2 Episode 1

Namaku Frissilia, aku saat ini duduk di bangku kelas 1 SMA. Aku cukup cerdas dan menjadi bintang di sekolahku, meski aku masih berumur 15 tahun, aku bersahabat dengan 2 orang yang sudah kuliah. Mereka adalah Dimas dan Tia. Dimas yang baru saja menempuh S2 nya, sementara Tia yang masih semester 5. Yaah.., aku bersahabat dengan mereka karna selain mereka begitu baik, aku juga banyak menambah wawasan.

Oh yaa..aku juga adalah anak satu- satunya di rumah, sehingga aku jelas menjadi anak kesayangan Mama dan Papaku. Mama dan Papaku adalah sahabat ku ketika dirumah, mereka adalah pasangan yang begitu harmonis dan aku begitu nyaman di dalam keluarga yang hangat ini, dan bisa dibilang Mama dan Papaku berasal dari keluarga mampu , dengan beberapa perusahaan nya yang sudah turun temurun mereka kelola.

Seperti itulah sekilas tentang keluargaku, dan Sahabatku, kebahagiaan yang begitu lengkap.

Sore ini aku duduk di pinggir pantai berdua Dimas, ini adalah kegiatan kita setiap minggu, merefresh otak kita setelah lelah berkutat dengan kegiatan di sekolah. Seharusnya bertiga dengan Tia, tapi Tia sore ini sedang ada acara keluarga diluar kota, sehingga kali ini hanya aku dan Dimas.

Aku sangat menyukai sunset dipantai ini, bahkan aku akan pulang ketika magic hour itu sudah usai. Dimas sejak tadi diam memandang ke arah lautan luas itu, dan aku juga diam. Dimas adalah cowok berparas ganteng dan postur tubuh yang cukup gagah. Banyak cewek- cewek yang tergila-gila dengan dia, tapi aku tau, Dimas bukan tipe cowok playboy, bahkan sampai saat ini dia belum ada memiliki hubungan spesial dengan cewek manapun. Setiap dia cerita ada cewek yang berusaha dekatin dia, aku hanya tertawa.

Lalu tiba-tiba lamunan ku terpecah ketika Dimas mulai mengajak ku bercerita....

"Fris...tau nggak...tadi siang tuh ada lagi loh cewek yang nembak aku...."

"Hahahah...terus? di terima nggak?" tanyaku setengah ketawa.

"Nggak...." Jawab Dimas dengan singkat.

"OMG....Dimas....kayak nya kamu itu gak tertarik yaa sama perempuan...? jangan-jangan kamu suka nya sama cowok yaa....?" Tanya ku sambil ketawa.

"Ehh..ehhh ...nggak gitu yaa ...ihh sembarangan banget yaa kalo ngomong kamu...." Kata Dimas sambil menggelitik ku.

"Aduh...aduhhh...ampun...hahahahaaa.... becanda....." Jawabku sambil terus menepis tangan nya yang terus menyerangku. Dan kami tertawa bersama, terlihat beberapa cewek-cewek di pantai ini yang terus memperhatikan aku dan Dimas, tatapan mereka seperti iri, karna Dimas memang begitu ganteng dimata semua perempuan, apalagi cewek-cewek yang kenal dengan Dimas, jelas mereka tergila-gila dan berlomba-lomba mendapatkan perhatian Dimas, bukan hanya tentang fisiknya, tapi secara materi Dimas adalah cowok yang mapan, karna dia juga ikut memegang perusahaan ayahnya. Jadi Dimas itu bukan cowok manja yang meminta uang dari orang tua, tapi dia bekerja sendiri dari perusahaan nya itu. Perfect.

"Tapi seriusan deh...kenapa sih kok belum ada 1 cewek pun yang kamu terima...?" tanyaku setelah kita tertawa.

"Yaa...karna gak ada 1 pun dari mereka yang belum bisa ambil hatiku..."

"Oh yaa....? mungkin kamu butuh sedikit membuka hatimu untuk salah satu diantara mereka..." Jawabku dengan tersenyum.

Namun Dimas tak menjawabku, dia hanya menatapku, dan aku menatapnya, tatapan yang tak biasa, sinar matahari terbenam tampak menyinari wajahnya, membuatku sedikit betah menatapnya. Terlihat semakin indah.

"Aku sudah lama menemukan setengah hatiku di seorang perempuan Fris..." Jawab Dimas yang terdengar begitu dalam.

Entah mengapa aku merasa bahasa obrolan kita kali ini tampak tak biasa.

"Oh ya...? yang mana orang nya Dim....kok baru cerita sih..." Jawabku agak riang untuk memecah tatapan seriusnya.

Dimas terdiam, dia hanya menatapku seperti tadi. Dan aku, hanya berusaha tersenyum menatapnya.

"Kamu Fris....." Jawab Dimas.

"Oh what...???? hahahahaaa....lucu gak sih becanda mu ....serius dong ah...siapa..." Jawabku setengah tertawa.

Tiba-tiba Dimas mengambil tanganku dan menggenggam nya, sungguh ini baru kali ini terjadi.

