1 1. Altea Aldrin

"Hanya ini kemampuanmu, Sayang?!" Altea berkata dengan lirih pada seorang pria yang ada di hadapannya.

Pria itu tersenyum saat Altea mengatakan itu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun pria itu langsung menyerang Altea. Dia tidak memberikan kesempatan pada wanita yang ada di depannya itu balik menyerangnya.

Namun. Altea tidak akan pernah menyerah dengan pria yang terlihat lebih kuar di bandingkan dirinya. Dia akan terus berusaha untuk mengalahkan lawan yang lebih kuat darinya.

Ya. Dia adalah Altea Aldrin yang mempunya tubuh ramping tetapi dia juga memiliki kemampuan berkelahi yang tidak kalah dengan lawan prianya. Dia selalu menunjukkan kemampuannya di saat lawannya lebih hebat dibandingkan dirinya.

"Apa pelayanan yang aku berikan belum bisa memuaskan dirimu, Sayang?!" ucap pria itu dengan nada menantang.

Altea menyerangnya dengan pukulan dan diakhiri dengan tendangan yang mematikan. Namun, pria itu dengan mudah bisa menangkis segala serangan yang Altea layangkan. Dengan senyum yang keluar dari bibir Altea berkata dalam hati pria yang ada di depannya itu sudah memacu adrenalinnya.

Perkelahian mereka berdua pun semakin memanas, baru kali ini Altea berhadapan dengan pria yang bisa membuatnya mengeluarkan keringat. Karena selama ini tidak ada satu orang pun yang bisa menandinginya dalam bertarung.

"Sial—aku lengah!" gerutu Altea.

Pria itu tersenyum saat melihat Altea terjatuh, senyumnya itu menyiratkan bahwa wanita itu tidak akan pernah bisa bisa menang darinya. Dia terlalu percaya diri dan tidak tahu jika dirinya sedang berhadapan dengan Altea Aldrin.

Pria itu mengulurkan tangannya dengan arti ingin membantu Altea untuk berdiri. Namun, Altea menepisnya lalu berdiri sendiri. Dalam benak Altea berkata jika dia tidak akan pernah mengalah pada pada pria yang terlihat bangga sudah membuatnya terjatuh.

Altea bersiap-siap untuk kembali menyerang pria yang masih memperlihatkan senyum kemenangan. Dia mengepalkan kedua tangannya dan bersiap untuk melayangkan pukulannya pada pria itu.

"Hentikan semua itu, Altea!" tukas seseorang yang berusaha untuk menghentikan Altea untuk melayangkan pukulannya itu.

Altea membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang sudah berani menghentikan pertarungan. Dia menghela napas, rupanya yang menghentikan Altea adalah Clarinda.

Clarinda mendekat pada pria yang sudah melawan Altea, dia menghapus keringat di wajah pria itu. Dia terlihat begitu hangat dan perhatian pada pria yang sedari tadi bertarung dengan Altea di dalam ring.

Altea merasa aneh dengan apa yang dilakukan oleh Clarinda pada pria yang ada di depannya itu. Dalam benaknya berkata siapa sebenarnya pria itu? Mengapa Clarinda bisa memasang wajah hangatnya. Sepengetahuannya Clarinda tidak pernah bersikap seperti itu kecuali pada dirinya

"Mengapa kau menghentikan aku?!" tanya Altea dengan nada kesal.

"Apa kau ingin membunuh calon suamiku?!" jawab Clarinda dengan senyum lembutnya.

Altea membelalakkan kedua bola matanya, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Clarinda. "Apa aku tidak salah dengar?"

Clarinda tersenyum lalu dia mengatakan sekali lagi jika pria itu adalah kekasihnya. Dan mereka sudah merencanakan untuk menikah dalam waktu dekat ini, dia juga memita maaf karena tidak mengatakannya dari awal pada Altea.

Altea sungguh tidak percaya jika wanita yang ada di depannya itu sudah memiliki kekasih dan menyembunyikannya darinya. Padahal hubungan mereka berdua adalah sebagai saudari. Dia pun kesal dengan semua yangnya, tanpa dia sadari tangannya yang sudah dikepalkan melayang ke arah wajah pria yang sudah merebut saudarinya.

"Apa yang kau lakukan, Altea?" tanya Clarinda pada sang adik yang sudah menyerang kekasihnya.

"Aku Don Salazar, kau bisa memanggilku Don!" ucap pria itu pada Altea yang sudah meninjunya.

"Aku tidak peduli dengan kau," timpal Altea yang tidak mau menerima perkenalan yang dilakukan oleh Don.

Altea terus menatap Don yang sudah merebut sang kakak darinya, dia sama sekali tidak suka dengan pria itu yang akan menjadi suami dari Clarinda. Entah apa yang dilihat oleh Clarinda dari pria yang seperti Don itu.

Dia melihat pria yang dingin dan sama sekali tidak terlihat hangat serta perhatian. Altea tidak habis pikir apakah sang kakak tidak bisa melihat semua itu dengan jelas, sehingga mau menikah dengan Don.

