1 Boy; The chicken sauce

"Steve, ada peretasan lagi. Kali ini ada dua stasiun radio." Jane berteriak kencang seakan-akan tak ada siapapun di ruangan itu. Steve mendengus keras. Ia mengusak kasar rambutnya, dua tiga helai berdiri diantaranya.

Sudah hampir satu bulan, stasiun radio di kota New York diretas. Alasannya, tidak ada. Tidak satupun orang yang bertanggung jawab akan hal ini. Entah apa motifnya. Namun yang pasti, setelah peretasan terjadi pasti ada korban berjatuhan.

Murder

Steve menggoyang-goyangkan ujung penanya. Matanya terarah pada jendela ruangannya di lantai dua yang pandangannya berpusat pada gedung mewah di depannya. Steve seorang jenius. Ia berambisi menjadi seorang detektif kelas atas yang sempurna dalam memecahkan berbagai kasus.

Ia pernah di rekrut oleh agen detektif kelas 1 di Amerika, namun diberhentikan secara tidak hormat karena satu kesalahan. Wanita.

Ya, ia bermain mata dengan salah satu wanita kesayangan leadernya.

Kini, ia harus berkutat pada laporan pembunuhan yang sudah pasti jadi makanannya setiap hari. Detektif kelas 1, kepolisian New York.

"Jalankan rencana B. Kau sudah tahu, kan?" jawab Steve tiba-tiba. Jane terdiam. Sorot matanya masih mengarah pada Steve. Karena tak kunjung ada jawaban, Steve menoleh pada wanita cantik di hadapannya." Kenapa kau diam?"

"Ini tak mudah, Steve. Tapi, akan aku usahakan."

"Hmm..."

****

Ammay Road, satu kompleks perumahan sederhana yang ada di kota New York. Lima puluh kilometer dari pusat kota dan hanya memiliki dua sekolah besar.

Steve Richardson, seorang remaja yang sedang dalam masa ingin tahu. Ia menjelajah kota New York sendiri saat liburan tiba. Berteman sepeda kecilnya, ia bahkan nekat menantang jalanan padat kota.

Itu tak seberapa, terkadang ia harus rela menaiki bus antar kota yang hanya melintas sesekali di dekat kompleks perumahannya.

Malam yang dingin, menjelang musim salju.

Steve kecil duduk di depan perapian menunggu kedua orangtuanya pulang. Kakaknya pergi seharian, adiknya pun sama. Saat ia hendak mengambil segelas air putih hangat, tiba-tiba saja ia mendengar suara teriakan dari luar rumah.

Ia pikir itu kakaknya. Steve pun mencari tongkat baseball andalannya dan berjalan menuju arah suara. Dan, ternyata.....

Boy, anak tetangga yang kurang kasih sayang.

"Kau bukan anakku. Menyingkirlah, jangan panggil aku ayah." pak tua itu menghempas tangan Boy. Anak kecil berumur empat belas tahun itu jatuh tersungkur.

"Ayah...." teriaknya.

Dan, Pak tua itu pun pergi dengan mobil sedannya. Sementara sang Ibu hanya bisa melihat mereka dari dalam rumah. Sungguh ironi sekali.

Steve beranjak keluar rumah, melempar tongkat baseballnya. Ia berlari ke arah Boy dan membantunya berdiri.

"Hei, kau tak apa-apa kan? Coba lihat tanganmu, kau terluka." Boy menggeleng. Ia menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

"Terima kasih."

"Kalau ada yang kau butuhkan, cari aku," ucap Steve. Senyumnya lebar, manis. Begitu pun dengan Boy. Ia melambaikan tangan sampai masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya.

"Malang sekali nasibmu, nak."

****

Pagi pertama di musim dingin. Boy membuka mata dan menangkap seberkas sinar matahari yang masuk melalui celah jendela kamarnya. Ia menaikkan kedua tangannya dan menggertakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

"Dua minggu lagi liburan musim dingin. Akan ada hadiah natal dan kue-kue lezat," khayal Steve. Ia pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan memulai aktifitas terakhirnya di musim dingin.

Kakaknya, Chloe selalu sibuk dengan pakaian berbulunya. Sedangkan adiknya, Kiehl lebih sibuk dengan mainan barunya. Alat permainan seperti jungkat jungkit yang biasa ia lihat di sekolah dasar. Itulah pemandangan yang hampir tiap hari ia lihat.

