webnovel

42. Stupid. Count on us!

Suasana Bram's Company seketika menjadi hiruk pikuk tanpa penyambutan yang berarti. Jeremy atau Jerry yang akrab ditelinga rekan sekantornya bergerak bagai rajawali diterpa badai.

Sejak ia menerima telepon dari Abi asisten bos number one dari Bram's Company bahwasannya akan datang ke kantor pusat ia segera melakukan koordinasi dengan Tn. Wilson Hazael Bramantyo, memberitahukan bos number on akan hadir di kantor. Will segera menghubungi Tn. Angga.

"Pap, serius mau datang ke kantor?"

"yah"

"serius?"

"what happened kiddos, kenapa seolah - olah ini hal yang janggal?"

"Hmmm... nothing pap, oke see you soon!"

"Aneh bukan Jerry! kira - kira ada apa? saat perusahaan bahkan ditinggal Ben saja papa bahkan tetap menikmati pensiunnya! saham dan dewan direksi aman kan Jer?"

"aman pak, kalau beliau tiba saya harus menempatkan di ruangan mana pak?"

"Ruangan kak Ben, saja!"

"Siap!"

----------------------------

Setelah Tn. dan Ny. Bramantyo tiba dan duduk di sofa di dalam kantor Ben, perintah Tn. Angga jelas di dengar oleh semua asisten untuk segera meniggalkan ruangan cukup hanya ia, isteri dan puteranya yang tinggal.

Sekali lagi memastikan supaya mereka tidak diganggu meskipun urusan mendesak kecuali urusan menyangkut nyawa.

Semua asisten menerima amanat dengan kepala menunduk karena kuatnya kharisma Tn. Angga, mereka sadar track record bos besar mereka yang hebat tidak ada yang tidak tahu, tidak mungkin Bram's Company bisa kokoh mulai dari Moon, Water hingga Citra Land tanpa andil beliau.

"Will, papa dan mama sudah tahu sedikit informasi tentang Ben dan May!" tembak Tn. Angga tanpa basa - basi.

"Kenapa kamu tidak terbuka dengan kami, nak! Jangan bilang alasan kamu menutupinya demi melihat kakakmu hancur dan sebagai pembalasan karena dulu Magdalena lebih memilihnya dari pada kamu son!"

Perkataan Tn. Angga dan tatapan dingin papa dan mamanya seolah - olah bagai godam besi menghantam kepala Will.

"What? Dad, saya tidak sejahat itu! di masa remaja mungkin saya pernah mengalami ketidaksukaan dengan Kak Ben terkait Magdalena. But now, saya malah bersyukur kalau Magdalena lebih memilih Kak Ben kalau saat itu Magdalena pasangan saya maka Will pastikan pada saat menemukan photo - photo menjijikkan itu, Magdalena akan menyesali hari kelahirannya. Bersyukur my brother punya hati yang lembut, ia hanya meninggalkannya saja!"

"Tetapi mengapa kamu menutupi kalau artis pengisi iklan saat May sampai di rawat di RS itu adalah Magdalena, Will!" sambung Ny. Siska, "jelaskan Diana bahkan sudah menceritakan tidak berapa lama setelah itu kakak kamu bahkan menyelingkuhi May dengan perempuan ular itu!"

"Wow, mom kenapa mama melibatkan Di' dalam urusan ini!"

"Haish, tidak jadi soal sebentar lagi kamu urus pertunanganmu dan lamar dia karena sebentar lagi Di' jadi menantu papa, berarti bukan orang luarkan Will!"

"What, kenapa sekarang papa dan mama intervensi hubungan Will?"

"Will please berhenti ke kanak - kanakan karena mama dan papa tahu kamu pasti happy sudah mengantongi ijin untuk hubunganmu, sekarang please fokus ke Ben!"

Sesaat Will menggaruk - garuk kepala dengan wajah tersenyum memerah.

"Will kurang tahu dengan pasti pap, hanya beberapa kali Will menemukan kak Ben dan Magdalena bersama bahkan setahu Will mereka tinggal di apartemen kak Ben!"

"Apa? dimana pikiran Ben, mencoba memelihara hubungan dengan perempuan ular itu?"

"Pap pasti ada alasan lain, tidak mungkin dasarnya karena ketertarikan fisik. Saya kenal putera saya dengan baik!"

