1 prolog

Gadis Patah Hati

Cinta tidak bisa dipaksakan. Sekuat apa pun untuk bersatu, tapi jika belum jodoh kita bisa apa?

Sedih, penyesalan, patah hati. Mungkin itu yang sedang dirasakan Intan saat ini. Bagaimana tidak? Seseorang yang dulu begitu dicintai, begitu didambakan untuk menjadi teman terbaik untuk sehidup semati, tapi sekarang sedang bersanding dengan orang lain di atas pelaminan mewah itu. Menampilkan senyuman tanpa dosa disana, tidak tahu kah dia? Di sini ada seorang gadis yang telah ia hancurkan hatinya?

Bagaimana rasanya jika kamu meminta kepastian, tapi yang kamu dapatkan adalah undangan? Hancur, sedih, tidak percaya dengan apa yang terjadi, itulah yang masih dirasakan Intan. Dirinya masih belum percaya, ternyata semua Ucap manis dulu penuh kebohongan, kata-kata manis itu ternyata racun yang berbisa, yang sekarang mampu merogoh hati gadis cantik itu tanpa perasaan.

Intan maju dengan senyum yang dipaksakan di bibirnya, "selamat atas pernikahan kalian ... Aku harap kalian akan selalu bahagia."  Ucapan Sungguh berbeda dengan pikiran dan hatinya, padahal di dalam ia sedang menyumpah serapah pria yang tersenyum tanpa dosa itu.

"Terima kasih sudah mau datang," ucap sang pengantin wanita yang tersenyum. Intan tahu, wanita itu tidak salah, karena mungkin dia juga tidak tahu apa yang terjadi. Bukankah tidak seharusnya ia juga ikut dibenci?

"Tentu saja aku harus datang ... Aku  tidak ingin melewatkan sesuatu yang seharusnya dari lama aku lihat. Tapi meskipun aku terlambat, tidak apa-apa yang terpenting Allah sudah menjauhinya dari ku," ucap intan sambil melirik sinis sang mantan.

Wanita itu hanya terlihat melongo tidak mengerti, sedangkan sang pengantin pria sudah ketar-ketir. Intan tertawa hambar melihat pertunjukan didepanya. Karena sudah tidak ingin mengganggu kebahagiaan orang lain, meskipun kebahagiaan itu di atas penderitaan dirinya sendiri. Ia berlalu pergi dari panggung indah itu dengan senyuman yang dipaksakan.

Percuma ... Percuma jika kita berusaha mempertahankan sebuah hubungan yang sepihak, padahal yang di sana sudah jelas tidak menginginkan dirinya. Luka ini teramat sakit untuk ia rasakan, sampai rasanya ia ingin mengakhiri semuanya. Tapi ... Untuk apa? Bukankah dia harus menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja setelah ditinggalkan. Agar pria itu tahu, diriku bisa lebih bahagia tanpa dirinya.

Intan berlari keluar dari rumah yang membuat ia merasa sesak nafas, sesekali ia harus menyeka air matanya yang menetes tanpa malu untuk pria bajingan itu? Ohh ayolah mata, kerja samanya. Sungguh jika dilihat orang-orang disana pasti sangat menyedihkan, tapi untuk sekarang ia tidak pikirkan itu dulu. Lebih baik dia menjauh dari kerumunan.

Sampailah di pohon rimbun yang sedikit jauh dengan rumah sang mantan, di sana gadis itu langsung menangis kencang yang dari tadi dirinya coba tahan.  Bahkan dia tanpa malu berteriak keras mengeluarkan keluh kesah dalam hatinya. Dirinya tahu, tempat ini sepi, jadi kemungkinan tidak ada orang yang melihatnya.

"Kau menangis untuk dirinya? Padahal dia sudah bahagia dengan orang lain, Apa kau masih Sangat mencintainya? Kau cemburu?"  Intan tersentak kaget mendengar suara seorang pria, padahal tadinya ia pikir hanya dia sendiri di bawah pohon rindang ini. Dan pertanyaan-pertanyaan itu membuat logika Gadis itu kembali.

Intan mendongak mencari keberadaan pemilik Sura bas itu.

Ahh ... Pohon ini lagi. Padahal pohon ini salah satu saksi bisu saat pria yang diatas pelaminan itu mengucapkan banyak janji-janji manis untuk dirinya, yang pada akhirnya hanya menjadi tak berguna. Karena melamun lagi, gadis itu bahkan mengabaikan keberadaan pria tadi.

"Siapa bilang aku cemburu? Gak kok," ucap intan sedikit malu karena terpergok sedang menangis.

"Lalu kenapa menangis?"

"Aku hanya lagi menyesali keadaan ... Kenapa dulu aku begitu percaya dengan janji-janji manisnya, yang ternyata semuanya bohong!"

