1 KAMU ADALAH SASTRA YANG HILANG

Ini adalah pagi di ufuk malu malu

Lonceng sekolah berdentum seiring kamu yang laju di depan mata,

Kamu itu adalah penggambaran hari minggu di jadwal pelajaran tersibuk.

Bercahaya dengan putih abu nya, rambut kemayu menjuluri punggung, serta teduh seperti ada hujan dimatamu.

Untuk subjek tertentu, cantiknya kamu yang ditampilkan dalam urutan kronologis.

Jadi sarapan sehat untuk teman teman sebaya.

Lalu aku, yang jatuh cinta dan menghadap tembok ketika kamu berjalan lewat di penghujung koridor.

Begitupun aku, yang selalu pasang telinga ketika playlist lagu-lagu remaja tentang cinta diputar, kemudian memperhatikan gerak gerikmu di kejauhan.

Begitupun aku, yang pura-pura kelaparan dan sibuk terlibat dengan beberapa menu, saat tau kamu duduk makan dikantin yang sama.

Menyukaimu, rasanya seperti tidak pernah libur.

Rasanya seperti membiarkan badanmu diikat benang dari beberapa balon,

Yang kemudian menerbangkanmu bolos ke langit biru.

Meski tau suatu saat akan terjatuh, namun tak apalah.

Kunikmati proses itu dalam satu bab yang kuberi judul ; 'Mencintaimu tanpa Syarat' jilid pertama.

Pernah sekali aku menyaksikanmu tertawa lepas saat sekolah dibuat ramai dengan adanya pentas.

Aku melihatmu dari balik kerumunan remaja kesenian

Jaraknya hanya beberapa pundak,

Namun rasanya begitu dekat denganmu, begitu akrab.

Kuabadikan sebagai momen terbaik di semester ini,

Kubiarkan sakral melebihi upacara bendera.

Menjadi seorang teman untukmu, adalah jarak dan prestasi terjauh yang bisa aku raih.

Hanya sebatas itu.

Pernah waktu kita berhadap hadapan, ada lesung di matamu

Menimbulkan kontraksi saat kamu berujar terima kasih.

Menyulitkanku saja..

Terhardik bicara cinta didepanmu adalah essay tersulit.

Tak menyisakan pilihan ganda pada setiap fenomena fenomena indah di dalamnya,

Lalu kunikmati begitu saja.

Di mata orang banyak ini terlihat begitu menyimpang

Merujuk pada bait bait yang berdetak di setiap detiknya,

Rasa malu yang tidak kuindahkan di setiap menitnya.

Dan kubiarkan mati dengan sendirinya.

Hari hari di sekolah yang tadinya terasa panjang,

Akhirnya harus terhenti di acara kelulusan.

Jurang baru sekaligus ritme penutup dari drama diam diam yang pernah aku garap.

Sekarang, kamu adalah Sastra yang Hilang.

Kirana pusaka yang terbawa jarak ratusan mill jauhnya.

empat tahun aku tidak dibuatnya dewasa,

Masih dibuat begini begini saja.

Makin lama, senandika ini melantur tak beraturan

Aku masih bersama lisan bertempurung kura,

Mencintainya sekarang dari sini adalah Aksara baru.

Yang mengacu pada peluk sendu,

Dan akan terus mendayu dayu.