya tetap harus ke Pesantren.

"La, kamu sendiri gimana Mas?" sahut Izan, dengan perasaan ingin tahu.

"Iya itu, saya bingung, di sisi lain saya harus berbakti kepada Orang tua, dan iku kayaknya memang hal terbaik untuk saya kedepannya, tapi kalau Aurel saya putus, lalu Bagaimana perasaannya? kayaknya saya tidak tega karena baru saja jadian," ungkap Hasan, terlihat meringkukkan tubuhnya.

"Buat saya saja ya Mas," canda Izan, untuk menghibur Hasan.

"Kamu ini, malah ngledek," sahut Hasan.

"Mas, bukannya saya sok pandai, tapi sebagai teman ya sudah sepatutnya saya menolong teman sebisa saya," ungkap Izan, dengan nada pelan.

"Gini Mas, saya pernah mendengar Ustadz berkata "Orang yang ingin meraih kesuksesan harus berani berkorban". salah satunya ya itu, toh mungkin nanti sedih hanya beberapa hari selanjutnya akan lupa," ungkap Izan.

"Ya udah, saya fikir-fikir dulu, mungkin ini memang sudah jalanku seperti ini," sahut Hasan. dan berkata dalam hati "Sungguh sulit keadaan aku ini"

Beberapa lamanya mereka berbincang-bincang hingga larut malam, dan akhirnya Hasan pulang ke rumah dengan membawa berbagai macam permasalahan yang di fikirnya, dan selanjutnya tertidur pulas bagai menjelajah dunia tanpa batas waktu.

Akankah Hasan menuruti keinginan Orang tuanya? dan Bagaimana nasibnya Aurel pacar barunya? dan apa yang harus dilakukan Hasan agar semuanya berjalan seimbang? ikuti kisah Hasan selanjutnya.

Next chapter