"Apa rencanamu di musim dingin? Ah, pasti kau akan berkeliling kota New York seharian." Sambutan yang luar biasa Chloe. Steve tak akan menggubrisnya.

"Bukan urusanmu. Urus saja bedak, gincu dan baju-baju warna mencolok yang kau punya," jawab Steve ketus. Chloe mendecih tak suka. Rasanya, ia ingin menampar adik pertamanya ini.

"Sial..."

Dua puluh menit sarapan, Steve pun berpamitan. Ia akan berangkat sendiri kali ini. Ia anak yang mandiri. Mempunyai sepeda atau sepatu roda sendiri merupakan satu keuntungan baginya.

Steve pun mulai menaiki sepedanya. Saat di persimpangan jalan, ia melihat seorang anak kecil berjalan dengan menundukkan kepalanya. Berjalan pelan tanpa mempedulikan sekitarnya.

"Hei, Boy. Ayo ikut aku. Kita ke sekolah bersama." Steve turun dari sepedanya setelah ia tahu bahwa anak kecil yang berjalan itu adalah Boy.

"Aku biasa berjalan kaki," jawabnya lirih.

Steve tak kehabisan akal. Ia mencegat Boy dan menariknya naik ke atas sepedanya. Ia tak ingin anak kecil ini kelelahan dan terlambat hanya karena berjalan kaki dari rumah sampai ke sekolahnya.

"Naiklah. Bus jemputan tidak lewat?" tanya Steve. Boy menggelengkan kepalanya. Ia ingin menceritakan alasannya namun ia enggan.

"Tidak."

"Aku tak keberatan jika kau naik sepeda denganku setiap pagi," ajak Steve. Boy terdiam. Pegangan pada pinggang Steve semakin kencang.

Setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai. Steve mencari parkiran sepeda dan menguncinya. Boy pun mengikuti Steve.

"Terima kasih."

Steve mengusak kepala Boy. Ia tersenyum, mengacungkan dua jempol dan melangkah masuk ke dalam sekolah lebih dulu.

Boy masih terdiam di parkiran. Tiba-tiba saja tiga orang datang menghadang dirinya. Ia menengadahkan kepalanya. Tiga orang melebarkan senyum mengejek padanya.

"Ada apa?"

Satu orang menubrukkan dadanya pada Boy. Lalu dua orang lainnya tertawa. Boy meringis kesakitan.

"Kau masih punya wajah, kuah ayam?" ujarnya. Boy tak menjawab. Dua tangannya ia kepalkan, menahan emosi atas perlakuan temannya.

"Hei, kuah ayam. Apa yang kau punya hari ini?" satu orang di sebelahnya menggeledah tas sekolahnya. Ia melempar buku pelajaran milik Boy sampai ia menemukan satu benda aneh di dalam sana.

"Woahh....kau membawa pisau lipat? Untuk apa? Merencanakan pembunuhan?" tanya si pemilik nama Tom. Ia yang menubrukkan dadanya tadi.

"Aku tak punya urusan dengan kalian. Kembalikan barang-barangku!!" teriak Boy. Ketiga orang tadi tertawa terpingkal-pingkal. Entah apa sebabnya.

"Kuberitahu kau, ya. Seorang pecundang sepertimu, tak akan bisa lepas dari gangguan kami. Lihat saja. Hei, ambil semua uang anak ini."

Mereka merampasnya. Tiga orang berandalan merampas uang dan beberapa benda miliknya. Boy hanya bisa diam. Ia sudah lelah meneteskan air mata. Apakah ia harus membalasnya?.

***

Steve baru saja sampai di depan kelas, tangan Jane yang tidak tahu tempat tiba-tiba menepuk bahu Steve dengan tidak elitnya.

Steve meliriknya. Jane tersenyum lebar, deretan giginya terpampang rapi. Steve menaikkan bola matanya malas. Ia masuk ke dalam kelas dan mendudukkan pantatnya ke atas kursi.

Steve membuka bukunya dan meneliti dengan baik, apakah ada pekerjaan rumah yang belum ia kerjakan. Jane pun duduk di kursinya, berhadapan dengan kursi milik Steve.

"Steve, malam natal pergilah bersamaku. Kita berjalan-jalan ke Town House. Bagaimana, mau kan?" tanya Jane. Steve menggeleng.

