1 Bab 1

Friday,

Dear diary, sumpah tadi gue di tembak sama Brandon di sekolah, gue nggak nyangka dia bakal nembak gue, cowok paling kaya disekolah. yah pasti gue langsung terima, dia kan kaya, kaya tapi jelek hahahahha lucu banget. Tapi, Edwin sama Brandon bakal tau nggak ya, ah nggak peduli, yang penting dapat uang. Tapi gue merasa masih belum cukup punya pacar dua, Nick ama Edwin tambah Brandon jadi tiga, bisa berapa juta perbulan ya? aduh senang banget punya bank berjalan. okay bye diary mama manggil, nyuruh bersihin botol bekas. 19/March/2019 (ditulis oleh Sisi)

Aku pun segera menutup diary ku dan keluar dari kamar yang hanya ditutup oleh kain bekas di ambang pintu. Aku melihat mama yang sedang duduk di atas tanah sambil menghadap tumpukan aqua bekas sambil membuka tutup botol dengan sigap. Aku pun segera menghampiri mama dan membantunya. Setiap kali aku disuruh membantu mama membuka tutup botol, aku seperti merasa tidak berguna karena tidak bisa menghasilkan uang sendiri dan membantu mama. Hidupku selalu terasa menyedihkan, apa mungkin ini salahku, karena terlahir sebagai seseorang yang tidak bisa melakukan apa pun.

Setelah selesai membantu mama dengan pekerjaannya aku melihat jam tanganku dan jam menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit. Aku hampir lupa kalau aku ada janji dengan Tirka, kalau kami akan pergi ke club. Aku pun segera mengambil piyama ku yang berwarna hitam dan langsung lari ke kamar mandi yang berada diluar rumah.. Selesai mandi aku pun bergegas keluar dari rumah membawa hp dan tas tanpa berpamitan kepada mama.

setelah keluar dari rumah dan aku berhenti sejenak untuk melihat rumahku yang dindingnya terbuat dari triplek dan atapnya yang seperempatnya roboh. Aku sudah berjanji bulan lalu kalau aku akan merenovasi rumah ini untuk mama bagaimana pun caranya. Aku pun segera lari sebelum mama bertanya kemana aku akan pergi.

setibanya di rumah Tirka, aku menatap rumahnya yang bertingkat dan halamannya yang luas, dibandingkan rumah ku yang lusuh dan kecil, rumah Tirka tiga kali lebih besar dan tentunya bersih. Aku segera melihat jam tangan ku dan jam menunjukkan pukul tujuh tepat. Aku segera menekan bel dan tidak lama kemudian Tirka membukakan pintu dan sedang mengenakan dress hitam pendeknya.

" Sisi! lo tuh ya kebiasaan datang terlambat! " teriak Tirka.

" eh sorry sorry, tadi lagi bantuin mama milah botol mau dijual, gue kan nggak bisa nolak " aku berusaha menenangkan Tirka.

" ia, ia gua paham. Cepet masuk clubnya ntar lagi buka.." Tirka tiba tiba menghentikanku dengan tangannya dan dia memelototi pakaian ku.

" ya ampun, masih belum ganti baju, gimana kalau Brandon berpaling dari lo, Kan lo nggak bisa minta uang jajan nanti. Sana ganti baju!" perintah Sisi dengan tegas.

" gua tau, tenang aja gue kan dari lahir udah cantik " aku menjulurkan lidah sambil berlari ke kamar Tirka.

Aku pun segera berganti baju yang aku taruh di tas dan memakai sepatu hak tinggi dari lemari Tirka. Setelah selesai aku segera keluar dan meninggalkan tas ku di atas kasur Tirka.

" Woy, Tirka ortu lo nggak dirumahkan?" tanya ku.

" yah, nggak lah ortu gua kan jarang pulang" jawab Tirka dengan wajah murung.

Aku meletakkan tanganku di atas pundak Tirka.

" yaudah, maaf ya buat lo sedih, sekarang kan ada gue teman paling baik sedunia" kataku dengan antusias.

" udah naik telinga nih, hahahahha" wajah Tirka akhirnya terlihat bahagia.

•••

Keluarga Tirka berasal dari kelurga yang kaya, lebih tepatnya ayah Tirka berasal dari keluarga yang kaya dan ibunya berasal dari keluarga biasa. Tetapi semasa SMA, ayah Sisi dijodohkan oleh orang tuanya karena masalah bisnis, lalu lahirlah Tirka. Tetapi karena orang tua Tirka belum menginginkan seorang anak perempuan, Tirka pun ditinggal sendirian saat berumur 14 tahun, dia hidup tanpa cinta selama 14 tahun dan dicampakkan.

Aku sudah mengenal Tirka sejak usia 15 tahun, aku bertemu Tirka saat dia sedang menggali makanan di tempat sampah umum. Itulah awal persahabatan kami. Bisa dibilang Tirka dan aku seperti saudara kandung. Kami juga tinggal di rumah yang sama. Tapi Saat kami berdua berusia 16 tahun Tirka tiba tiba menghilang dan pada saat aku berumur 17 tahun dia muncul dan memberi tahu ku bahwa dia telah menemukan pekerjaan rahasianya yang bisa menghasilkan jutaan rupiah dalam sehari. Dia mengajak ku untuk ikut bergabung karena sangat menyayangi ku, dan ingin aku segera mewujudkan impian ku, yaitu membangun rumah untuk mama. Aku pun setuju dan sangat senang, Tirka berjanji akan membayar uang sekolah ku sampai lulus SMA, dan masuk sekolah dan menjadi anak terpopuler di sekolah adalah tahap pertama dari pekerjaan ini.

•••

Kami berjalan kaki menuju club yang didekat rumah Sisi, ternyata berjalan memakai heels dan dress pendek terasa aneh. Aku dan Brandon sudah berjanji akan bertemu di sana, lebih tepatnya di club Luna.

Sesampainya di club, kami segera masuk dan segera duduk di kursi paling pojok club. Semua orang mulai menatapku dan aku merasa sangat tidak nyaman. Tirka tersenyum dan memesan minuman untuk nanti diminum Brandon.

" Sisi udah gue campur ya, jangan lupa rencana kita. Btw, lo makin cantik pakai dress, nanti kita pasti dapet banyak uang " puji Tirka

" yakin nih pekerjaannya nggak berbahaya?" jawab ku

" Sisi, seharusnya lo berterimakasih karena gue puji" kata Tirka sambil memonyongkan bibirnya.

" eh, ia ia makasih. Tapi gue takut" kata ku dengan jari yang gemetar.

" tenang aja, tinggal goda aja si Brandon terus minta uang, gampang kan" kata Tirka.

" eh, itu kan Brandon" aku menunjuk ke arah depan.

Tahap kedua telah dimulai.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/satu-bintang-itu-cukup_16710355705936705/bab-1_44856678251818671 for visiting.

Next chapter