"Aku serius Fris.. entah kenapa aku merasa setengah hatiku ada di kamu...sudah lama aku pengen ngomong sama kamu...tapi aku sengaja mengulur waktu, untuk mastiin ini bener atau hanya sesaat aja...dan ternyata, sejauh persahabatan ini berjalan, aku selalu nyaman berada disampingmu..."

Deg.deg.deg.deg....

Jantungku serasa mau copot, aku rasa hari ini aku sedang menghayal atau ini sebenarnya sedang dalam dunia mimpi. Aku tercengang dengan kata-kata Dimas, aku tau dia sedang berbicara serius.

"Dim... aku nih sebenarnya sudah bangun tidur belum sih..." Tanyaku dengan masih tercengang. Aku benar-benar gak percaya apa yang sedang terjadi saat ini. Lalu Dimas memegang lembut pipiku sementara tangan satunya masih memegang tanganku.

"Nggak Fris...ini nyata...kamu nggak mimpi...diantara semua perempuan , cuma kamu yang bisa buat aku susah tidur karna otakku terus sibuk mengingat segalanya tentang kamu...itulah kenapa aku gak pernah tertarik untuk membuka hati buat orang lain...cukup ketemu kamu, duduk disamping mu , itu sudah cukup membahagiakan diriku.."

Aku, yang semakin merasa mulai terbang mendengar ungkapan hati Dimas, aku gak pernah memupuk rasa yang lebih pada dia, karna dia adalah sahabatku. Dan ini, untuk pertama kalinya aku merasa benteng ini roboh , aku menyadari, kejujuran nya mampu meluluhkan hatiku, yang belum pernah ku buka untuk laki-laki manapun.

"Tapi kenapa Dim...padahal aku kan sahabat mu...aku berusaha untuk nggak menumbuhkan rasa sama kamu, karna aku nggak ingin persahabatan kita berhenti ...atau..kenapa kamu nggak mencoba buka hati ke Tia...kan dia lebih dewasa daripada aku..." Belum selesai aku bicara, Dimas memotongnya.

"Aku cuma manusia biasa Fris... aku nggak mampu menyetir hatiku kemana dia akan bermuara...aku cuma bisa paham , saat aku merasa nyaman karna kamu...aku jatuh cinta nya sama kamu..."

Dan aku terdiam, aku semakin melayang, semudah ini aku terhanyut, seperti ini kah rasanya jatuh cinta? lama aku terdiam , lalu Dimas kembali bertanya...

"Fris...kamu mau kan jalanin hubungan ini lebih dari sahabat? seperti halnya aku yang punya rasa lebih spesial dari sebatas sahabat sama kamu..." Tanya Dimas sambil menggenggam tanganku, pandangan mata nya yang semakin membuatku terbungkam, dan aku pun menjawabnya...

"Iya...aku mau..."

Lalu Dimas tersenyum sumringah , tampak bahagia di raut wajahnya dan memelukku, aku pun membalas pelukan nya. Mungkin ini akan terasa aneh karna hari ini aku jatuh cinta dengan sahabatku, dan aku benar-benar bahagia, pelukan ini semakin terasa hangat dan kami menikmati sunset dengan penuh rasa berbunga-bunga. Iya..sunset kali ini terasa begitu berbeda, jantung yang berdebar-debar , dan bersandar di bahu Dimas.

Malam harinya, aku menelpon Tia, dan menceritakan semua yang terjadi ketika sore tadi, awalnya aku ragu untuk menceritakan nya, karna aku takut ini akan mengganggu persahabatan kita, tapi aku percaya sama Tia dan aku sangat tau Tia lebih dewasa dari pada aku, dan benar saja, Tia tertawa bahagia dan masih seperti tidak menyangka dengan apa yang aku ceritakan, Tapi dia bilang bahwa dia ikut bahagia, dan dia berharap hubunganku sama Dimas bisa langgeng sampai nikah. Lalu aku mengakhiri telpon ku dengan nya, dan ikut makan malam bersama Mama dan Papa ku.

Selama makan malam, aku masih saja sedikit senyum-senyum sendiri karna mengingat tadi sore, lalu Mama terheran dan menegurku...

"Fris..? dari tadi kenapa kok kayaknya senyum-senyum sendiri?"

"Haaa..?? nggak kok Maa..." Jawabku sambil sedikit tertawa.

"Kayaknya..ada yang lagi jatuh cinta nih ..." Ledek Papaku.

"iiiihhh....nggak Paa..." Jawabku tersipu

"Aahh bohong nih...dulu juga Mama waktu pertama kali Papa ajak pacaran, muka Mama juga kayak gitu tuh...wajah-wajah jatuh cinta...Hayoo jangan bohong" kata Papa semakin meledekku. Dan aku semakin tersipu malu, aku hanya tersenyum, Mama dan Papa terus berbicara bahkan menceritakan kisah mereka pertama kali bertemu lalu saling jatuh cinta, aku mendengarkan mereka, Mama dan Papa adalah bukti nyata seperti apa indah nya cinta, dan aku berharap bersama Dimas juga dapat merasakan indah seperti itu. Hidupku bahagia, lengkap, dan sangat indah, terima kasih Tuhan, telah memberiku keluarga yang harmonis, sahabat terbaik, dan...Dimas.