"Will coba buka brankas Ben, mana tahu kita bisa menemukan sesuatu. Apakah ada skandal yang ditutupi Ben, passwordnya pasti ultah kakekmu perintah Tn. Angga!"

Tak berapa lama kemudian, Tn dan Ny Bramantyo tidak sabar menunggu hasil investigasi Will datang dengan wajah memucat dan bibirnya bergetar,

"Mom, dad kalian tidak akan percaya ini!"

Sesaat Ny. Siska melihat pemberian Will tiba - tiba merasakan dunianya gelap gulita, terdengar suara sayup - sayup suara suaminya dengan nada memerintah "call the ambulance, hurry up!" berulang - ulang bahkan dengan nada panik.

Ny. Siska merasa bibirnya tersenyum karena ia tahu ciri khas suaminya yang memang penggila memerintah dan selalu panik kalau terkait urusan keluarga, dan pria itu suaminya "manly mannya".

-------------------------------

"Mama sudah sadar? Thank's God!"

bisik Angga sambil mengelus pipi istrinya.

"Pap, apa yang terjadi?"

"Mama pingsan sesaat mama membaca kertas sialan itu!" seru Angga.

Siska kemudian mengingat dengan jelas, kejadian di kantor Ben tanpa sadar ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 21.00 waktu setempat.

"Pap, mama pingsan lama yah?"

"iya mam, sampai papa takut mama kenapa - kenapa 6 jam loh mama pingsan!" jawabnya dengan wajah cemberut.

"Hmm, maaf pap. Membuat kamu dan anak - anak khawatir!" senyumnya mendapat perhatian suaminya yang tidak berhenti menciumi telapak tangan istrinya.

Ny. Siska bersyukur mendapat suami yang bertanggung jawab, penuh kasih dan ayah yang baik.

Ia tidak melupakan di awal - awal pernikahan mereka bahkan 6 bulan pertama ia mengabaikan suaminya karena pernikahan mereka hasil perjodohan dan urusan perluasan bisnis, hingga ia haru menerima perpisahan dengan kekasihnya saat itu.

------------------------

"Mam sudah siuman!" dengan langkah tergesa - gesa Ben menghampiri ranjang Ny. Siska.

"Sudah nak, jangan khawatir!"

"Ada apa mam!"

Mendengar pertanyaan puteranya segera Tn. Angga menjadi berang. "Karena kamu bodoh! urusanmu dengan Maya Belinda Sharon, perselingkuhanmu dengan Magdalena dan tentang Elisabeth Bramantyo. Mengapa kamu menanggung semua persoalan ini sendiri, hakh? Papa tidak pernah membesarkan putra - putra papa tanpa persiapan yang baik dalam menghadapi hal - hal rumit, papa merasa gagal Ben. Kenapa, kenapa!" tanya Tn. Angga berulang - ulang.

Ben, terkejut karena permasalahan yang berusaha ia tutupi dan ingin diselesaikan sendiri akhirnya diketahui oleh keluarganya.

"Sorry dad, saya tidak mau papa dan mama bersedih. Ben merasa bisa selesaikan sendiri!" jawabnya dengan kepala tertunduk.

"Stupid. Count on us Ben, kamu putera papa, May wanita yang kamu cintai, Magdalena setahu saya wanita yang mengkhianati kamu dan entah dari mana ceritanya menjadi wanita yang mengandung keturunan Bramantyo "Elisabeth Bramantyo" jika benar ia darah daging kamu maka ia adalah cucu papa!" bentak Angga.

"Tapi dad!" jawab Ben dengan gugup

"Apa? kamu pikir papa akan segera menikahkan kamu dengan Magdalena jika tahu dia ibu dari keturunan Bramantyo?

Oh. pria malang, kamu pikir papa akan mengorbankan kamu? tidak, nak. Papa tidak sekejam itu! anak bodoh!" ketus Angga.

Ben terlihat tak berdaya mendengar jawaban papanya, akhirnya ia lega karena ia pikir keluarganya pasti akan berbuat sesuai yang dituduhkan papanya, meskipun ia dikatai bodoh ia tahu papanya sangat menyayanginya.

Ben, merasa separuh bebannya melesat terbang bagai meteor.

Next chapter