"Aku ingin berkumpul bersama keluargaku. Maaf, Jane. Kau saja yang datang ke rumah," jawab Steve. Jane memikirkan jawaban Steve. Ia ingin sekali berjalan-jalan bersama dengan Steve pada malam natal.

"Tumben sekali. Biasanya kau....."

"Ayahku akan cuti pada malam natal. Ia sudah berjanji. Jadi, maaf Jane." Steve memutus pembicaraan. Jane hanya mendengus pelan. Usahanya untuk mendekati remaja bertelinga peri itu, musnah sudah.

"Ya sudah kalau aku sempat, aku ke rumahmu saja. Chloe di rumah kan?"

"Ia selalu di rumah saat natal kalau tidak, ibuku bisa mengamuk nanti."

Obrolan mereka pun terhenti, guru kelas memasuki ruangan. Mr. Hanson, lelaki berumur tiga puluhan yang senang sekali mengajar biologi dan matematika. Ia senang sekali membuat lelucon. Bahkan, sebagian siswi di sekolah ini suka dengan leluconnya. Sangat berkelas, katanya.

"Apa kalian tahu, mengapa gajah bisa mati hanya karena seekor semut?" Mr Hanson melemparkan pertanyaan konyol. Seluruh siswa dan siswi riuh rendah mencari jawaban yang benar. Steve pun sama. Jane yang memang hanya terpesona dengan wajah Mr. Hanson, bahkan tak terlihat sedang berpikir.

"Kau tahu, Steve?" tanya Mr Hanson. Steve tahu, gurunya sedang menguji kejeniusannya.

"Tidak. Jawabannya pasti aneh."

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/revenge-mr.a_17521989706394305/boy-the-chicken-sauce_47035294775566756 for visiting.

"Haa...haa..baiklah, jika tidak ada yang tahu jawabannya akan aku beritahu. Gajah bisa mati karena semut membisikkan sesuatu padanya....."

"Apa yang ia bisikkan?" tanya Winnie, siswi berkacamata tebal yang duduk di dekat jendela.

"Aku mengandung anakmu, Mr Elephant. Itu jawabnya." sebagian siswa dan siswi tertawa. Tapi tidak dengan Steve. Oh, ayolah ini lelucon buruk. Bahkan ini tak serenyah crackers yang pernah Jane beli waktu itu.

Jane menoleh ke belakang, arah meja Steve. Ia pun berbisik," Kau tak tertawa?"

"Leluconnya aneh."

****

Jam pelajaran berakhir, bunyi lonceng berbunyi dua kali. Sudah saatnya mereka pulang. Menjelang musim dingin, sekolah dibubarkan lebih awal. Supaya siswa dan siswi bisa mempersiapkan liburannya yang terbaik. Liburan natal tepatnya.

Steve berjalan ke arah parkiran sepedanya. Ia terkejut. Boy berdiri di dekat sepedanya dan menatapnya dengan tatapan lurus. Mengerikan.

"Hei, Boy mau pulang bersama?" Boy mengangguk. Steve membuka kunci sepeda dan memasukkan rantainya ke dalam tas." Bagaimana harimu, menyenangkan?"

"Biasa saja."

Steve sibuk membersihkan sisa dedaunan yang melekat di ban sepedanya, hingga ia tak sadar ada tiga orang menghampiri anak kecil di sebelahnya.

"Hei, kuah ayam. Jangan lupa, kau hutang 50 dollar padaku. Awas kau!" ancamnya. Boy diam, ia ketakutan. Steve menoleh mendengar nada ancaman dari seseorang. Ia berkacak pinggang di hadapan anak berandalan tadi.

"Siapa kalian? Beraninya menganggu anak kecil," teriak Steve. Salah satu anak bernama David maju paling depan. Ia mengunyah permen karetnya dan melemparnya ke arah Boy.

"Kau yang menganggu kami, anak detektif tak becus!" ujarnya sambil menunjuk dada Steve.

"Kau yang tak berguna, bodoh!"

"Ayo, pergi. Pecundang memang pantas berteman dengan pecundang."

Steve menatap benci pada mereka bertiga. Steve tahu, ia tak akan pernah bisa melawan mereka. Sejenak Steve sadar, bahwa Boy menangis dengan permen karet berada di tangannya.

***

Next chapter