Pria itu terkekeh geli melihat kekesalan Intan. Padahal tadi begitu menghayati patah hatinya, tapi sekarang langsung berubah ke mode galak. Pria itu memutuskan untuk duduk lebih dekat, meskipun masih dengan jarak aman yang tidak melampaui batas.

"Itulah kenapa Allah melarang kita untuk berpacaran, karena dia tidak ingin umatnya merasakan sakit hati seperti ini." Intan terdiam mendengarnya, sesekali masih berlanjut menyeka air matanya. "Untuk apa berpacaran, yang pada akhirnya hanya menambahkan dosa. Kamu lihat kan? Bukan cinta yang kamu dapatkan tapi hanya menjadi penjaga jodoh orang!"

Deg

Hati gadis itu berdetak kencang mendengar perkataan pria yang tidak dikenalnya itu. Sepertinya dia seorang pria lulusan pondok, terlihat gaya berpakaiannya yang terlihat seperti pria baik-baik.

"Kalau begitu tolong katakan, bagaimana cara mencari jodoh yang baik?" tanya Intan yang sudah bisa menguasai diriku, dia tidak lagi menangis.

"Ta'aruf,"

Intan tidak setuju dengan pendapat itu, baginya itu cara yang sangat kuno. Bukankah pacaran lebih baik? Kita bisa melihat dan mempelajari sifat lawan jenis kita. Lagi pula kita tidak tahu kan, bagaimana kalau ternyata pria itu kasar dan suka memukul, itu pasti akan membuat dirinya menyesal karena sudah memilih untuk berjodoh dengan pilihan orang lain.

"Kau pasti berpikir cara itu sangat kuno, tapi percayalah tidak ada ajaran Allah itu menyesatkan."

"Bagimu berbicara itu mudah, tapi menjalankannya lah yang susah. Tidak ada yang bisa menjamin akan bahagia dengan menikah seperti itu, bagaimana bisa hidup  bersama dengan seseorang yang belum kita kenal dengan baik?"

Pria itu menyeringai, "Lalu? Apa kau sudah bahagia dengan seseorang yang sudah kau kenal dengan baik? Bukankah berpacaran belum tentu menjamin sebuah kebahagiaan?" Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh membuat hati Intan kembali berdenyut perih. "Kau hanya belum tahu, berpacaran setelah menikah itu lebih indah dari yang dibayangkan. Apa pun yang dilakukan berdua semuanya halal, tidak perlu berpikir lagi takut berbuat zina yang berujung dosa." Pria itu bahkan tidak lelah untuk menjelaskan semua itu pada gadis disamping-Nya, bahkan ia terlihat sangat menghayati Ucap yang keluar dari bibir tipisnya itu.

Tidak sadarkan dia, ada seseorang yang sedang terpesona!!

Untuk kali ini Intan tidak punya jawaban lagi. Apa yang dikatakan pria itu memang benar, meskipun sudah berpacaran tiga tahun, tetap saja pria itu menghianatinya. Bahkan orang yang baru saja ia kenal bisa membuka ia nyaman bercerita banyak hal seperti ini, bahkan bisa membuat ia seolah lupa bahwa hari ini hari menyediakan untuknya.

Intan tersenyum kecut menyadari kenyataan, ternyata tidak seindah yang di bayangkan nya dulu. Semuanya berubah dengan seiringnya waktu. Dan waktu sekarang menjelaskan, ternyata orang asing bisa membuat ia senyaman ini mengeluarkan keluh kesahnya. Ini sungguh luar biasa, membuat dirinya merasa lebih baik.

Sebuah ide gila langsung menghiasi otak abstrak Intan. Sekarang gilirannya yang menyeringai, membuat pria itu bergidik ngeri dengan senyum aneh Intan. Bukankah pria itu bilang berpacaran setelah menikah itu indah? Jadi sekarang waktunya untuk menggoda pria ini. Ehh ... Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu!

"Siapa nama mu tuan yang bijak?" Pertanyaan Intan membuat  pria itu gelagapan sendiri.

"Zaki alfahri." Jawa pria itu sedikit gugup.

"Ya sudah...,"

"Apanya?" tanya fajar bingung.

Intan tersenyum lebar, membuat perasaan fajar semakin tidak enak.  Sebelum mengucapkannya Intan memilih untuk berjalan menjauh, karena ia tahu mungkin setelah ini dia pasti disangka gila oleh pria yang baru ditemuinya.

"Mas zaki saja  yang meminang Aku! Biar kita bisa pacaran setelah menikah." Setelah mengedipkan sebelah matanya, intan langsung melarikan diri. Sedangkan pria yang bernama Zaki itu sudah mematung terkejut mendengarnya, sebelum senyum manis tersungging setelah itu.

'Baiklah gadis patah hati ... Tunggu saja pinangan ku! Aku akan segera mewujudkan ucapanmu!"

*****

Next chapter