"Altea—ada misi untukmu!" teriak seorang wanita dari kejauhan.

Dia adalah Mika, bisa dibilang adalah seorang penghubung antara klien dan mereka semua. Terlihat sangat jelas oleh Altea jika wanita itu sangat senang. Ya. Bagaimana tidak senang, Mika mendapatkan klien untuk Altea yang artinya Altea akan mendapat bonus besar.

"Siapa dia? Dan apa tugasku?!" tanya Altea dengan nada datar pada Mika.

Mika mengatakan jika tugasnya kali ini adalah menghancurkan seorang pria hidung belang. Dia menjelaskan semua tentang pria itu dan dirinya yakin jika Altea bisa menjalankan misinya kali ini dengan lancar.

Altea terkejut dengan misinya kali ini dan juga dia tidak habis pikir jika Mika terlihat senang dengan misi seperti ini. Padahal dia sebenarnya paling muak dengan misi murahan seperti ini.

"Aku tidak mau … kau cari saja penggantiku," Altea berkata sembari berjalan meninggalkan ruang latihan.

"Hai Altea—jangan memilih-milih misi! Kau tahu di Indonesia belum ada yang meminta kita untuk menghabisi nyawa seseorang!" Mika berkata dengan nada penekanan.

Altea melambaikan tangannya lalu berkata pada Mika, "Itulah sebabnya aku tidak suka berlama-lama di Indonesia."

Terdengar teriakan Mika dengan umpatan khasnya tetapi Altea tidak peduli. Dia sungguh muak jika mendapatkan misi seperti itu, memang benar saat ini dia adalah wanita bayaran. Namun, bukan berarti dia akan menerima misi yang akan menjatuhkan harga dirinya.

Dia pun memilih kembali ke apartemennya, tubuhnya sudah mengeluarkan keringat akibat berkelahi dengan Don. Mungkin malam ini Clarinda tidak akan pulang, itu membuatnya bisa bernapas lega karena tidak mendengar ceramah dari sang kakak.

Apalagi tadi dia menolak misi dari Mika, bisa-bisa Altea tidak bisa tidur nyenyak. Setibanya di apartemen, dia melepaskan satu per satu pakaian yang menempel di tubuh lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri, Altea menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Altea merasakan kesepian sebab sudah merindukan Clarinda, padahal dia baru saja bertemu tadi di ruang latihan. Namun, jika Clarinda ada di dekatnya maka mereka kan terus berdebat.

Entah itu hal sepele atau hal yang besar, hanya Clarinda saudari yang tersisa setelah kepergian ayah dan ibunya. Hidup mereka sangat sulit, sehingga mereka berdua memutuskan untuk menjadi wanita bayaran. Dia pun akhirnya terlelap karena sudah merasa lelah.

Keesokan harinya.

Altea terbangun saat mendengar suara bel apartemen yang tidak ada hentinya. Dengan langkah gontai dia menuju pintu, guna melihat siapa yang membuat keributan di pagi hari.

Saat Altea membuka pintu apartemen, terlihat seorang wanita dengan paras cantik dan make-up tebal. Dia tahu wanita itu—wanita itu adalah wanita yang menjadi targetnya beberapa hari yang lalu.

Plak!

Wanita itu menampar pipi Altea dengan sangat kuat, sehingga terasa panas sekali. Altea berusaha menahan diri agar tidak membuat wanita yang ada di hadapannya ini mati dengan mengenaskan.

"Dasar kau wanita murahan! Apa kau tidak tahu jika Bobi sudah memiliki tunangan?!" pekik wanita itu pada Altea.

Altea hanya tersenyum mendengar semua itu, tidak ada sedikit pun ingin membalas wanita yang sudah hancur itu. Mungkin Bobi itu sudah mencampakkan wanita itu dan berpaling pada wanita lain.

"Apa yang kau lakukan?!"

Seorang pria berkata dengan nada dingin, dia tidak lain adalah Bobi. Mereka pun mulai berdebat dan itu membuat Altea merasa muak. Dia tahu satu cara untuk menghentikan mereka berdua berdebat.

Altea menarik dasi Bobi lalu mencium bibirnya dengan agresif. Bobi pun membalas ciuman Altea, tanpa disadari ciuman itu membuat Altea terhanyut dan menginginkan yang lebih.

"Hentikan! Sudah cukup!" teriak wanita yang sudah menampar Altea dengan sangat kerasnya.

"Kau mengatakan jika aku wanita murahan—maka hari ini aku akan bermain dengan tunanganmu," Altea berkata pada wanita itu dengan nada menggoda.

Terlihat jelas rasa kesal dan marah menyelimuti hati wanita itu. Bobi pun menyuruh wanita itu untuk pergi dan menunggunya di kantor. Wanita itu pun pergi dengan hati yang kesal dan dia sudah tidak ingin berada di tempat wanita murahan itu. Melihat wanita itu sudah berjalan meninggalkan apartemen. Altea menarik Bobi masuk ke dalam apartemen.

"Kita lanjutkan," Altea berkata dengan lirih.

Next chapter